
Masih terasa seperti mimpi, Tiara bisa merasakan kehangatan keluarga Kenan dan ikut berkumpul bersama mereka. Seperti pagi ini, dia masih bisa ikut duduk di antara Kenan, Ze dan juga Kenzo untuk melakukan sarapan bersama.
"Bagaimana sekolah kalian?" Kenan mulai bertanya. Jika biasanya dia hanya bertanya pada Kenzo kini dia menggunakan kata 'kalian' sama sama menanyakan keadaan Tiara.
"Baik, Dad." jawab Kenzo dengan cepat bersuara mewakili jawaban Tiara. Walau sebenarnya banyak sekali masalah dia harus bilang kalau mereka baik-baik saja.
Kenan langsung menatap keduanya, tidak mengira mereka berdua secepat ini bisa terlihat begitu akur, bahkan dia tidak mengira Kenzo akan bersikap baik kepada tunangannya. "Benar, mereka sudah sangat cocok dan terlihat begitu akur." gumamnya dalam hati.
Bahkan saat tahu Tiara membantu membereskan pekerjaan Kenzo, Kenan merasa lebih senang karena mereka bisa saling membantu satu sama lain. Memberikan poin plus untuk Tiara, walau dia gadis desa tidak berarti dia tidak bisa apa-apa, buktinya Tiara bisa membantu nya membereskan pekerjaan kantornya. Jikapun dia menarik mereka di dunia bisnis, keduanya pasti akan menjadi partner yang baik.
"Ini, kamu pasti membutuhkan nya." tutur Kenan, dia memberikan sebuah ponsel baru yang masih tersimpan di dus nya dan ia simpan di depan Tiara.
"Pak!" Tiara sampai kaget, apa tidak terlalu berlebihan sampai memberi nya sebuah ponsel, bahkan ponsel itu terlihat begitu mewah.
"Tidak apa-apa, ambilah! Kata Kenzo ponsel mu rusak." timpal Kenan. Dia langsung melirik putranya, tersenyum kecil melihat Kenzo, putranya bahkan begitu peka terhadap Tiara, lelaki yang selalu cuek itu sampai meminta sebuah ponsel untuk tunangannya.
"Tapi Pak." Tiara merasa tidak enak hati, dia sudah menumpang di rumah mereka, dan mereka pun malah memberikan kemewahan padanya. Dia langsung melirik Kenzo, seolah meminta pendapatnya, apa dia pantas menerima ini?
"Ambillah!" timpal Kenzo singkat.
"Anggaplah itu sebagai tanda terima Daddy karena kamu sudah membantu membereskan pekerjaan Kenzo. Kalau tanpa bantuan mu Kenzo pasti tidak bisa membereskannya tepat waktu." tutur Kenan, bahkan dia menggunakan kata Daddy seolah meminta agar Tiara tidak terlalu canggung dan jangan kembali memanggilnya 'Pak'.
"Terima kasih, Pak."
"Eist, jangan panggil Pak, sayang. Panggil Daddy, kamu putri mommy, jadi kamu juga harus memanggilnya Daddy." timpal Ze memotong pembicaraan sang suami dan calon mantunya itu. Tersenyum senang, kalau seperti ini mereka terlihat seperti keluarga yang utuh.
"Baik, Mom." Tiara sampai tersenyum lebar, sungguh sangat baik keluarga mereka memperlakukan dirinya.
"Dan lagi, ada hal yang harus Daddy sampaikan kepada kalian." ucap Kenan kembali bicara.
Kenzo dan Tiara langsung menatap Kenan, sepertinya ada hal serius yang akan sang Daddy sampaikan. "Apa Dad?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Kalian sudah cukup akrab, sudah bisa saling melengkapi, dan kalian juga tinggal di satu rumah yang sama. Apa lebih baik jika kalian segera menikah saja."
tutur Kenan dengan begitu jelas.
Kenzo dan Tiara seketika langsung terbatuk-batuk, "Menikah, Dad?" tanya Kenzo sampai mengulang kata itu untuk memastikan apakah dia tidak salah dengar.
