Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Ada apa ini?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Kenzo dan Tiara masih terlihat berbaring di tempat tidur tanpa ada pergerakan sedikitpun. Akhir pekan yang seharusnya di jadikan untuk istirahat, malah mereka habiskan untuk berkerja keras membantu sang Daddy membuat mereka kelelahan sampai tertidur pulas sampai sekarang.


Berkali-kali alarm di ponsel Tiara berbunyi, tapi sang empunya masih saja terlelap kerena Kenzo dengan sigap langsung mematikan alarm itu bahkan sekarang langsung menonaktifkan ponselnya.


"Aisst, mengganggu sekali." Kenzo sampai mengendus kelas, ponsel Tiara sudah mati kini ketukan pintu mulai terdengar, suara pelayan terdengar dari luar membangunkan mereka.


Tiara menggeliat. Dia merasa ini masih pagi karena belum mendengar alarm yang dia pasang. Saat mata mau terbuka telapak tangan Kenzo malah begitu lembut mengelus wajahnya dan memeluknya dengan begitu hangat membuatnya enggan untuk bangun. "Jam berapa ini, Ken? Aku masih ngantuk." gumamnya sambil membalas pelukan sang suami. Tumben sekali lelaki itu terbangun lebih awal dari nya.


Kenzo sampai tersenyum girang, inilah yang dia inginkan. "Ini masih pagi, ayo tidur lagi!" Dia bahkan langsung menutup kuping Tiara agar wanita itu tidak mendengar ketukan pintu dari luar sana. Terserah mereka akan kesiangan sekolah atau tidak, dia hanya ingin terus memeluk Tiara, menghabiskan waktu berdua dengan sang istri tanpa ada satupun orang yang mengganggunya. Terlebih setelah identitas mereka di ketahui semua orang dia sudah bisa membayangkan akan seheboh apa anak-anak di sekolah nanti.


"Dia tidak akan marah kan, jika aku bodohi." gumamnya sambil terus mengelus kepala sang istri. Dia sudah terbiasa bolos upacara bahkan jam pelajaran tapi bagaimana dengan istrinya? Dia sudah bisa membayangkan kalau mereka pasti bakal bolos upacara dan jam pelajaran pertama. Otomatis, dia pasti akan mendapatkan omelan istrinya. "Terserah lah, yang penting sekarang tidur lagi."


...~...


Keadaan di bawah, Roni dan Rani terlihat sudah bersiap menuju apartemen, mereka punya tempat tinggal sendiri jadi tidak bisa terus menginap di kediaman Wijaya, sekalian mengajak Chelsea untuk tinggal di apartemen bersama.


"Ayo Chelsea, biar Ayah yang mengantarkan mu ke sekolah," ajak Rani sambil mengelus kepala putrinya. Jalan menuju apartemen dan sekolah satu arah kenapa tidak mau sekalian pergi ke sekolah bersama nya.


"Aku bareng Kak Kenzo saja, Bun." rengek nya masih terus duduk di sofa. Chelsea tidak akan lagi tinggal di kediaman Wijaya jadi dia pasti akan lebih jarang bertemu dengan lelaki yang di sukai nya. Maka untuk yang terakhir kalinya dia ingin pergi ke sekolah bersama nya.


Si bibi yang di suruh Ze untuk membangunkan Kenzo kini terlihat turun, "Maaf, Bu. Aden dan Nona sepertinya masih tidur." ucapnya sambil berbungkuk.


Ze sampai tersenyum kikuk, itu putra dan menantunya ke sabet apa sudah siang begini belum bangun juga. Padahal hari Senin begini kalau sekolah mereka harus berangkat pagi-pagi karena harus mengikuti upacara. "Maaf ya, sayang. Sepertinya kalau harus menunggu Kenzo kamu pasti ke siangan. Bagaimana kalau nanti pulang sekolah Tante suruh Kenzo mengantar mu ke apartemen, biar sekalian main sama Tiara." ucapnya berusaha membujuk Chelsea. Kasihan kan kalau Chelsea harus ikut kesiangan sekolah gara-gara putranya.


"Baiklah, Tan. Chelsea pamit dulu." Akhirnya menurut. Chelsea kembali mengingat peraturan sekolah yang begitu ketat, jadi dia tidak boleh sampai kesiangan. Terlebih dia masih terbilang murid baru di sana, dia tidak ingin memberikan citra buruk di minggu pertamanya.


Keluarga kecil itu langsung pergi, Ze pun langsung beranjak ke atas menuju kamar putranya, ada apa gerangan pasutri muda itu masih belum juga bangun sampai sekarang.


...***...


Keadaan di sekolah.


Seperti biasa, rutinitas hari Senin pagi yang paling di benci, murid-murid sudah terlihat berbaris di lapangan. Para guru pun sudah berjejer rapih mengikuti kegiatan.


