Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Kecurigaan.


__ADS_3

Di ruangan basecamp, Kenzo terlihat mengotak-atik laptop nya sambil menunggu Mario; si ketua tim penyiar yang hobinya mengotak-atik komputer mengorek data-data yang berkaitan dengan informasi sekolah.


"Apalagi sih Ken? pala gue masih mumet habis ujian, mau minta bantuan apa lagi sekarang?" tanya Mario yang baru saja datang. Walau bibir menggerutu kesal, tubuhnya kini ikut duduk di sebelah Kenzo. Lelaki yang telah memaksanya untuk datang kesini dengan begitu tiba-tiba.


"Bisa rendahkan volume suara mu, Tiara sedang tidur bodoh!" Kenzo langsung berdecak, matanya mengekor melihat Tiara yang tengah terbaring tidur di sofa. Karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan dia tidak bisa langsung pulang dan terpaksa mengajak Tiara ke sini. Dan menyuruh istrinya itu untuk istirahat di sana.


Mario langsung menoleh, "Astaga, gue gak sadar kalau bini lo juga di sini." timpal nya sambil menepuk pundak Kenzo, dia tadi asal masuk tidak tahu Tiara juga ada di sana, "Apa ada hal penting, kasihan bini lo kenapa gak langsung pulang saja?" tanyanya, dia jadi penasaran ada apalagi sekarang sampai-sampai Kenzo memanggilnya ke sini.


"Gue butuh CV guru baru yang masuk hari ini." ucap Kenzo tanpa basa-basi, dia langsung mengarahkan laptop yang sedari tadi di depannya pada Mario, lelaki itu cukup ahli pasti akan lebih cepat menguak informasi tentang Pak Matteo kalau lelaki itu membantunya. "Buruan, seharusnya CV nya sudah ada di data-data sekolah kan?"


"Entahlah, gue periksa dulu. Seharusnya sih sudah ada, tidak mungkin kan tiba-tiba bisa masuk mengajar di sekolah elit seperti ini tanpa mengirimkan dulu CV." Mario mulai mengotak-atik laptop nya. Walau penasaran ingin bertanya untuk apa informasi itu, pertanyaan nya dia tahan sebelum dia menjalankan tugasnya.


"Ini!" Data terbuka, Mario sampai membelalakkan mata saat melihat CV Pak Matteo yang begitu singkat.


Matteo Gilardino.


Hanya nama dan alamat lengkapnya saja yang tertera di CV itu.


Keahlian: Kosong.


Pendidikan terakhir: Kosong.


Pengalaman kerja: Kosong.

__ADS_1


Pelatihan dan Workshop: Kosong.


"Jir, guru macam apa CV nya singkat kosong melompong seperti ini." ucap Mario sampai gelang kelapa, dia langsung memberi luang agar Kenzo juga bisa melihatnya, "Bisa-bisanya sekolah menerima guru tidak jelas seperti ini."


Kenzo sendiri sampai mengangkat sudut bibirnya, "Sudah ku kira dia begitu mencurigakan." ucapnya pelan.


Mario sampai refleks menatap lelaki yang sudah beristri itu, "Insting Lo, bagus banget," decak nya kagum, pantas tiba-tiba ingin mengetahui informasi tentang Pak Matteo, rupanya guru itu memang bagai penyusup, "Apa ada masalah, Ken? melihat informasi Pak Matteo sepertinya pihak kalian pun kecolongan dengan kehadiran guru itu di sekolah" tanyanya semakin penasaran, Kenzo adalah putra pemilik yayasan, seharusnya sebelum dia yang mencurigai guru itu pihak yayasan harus terlebih dulu mencurigai nya.


"Kemungkinan Pak Matteo main halus memanfaatkan orang dalam. Kalau saja Pak Matteo tidak mengingatkan ku pada seseorang aku juga tidak akan mencurigai nya." jawabnya jujur. Kenzo bukan tidak bisa langsung bertanya pada Daddy-nya, hanya saja dia tidak ingin mengutarakan kecurigaan nya pada sang Daddy tanpa alasan, setelah dia mengetahui ini dia akan memberi tahu Daddy-nya dan meminta bawahannya untuk memata-matai sosok Pak Matteo itu.


"Mengingatkan pada seseorang. Siapa, Ken?" jiwa wartawan nya semakin menjadi-jadi membuat Mario semakin penasaran.


"Mario, guru tua itu mengingatkan ku pada sosok Mario."


"Loh, kok gue." Mario sang penyiar sampai melongo, dia masih muda dan begitu tampan kenapa sosok guru tua itu malah membuat Kenzo mengingat nya. "Nyakali, Ken. Masa gue di samakan dengan Pak misterius itu."


