Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Gara-gara switer couple.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Kenan masih terlihat berkutat dengan layar PC nya membereskan beberapa dokumen penting perusahaan, dia harus lebih rapih dalam bekerja karena lengah sedikit saja perusahaan Prawira sudah bergerak cepat mengambil para investornya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar jelas, Kenan langsung memalingkan pandangannya menyuruh orang di balik pintunya itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Maaf Tuan, ini sudah malam apa lebih baik Tuan lekas pulang untuk istirahat." ucap sang sekretaris. Dia langsung menghampiri meja atasannya itu sambil menyimpan beberapa lembar dokumen yang sudah ia kerjakan, "Jangan terlalu memaksa diri, Tuan." ucapnya lagi.


"Pak Arya dan Arzan terus saja melakukan perlawanan. Kita tidak bisa terus diam, kalau tidak bergerak mereka akan semakin ngelunjak." timpal Kenan sambil mengambil dokumen itu dan mulai memeriksanya, baginya harus lembur tidak apa, yang penting kestabilan perusahaan tetap terjaga walau terus mendapatkan gencetan dari perusahaan Prawira. "Jadi ini perusahaan-perusahaan asing yang memutuskan kerja sama dengan kita?" tuturnya setelah melihat semua dokumen itu.


"Iya, Tuan. Lebih dari lima perusahaan asing sudah memutuskan kerjasama karena beralasan bisnis kita sudah tidak menarik lagi," timpal sekretaris itu menjelaskan, kinerja Arzan memang tidak bisa di remehkan terlebih pemuda itu bekerja sama dengan Arya yang tahu celah perusahaan Wijaya, membuat perusahaan Prawira bisa mengambil investor mereka. "Mereka membentuk gebrakan baru, membuat perusahaan asing itu lebih tertarik dengan tawaran yang mereka berikan." jelasnya lagi.


Kenan sampai menghela nafas, tidak bisa di pungkiri, Arzan memang seorang entrepreneur muda yang cukup berbakat. Terlebih anak muda itu lulusan luar negeri, lelaki itu pasti lebih tahu budaya orang asing sampai bisa mengambil hati mereka yang sudah bekerjasama dengan nya.


"Maaf Tuan, sepertinya tidak ada cara yang lebih efektif selain menurunkan Tuan muda untuk terjun langsung kelapangan." jelas Sekretaris itu lagi, jika perusahaan Prawira mengunggulkan Arzan untuk menarik para investornya, maka perusahaan Wijaya harus menunjukkan sang pewaris nya untuk kembali menarik para investor itu agar kembali mempercayai perusahaan nya. "Terlebih Nona muda juga cukup berbakat, Tuan dan Nona muda pasti bisa menjadi partner yang baik dan bisa kembali menarik para investor kita." ucapnya lagi memberi saran.


Kenan sesaat diam, apa tidak apa-apa menguak identitas putranya, apalagi langsung menurunkan nya kelaparan yang cukup rumit bak Medan perang yang kejam. Tapi kalau di biarkan cabang-cabang perusahaannya bisa-bisa jadi terbengkalai kalau tidak segera dibereskan. "Baiklah, akan aku bicarakan dulu pada mereka. Tidak perlu terlalu khawatir dengan gencetan dari perusahaan Prawira, untuk urusan internal perusahaan biar Roni yang akan mengurusnya, kau hanya perlu mengurus masalah eksternal, atur semuanya dengan rapi, sebelum Kenzo dan Tiara siap untuk turun langsung membantu kita." tuturnya dengan tegas. Putra dan menantu nya itu sangatlah pintar, mereka pasti bisa di andalkan tapi tetap saja mereka membutuhkan penyesuaian.


"Baik Tuan,"


...*...


Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, rutinitas sekolah kini harus berjalan lagi. Walau tubuh Tiara belum fit sepenuhnya dia harus tetap masuk sekolah mengimbangi nilainya karena tiga hari kemarin tidak bisa mengikuti kegiatan sekolah.


"Akh, otot-otot terasa kaku sekali," gumam Tiara sambil menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Setelah mengenakan seragam sekolah nya dia langsung menuju meja rias untuk menata rambutnya.

