
Murid-murid berkerumun menghampiri Tiara dan Shasa, dua wanita itu terjun bebas dari tangga paling atas sampai tergeletak di bawah, tidak ada saksi mata yang melihat, tau-tau dua wanita itu sudah terbaring di lantai dengan posisi Tiara berada di atas bertumpu pada tubuh Shasa.
"Akh, minggir Tiara," Shasa sampai menjerit kesakitan, Tiara dengan susah payah menggeser tubuhnya.
"Aww, kaki ku." keluh Tiara kesakitan, kakinya terasa teriris saat dia gerakkan.
"Kau gak apa-apa, Sha?" Alicia kaget, dia langsung membantu Shasa bangun, sedangkan Tiara sendiri langsung di bantu Michel agar bangun dan tidak mengindah tubuh Shasa.
"Aw, sakit Al." Shasa merengek, sungguh sial, dia tidak mengira malah ikut jatuh, lebih sial nya lagi keadaan nya yang paling parah. Badannya terasa remuk, keningnya sedikit berdarah karena tergores, kaki dan tangannya terasa sakit dengan luka memar di mana-mana, dia sampai tidak mampu berdiri, karena tubuhnya begitu lemas.
"Hei, bantu bodoh!" decak Alicia kesal. Murid-murid di sana malah hanya melihat saja. Tidak ada yang mau membantu Shasa berdiri. Sedangkan Tiara yang terlihat lebih baik malah di bantu banyak orang.
"Iya, iya gue bantu. Ayo bangun!" ucap salah satu murid laki-laki. Dia ingin membantu Shasa berdiri tapi wanita itu malah menolaknya.
"Gak mau, awas minggir sana." decak Shasa kesal, masa lelaki itu yang membantunya, wajahnya saja tidak ada tampan-tampannya.
Jonathan kini terlihat membelah kerumunan mereka, dia bisa langsung melihat keadaan Tiara dan Shasa. "Astaga! Apa yang terjadi, Sha, Ra." Jonathan sampai bingung harus membantu yang mana. Dua wanita itu terlihat sangat lemas, bahkan Shasa lebih parah dari pada Tiara.
"Nathan, bantu!" pinta Shasa dengan wajah melemas.
Jonathan mau tidak mau menghampiri Shasa untuk membantunya, Kenzo akan ke sini, lelaki itu pasti akan menangani Tiara, dan sekarang pun ada dua murid wanita yang membantunya. "Ayo, Sha!" ucapnya sambil mengulurkan tangan, dia langsung memapah Shasa bersama Alicia, membantu mengantar nya ke tempat pengobatan terdekat.
"Minggir!" Suara Kenzo terdengar jelas, semua murid langsung memberi jalan untuk nya.
"Tiara!" Kenzo kaget bukan main, langsung menghampiri Tiara dan berjongkok di depannya, bisa-bisanya dia lengah sedikit saja wanita itu sudah kena masalah, tahu bakal gini dia tidak akan meninggalkan nya. "Kenapa bisa begini, mana yang sakit?" tanyanya dengan begitu khawatir, dia langsung melihat tubuh Tiara dan syukurnya tidak ada luka serius, hanya ada sedikit memar di lutut, untungnya tidak ada darah keluar dari tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa, hanya keseleo saja." jawab Tiara dengan cepat, dia malah jadi malu karena jadi tontonan banyak murid. Apalagi tingkah Kenzo yang mengkhawatirkan nya, membuat semua murid sontak langsung melihat ke arah mereka.
"Ayo ke UKS ceritakan nanti setelah kau di obati." ajak Kenzo dia langsung mengangkat tubuh Tiara dan membopong nya.
"Ken!" Tiara sampai kaget, lelaki itu bisa kan hanya membantunya berjalan, kenapa malah menggendongnya ala bridal style, murid yang lain malah semakin tercengang melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Diam! atau aku benar benar akan menjatuhkan mu." ancam Kenzo dengan begitu datar, dia tidak mau Tiara banyak protes agar dia bisa dengan cepat mengobati nya. Wanita itu pun langsung diam, refleks mencekam switer Kenzo dengan begitu keras, kalau lelaki itu benar-benar menjatuhkan nya maka rembuk lah seluruh tubuhnya.
Kenzo dan Tiara sudah sampai di UKS, dia langsung memanggil petugas di sana untuk memeriksa keadaan Tiara.
"Bu, bagaimana apa harus di bawa ke rumah sakit." tanya Kenzo dengan cepat. Ibu penjaga UKS sudah mengoleskan salep pada lutut Tiara yang memar dan memastikan keadaan tubuhnya.
