Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Maafkan aku, Kenzo.


__ADS_3

Kenzo mendekatkan ponsel Tiara di telinga nya, mencoba mendengarkan siapa yang ada di balik panggilan itu.


"Ra, apa kau sudah melihat berita itu. Apa kau baik-baik saja?" Suara Jonathan terdengar begitu jelas, bahkan kekhawatiran mendominasi setiap perkataan nya. Sepertinya lelaki itu sudah bisa menebak kalau Tiara ada dalam masalah karena berita tentang dia dan dirinya.


Kenzo seketika mengepalkan tangan dengan begitu geram, dia tahu betul dengan suara itu walau nomer itu tanpa nama. Tanpa berkata-kata dia langsung menutup panggilannya, "Ini yang kau bilang menghargai?" decak nya kesal sambil menatap Tiara dengan begitu tajam, rasanya dia sudah muak sampai melemparkan ponsel itu untuk mengembalikan nya pada Tiara.


"Kau bahkan memberi nomor ponsel mu pada lelaki itu tapi tidak pernah memberi tahu ku yang merupakan tunangan mu sendiri." tutur Kenzo dengan penuh kekecewaan. Dia begitu susah untuk menghubungi Tiara tetapi Jonathan malah dengan mudah menghubungi nya, dia teramat kesal, sekarang tidak ada lagi alasan untuk mendengarkan perkataan wanita itu. "Lepaskan!" titahnya dengan begitu datar.


Badan Tiara sampai bergetar, refleks melepaskan lengan Kenzo, dan menyimpan kembali ponselnya. Dia benar benar sudah terpuruk, yang tidak ia harapkan malah menjadi kenyataan. "Itu karena kau tidak pernah memintanya. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu! Kenapa semuanya jadi begini!" keluhnya dalam hati. Perasaan nya makin kalut. Panggilan dari Jonathan malah memperburuk keadaan nya.


Terus bicara pun percuma, Kenzo sudah sangat marah membuat dia hanya bisa pasrah. "Maaf." lirihnya dengan begitu lemas, dia sampai menundukkan kepala. Sudah terlalu malu sampai rasanya dia tidak pentas untuk terus berdebat. "Maaf, Ken." tutur nya lagi. Dia tertunduk lemas mengakui kalau dirinya salah.


Kenzo sesaat terdiam, agak kaget karena Tiara malah menundukkan kepala bukan malah mendebat nya. "Apa dia sadar dengan kesalahannya!" gumam nya dalam hati. Amarahnya pun perlahan terkikis, itulah yang dari tadi Kenzo harapan dari Tiara, dia ingin wanita itu introspeksi diri dari sebuah kesalahan bukan malah banyak bicara apalagi malah menentangnya. Karena yang dia harapkan bukan sebuah penjelasan melainkan sebuah penyesalan.


"Turun!" titah Kenzo dengan begitu datar, dia sudah terlanjur kecewa, tidak bisa semudah itu untuk memaafkan Tiara. "Berusaha untuk terlihat seperti biasa, aku tidak ingin kejadian ini sampai di ketahui Daddy dan Mommy." titah nya lagi.


Itulah yang menjadi beban nya sekarang, walau dia marah pada Tiara, tapi hati kecilnya tidak akan tega kalau wanita itu sampai mendapatkan kekecewaan dari kedua orang tuanya, terlebih sang mommy yang sudah menganggap Tiara seperti putrinya sendiri.


Mereka berdua sudah masuk ke dalam rumah, seperti apa yang Kenzo inginkan Tiara bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.


"Den, Non. Sudah pulang!" sapa salah satu pelayan, seperti biasa dia menyambut kedua majikan muda nya.


"Mommy di mana?" tanya Kenzo. Matanya dari tadi sudah mengitari seisi rumah, tapi tidak melihat keberadaan sang Mommy di mana-mana. Padahal biasanya dia akan langsung kena marah kalau pulang telat seperti sekarang.


"Dari tadi Ibu pergi ke kantor, Den. Katanya ada sedikit masalah di kantor jadi ibu harus membantu Bapak, kemungkinan Ibu dan Bapak akan pulang malam." jawab si pelayan berusaha menyampaikan pesan dari apa yang Ze bicarakan.


Kenzo dan Tiara tanpa sadar bernafas lega. Tiara bisa sedikit lebih tenang karena masih punya waktu untuk memohon maaf atas kesalahannya sebelum Ze dan Kenan pulang.


