
Flashback
"Aku tidak menyangka Tiara menerima desakan mu untuk bertanding hari ini, Sha!" ucap Alicia mulai duduk di sofa ruangan tempat berkumpul mereka sekarang. Dia langsung mengambil cemilan yang sedang di makan Jessica.
"Hei!" si empunya langsung protes. Dua wanita itu kini duduk bersebelahan sambil menatap Shasa yang sedang duduk di meja kekuasaan nya.
"Iya, dia mengajak Priscilla dalam tim nya." jawab Shasa dengan begitu ketus, dia langsung meneguk kasar minuman botolan di tangannya. "Walau lawan kita Priscilla pastikan kita menang!" titahnya dengan tegas.
"Itu pasti, kita perlihatkan betapa pintarnya kita saat di lapangan," timpal Alicia dengan menyeringai, kalau lawannya adalah Priscilla justru akan lebih menyenangkan. Karena dia bisa bermain curang melawan musuh bebuyutan.
"Sha, sejak kapan kau mengkonsumsi cemilan berlemak itu, bahkan akhir-akhir ini kau tidak pernah lepas dari minuman rasa oranye jus itu, biasanya juga air putih." tanya heran Jessica keluar dari jalur pembicaraan, dia cukup heran setelah mengamati perubahan Shasa, sudah lama dia mengenal Shasa dan wanita itu tidak pernah suka dengan apa yang namanya coklat. Bahkan selera minumannya pun sekarang jadi berbeda.
"Bad mood mulu gue, sering pusing kepala karena terlalu banyak pikiran," jawab nya datar.
Alicia dan Jessica sampai saling menatap cengengesan, seperti bukan Shasa saja, tidak seperti biasanya temannya itu memasang wajah kusut seperti itu, "Tidak sedang frustasi kan?" goda Jessica kembali bersuara. "Jangan bad mood mulu lah, gue punya barita baik, nich." timpal nya dengan antusias.
Shasa dan Alicia langsung menoleh mantap wanita itu, "Apa?"
"Tadi pagi ada murid baru, seorang wanita cantik, dan kalian tahu siapa yang mengantarkan wanita itu ke kantor guru?"
"Siapa?" Alicia dan Shasa sampai antusias, dari raut wajah Jessica sepertinya itu memang berita menarik.
"Kenzo."
"What?" Hampir tak percaya, Alicia dan Shasa sampai mangap tak percaya. Sejak kapan seorang Kenzo mau mengantar seorang murid baru keruangan guru terlebih itu seorang wanita.
"Iya. Wanita itu terlihat begitu dekat dengan Kenzo, Sha. Bahkan gue bisa lihat ekspresi Tiara yang cemburu saat lelaki itu harus menemani murid baru itu." Jessica sampai menggebu-gebu menceritakan apa yang dia lihat tadi pagi.
"Oh my God, benarkah?" Alicia kembali antusias. "Kau tidak mengada-ada kan, Jes?"
"Sumpah, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, Al. Bahkan mereka bertiga keluar dari mobil yang sama." jawab Jessica kembali menyakinkan. Matanya tidak buta, tidak minus pula. Tadi pagi dia melihat tiga orang itu saat di parkiran. Murid baru itu sampai terlihat merengek pada Kenzo, sampai Kenzo kewalahan dan menuruti kemauan wanita itu.
Shasa sendiri hanya menyeringai, kalau ada wanita yang bisa dekat dengan Kenzo dan membuat Tiara cemburu bukankah itu lebih seru, dia bisa memanfaatkan wanita itu untuk menyakiti hati Tiara. "Aku tidak sabar ingin melihat nya." timpal nya dengan menyeringai. Siapa wanita itu sampai bisa berhubungan baik dengan Kenzo. Yang dia tahu hanya Tiara wanita yang selalu ada di sampingnya. Tiara lah yang selalu menjadi pusat perhatian nya.
"Fokus pada permainan dulu, setelah kita menang ayo kita bersenang-senang, kita datangi murid baru itu."
Flashback off.
...***...
__ADS_1
Pritttt
Peluit berbunyi, wasit sudah melakukan jump ball sampai kini bola sudah melambung tinggi, Priscilla dan Alicia sudah mengambil ancang-ancang untuk menguasai bola, saat bola sudah mulai turun, Priscilla sudah mengambil kuda-kuda untuk melompat mengambil bola itu tapi dengan cepat Alicia mendorong pelan tubuh itu sampai kini bola sudah ada di tangannya.
