Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Terlalu fokus menyiapkan perlombaan.


__ADS_3

Semua peserta yang akan mengikuti lomba berkumpul di ruangan guru, bukan hanya briefing untuk perlombaan nanti, ada perubahan peserta yang baru sekolah putuskan.


"Pak, saya tidak terima, mana bisa saya di gantikan oleh Michel, saya masih bisa ikut lomba."


Suara Shasa menggelar di dalam kantor guru, dia tidak terima pihak sekolah dengan keputusan sepihak seenaknya memundurkan dirinya dari peserta lomba. Dia tidak terima, langsung menatap Michel yang sama-sama ada di sana dengan tatapan kesal. "Awas saja kau Michel kalau berani mengambil posisiku." gumamnya geram. Terus menatap Michel seolah berkata jangan mau menuruti kemauan sekolah untuk menggantikan.


"Sha, lihat keadaan mu sekarang, kau sakit, tangan mu saja menggunakan gips, pihak sekolah tidak bisa memaksakan mu ikut lomba." timpal sang guru memberi alasan. Walau mungkin keputusan untuk mengganti nya dengan Michel tidak terlalu efektif, tapi tidak ada pilihan lain.


"Pak saya sehat, hanya dengan keadaan tangan yang seperti ini saya tidak akan mengecewakan sekolah, saya masih bisa berpikir." kilah Shasa masih bisa membela diri.


"Tapi Sha, tetap saja itu akan memberikan citra buruk pada sekolah, kita bisa di cap tidak punya hati bahkan mungkin bisa tercoreng karena mengirimkan murid sakit ke perlombaan." tutur guru itu lagi berusaha meyakinkan Shasa. Berusahalah terima, kalau terus memaksakan diri pihak sekolah yang di rugikan. Sekolah Trisakti sudah terkenal sebagai tempatnya murid-murid berprestasi, jika masih mengirimkan Shasa ke perlombaan bukankah seolah memperlihatkan kalau tidak ada kandidat lain yang pantas, citra sekolah benar-benar akan tercoreng.


Shasa sesaat terdiam, dia hanya bisa mengepalkan tangannya karena kesal, "Akkhhh, Ini semua gara-gara si benalu. Kalau dia tidak menarik ku aku tidak akan begini, awas saja kau Tiara." umpatnya dalam hati. Tiara harus menerima balasan yang setimpal atas apa yang wanita itu lakukan padanya. Dia terus berpikir untuk mencari cara, "Pak, perlombaannya hari Senin, saya akan pastikan saat lomba itu berlangsung keadaan ku akan baik-baik saja tanpa ada gips ini di tangan saya. Saya harus ikut lomba, Michel tidak bisa menggantikan nya." tutur Shasa lagi dengan begitu tegas. Dia akan membuktikan kalau dia baik-baik saja.


Guru itu sesaat terdiam, memang kasihan jika memundurkan Shasa, "Iya, tapi kami akan tetap mengirimkan Michel untuk berjaga-jaga." timpal guru itu lagi mengiyakan kegigihan Shasa, muridnya itu memang selalu mempunyai semangat tinggi karena posisinya tidak mau tersaingi. "Bagaimana Michel, apa kau tidak keberatan bila di jadikan cadangan?" tanya guru itu, meminta pendapat Michel sendiri. Sekolah berharap murid itu bisa bekerja sama dengan sekolah demi kebaikan bersama.


Michel menunduk, tatapan Shasa dari tadi sudah mengancam keselamatan nya, dia tidak mampu menjawab pertanyaan guru itu, bisa ikut lomba adalah kesempatan baik untuk nya, tapi ancaman Shasa lebih menakutkan membuat nyali nya lemah.

__ADS_1


Tiara yang sadar akan tatapan tajam Shasa langsung meraih tangan Michel, "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, turuti saja kata hati mu, aku tahu kau juga tertarik dengan perlombaan itu." bisik nya dengan tersenyum. Ini adalah kesempatan baik baginya untuk merangkul murid yang di tekan Shasa, mengumpulkan semua korban kelicikan Shasa dan memberikan mereka kekuatan agar bisa berkumpul dan bekerjasama untuk melawan Shasa dan menguak kejahatan nya.


Michel sampai tertegun, tidak mengira Tiara akan membela nya, dia langsung membalas senyuman Tiara dan menganggukkan kepala. "Iya, Pak. Saya tidak keberatan. Kapanpun sekolah membutuhkan saya, saya siap." jawab Michel dengan tegas.


Shasa sampai geram tak percaya, Michel berani mengabaikan tatapan tajam nya, "Kau kira aku main-main, awas saja kau, Michel." gumamnya kesal. Bukan karena apa-apa, sebenarnya dia tidak bisa yakin tangannya bisa sembuh hari Senin nanti. Kalau Michel ikut ke luar kota berarti tidak ada alasan baginya untuk memaksakan diri mengikuti perlombaan jika tangannya masih terasa sakit.