__ADS_1


"Kalau merasa belum sehat, jangan memaksakan diri," titah Kenzo yang sedari tadi terus memperhatikan sang istri, seragam sekolah yang di kenakan Tiara terlihat minim, hembusan angin pasti akan kembali membuat tubuh wanita itu menjadi lemas. "istirahat saja," lanjutnya memberi saran.


"Tidak apa-apa kok, ini juga sudah lebih baik." Iya, pura-pura baik saja, kalau suaminya tahu kalau tubuhnya belum fit lelaki itu tidak akan membiarkan nya turun dari tempat tidur untuk terus istirahat.


Pluk...


Belum juga rambut Tiara tersisir rapi, sebuah switer hitam mendarat di kelapanya, "Ken." Dia langsung menoleh ke belakang, menatap sang suami yang berdiri tegak di belakangnya, sambil mengenakan switer dengan warna yang sama dengan yang di berikan pada nya.


"Hem." jawabnya singkat. Itu kan yang istrinya inginkan. Menggunakan switer couple yang kemarin wanita itu beli saat di Bali. Bahkan bukan hanya switer, di lengannya kini terpasang sebuah jam tangan yang sama seperti yang Tiara kenakan sekarang.


Tiara sampai tersenyum kecil, lelaki dingin yang kemarin menolak pemberian dari nya karena merasa risih menggunakan barang couple kini di kenakan juga, "Terima kasih." ucapnya dengan menyeringai senang.


Kenzo hampir tak bisa berkata-kata, sesenang itu kah, saat dia menuruti keinginannya ini, "Cepat pakai switer mu!" titahnya lagi sambil mengacak rambut wanita itu, kalau saja tidak mengingat keadaan Tiara sekarang dia tidak mau menggunakan switer couple ini saat ke sekolah, sudah bisa membayangkan kalau dia pasti akan di ledek habis-habisan oleh kedua teman Mabar nya.


"Kak Kenzo, aku merindukan Kakak." ucapnya dengan begitu antusias, rasanya dia ingin terus memeluk lelaki itu untuk melapas rasa rindunya.


Tiara sampai menohok kaget, hubungan mereka benar-benar sangat dekat sampai Kenzo sendiri tidak terlihat risih saat wanita itu memeluknya. "Tahan, Tiara. Kenzo sudah menganggap Chelsea seperti adiknya." gumamnya sambil memalingkan wajah. Entah dianggap sebagai adiknya atau apalah itu, tetap Chelsea seorang wanita, istri mana yang tidak merasa cemburu melihat suaminya di peluk wanita lain.


"Iya-iya aku juga merindukan mu. Jadi lepaskan!" timpal Kenzo sambil melepaskan pelukan Chelsea, dia tidak terlalu heran karena wanita itu memang selalu bertingkah sesukanya, tapi tidak untuk Tiara, istrinya itu pasti kembali jeles melihat tingkah wanita ini. "Kapan kau akan mulai sekolah?" tanyanya saat melihat penampilan Chelsea yang masih mengenakan pakaian santai.


"Mungkin besok, Tante masih mengurus pendaftaran nya." jawab Chelsea dengan begitu antusias, tidak apa di samping Kenzo ada seorang wanita, asalkan lelaki itu masih peduli padanya. "Kak Kenzo, ayo sarapan bersama!" ajaknya tanpa ragu merangkul lengan lelaki itu, ingin langsung menariknya tapi Kenzo dengan cepat melepaskan nya.


"Astaga." Tiara yang kesal, kalau tidak melihat Kenzo ingin sekali dia menjambak rambut wanita itu, setelah memeluk Kenzo wanita itu bahkan langsung menggandeng lengan sang suami tanpa menghargai kalau ada dia di sisinya. "Wanita macam apa sih dia. Dasar bocah." umpatnya sambil merangkul lengan Kenzo. Dia tidak akan membiarkan wanita itu bertingkah sesukanya, dan melebihi batasan nya.


Kenzo sendiri sampai menghela nafas, situasi sepertinya mulai tidak sinkron terlebih sang istri sudah mulai tersulut rasa cemburu, "Chelsea jaga sikap mu, kau bahkan belum menyapa Kakak ipar mu." tegur nya berusaha meredam perasaan sang istri. Dia tidak bisa terlalu keras menghadapi Chelsea dan tidak mungkin juga melukai perasaan istrinya.