"Sorry." Alicia sampai menyeringai, hatinya tertawa puas, langsung melakukan dribbling dengan tertawa kecil meledak Priscilla, "Ini baru permulaan."
Priscilla sampai mengeram, "Kau! Jangan curang pecundang!" decak nya sambil mengepalkan tangan, dia langsung bergerak cepat untuk mengambil alih bola itu dari tangan Alicia.
"Coba saja, kau tidak akan bisa mengalahkan kita," cibirnya sambil menjulurkan lidah. Alicia langsung melakukan gerakan pivot saat tangan Priscilla dengan cepat menghampiri bola di tangan nya. "Sha, ambil!" ucapnya sambil mengoper alih bola itu ke tangan Shasa.
"Oke." Dengan sigap Shasa mengambil bola itu tanpa membiarkan Tiara untuk menyentuhnya. "Haha amatir sekali, kau. Coba ambil kalau bisa." ledek Shasa sambil menatap remeh Tiara, terus memantulkan bola memancing pergerakan wanita itu.
"Ya Tuhan, ini lebih mengerikan dari pada latihan kemarin." gumam Tiara sambil mencari celah, gara-gara kemarin latihan sambil menggoda Kenzo dia tidak bisa mengambil celah yang tepat untuk mengambil bola.
Sett.... Tiara ingin bergerak melangkahkan kaki, belum bergerak sempurna, tubuhnya terhalang Jessica yang dengan cepat menghadang tubuhnya.
"Sorry." Jessica menyeringai. Pergerakan yang begitu kompak, dia memang bertugas menghalang siapapun yang berusaha mengambil bola, urusan lay-up Shasa dan Alicia lah jagonya.
Pluk.... Satu kali loncatan tanpa hambatan, Shasa berhasil memasukkan bola ke dalam ring tim Tiara, Jessica sampai bersorak riang menghampiri Shasa.
"Hahaha, bukankah mereka terlalu mudah untuk di kalahkan." ucap girang Alicia. Kini tim nya sudah berkuasa mengambil bola.
"Aisst, nyesel gue gabung di sini. Kalian memang payah." decak Priscilla, dia tidak pernah bermain dengan satu tim yang terlihat begitu payah, sampai dia terbawa susah.
"Maaf, Cill."
"Gue gak butuh maaf, main yang benar!" seru nya dengan tegas. Priscilla pun kembali menghampiri Alicia yang sedang menguasai bola.
"Masih banyak waktu, jangan putus asa seperti itu." timpal Azzura sambil menepuk pundak Tiara. Ini baru babak pertama, masih ada tiga babak lagi. "Ayo buktikan kalau kita bisa!"
Tuk...tuk...tuk...
Bola terus memantul, Alicia dengan lihai menggiring bola itu kembali mendekati ring Tiara, terus melakukan dribbling untuk mengulur waktu karena tim nya sudah mencetak satu poin. "Sha." ucapnya lagi sambil mengoper bola. Namun kali ini meleset, Tiara dengan cepat mengambil bola itu.
"Akh, syukurlah." Tiara sampai kegirangan, tidak bisa berlama-lama menguasai bola takut kembali di ambil Alicia.
"Shot, Tiara." pinta Priscilla memberi kode, dia yakin wanita itu tidak bisa melakukan lay-up dengan sempurna, maka oper padanya biar dia yang melakukannya.
"Iya." Dengan sekuat tenaga Tiara melempar bola itu dan langsung di tangkap Priscilla dengan sigap.
__ADS_1
Duk... Lagi-lagi tubuh Priscilla terdorong, Jessica dengan cepat mengambil bola itu dan langsung mengoper bola pada Shasa. "Thank, bolanya." cibirnya malah meledak.
"Aisst." Priscilla sampai tidak habis pikir, mereka bertiga benar-benar biadab. Kalau terus seperti ini tim mereka bisa kalah.
Di sudut lain, Kenzo yang melihat itu langsung naik pitam, "Anjing, wasit sialan. Apa dia tidak lihat kalau tim wanita gila itu berbuat curang." decak nya geram. Dia sudah berdiri untuk melabrak wasit itu, tapi langkahnya langsung terhenti karena depan menarik tangannya.
"Santai, Bro! wasit itu masih diam karena itu tidak melanggar aturan, biarkan saja, kalau kau ikut campur, tim pacar mu itu akan semakin di rendahkan oleh mereka." cegah Devan berusaha meredam emosi Kenzo, pergerakan Alicia dan kedua kawannya masih di batas wajar, "Priscilla pasti tidak akan tinggal diam jika di perlakuan seperti itu," ucapnya lagi hingga membuat Kenzo duduk kembali.