Kenzo sendiri bisa punya waktu lebih untuk membereskan masalah foto yang sudah beredar sebelum berita itu sampai pada kedua orang tuanya, beruntung kedua orang tuanya sedang sibuk dengan urusan pekerjaan pasti mereka tidak punya waktu untuk mengecek forum sekolah.

__ADS_1


"Kau masih beruntung karena mommy tidak ada di rumah, kalau tidak bukan hanya membuat ku kecewa, kau benar-benar akan menjadi beban dan menyusahkan ku." decak Kenzo. Dia masih menatap Tiara dengan penuh kekesalan, langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Ken!" Tiara memanggil Kenzo dengan begitu lirih, kakinya pun ikut berjalan mengikuti langkahnya. Dia sadar dia salah, dia selalu menyusahkan dan menjadi beban untuk nya. Tapi sungguh dia minta maaf, kalau perlu hukum lah dia dari pada dia di bencinya. "Kenzo!" lirihnya lagi memohon.


Kenzo enggan mendengarkan panggilan Tiara, dia butuh waktu untuk melihat kesungguhan wanita itu sebelum dia memaafkannya, dia malah terus berjalan sampai sudah mendekati pintu kamar, ingin membuka pintu tapi seketika tubuhnya kaku. Tiara yang ada di belakangnya langsung menghentikan langkahnya.


"Kau?" Kenzo kaget, kedua tangan Tiara merangkul pinggangnya dan langsung mencekam switer nya, bahkan kepala wanita itu langsung tertunduk bersandar di punggungnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya nya heran, dia ingin melepaskan tangan Tiara tapi wanita itu malah mempererat pegangannya dan terus menyandarkan kepala di punggungnya.


"Maaf, maafkan aku atas semuanya." lirih Tiara, suaranya terdengar begitu berat, dia sampai menghembuskan nafas dalam-dalam seolah membuang semua kegundahan di hatinya. Lelaki itu harus tahu sedalam apa penyesalannya.


"Maaf telah menyusahkan mu, maaf karena aku malah menjadi beban di hidup mu. Tolong jangan mengabaikan ku seperti ini hukum lah aku dengan cara yang lain, tapi ku mohon jangan mendiamkan ku seperti ini. Maafkan aku Kenzo!" pintanya lagi. Suaranya masih terdengar begitu lemas, bahkan matanya sampai berkaca-kaca, harus berakhir seperti inikah hidupnya? Setelah di benci keluarga pamannya kini lelaki yang selalu membuatnya nyaman malah membencinya juga. Tiara tidak sanggup jika harus menjalani semuanya.


"Tiara?" Kenzo terhenyak, sesaat matanya terpejam, perkataan wanita itu melumpuhkan hatinya. Dia tidak pernah mengira kalau wanita itu akan memohon sampai seperti itu padanya.


Kepala Tiara yang terus bersandar di punggungnya terasa begitu hangat.


Bahkan dia pun bisa merasakan setiap hembusan nafas Tiara, seolah wanita itu menunjukkan ketulusannya.


"Aku ingin istirahat," tuturnya sambil melepaskan kedua tangan Tiara dari switer nya, walau tidak tega meninggalkan Tiara, dia harus segera menyelesaikan masalahnya. "Masuklah ke kamar mu!" titahnya lagi sambil beranjak pergi, dia benar-benar masuk ke dalam kamar dan lekas menutup pintunya.


Tiara masih tertunduk, kini air matanya benar-benar jatuh membasahi pipinya. Lelaki itu benar-benar pergi mengabaikan nya.


"Dasar bodoh, kenapa kau ceroboh sekali Tiara," decak nya memarahi diri sendiri, badannya langsung ambruk terduduk lemas di lantai, bisa-bisanya dia tidak berhati-hati sampai memancing sebuah scandal yang merugikan dirinya sendiri.


Tiara langsung mengambil ponselnya menatapnya dengan penuh penyesalan, "Agrh....." keluhnya lagi. Dia sampai membanting ponsel itu dengan begitu keras, kesal sendiri, hanya karena kedekatannya dengan Jonathan semuanya jadi berakhir seperti ini.


Sementara itu, Kenzo langsung membanting tas sekolahnya, mencari tempat duduk yang nyaman untuk menenangkan hatinya. Di rasa sudah sedikit tentang dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Mario!" Kenzo langsung memanggil namanya saat orang itu sudah mengangkat teleponnya. Dia adalah ketua tim penyiar, si tokoh utama yang mengendalikan para murid jurnal untuk menerbitkan berita-berita terbaru di sekolah.