__ADS_1


Chelsea sampai mengepalkan tangannya geram, dari tadi dia sudah menahan diri berusaha menutup mata melihat kedekatan mereka, terlebih saat melihat style couple yang mereka kenakan sekarang, tidak bisa di pungkiri lelaki yang di cintanya memang terlihat begitu serasi dengan wanita itu, dan itu sukses membuat hatinya tersulut api cemburu, "Kak Kenzo sekarang jahat." ketusnya kesal, sambil memasang wajah cemberut. Jangankan ingin menyapa Tiara, melihatnya saja dia tidak suka.


"Chelsea!" tegur nya lagi. Kenzo sampai kehabisan kata-kata, bagaimana caranya membuat wanita itu bisa menerima Tiara sebagai Kakak iparnya. "Kau sekarang sudah dewasa, seharusnya kau sudah tahu apa itu sopan santun dan tatakrama." tuturnya dengan begitu dingin, bahkan nada suaranya cukup cukup tinggi menasehati wanita yang sudah dia anggap seperti adiknya.


Chelsea sampai langsung menunduk, nyalinya menciut ketakutan, "Iya, maaf. Pagi Kak Tiara." ucapnya sambil mengulurkan tangan di hadapan wanita yang harus ia anggap kakak ipar nya. Rasa cemburunya kalah oleh rasa takut, takut jika lelaki itu malah membencinya.


"Pagi, dek Chelsea." jawab Tiara dengan tersenyum menerima uluran tangan Chelsea, dia memang kesal pada gadis ini, tapi melihat ekspresi nya sekarang dia malah menjadi kasihan, rupanya bocah ini juga tahu rasa hormat sampai ketakutan setelah mendapat teguran dari Kenzo. "Ayo kita sarapan, untuk oleh-oleh yang Kakak janjikan kemarin, nanti akan di antarkan bibi pelayan ke kamar mu." tutur nya lagi berusaha mengalihkan kecanggungan.


Chelsea melangkah paling depan, di ikuti Kenzo dan Tiara di belakangnya, mereka terus beriringan menuju meja makan menghampiri Ze yang sudah stand by di sana.


"Kenzo!" Suara Kenan terdengar jelas, dia terlihat menuruti anak tangga sambil memanggil putranya.


Kenzo langsung menoleh, langsung menghentikan langkahnya menunggu sang Daddy turun dari tangga. "Apa, Dad?" tanyanya penasaran karena sang Daddy memasang wajah yang terlihat begitu serius.


Kenan mendekat, langsung menatap Kenzo dan Tiara bergantian, penampilan mereka hari ini terlihat begitu berbeda, "Kalian tidak sedang sakit kan?" tanyanya memastikan. Jika biasanya hanya Kenzo yang selalu menggunakan switer kini istri putranya itu malah ikut-ikutan meniru style putranya, terlebih switer yang mereka kenakan memiliki warna dan corak putih yang sama.


Tiara sampai tersenyum kikuk, "Tidak apa-apa Dad, kita baik-baik saja." jawabnya cepat.


"Ada yang harus Daddy bicarakan pada kalian," tutur Kenan kembali memasang wajah serius. Dia langsung menyuruh Tiara dan Kenzo untuk mengikutinya ke ruang kerjanya. "Ayo bicara sekarang sebelum sarapan."


Tiara sampai kaget, ada apa kok tiba-tiba? Apa mungkin Daddy-nya itu akan memarahi mereka karena liburan kemarin menghabiskan banyak uang, "Kalau saja aku tahu barang-barang yang aku beli barang mahal aku tidak akan pernah mengambilnya." gumamnya menyesal. Pasalnya saat kemarin membeli semua oleh-oleh, dia tidak fokus melihat harga dan asal membawanya saja. Dan saat di bayar di kasir jumlah semuanya membuatnya geleng kepala.


"Ken?" rengek nya sambil menarik switer sang suami, berjalan beriringan saja jangan meninggalkan nya.


"Jangan tegang begitu, Daddy hanya ingin bicara dengan kita," tuturnya meredam kegelisahan Tiara, walau sebenarnya dia sendiri cukup kaget karena pagi-pagi begini Daddy nya terlihat begitu serius.

__ADS_1


__ADS_2