
Ze terlihat memasuki ruangan di mana Tiara berada, mendengar kabar dari bawahan suaminya kalau menantunya itu pingsan dia langsung kutar ketir menuju rumah sakit.
"Tiara, sayang!" Ze langsung mendekat, tanpa ragu langsung memeluk tubuh menantunya itu tanpa mempedulikan semua orang yang sedang berkerumun di sana. "Kamu kenapa, Nak?" tanyanya dengan begitu khawatir, bawahannya hanya memberi tahunya kalau Tiara masuk rumah sakit dia tidak di beri tahu apa sebabnya.
"Mommy," Tiara langsung membalas pelukan sang Mommy, mendekap erat sosok wanita pengganti sang Nenek yang amat menyayangi nya meski tidak terikat hubungan darah, "Aku baik-baik saja, Mom." ucapnya lirih tatkala wanita paruh baya itu melepas pelukannya dan menatapnya dengan pilu.
"Katanya kau pingsan, dan ini, luka ini kenapa?" Tangan Ze sampai bergerak lembut mengelus kepala Tiara dan menatap sedih perban yang menempel di leher menantunya.
Tiara hanya diam dengan senyuman, Daddy dan suaminya sudah berpesan untuk menyembunyikan kejadian ini dari sang Mommy takut wanita paruh baya itu menjadi histeris, karena selama ini Mommy nya itu tidak pernah di beri tahu prihal masalah Arzan maupun Mario.
Melihat Tiara yang terdiam Ze langsung menatap Kenzo, "Sudah Mommy bilang kan kau harus menjaga istri mu." omel nya sambil memukul lengan putranya yang sedang duduk di ranjang tempat Tiara berbaring, dialah tersangka utama nya karena tidak bisa menjaga Tiara, dia pun langsung memukuli nya dengan begitu keras.
Sang empunya langsung meringis, "Sakit Mom." keluhnya sambil mengelus lengannya. Dia sampai mati gaya, bisa-bisanya dia kena omelan sang Mommy di depan teman-temannya. Jonathan, Devan, Mario dan Reno; mereka berempat bahkan sudah cengengesan melihat dirinya, berasa jatuh citra nya sebagai lelaki garang karena harus pasrah kena pukulan sang Mommy karena tidak bisa melawan.
"Ternyata ada masanya si Bos tunduk pasrah, tanpa ada kata melawan." bisik Reno pada Devan. Kedua laki-laki itu sudah lama mengenal Kenzo tapi baru kali ini melihat sisi sopan nya.
Tiara yang melihat itu menjadi iba, "Sudah, Mom. Kenzo tidak salah," dia langsung membela sang suami bahkan refleks memeluk nya menghentikan pukulan sang Mommy, "Aku tidak apa-apa, Mom." ucapnya lirih, matanya menatap sang Mommy dengan mimik memohon, sedangkan satu tangannya mengelus lengan Kenzo seolah memohon untuk menghentikan hukuman nya karena tangan itu sudah kesakitan.
Kenzo sampai kegirangan berasa di atas awan, langsung mengelus kepala sang istri, dan tersenyum lebar menatap Mommy nya. Dikala dia tidak bisa melawan pada sosok Ibu, kini ada wanita yang membelanya.
Kenan sampai tersenyum kecil, dia langsung merangkul pinggang sang istri dan menariknya agar sedikit menjauh dari menantu dan putranya, "Ingatan pawang nya sudah kembali, jangan memarahinya lagi." bisik nya dengan tersenyum. Lihat saja, bahkan raut wajah putranya itu kembali bersinar tatkala sosok wanita yang mencintai nya ada di pihaknya.
Ze sampai geleng kepala dengan tersenyum lebar, dari tingkah Tiara saja dia sudah bisa menebak, sikap Tiara yang seperti itu bukan Tiara yang hilang ingatan, melainkan Tiara yang mencintai putranya dengan penuh kasih sayang.
"Syukurlah." Hati ikut senang tapi ekspresi masih terlihat datar menatap putranya, "Iya, karena kamu sudah lebih baik, Mommy tidak akan menghukum nya lagi." ucapnya sambil menatap Kenzo dengan penuh arti, seolah berkata jangan pernah lagi lengah apalagi sampai melukai istrinya. Karena dia yang akan merasa bersalah jika Tiara terus celaka berada di keluarga mereka. Dialah dalang di balik hubungan mereka yang berawal dari keterpaksaan, dia tidak mau hubungan itu di penuhi penderitaan.
Kenzo yang faham betul arti tatapan itu langsung mengangguk, bahkan bibirnya langsung mengecup puncak kepala Tiara, dia berjanji dia akan selalu menjaga istrinya.
"Kalau sudah lebih baik apa kita pulang saja?" ajak Ze pada putra dan menantu nya, suasana di rumah sakit tidak senyaman istirahat di rumah. Akan lebih baik Tiara Istirahat di rumah saja.
"Ekh, kalian juga di sini." ucap Ze saat menyadari kalau teman-teman kedua putranya juga ada di sana.
