Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Hukuman.


__ADS_3

"Maaf, Dad." jawab Kenzo dengan singkat. Dia tidak mau banyak alasan biar sang Daddy langsung bicara. Mau sang Daddy marah atau tidak dia akan menjelaskan semuanya.


"Buka email mu. Daddy sudah mengirimkan beberapa dokumen di sana. Ada masalah di kantor, Daddy tidak bisa menyuruh Mommy mu untuk membereskan semua nya sendiri." tutur Kenan menceritakan tujuan menelepon putranya. Rupanya nada kesal perkataan nya tadi bukan karena apa-apa, dia hanya kesal karena masalah kantornya yang belum kelar.


"Akh syukurlah, ku kira Daddy mengetahui tentang berita itu." Kenzo sampai menghembuskan nafas lega. Padahal sudah dag dig dug takut akan kembali tertimpa masalah, ternyata sang Daddy hanya menyuruhnya untuk bekerja.


"Kau hanya perlu mengelompokkan data nya dan jadikan beberapa format sesuai judul, harus selesai sebelum jam sembilan malam dan langsung kirim kan lagi ke email Daddy." titah Kenan menjelaskan.


Kenzo yang sudah terbiasa membantu sang Daddy langsung mengerti dan mengiyakan nya. "Iya, baik, Dad." jawab nya dengan penuh kesiapan.


"Ingat, harus beres sebelum jam sembilan malam ini." ucap Kenan lagi. Dia kembali menegaskan takut Kenzo mengira kalau deadline nya jam sembilan malam besok.


"Iya, Dad. Aku mengerti, aku kerjakan sekarang." timpal Kenzo menegaskan.


*


Kenzo sudah menatap layar laptopnya, membuka email mengecek dokumen yang Daddy nya kirimkan. "Assst, kenapa sebanyak ini. Mana yang katanya beberapa, ini banyak sekali." decak Kenzo sambil mengacak rambutnya. Dokumen sebanyak itu mana bisa ia kerjakan sendiri sampai jam sembilan malam. "Apa Daddy kira aku robot." umpatnya kesal. Melihat pekerjaan yang menumpuk seperti itu membuatnya malah jadi malas. Baru saja dia bernafas lega karena masalah Tiara, kini sang Daddy malah mengerjai nya dengan sebuah pekerjaan.


"Dasar cacing tidak bisa di ajak kompromi, apa kalian tidak tahu aku banyak pekerjaan? Kenapa harus lapar di saat seperti ini." keluhnya lagi, bibirnya terus komat kamit memarahi cacing di dalam perutnya. Badannya pun langsung bangkit dan berjalan untuk mencari makanan.


Kenzo berjalan ingin menuruni anak tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya melihat pintu kamar Taira. Bibirnya langsung menyeringai tatkala terbesit sesuatu di kepalanya.


Tok tok tok....


Kenzo mengetuk pintu kamar Taira, berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding menunggu sang pemilik kamar membuka pintunya. "Dia tidak sedang tidur kan?" gumamnya karena Tiara tidak kunjung membuka pintu. "Tiara!" Kenzo kini berusaha memanggilnya, berharap wanita itu segera muncul di hadapannya.

__ADS_1


Pintu terbuka, sosok Tiara langsung terlihat keluar dari kamarnya "Apa?" tanya nya dengan singkat, dia baru selesai mandi dan harus terburu-buru membuka pintu saat mendengar Kenzo memanggilnya. Bahkan rambutnya pun ia ikat sembarangan karena belum sempat merapihkan nya. "Maaf lama." ucapnya lagi karena Kenzo tidak merespon perkataanya.


Kenzo melongo, bukannya merespon perkataan Tiara dia malah memperhatikan penampilan wanita itu.


"Dia percaya diri sekali keluar kamar seperti itu." gumamnya dalam hati, dia bahkan sampai kaget, Tiara yang mengenakan pakaian santai terlihat berbeda, di tambah lagi dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi membuat dia terlihat lebih seksi. Dia baru sadar kalau wanita itu memang terlihat begitu cantik.


"Hei, ada apa?" Tiara kembali bertanya, lelaki itu memanggilnya kenapa sekarang malah diam tanpa kata. Dia tidak sadar kalau penampilan nya sekarang telah mengusik lelaki sedingin es balok itu.


"Aku harus menghukum mu karena kau sudah melakukan kesalahan." ucap Kenzo dengan datar tanpa ekspresi. Dia membutuhkan bantuan Tiara tapi gengsi jika harus meminta bantuan nya dengan begitu terang-terangan. Iya itulah Kenzo, bukan dia namanya kalau harga dirinya tidak setinggi langit.


"Iya, apa." Tiara hanya bisa menuruti kemauan lelaki itu.


"Ambilkan cemilan apapun itu, bawakan ke kamar ku dan jangan lupa air minumnya." tutur Kenzo memberikan perhatian.


"Sekarang?" Tiara malah menimpali dengan candaan.


"Iya, iya. Aku ambilkan sekarang." timpal Tiara dengan terkekeh. Dia langsung turun ke bawah tanpa merapihkan dulu penampilannya.