"Iya, akan lebih baik kalian secepat mungkin melangsungkan pernikahan." timpal Kenan kembali menegaskan. Dia sampai tersenyum kecil melihat ekspresi dua anak muda di depannya yang terlihat sampai menahan nafas mendengar perkataan nya. "Se-kaget itukah, kalian kan sudah bertunangan." timpal nya dengan begitu santai.
Kenzo sampai di buat tercengang bukan main, "Dad, kita masih sekolah. Kita masih muda, apa tidak terlalu terburu-buru melakukan pernikahan." protes Kenzo tidak terima dengan sarana Daddy nya. Memikirkan masalah sekolah saja begitu rumit, di tambah lagi beban pernikahan, sungguh dia benar-benar menjadi gila membayangkan nya.
"Ini demi kebaikan kalian, Kenzo." Ze ikut bicara menimpali percakapan suami dan putranya. "Kalian sudah tinggal di satu rumah, Ken. Lagi pula mau sekarang atau nanti toh akhirnya kalian akan menjadi suami istri." ucapnya lagi meyakinkan.
"Suami istri!" Kenzo sampai kembali mengulang kata itu, kenapa membayangkan nya saja sangat menggelikan.
Bukan tanpa alasan Kenan dan Ze mengusulkan percepatan pernikahan Kenzo dan Tiara, saat tadi malam mereka pulang dari kantor mereka mendapati dua pasangan muda itu tertidur di satu kamar yang sama. Mereka memang ketiduran karena kelelahan setelah mengerjakan tugas, tapi tetap saja, sebagai orang tua mereka akan merasa khawatir jika terus membiarkan mereka tanpa adanya hubungan yang sah. Apalagi mereka harus tinggal di satu rumah yang sama. Bukan tidak percaya pada keduanya, Hanya saja kalau di biarkan takut hal yang tidak di inginkan terjadi pada keduanya.
Tiara sampai menelan keras saliva nya. "Menikah?" sungguh itu kata yang tidak pernah sekalipun terbayang di kepalanya.
Di usianya yang baru sembilan belas tahun bukankah itu terlalu muda untuk menikah, bahkan banyak sekali hal yang masih ia ingin lakukan.
Kenzo sendiri langsung menghela nafas, perkataan kedua orang tuanya memang tidak salah, tapi tetap saja dia belum siap untuk menikah muda. "Berikan kami waktu untuk mempertimbangkan nya." tutur Kenzo meminta keringanan, dia langsung melirik Tiara memastikan apakah wanita itu juga sependapat dengan nya.
"Bukankah begitu?" tanya Kenzo meminta jawaban dari Tiara. Dia tidak bisa memutuskan seorang diri, karena dia dan Tiara benar-benar akan terjebak dalam sebuah ikatan yang mungkin tidak di dasari dengan sebuah ikatan cinta.
"Iya," jawab Tiara dengan singkat. Dia tidak punya kuasa, dia hanya bisa bergantung pada apa yang Kenzo putuskan.
...*...
...*...
...*...
__ADS_1
Kenzo menghentikan langkahnya di depan pintu kelas, sedari tadi dia terus memperhatikan Tiara, wanita itu terus diam tanpa kata, pikirannya pasti sedang terkontaminasi oleh permintaan Daddy nya untuk menikah muda.
"Hei, jangan terlalu di pikirkan." Kenzo bersuara, tangannya dengan cepat menarik tas punggung Tiara membuat wanita itu ikut berhenti di sampingnya.
"Hei, kenapa tiba-tiba menarik ku. Bikin kaget saja." omel Tiara. Orang sedang banyak pikiran lelaki itu malah menarik nya kebelakang.
"Makanya jangan melamun, jangan terlalu memikirkan perkataan Daddy yang tadi." timpal Kenzo memberi saran. Bahkan dia enggan mengucapkan kata 'menikah', karena dia sendiri merasa geli mendengarnya.