"Bagus. Kalian semua bersiaplah untuk besok." timpal guru itu, sudah cukup lega karena masalah dadakan ini bisa di selesaikan dengan mudah.


Mata guru itu kini menatap ke arah Kenzo, ada rasa penasaran yang mengganjal di pikiran nya, "Dan kau Kenzo, ada angin apa kau mau ikut perlombaan dengan sukarela?" tanya guru itu cukup heran, padahal biasanya brandal sekolah itu tidak pernah mau ikut lomba, meskipun di paksa, "Bahkan katanya kau sampai mengancam guru penanggung jawab lomba agar bisa di pasangkan dengan Tiara." ucap guru itu lagi sampai gelang kelapa. Kenzo berbuat onar memang tidak lah aneh, tapi jika berbuat onar hanya karena pasangan lomba itu kan aneh.


Kenzo yang dari tadi hanya diam langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aisst, kenapa harus di bongkar segala si, Pak." gumamnya dalam hati, dia hanya tersenyum yang di buat-buat menanggapi pertanyaan guru itu, enggan memberikan alasan, gengsi juga kepergok Tiara sudah berbuat ulah, wanita itu bahkan sudah melebarkan mata menatap nya.


...*...


Esok harinya.


Para pelayan kediaman Wijaya sedang sibuk menyiapkan segala keperluan untuk acara pernikahan tuan muda mereka, bekerja dengan tugasnya masing-masing. Ada yang berkutat di dapur, di luar rumah, dan ada mendekorasi rumah sedemikian rupa agar terlihat lebih indah walau pernikahan ini tertutup dari khalayak.

__ADS_1


Kenzo terlihat mendekati kamar Tiara sambil membawa nampan, dia baru dari bawah setelah berolahraga, sang Mommy benar-benar memanjakan wanita itu sampai menyuruhnya membawakan sarapan untuk Tiara sekalian untuk nya. Mereka di suruh sarapan di atas karena banyak pelayan yang sedang bekerja di bawah. Mau tidak mau dia membawa itu dan harus memberikan nya pada Tiara.


"Tiara!" Kenzo memanggilnya sambil mengetuk pintu. Membutuhkan waktu cukup lama sampai wanita itu membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" Tiara membuka pintu masih dengan setelan baju tidur dengan rambut yang di ikat sembarang.


"Apa dia baru bangun tidur, sepertinya nyawanya belum ngumpul." gumam


Kenzo sambil menatap Tiara dengan penuh tanya, "Kau belum bersiap-siap?" tanya nya heran, hanya dengan melihat penampilannya saja dia sudah bisa menebak kalau wanita itu belum mandi, padahal waktu sudah cukup siang.


"Berangkat nya kan nanti sore, kenapa harus bersiap dari sekarang, aku baru mengemas baju ku." jawab Tiara dengan begitu polos, orang bertanya tentang apa dia menjawab apa.


"Dia benar-benar belum sadar." gumam Kenzo lagi tangannya sampai refleks menyentil kening Tiara untuk menyadarkannya, "Apa kau sudah lupa kalau penghulu sudah menunggu di bawah." ucapnya dengan begitu dingin, bisa-bisanya wanita itu lupa kalau pagi ini mereka akan menikah.


"Penghulu?" Tiara sampai mengulang kata itu, berpikir cukup lama, dan setelahnya dia langsung mengelus kening nya, dengan mangap tak percaya "Astaga Tiara! kenapa kau bodoh sekali, kau sampai lupa pagi ini kau akan menikah," decak nya mengumpat diri sendiri, karena terlalu fokus mempersiapkan perlombaan dia sampai lupa acara pagi ini padahal acara itu lebih penting daripada yang dia pikirkan nya sekarang.


"Apa kau sudah sadar?" tanya Kenzo memastikan, dia sampai bersiap untuk kembali menyentil kening Tiara jika wanita itu belum sadar juga.

__ADS_1


"Iya, aku ingat." jawab Tiara dengan cepat, dia tersenyum kikuk, dengan cepat menutup keningnya takut Kenzo kembali menyentil nya.


"Bagus!" timpal Kenzo dengan tersenyum kecil, dia langsung menyodorkan sarapan Tiara yang dari tadi di pegang nya. "Nih, sarapan dulu! dan setelah itu bersiap lah, jangan sampai lupa lagi!" titah nya dengan tegas. Tangannya langsung bergerak mengacak-acak rambut Tiara, bisa-bisanya wanita itu masih terlihat cantik padahal baru saja bangun dari tidurnya.


__ADS_2