__ADS_1


"Wah, wah, wah. Tidak ku sangka kau akan menelepon ku secepat ini. Rupanya kedekatan mu dengan ketua osis tidak bisa di ragukan, sampai seorang Kenzo yang tidak pernah mengusik tim kami tiba-tiba langsung turun tangan sendiri setelah ada berita ini," Mario langsung mengoceh sana sini. Dari awal dia sudah mengira kalau Kenzo akan menghubungi nya karena dia telah mengusik ketenangan sahabatnya, tapi tidak mengira kalau dia akan secepat itu, bahkan belum sampai tiga jam dari saat dia meng-upload nya.


Kenzo langsung menyeringai, tiba-tiba dia jadi muak saat mendengar seseorang membahas tentang Jonathan, tebakan Mario memang benar kalau dia pasti akan menghubungi nya, tapi salah besar jika dia mengira itu karena Jonathan.


"Gue benci basa basi. Katakan saja dari mana kau mendapatkan foto itu?" tanya Kenzo langsung pada sasaran, bahkan perkataanya penuh dengan penekanan.


Mario seketika langsung tertawa, dia yang sudah mendapatkan suap dari Shasa langsung angkat jempol karena perkiraan wanita itu benar adanya. Pantas saja uang suap nya cukup banyak, rupanya seorang Kenzo yang akan menelusuri kebenaran beritanya.


"Pertanyaan mu terlalu mudah untuk di jawab, Ken. Kau kan tahu sendiri di sekolah kita hampir setiap meter ada cctv, bagi kami tim penyiar tidak lah susah menangkap satu momen seperti itu. Hanya foto seperti itu sangat mudah bagi kami untuk mendapatkan nya." jawab Mario dengan penuh percaya diri, jawab yang terdengar begitu logis. Walau itu sebuah kebohongan tapi dia yakin kalau Kenzo akan mempercayainya.


"Hapus postingan itu sekarang juga!" titah Kenzo tanpa berbelit-belit. Tidak peduli perkataan lelaki itu benar atau tidak, tujuan nya sekarang adalah menghilangkan foto itu dari forum sekolah agar kedua orang tuanya tidak melihatnya.


"Jangan bercanda Ken, tidak semudah it-" Mario ingin menolak, tapi belum juga selesai bicara suara Kenzo sudah menggelegar di balik teleponnya.


"Hapus, atau gue samperin Lo dan gue cekik leher lo agar tidak banyak bicara, hah!" titahnya dengan penuh amarah.


Mario sampai terbatuk-batuk, baru bicara saja rasanya lehernya sudah di cekik lelaki itu. "Iya, iya. Gue akan menghapusnya. Tapi gue butuh kompensasi, berita ini sudah mendapatkan respon yang baik, jika gue tiba-tiba menghapusnya itu akan sangat merugikan." timpal Mario berusaha negosiasi. Coba-coba saja, mungkin dia akan mendapatkan keuntungan lebih.


"Kau butuh berapa?" tanya Kenzo tanpa basa-basi.


Mario sampai tersenyum senang, tidak mengira kalau coba-coba nya di respon Kenzo, dia akan mematok harga tinggi,


"Sepuluh juta." pintanya dengan begitu jelas, Mario sampai menyeringai, ini adalah kesempatan emas mengerjai seorang Kenzo. Lelaki itu pasti akan menolak dan membuat harga dirinya jatuh, karena tidak mungkin lelaki itu akan menukar sebuah foto yang bahkan bukan tentang dirinya sendiri dengan uang sebesar itu.


"Mana nomor rekening lo, gue transfer uangnya sekarang juga." timpal Kenzo tanpa keraguan. Mario di balik teleponnya langsung termangap-mangap


"Gila," decak Mario sampai geleng kepala.


Sebenarnya Kenzo berandal sekolah atau bos mafia, uang sepuluh juta bagai sepuluh ribu sampai dengan mudah mengeluarkan nya. "Iya, gue hapus postingan itu sekarang." timpal Mario, agak malu, kenapa sekarang malah serasa harga dirinya yang jauh.

__ADS_1


Kenzo langsung menutup panggilan nya, sesuai yang dia perintah Mario langsung mengirimkan no rekening nya, tidak mau membuang waktu dia pun mentransfer uang yang Mario pinta.


"Semoga saja belum terlambat," tutur Kenzo dia sampai menghela nafas, dia hanya bisa berharap kedua orang tuanya belum sempat melihat forum sekolah.


__ADS_2