Si empunya langsung terbahak, "Hahaha, gak mungkin lah, nama itu warisan dari nyokap dan bokap gue, mana bisa gue ganti." timpal nya malah meladeni perkataan Kenzo, akhir-akhir ini lelaki itu sering uring-uringan membuat nya malah ingin meladeni kekesalannya. "Masih belum dapat jatah ya, tensi lo makin tinggi," bisik nya lagi malah menggoda Kenzo dengan cengengesan.


Kenzo sampai jengah, "Ngelunjak lo, ya,"


"Hahaha, kalau mau curhat, curhat aja Ken, gue ngerti perasaan lo," Mario malah semakin gencar menggoda Kenzo, tidak bisa di pungkiri, walau dia masih remaja tapi sudah paham betul apa yang di derita temannya itu yang sudah menikah dengan keadaan istrinya yang belum mengingat tentang kenangan mereka, "Masih puasa, kah?" ledeknya lagi.


"Si Anjir!" Kenzo kembali sewot dengan kaki tidak diam menendang kaki Mario di bawah sana. Gak usah di tanya, karena jawabnya sudah jelas dia sedang berpuasa tidak bisa mendapatkan jatah. Dia bukan predator yang akan meniduri istrinya sendiri dalam keadaan istrinya sedang sakit, terlebih wanita itu belum sepenuhnya menerima dirinya karena ingatannya belum kembali.

__ADS_1


"Pertanyaan lo makin ngelantur," decak Kenzo sambil beranjak pergi, semakin terus melayani pertanyaan Mario lelaki itu akan semakin menjadi jadi. "Gue cabut dulu, Thanks bantuan nya."


"Wah, masa pergi begitu saja, Ken?"


"Ada urusan yang lebih penting," ucapnya sambil menghampiri Tiara, dia harus memberi tahu sang Daddy tentang kejanggalan yang terjadi.


"Iya, pergi saja sana." Mario hanya bisa tersenyum kecil menatap kepergian Kenzo. Dia sampai tidak mengira kalau lelaki dingin itu ternyata bisa bersikap lembut juga pada sosok wanita, bahkan lelaki itu begitu perhatian, bukan membangunkan Tiara Kenzo malah mengangkat tubuh istrinya itu tanpa mengganggu tidurnya.


...*...


"Argh...." Mario membanting wig nya dengan begitu keras, duduk di sofa kontrakannya yang ia jadikan tempat persembunyiannya, perasaannya begitu kesal pada sosok putra keluarga Wijaya, baru hari pertama saja lelaki itu sudah berani membentak dan menghinanya. "Sepertinya aku harus bergerak cepat," gumamnya dengan menyeringai. Dia langsung melepaskan semua penyamarannya dan langsung menyandarkan punggungnya di sofa. Jika tidak bisa melukai mereka maka dia bisa membuat citra buruk agar keluarga Wijaya jatuh dengan sendirinya.


"Ada apa, Bos?"


Bawahan Mario mendekat, hanya dia satu-satunya orang yang mengikuti Mario yang lepas dari buruan polisi.


"Mana barangnya? aku membutuhkan nya sekarang!" pintanya sambil mengulurkan tangan meminta sesuatu yang di bawa bawahannya itu.


"Ini Bos." Dengan sigap lelaki itu langsung memberikan sebuah plastik berukuran kecil berisi serbuk putri di atas telapak tangan Bos nya. "Bos yakni akan membawa itu ke sekolah?" tanyanya ragu, itu sebuah narkoba bukannya cukup beresiko jika bos nya itu membawanya ke sana.


"Pasti tidak akan ada yang curiga," jawab Mario dengan enteng, dia berkedok seorang guru, dia yakin dia bisa aman. "Bagaimana pun caranya, putra Pak Kenan harus bisa mengkonsumsi ini," tuturnya dengan menyeringai. Dia sudah muak jika harus berlama-lama menjadi guru gadungan, dia harus bergerak cepat untuk menjebak Kenzo agar lelaki itu bisa terseret hukum dengan sebuah narkoba itu, "Bukan hanya akan menanggung malu, perusahaan Wijaya pasti akan langsung jatuh setelah orang-orang mengetahui kalau pewaris keluarga Wijaya seorang pemakai narkoba." tuturnya lagi dengan begitu percaya diri kalau apa yang di rencanakan nya pasti terjadi.


Di sudut lain, di luar kontrakan itu, dua Intel kelas proposal sedang mengintai pergerakan orang yang ada di dalam, sesuai apa yang di perintahkan, mereka sedang bertugas untuk memata-matai sosok Pak Matteo, yang ternyata itu memang sosok Mario yang sedang mereka cari.

__ADS_1


"Kau sudah mendapatkan fotonya?" tanya salah satu dari mereka dengan begitu pelan, satu rekannya hanya memberi isyarat dengan mengangkat ibu jarinya seolah mengatakan tugas mereka selesai.


"Ayo kembali, Tuan besar dan tuan muda harus mengetahui ini."


__ADS_2