Di area parkiran, mobil Kenzo terlihat baru memasuk. Iya, karena di gerebek sang Mommy dia tidak bisa santai-santai dan pada akhirnya dia dan sang istri sudah sampai di sekolah walau sedikit terlambat.

__ADS_1


"Jir, sial sekali. Siapa lagi ini yang berani parkir di tempat ku, hah?" Kenzo sampai mengumpat geram. Barusan dia mendapat teguran dari pak satpam penjaga gerbang karena telat masuk sekolah, kini sampai di parkiran pun dia sudah di buat kesal, bisa-bisanya ada yang berani menyimpan mobil di tempat parkirnya, membuat dia harus membuang waktu dan kembali berputar arah mencari tempat kosong, padahal dari tadi istrinya itu terus saja mengomelinya. "Gak tahu gue siapa, ya!" decak nya lagi. Sekarang berani membawa kekuasaan saking kesal dengan keadaan. Seumur bersekolah di sini baru kali ini dia tegur Pak satpam. Bahkan sekarang ada yang berani menempati tempat mobilnya.


"Jangan marah-marah pada mereka, kau sendiri yang salah, Ken." Tiara langsung bersuara, kesal sendiri, karena kelautan lelaki ini dia juga jadi terbawa-bawa telat ke sekolah.


Mereka sudah turun dari mobil, Kenzo langsung mengambil tas Tiara karena wanita itu terus merengek ingin mengikuti upacara demi mematuhi peraturan sekolah, sedangkan dia sendiri akan pergi ke basecamp karena enggan mengikuti upacara.


"Heh, mau ke mana kau?" suara seseorang tiba-tiba terdengar.


Kenzo dan Tiara langsung menghentikan langkahnya, pergerakan mereka terhadang dua anggota osis laki-laki yang bertugas mendisiplinkan murid yang telat mengikuti upacara. Dan kini merekalah sasarannya.


"Apa, hah?" Kenzo langsung sewot, ada apa dengan paginya hari ini. Tiba-tiba orang-orang menjadi berani pada nya, bahkan dua anggota osis itu berani berbicara kasar padanya.


"Mohon mematuhi peraturan, Ken. Bukan hanya telat, kau bahkan tidak mau mengikuti upacara." timpal anggota osis itu dengan tegas. Mereka langsung menyuruh Kenzo untuk mengikuti upacara, dan jangan lagi melanggar peraturan.


"Ogah." Kenzo hanya menjawab singkat, sejak kapan anggota osis ini berani mengatur hidupnya. "Minggir!" decak nya kesal. Sebelum dia pergi ke basecamp dia harus memastikan Tiara tidak di persulit mereka.


"Jangan seenaknya, ayo ke lapangan! Kalau tidak pacar mu yang akan menanggung hukuman nya." ajak anggota osis itu dengan penuh ancaman.


Kenzo benar-benar di buat jengah, dia langsung menghampiri murid itu dan mencekam kerah bajunya, "Jir, kalian berani sekali, hah. Awas saja kalau macam-macam pada Tiara, gue cekik leher kalian satu-satu." ancamnya geram.


Bukannya menanggapi kemarahan Kenzo, anggota osis yang satunya lagi malah langsung menghampiri Tiara, "Tiara, tolong nasehati pacar nya untuk lebih disiplin, ini sekolah, bukan tempat untuk huru-hara." timpal nya malah memojokkan Tiara.


"Aisst." Mau tidak mau Kenzo pun mengikuti langkah Tiara, dia sampai di buat heran, mimpi apa dia semalam, pagi ini begitu banyak kesialan yang menimpa nya, sampai orang-orang di sekitar nya terus membuatnya kesal, bahkan begitu berani pada nya.


...~...


Upacara selesai, Kenzo terus berjalan beriringan menuju kelas bersama Tiara, benar-benar pagi yang melelahkan dan pagi yang memuakkan. Dari tadi pagi sampai sekarang hanya keanehan yang dia dapat.


Devan, Reno, Mario, bahkan Jonathan; kawan dekatnya itupun sampai bertingkah aneh sampai membuatnya jengah. Tidak ada yang menyapa nya, tidak ada yang mendekati nya. Sekali berpapasan dengan murid lain mereka langsung menundukkan kepala seolah tak melihatnya. Bahkan bukan hanya itu sahabat Tiara saja tidak ada yang terlihat menghampiri nya. Seluruh murid saat di lapangan terus menundukkan kepala seolah tidak melihat keberadaan mereka. Entah karena takut, atau karena ada alasan lain.


"Apa yang terjadi ya? Apa karena sudah mengetahui identitas kita mereka jadi tidak mau berteman dengan kita, Ken?" Tiara hanya bisa mengeluh, rasanya setiap hal yang di alami mereka terasa begitu aneh.


"Entahlah!" Kenzo sama-sama bingung, perasaan sang biang masalah sudah tidak ada karena Shasa sudah tidak lagi bersekolah. Tapi sekarang seisi sekolah terlihat aneh memperlakukan dia dan istrinya. Bahkan saat sudah di depan kelas pun suasana begitu sepi, "Apa kelas unggulan sudah pindah tempat?" celetuknya keheranan.


