
"Tiara, kau baik-baik saja kan? kenapa bisa bersama dengan nya?" Bukan hanya terus menatap Tiara, Bagas dari tadi di buat heran, kenapa bisa Tiara bersama orang kota ini. Terlebih kenapa lelaki itu dari tadi terus saja merangkul wanita pujaannya, bikin naik darah saja, "Kau sedang tidak di culik kan? Mana Om Arya?" tanyanya lagi. Yang dia tahu Tiara telah merantau ke kota bersama pamannya, tapi kenapa sekarang pulang kampung bersama orang asing.
Kenzo sampai jengah, seenaknya sekali bibir itu bicara, sampai mengira dia penculik, "Heh, buka telinga lo lebar-lebar! Gue suami Tiara. Gue mau masuk kampung kalian karena harus mengatakan istri gue pulang kampung. Jadi minggir!" sentak nya geram. Sudah jelas dia mau lewat masih saja menghalangi jalan.
Bukannya menanggapi, Bagas malah terbahak. "Lo pikir gue percaya. Jangan mengada-ada lah!" timpalnya dengan menyeringai. Bagaimana tidak, dia hapal siapa Tiara. Wanita yang penuh ambisi dalam pendidikan tidak lah mungkin sudah menikah di usia nya yang masih muda, terlebih lelaki yang mengaku sebagai suaminya itu juga sangatlah muda sama seperti dengan nya. "Ayo Tiara! biar aku antara sampai rumah." ajaknya malah tanpa malu ingin meraih tangan Tiara, tapi tangannya kembali terhempas.
"Aisst, kurang ajar sekali Lo ya." Kenzo semakin kesal, kembali melangkah maju rasanya dia ingin menonjok wajah lelaki itu, tapi pergerakannya terhenti karena Tiara merangkul tangannya dengan erat.
"Jangan tersulut emosi." bisik nya berusaha menenangkan suaminya itu. Dia sudah tahu seperti apa Bagas, lelaki itu akan semakin menjengkelkan bila di kasari, biar dia saja yang bicara.
"Gas, perkenalkan ini Kenzo. Dia memang suamiku. Kita sudah menikah," tutur Tiara memperkenalkan sosok Kenzo pada teman sekelas nya dulu. "Jadi tolong, biarkan kita lewat, karena aku sudah merindukan rumah."
Bagas sontak langsung tertegun, kalau Tiara yang bicara pasti bukan sebuah kebohongan, tapi kenapa bisa? "Mana surat nikah nya?" tanyanya ingin memastikan dengan benar. Jika mereka benar-benar suami istri di atas sebuah bukit, mereka bisa lewat, tapi jika tidak ada bukti hanya Tiara yang bisa lewat sini.
"Astaga," Kenzo sampai di buat pusing. Orang kalau di tilang di tengah jalan yang di tanya kartu SIM atau surat-surat kendaraan, ini malah di tanya surat nikah, ya jelas tidak ada lah karena surat nikah pasti di simpan di rumah. "Dia memang harus di hajar biar otaknya sedikit lebih beres," bisik nya pada Tiara, tolong jangan terus mencegahnya, karena tangan ini sudah gatal ingin memberi pelajaran preman kampung itu.
"Jangan! Tunggu, aku akan ambil dulu."
__ADS_1
Kenzo sampai terkejut, "Ambil apa? Yang dia minta surat nikah, sayang. Emang kau membawa nya?"
Tiara sampai tersenyum, "Bawa, sengaja aku siapkan takut nanti di tanya Pak RT," jawabannya cepat dengan menyeringai. Dia memang akan kembali ke kampung halaman bersama suaminya, tapi tidak menutup kemungkinan kalau orang-orang di kampung tidak percaya dengan hubungan mereka makanya dia sudah menyiapkan bukti untuk berjaga-jaga dan ternyata itu memang sangat di butuhkan.
"Istri pintar," saking senangnya Kenzo sampai mencolek ujung hidung Tiara, kurang apa coba istrinya ini. Cantik, pintar, dan selalu bisa menyelesaikan masalah di segala kondisi. "Ambillah!" tuturnya sambil mengelus kepala sang istri. Aku dia perlihatkan bukti nyata hubungan mereka, jadi jangan macam-macam apalagi sampai berani menyentuh istrinya.
Setelah masuk mobil, Tiara kembali, menenteng tas selempang di pundaknya dan bergegas mengeluarkan surat nikah itu dan dia berikan pada suaminya.