"Bagaimana aku tidak memikirkannya, itu sangat mendadak, Ken. Dan lagi Daddy pasti meminta pendapat dulu pada paman. Otomatis Shasa juga pasti akan tahu. Dia pasti tidak akan tinggal diam untuk terus mengerjai ku." tutur Tiara menceritakan kegundahannya, hanya dengan memikirkannya saja dia sudah tahu kalau hari-harinya pasti akan penuh masalah. Dia tahu Shasa wanita yang kukuh, yang tidak mengenal kata menyerah. Wanita itu pasti akan lebih menggila jika tahu kalau dia dan Kenzo di suruh melangsungkan pernikahan secepatnya.
"Kau takut padanya?" timpal Kenzo malah bertanya, seperti bukan Tiara saja, belum apa-apa wanita itu sudah mengeluh seperti itu.
"Bukan takut, hanya capek saja terus menjadi sasaran kekesalannya." ungkap Tiara jujur. Terkadang dia berpikir kenapa harus menjalani hidup yang rumit jika ada jalan yang mudah. Turuti saja kemauan Shasa mungkin hidupnya akan damai-damai saja. "Dia sangat mencintai mu. Kenapa kau tidak terima saja cinta nya," ucapnya lagi. Dia sampai menatap Kenzo, penasaran akan bereaksi seperti apa lelaki itu.
Kenzo sama-sama menatap Tiara, kesal sendiri, kenapa enteng sekali wanita itu berucap demikian, menyuruh tunangannya sendiri untuk menerima wanita lain. "Dasar tidak punya hati." umpat nya kesal, apa Tiara sedikit pun tidak punya rasa padanya? "Dengar, Tiara! Aku lebih baik terus membereskan masalah mu dari pada menerima wanita itu." jawab nya ketus, ekspresi wajah nya tiba-tiba begitu dingin. Mendadak bad mood jika terus membahas wanita pembuat onar itu.
"Benar kah? Terima kasih." timpal Tiara sampai tersenyum senang, entah di sadari atau tidak, itulah yang Ia harapkan. Karena hati kecilnya tidak terima jika lelaki itu lebih memilih Shasa dari pada dirinya.
"Sesenang itu?" Kenzo di buat heran. Tadi seenaknya menyuruh dia menerima wanita lain, sekarang tiba-tiba tersenyum senang. Apa sebahagia itu dia menyusahkan dirinya.
"Masuk sana!" titah nya sambil memberikan tas nya pada Tiara, seolah meminta wanita itu agar menyimpannya. "Aku harus membereskan sesuatu." ucapnya lagi memberi tahu.
"Kau mau ke mana?" tanya Tiara, walau heran dia dengan cepat mengambil tas lelaki itu. "Kau tidak akan bolos kelas kan?" tebaknya memastikan.
"Hanya ada urusan sebentar." jawab Kenzo dengan cepat, wanita itu tidak boleh tahu kalau dia akan menghampiri Mario untuk memberi perhitungan pada lelaki itu. Kalau dia sudah kesal, tangannya suka tidak tahan untuk main kekerasan, dan dia tidak ingin Tiara tahu sisi kejam dirinya itu. "Jangan ke mana-mana sebelum aku kembali!" titah nya lagi berusaha memperingati Tiara. Dia khawatir, lepas dari jangkauannya bisa-bisa wanita itu kembali terkena masalah.
"Iya. Awas jangan lama-lama." ucap Tiara menasehati, jangan sampai kebiasaan Kenzo yang suka bolos kelas kambuh lagi.
"Kenapa? Kau takut merindukan ku jika ku tinggal." timpal Kenzo dengan tersenyum kecil. Makin ke sini dia makin senang menggoda Tiara karena respon wanita itu selalu terlihat lucu di matanya.
"Siapa yang akan merindukan mu? Sudah pergi sana!" sewot sendiri, Tiara langsung mendorong pelan tubuh Kenzo agar lelaki itu segera pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Kenzo sampai terkekeh, sikap jutek itulah yang selalu membuat nya senang. "Awas jangan kemana-mana sebelum aku kembali!" titah Kenzo lagi. Kini dia yang berbalik menasehati Tiara, kalau Tiara kena masalah dia juga yang susah.
"Iya. Iya sana pergi!"