"Tan." Semuanya langsung berbungkuk menyapa sosok Nyonya keluarga Wijaya.
Ze sampai terharu melihat kesopanan mereka, bahkan mereka begitu perhatian pada putra dan menantu nya, merekalah yang selalu ada di saat putranya butuh hiburan terlebih setelah tragedi Tiara kecelakaan, "Ayo, kalian juga ikut ke rumah, kalian belum pernah main ke rumah kita, kan?" ajak nya pada mereka.
Devan dan Reno sampai antusias kegirangan, "Beneran Tan, kita boleh main?" tanya mereka dengan kompak, bahkan mereka langsung menatap Kenzo menguatkan ajakan Mommy nya.
__ADS_1
"Jangan malu-maluin lah, ekspresi nya biasa aja napa!" Mario yang malu, langsung mencubit lengan dua lelaki itu agar bisa menjaga sikap.
"Siapa yang malu-maluin, kita kan di ajak, gak sopan kalau nolak." Reno sampai sewot kena cubitan Mario, kapan lagi kan mereka bisa menginjakkan kaki di Mansion keluarga Wijaya. Biasanya mereka hanya bisa melihat nya di artikel dan berita, ya jelas sekarang jadi girang karena akan melihat yang aslinya.
Jonathan sampai geleng kepala, senang si senang, tapi harus tahu waktu juga kan, "Maaf Tante, bukannya kita tidak mau main ke rumah, tapi sepertinya lain kali saja." tuturnya dengan penuh kesopanan, Tiara belum fit total, kalau mereka main sekarang yang ada mereka akan menggangu waktu istirahatnya.
"Loh, kenapa?" Padahal tadinya Ze mau menyiapkan acara makan malam untuk mereka.
Bukan hanya Ze yang kaget, Devan dan Reno juga langsung sewot menginjak kaki Jonathan di bawah sana. "Kenapa di tolak, ketua osis? Ini kesempatan emas." bisik mereka berdua dengan kesal.
Jonathan sampai di buat geram, langsung tersenyum malu menatap Ibu dari sahabat nya itu, "Maaf Tan, besok kita masih ujian jadi harus belajar untuk persiapan." ucapnya pada wanita paruh baya itu dan langsung mendelik menatap Devan dan Reno. "Pulang sana, jangan Mabar mulu yang ada di pikiran kalian!" bisik nya tetap sasaran.
Azzura dan Priscilla sampai ikut tersenyum melihat perdebatan para lelaki itu, mereka sependapat dengan Jonathan dan memilih langsung berpamitan untuk pulang.
"Cepat sembuh ya, Ra. Kita bertemu lagi besok di sekolah." Rasanya Azzura ingin mendekat memeluk temannya itu untuk berpamitan, tapi dia urungkan karena wanita itu terus menempel di pelukan suaminya.
"Iya, terima kasih untuk semuanya." Tiara hanya tersenyum lebar melihat kepergian dua teman wanitanya.
Kini giliran para lelaki yang berpamitan, Devan dan Reno masih terlihat ketus, sudah kegirangan mau main ke Mansion keluarga Wijaya ekh malah tidak jadi.
"Kita pulang dulu, Bos. Mabar nya besok lagi di sekolah," ucap Reno masih tidak tahu malu. Mario sampai refleks merangkul pundak nya, "Sakit Woi," omel nya kesal.
Kedua teman Mabar nya langsung antusias tapi kembali diam karena di bungkam oleh Mario. "Lain kali saja, Ken. Kalau main sekarang takut mengganggu yang mau buka puasa." ucapnya dengan cengengesan tanpa dosa.
"Anjir." Kenzo sampai refleks menendang kaki Mario yang sudah menjauh. Bisa-bisanya lelaki itu masih membahas hal itu dalam situasi seperti ini.
"Emang siapa yang puasa?" tanya polos Tiara tidak tahu apa-apa, wajahnya sampai mendongkang menatap wajah Kenzo karena heran, perasaan tadi pagi mereka sarapan bersama, lalu siapa yang di maksud Mario.
Mario sampai tidak kuat menahan tawa, rasanya kalau tidak ada Tuan Kenan dan Ibu Ze dia akan terbahak sepuasnya, bisa-bisanya wanita itu begitu polos malah bertanya seperti itu pada suaminya. "Kenzo sedang berpuasa, Tiara." ucapnya malah semakin gencar meledak Kenzo.
Kenzo sampai geram menatap Mario, "Si Anjir, pulang sana!" decak nya geram, dia langsung menatap Tiara yang masih menatapnya dengan kebingungan. "Jangan dengarkan ocehan nya, dia hanya bercanda." ucapnya sambil mengelus wajah sang istri, jangan menatapnya dengan ekspresi polos seperti itu karena dia bisa-bisa tidak tahan untuk mencium nya. "Ayo pulang!" ajaknya langsung memalingkan pembicaraan. Ada baiknya juga teman-temannya itu menolak ajakan Mommy nya. Dia memang butuh waktu untuk berdua saja dengan istrinya.
...----------------...