Tiara sampai terkekeh, suaminya itu sampai syok karena tidak terbiasa mendapatkan perlakuan seperti ini. "Tidak mungkin lah Ken, sekalipun pindah kita pasti diberi tahu."

__ADS_1


Tidak mau terus menerka-nerka hal yang tidak pasti, Tiara langsung merangkul lengan Kenzo menarik lelaki itu untuk masuk kelas bersamaan.


Cklek....


Pintu terbuka, baru saja melangkah suara tiupan terompet keras dan bunyi bunyian aneh terdengar begitu jelas, Kenzo sampai refleks melindungi Tiara menarik wanita itu ke pelukannya.


Door...


Bahkan suara ledakan confetti ikut memeriahkan suasana. Bukan hanya satu, ada beberapa Party Popper Confetti yang di pegang oleh murid murid yang berdiri di depan pintu. Sampai kertas-kertas kecil berwarna-warni itu sudah berjatuhan mengenai kepala dan tubuh Kenzo dan Tiara.


"Anjir..." Antar kesal dan kaget, Kenzo sampai gelang kelapa dengan menghela nafas panjang. Di kira itu suara apa. Dia takut Tiara kenapa-napa.


"Surprise...." Gemuruh anak-anak di dalam terdengar begitu riang, dengan tersenyum lebar. Semua yang ada di ruangan kelas begitu kompak menyambut kedatangan pasutri itu. Inilah rencana yang dari tadi mereka buat, mengerjai Kenzo dan Tiara dan berakhir memberi kejutan untuk keduanya.


Jonathan si biang rencana sampai cengengesan melihat ekspresi Kenzo. Bahkan Devan, Mario dan Reno yang bukan kelas unggulan juga ada di sana.


"Selamat atas pernikahan nya." semua murid dengan begitu kompak membungkukkan kepala, bahkan Azzura dan Priscilla langsung melempar kelopak bunga pada keduanya.


Tiara dan Kenzo sampai di buat syok, ada acara apa ini, bisa-bisanya teman-teman mereka membuat acara seperti ini, antara terharu dan terkejut, Tiara langsung tersenyum senang melihat tingkah teman-teman itu.


"Selamat atas pernikahan nya, Tuan muda." banyolan Mario terdengar begitu serius. Dia langsung menghampiri Kenzo mengulurkan tangannya. Pantesan sampai membayar sebuah foto dengan harga sepuluh juta, orang lelaki itu pewaris keluarga Wijaya.


Tidak hanya sampai di situ, kini tinggal Devan menyusul, "Jadi suami yang baik ya, Ken." timpal nya dengan menyeringai, setelah menyalami Kenzo dia langsung menepuk pundak lelaki itu, pantesan sekarang sudah jarang Mabar orang mainan teman nya itu kini sudah level 21+.


Kini giliran Reno, lelaki yang selalu ceria itu langsung mengulurkan tangan dengan celetukan yang begitu mengejutkan, "Segera buatkan Kenzo junior ya, Bos. Biar aku ada temannya." ucapnya tanpa dosa, membuat semua orang yang ada di kelas langsung bergemuruh.


"Masih di bawah umur, Ron." timpal murid yang lain dari belakang.


"Sialan kalian, ini kelas woi. Bukan acara resepsi." Kenzo hampir dia buat mematung, walau bibir mengumpat tapi tangannya tidak henti menerima uluran tangan anak-anak kelas yang dari tadi menyalaminya. Mereka terlihat begitu tulus, bagaimana bisa dia mengabaikannya, "Ketua osis sialan. Ini rencana lo kan." tebak nya dengan menatap Jonathan dengan kesal. Siapa lagi yang bisa mengerjainya kalau bukan lelaki itu.


Jonathan sendiri hanya bisa cengengesan, terima saja, salah siapa sudah menggemparkan seisi sekolah dengan terkuak nya identitas mereka.


Semua murid hampir semaunya sudah memberi selamat, kini tinggal para lelaki yang selalu menghina sosok pewaris keluarga Wijaya tanpa tahu faktanya. Mereka berjalan dengan sedikit malu, tidak memberi selamat apalagi tidak minta maaf habislah riwayat mereka, bisa-bisa mereka langsung di drop out dari sekolah karena telah menghina putra sang pemilik yayasan.


"Se-selamat, Ken." ucap salah satu dari mereka mewakili yang lainnya. Mereka sampai tidak berani mengangkat wajahnya karena terlalu malu. "Sorry, Ken." ucapnya lagi dengan sedikit ragu.

__ADS_1


Bukannya Kenzo yang menanggapi, kini malah Tiara yang terlebih dulu bicara, "Lebaran nya sudah terlewat, minta maaf nya telat." ucapnya dengan ketus.


Kenzo sampai di buat terkekeh, mendengar istrinya yang begitu sewot.


__ADS_2