Kenzo kembali ke kamarnya, bibirnya langsung memasang senyum kecil, rupanya keberadaan Tiara tidak selamanya menyusahkan dirinya, wanita itu kini berguna untuk dia jadikan asisten pribadinya. "Ku harap dia juga bisa membantu membereskan dokumen dokumen ini." tuturnya penuh harap. Tiara cukup pintar, seharusnya wanita itu bisa membantunya.


Tiara kembali, sesuai apa yang di inginkan Kenzo, dia membawa sebuah nampan besar berisi berbagai cemilan, dari mulai cake, buah-buahan, makanan ringan dan air minum ada di atas nampan yang di bawanya. "Ini, ku taruh di sini ya." ucap nya. Dia langsung menyimpan nampan itu di atas meja di samping laptop, sedang Kenzo sendiri duduk di bawah sambil berkutat dengan pekerjaannya.


"Hukuman mu belum selesai, jadi jangan berharap bisa kembali ke kamar." ucap Kenzo lagi tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.


"Apa lagi?" Tiara sampai heran. Tadi lelaki itu menyuruhnya istirahat, sekarang malah menyuruh-nyuruh nya seolah dia akan di sekap di kamar lelaki itu.

__ADS_1


"Duduk! Kau cukup pintar jadi seharusnya kau bisa mengerjakan ini." titah Kenzo tanpa basa-basi, jikapun Tiara belum paham, dia akan mengajari nya agar Tiara bisa membantunya, supaya pekerjaan nya cepat selesai.


Tiara langsung duduk di samping Kenzo, dia memang cukup penasaran dengan apa yang di kerjakan lelaki itu. "Apa yang harus ku kerjakan?" tanyanya, Tiara sampai mendongkangkan kepala merapatkan jaraknya dengan Kenzo agar bisa menatap layar laptopnya.


"Ini, kau hanya perlu mengelompokkan bagian ini, kumpulkan dengan satu judul yang sama dan di buat folder baru." tutur Kenzo menjelaskan, dia terus menjelaskan panjang lebar, menunjuk bagian-bagian yang harus Tiara kerjakan agar wanita itu memahami nya.


"Laporan perusahaan?" Tiara sampai kaget setelah mendengar penjelasan Kenzo, lelaki itu masih duduk di bangku SMA tapi sudah bisa membantu pekerjaan orang tuanya, bahkan dia benar benar sudah pandai dengan pekerjaan seperti ini. Dia menjadi malu, apa dia benar-benar bisa membantu.


"Kenapa diam saja?" Kenzo langsung menggerakkan kepalanya bermaksud melihat Tiara karena wanita itu terus diam, pergerakan nya yang tiba-tiba membuat Tiara tidak bisa menghindari sampai pandangan mereka bertemu di satu titik yang begitu dekat. Saking dekatnya Kenzo bisa mencium aroma harum dari tubuh Tiara yang menyeruak masuk ke rongga hidungnya.


"Dia terlihat sangat cantik." gumamnya terpesona oleh kecantikan Tiara yang kesekian kalinya. Kenzo sampai tersenyum kecil, padahal mereka sadar jarak mereka cukup dekat, tapi dia tidak ada niatan untuk memundurkan tubuhnya, bahkan Tiara pun terlihat seperti itu.


"Kenapa? Kau baru sadar kalau aku tampan, dari tadi kau sampai tidak berkedip menatap ku." ucap Kenzo berusaha menggoda Tiara, yang terpesona siap? yang meledek siapa?


"Si-siapa yang memperhatikan mu, aku sedang mendengarkan penjelasan mu." kilah Tiara dengan begitu cepat, dia langsung memundurkan tubuhnya teramat malu mendengar perkataan lelaki itu. Jujur, debaran jantungnya memang tidak bisa di kendalikan jika sudah berdekatan dengan lelaki itu, ada perasaan aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Hei jantung, bisa kau jangan berdegup kencang seperti ini, lelaki itu malah mentertawakan ku." umpat Tiara dalam hati, dia bagai orang gila yang memarahi jantung sendiri karena tidak bisa terkendali.


"Oh, ku kira kau terpesona dengan ketampanan ku." ledek Kenzo lagi dengan tertawa kecil, makin dia meledeknya, ekspresi Tiara makin menggemaskan.


"Kau terlalu percaya diri." kilah Tiara dengan begitu sewot, bisa-bisanya lelaki itu malah mentertawakan nya. Padahal debaran jantungnya masih belum berdetak dengan normal karena ulahnya.


"Kalau kau mendengarkan penjelasan ku seharusnya kau sudah mengerti kan?" tanya Kenzo lagi memastikan. Bibirnya masih memasang senyum kecil merasa terhibur dengan adanya Tiara di sampingnya.


"Iya aku mengerti, sana! makan tuh cemilan mu, biar aku yang mengerjakan ini." timpal Tiara, dia akan mencoba berusaha untuk lebih mengerti agar bisa membantu meringankan beban tunangannya.

__ADS_1


Walau terkadang menyebalkan lelaki itu adalah tunangan nya.


__ADS_2