Waktu sudah cukup malam, semua orang di kediaman keluarga Wijaya sudah mulai terlelap dalam tidurnya, suasana malam semakin sepi dan hening, tapi tidak dengan Kenzo dan Tiara, pasutri ini masih terjaga sambil berbincang di atas tempat tidurnya.
"Ken, pelan-pelan."
__ADS_1
"Tahan, sayang. Ini juga pelan-pelan."
"Perih!" Tiara terus merengek, tangan yang awalnya mencekam seprai tempat tidur, kini bergerak mencekam lutut Kenzo yang sedang duduk bersila di depannya. "Pelan-pelan!"
Kenzo sampai tersenyum kecil, sejak kapan Tiara menjadi se-manja ini, "Tahan sebentar, kalau tidak di olesi salep lukanya akan membekas, sayang." timpal nya dengan begitu sabar, tangannya dengan perlahan mengoleksi bekas luka di leher Tiara, bahkan bibirnya terus meniup luka itu agar sang istri tidak merasakan perih saat dia mengoleskan salep di lukanya. "Kalau tidak mau perih bukan pakai salep," ucapnya dengan begitu serius.
Tiara sampai antusias, kenapa tidak bilang dari tadi, mungkin dia tidak akan merengek kesakitan seperti ini. "Pakai apa?" tanyanya dengan serius.
Kenzo sampai menyeringai menunjuk bibirnya, "Pakai ini." ucapnya tanpa dosa, dia perlahan mengangkat dagu Tiara, perlahan berbungkuk mengecup bekas luka di leher itu, dan mulai berkeliaran sesukanya.
"Kenzo!" Tiara sampai di buat kesal, bukan hanya karena di kerjain Kenzo tapi lelaki itu kini sudah mengecup leher nya sana sini, "Perasaan bekas lukanya tidak di mana-mana." celoteh nya dengan tersenyum kecil, walau bibir menggerutu tapi tubuhnya pasar dengan tingkah suaminya.
Kenzo sampai terkekeh, "Tidak perih lagi kan?" ucapnya masih tanpa dosa, bahkan kini tangannya langsung melingkar di pinggang Tiara, agar wanita itu semakin mendekat padanya, "Sayang!" panggilannya lirih.
Tiara sampai gelagapan, bukan hanya penggilingan nya yang terdengar mesra tapi tatapan Kenzo pun terlihat begitu dalam. "Iya."
"Ayo temui Nenek dan kedua orang tua mu!" ucap Kenzo tiba-tiba. Tangannya langsung mengelus kepala sang istri dan perlahan mengecup keningnya. "Aku telah menikahi anak gadis kesayangan nya tapi aku tidak pernah sekalipun menemui mereka." ucapnya lirih, bibir yang awalnya menempel di kening, kini perlahan turun mengecup hidung dan semakin turun sampai kini berhenti mengecup bibir istri nya.
Mendengar ucapan Tiara saat pertama kali bangun dari pingsan nya dia jadi malu sendiri, dia sebagai suami tidak pernah berpikir untuk meminta restu pada keluarga Tiara yang sebenarnya. Walau mereka sudah tidak ada, setidaknya dia ingin mengunjungi pemakannya.
Tiara sampai tertegun, tanpa sadar air matanya terjatuh dengan sendirinya, rupanya tanpa di minta suaminya itu begitu mengerti akan keadaannya, dia sampai tidak mampu berkata-kata, hanya bisa mengangguk mengiyakan ajakan nya. "Terima kasih,"
"Kenapa menangis! Maaf, sebelumnya aku tidak pernah berpikir sampai ke sana." Kenzo jadi merasa bersalah, langsung menyeka air mata itu dan terus mengelus kepala Tiara, dia tidak pernah tahu kalau istrinya sampai segitunya merindukan Nenek nya. "Maaf!"
Tiara sampai refleks menggerakkan tangannya memeluk Kenzo, dan menyandarkan kepala di dada suaminya, "Aku menangisi karena teramat bahagia, Ken." lirihnya sambil mendekap tubuh itu dengan erat, jangan pernah minta maaf karena Kenzo tidak salah, justru dia harus berterima kasih, karena suaminya itu telah hadir menjadi penyempurna hidup nya.
"Tapi kampung halaman ku sangat kumuh di pedalaman, Ken. Apa tidak apa-apa jika kau mau ke sana?" tanyanya memastikan, bahkan kepalanya langsung mendongkang ingin melihat ekspresi lelaki itu.
"Tidak apa-apa, mau mendaki gunung melewati lembah sekalipun tidak apa-apa asal dengan, mu."
Tiara sampai tertawa kecil, rasanya geli mendengar seorang Kenzo menggombal, terlebih gombalannya itu meniru sebuah lagu.
"Kenapa malah tertawa, kau meledek ku?"
"Tidak, kok."
"Kalau kau tidak percaya dengan kesungguhan ku, akan ku buktikan."
__ADS_1
Tiara tidak bisa lagi tertawa, bibirnya kini sudah terbungkam sempurna tatkala lelaki itu dengan begitu menuntut terus melu-mat nya.