"Saat latihan kemarin saja mereka yang menang." timpal Jonathan yang juga duduk di antara mereka, mengingat kembali betapa pintarnya para wanita itu merayu mereka.
"Kemarin kita kalah karena kita mengalah, bodoh." decak nya sambil menendang kaki Jonathan, kemarin bukan sebuah latihan, melainkan hanya sebuah lelucon.
Pritttt
Wasit kembali meniup peluit, pertanda babak pertama sudah berakhir, dengan sekor satu kosong, poin unggul mendominasi tim Shasa.
Shasa dan kedua kawannya sampai menyeringai senang, puas sekali mereka mentertawakan Tiara dan kedua kawannya.
"Sudahlah Tiara. Kita main dua babak saja, dari pada buang waktu kan, karena sudah jelas pasti kita pemenangnya." ucap Shasa dengan menyeringai penuh kemenangan. Dia sudah bisa membayangkan saat wanita itu bertekuk lutut di hadapan nya.
"Aturan tetap empat babak. Kau menang atau tidak kita lihat nanti hasilnya." timpal Tiara dengan tajam. Di awal mereka memang kalah, tapi dia tidak akan melewatkan tiga kesempatan lagi.
Peluit kembali berbunyi, kedua tim kembali pada posisi masing-masing, wasit sudah melakukan jump ball dan seperti biasa Alicia lah yang selalu menguasai bola, waktu terus berjalan cepat, tim Tiara tidak pernah bisa menguasai bola karena pergerakan tim Shasa begitu cepat dan kompak.
Suporter yang mendukung tim Shasa terus bersorak, terlebih di babak kedua dan ketiga tim mereka kembali mencetak poin dengan dengan hasil poin terakhir kosong tiga. Kemenangan kembali di dominasi tim Shasa.
Semua tim sudah kelelahan, mereka sedang beristirahat sebelum babak terakhir di selenggarakan. Tim Shasa terlihat duduk beristirahat sambil mengatur strategi terakhir mereka. Begitupun dengan tim Tiara, mereka sedang beristirahat di temani Kenzo dan kedua temannya.
"Ken." Tiara sampai mengeluh malu, "Bagaimana ini?" rengek nya sambil menundukkan kepala, meminta bantuan lelaki itu.
Kenzo sampai menghela nafas, dan mengusap kasar wajahnya, tidak bisa di pungkiri kalau Tiara memang payah dalam permainan basket, "Manfaatkan kesempatan terakhir ini!" ucapnya penuh harap. Dia langsung mengelus kepala Tiara, walau istrinya itu benar-benar payah, berusahalah.
"Kalian harus lebih kompak." ucapnya lagi, kini Kenzo berusaha menasehati tiga wanita itu. "Kau dan Azzura fokus mengambil bola, biarkan Priscilla yang mencetak poin, sebisa mungkin cegah mereka bertiga mendekati ring kalian," tuturnya lagi memberi solusi, "Bila perlu lakukan hal kotor seperti yang mereka lakukan!" titahnya dengan begitu tegas, tim wanita gila itu saja bisa, kenapa mereka tidak. Jangan mudah di tindas lawanlah mereka dengan tegas.
"Iya." Tiara yang menjawab. Mereka berdua harus kembali ke tengah lapangan karena pertandingan sudah mau di mulai.
"Lakukan yang terbaik! Jangan mengecewakan." ucap Kenzo yang terakhir kalinya. Dia kembali mengelus kepala sang istri sebelum wanita itu benar-benar pergi.
"Dari tadi aku berkeliling ternyata, Kak Kenzo di sini." Suara Chelsea tiba-tiba terdengar, wanita itu dengan begitu polos langsung duduk di samping Kenzo tanpa mempedulikan orang-orang yang sudah menatapnya heran. "Antar aku ke kantin, Kak! Aku lapar." rengek nya kembali meminta bantuan Kenzo. Dia baru pertama kali menginjakkan kaki di sini jadi belum tahu betul denah sekolah ini.
__ADS_1
Tiara yang baru pergi beberapa langkah langsung menghentikan langkahnya, kembali menoleh ke belakang "Aisst, wanita manja itu." tangannya langsung mengepal keras. Kenapa harus memperburuk suasana hatinya. Dia sudah cukup frustasi takut kalah. Kenapa Chelsea tiba-tiba datang dan memancing api cemburunya.