Kenzo pun dengan senang hati mengambil itu, dia langsung tertawa penuh kemenangan, memperlihatkan surat nikah itu di depan preman kampung yang sok berkuasa, "Kau puas?" cibirnya dengan menyeringai senang. Dia kembali mengembalikan surat nikah itu dan di berikan pada Tiara setelah melihat ekspresi Bagas yang sedang mematung seperti begitu syok setelah melihatnya.
Tragedi penilangan berakhir, Pak Tono kembali melajukan mobilnya sampai kini sudah sampai di sebuah pekarangan rumah yang begitu kecil, suasana kampung yang begitu asri, angin sore yang bertiup sepoi-sepoi menyambut kedatangan Tiara beserta suaminya.
"Ini rumah nya?" ucap Kenzo sambil mengitari sekeliling. Melihat penampilan luar nya saja terlihat begitu sederhana, mungkin kalau di bandingkan dengan kediaman Wijaya, rumah ini sama luasnya dengan ruangan tamu nya saja.
Tiara sendiri langsung berbinar. Hatinya bagai terhenyak, dulu saat tahu rumah ini sudah dijual pamannya dia tidak pernah berpikir akan kembali menginjakkan kakinya di sini.
"Nenek, Tiara pulang." gumamnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Kepalanya langsung di penuhi bayang-bayang kenangan mereka. Sang Nenek akan tersenyum lebar membukakan pintu dan menyambut nya dengan pelukan tatkala dia pulang sekolah. "Suami Tiara ingin menjenguk Nenek, Ayah dan Ibu. Bahkan dia kembali membeli rumah ini agar aku bisa terus menjenguk kalian kesini." gumamnya lagi masih berdiri tegak di depan pintu. Hatinya kembali sedih saat kembali menginjak kaki di sini.
__ADS_1
Kenzo yang melihat itu langsung mendekat dan memeluknya dari belakang, "Kenapa? jangan bersedia lagi, ayo masuk!" ajaknya berusaha menghilangkan kesedihan sang istri. Bahkan tangannya langsung bergerak mengambil kunci di tas selempang sang istri untuk membantu wanita itu membuka pintu. "Biar aku buka kan!" tuturnya tanpa melepaskan pelukannya. Dia langsung menggiring Tiara mendekati pintu masih di dalam kungkungan kedua tangannya.
Cklek...
Pintu terbuka, kini terlihat jelas keadaan di dalam rumah yang terlihat begitu sederhana, hanya ada ruang tamu, dua kamar kecil, sebuah dapur kecil dengan tempat makan yang minimalis dan sebuah kamar mandi di sampingnya. Sungguh begitu sederhana tapi terlihat rapih dan nyaman, dengan warna interior putih yang mencerahkan seisi rumah.
Banyak kenangan di sini membuat Tiara terus tertegun mengingat semuanya. Tidak ingin berkabung dalam suasana sedih Kenzo pun perlahan menggiring Tiara masuk dan langsung duduk di sofa sederhana yang bertengger di sana.
"Ayo duduk dulu, kau pasti lelah, biar Pak Tono yang menurunkan barang-barang nya." tuturnya sambil menarik Tiara agar duduk di pangkuannya.
Tiara sampai tersenyum kecil sambil memposisikan duduknya, Kenzo tidak terlihat ragu meski harus memasuki rumah kecil bahkan duduk di sofa tua yang sudah usang termakan waktu, berbeda dengan sofa mewah yang ada di kediaman nya, "Kok malah seperti kamu yang tuan rumah nya ya!" candanya dengan tertawa kecil, bukan dia yang mempersilahkan Kenzo duduk tapi malah lelaki itu yang seperti sedang ada di rumah nya sendiri dan terlihat nyaman bahkan menyuruhnya duduk di pangkuannya.
"Ya, Aku memang Tuan rumah nya. Tuan rumah pemilik hati, jiwa dan raga wanita cantik ini, jadi aku harus memperlakukan nya dengan baik." tutur nya sambil mengecup tengkuk Tiara.
Tiara sampai tersenyum senang, "Terima kasih, sayang." lirihnya sambil menyandarkan punggungnya. Nyaman, itulah yang dia rasakan tatkala tubuh itu bersandar di dekapan lelaki ini, bahkan dia langsung menarik kedua tangan Kenzo agar tangan lelaki itu melingkar di perutnya dan memeluknya. "Aku ragu kau tidak akan nyaman tinggal di sini." ucapnya lagi sambil mengelus-elus punggung tangan Kenzo. Lelaki ini selalu hidup dalam kemewahan apa bisa dia hidup dalam kesederhanaan seperti ini.
"Tidak perlu ragu. Karena rumah ku adalah kamu. Di mana pun kau berada di situlah aku akan merasa tenang dan nyaman, Tiara."
__ADS_1