"Ini tidak terlalu parah, kalau cuma keseleo, di pijat sedikit pasti kakinya tidak akan sakit lagi." ucap Ibu petugas, dia langsung memijat pergelangan kaki Tiara agar sakitnya sedikit mereda.
"Aww, sakit Bu." rengek Tiara, tangannya sampai mencekam seprai kasus yang di duduki nya.
"Bu, dia kesakitan, apa tidak apa-apa?" Kenzo yang panik, melihat ekspresi Tiara dia semakin tidak tega.
"Tidak apa-apa, Nak Kenzo. Sakit di awal bias, nanti kakinya berasa enakan lagi." jawab si Ibu itu. Dia sampai tersenyum kecil melihat kekhawatiran Kenzo si brandal sekolah ini, semua orang di sekolah juga tahu bagaimana garangnya lelaki itu, tapi mendadak jadi lemah saat melihat seorang wanita kesakitan. "Coba gerakan! Sekarang tidak sakit lagi, kan?" timpal si Ibu lagi.
Tiara langsung menggerakkan kakinya dan langsung mengangguk senang. Kakinya benar-benar terasa lebih baik.
"Terima kasih banyak, Bu. Sekarang tidak sakit." ucap nya dengan tersenyum lebar, langsung menatap Kenzo seolah memberi tahu kalau dia baik-baik saja.
"Akh, syukurlah!" Kenzo sampai menghela nafas lega, untung saja Tiara tidak apa-apa.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Kenzo langsung bertanya karena penasaran, lebih penasaran lagi kenapa bisa terjatuh bareng sama Shasa. Dia langsung duduk di samping Tiara untuk mendengarkan penjelasan wanita itu.
"Aku tidak tahu pastinya, itu terjadi begitu cepat, yang jelas saat itu Shasa berjalan beriringan dengan ku sambil banyak bicara, saat sadar badan ku terdorong ke depan aku dengan cepat menarik tangan Shasa. Makanya kita jatuh sama-sama." ucap Tiara menceritakan.
Kenzo sampai geram, Shasa emang tidak ada kapok-kapuknya. "Awas saja aku akan memberinya pelajaran." decak nya kesal. Shasa sungguhan gila sampai masih berani untuk mencelakai Tiara.
"Sudah lah jangan terus melayani nya, kalau terus seperti ini tidak akan ada habisnya. Ken." cegah Tiara, dia tidak mau kalau nanti Kenzo kembali kena marah pamannya.
"Kau bilang sudah? padahal jelas dia ingin mencelakai mu." umpat Kenzo kesal, Tiara memang baik, tapi tidak harus bersikap baik pada orang yang ingin mencelakai nya.
"Aku tidak apa-apa, Shasa sudah membayar setimpal perbuatan nya, lukanya pasti lebih parah dari pada Aku." jawab cepat Tiara, sejahat apapun Shasa wanita itu masih terikat hubungan darah dengan nya, jujur dia tadi sampai tidak tega melihat keadaan Shasa, saat sadar wanita itu mendorongnya, dia bergerak cepat, "Aku menariknya dengan keras, aku tidak terbentur keras di tangga, karena jatuh pas di tubuh Shasa," tutur nya lagi dengan begitu polos, seolah mengatakan kalau itu tragedi senjata makan tuan. Dan anggaplah itu pembalasan dari nya.
__ADS_1
"Yah, asal kau baik-baik saja." timpal Kenzo dengan singkat. Dari wajah Tiara saja terlihat jelas kalau dia mengkhawatirkan Shasa.
"Mau bantu aku! bisa tidak tanyakan di mana Shasa sekarang, tadi Jonathan yang mengantarnya." pintanya dengan sedikit ragu, dia sampai tersenyum kikuk, ingin melihat keadaan Shasa tapi ragu kalau Kenzo akan mengantarkan nya.
"Kau tidak ada kapok nya masih ingin menemui dia?" Kenzo sampai gelang kelapa, barusan saja dia merengek kesakitan tapi masih mengkhawatirkan orang lain. "Bagaimana kalau kau kenapa-kenapa lagi?" timpal nya menolak permintaan Tiara.
"Ayolah, Ken. Aku baik-baik saja. Lagi pula kan ada kau. Aku pasti baik-baik saja kalau bersama, mu." rayu Tiara dengan senyuman mautnya. Dia sampai mengetupkan kedua telapak tangannya agar Kenzo mengabulkan permintaan nya.
"Ekspresi macam apa itu? Kau sedang merayu ku?" decak Kenzo kesal, bagaimana dia tidak mengabulkan nya kalau wanita itu memasang ekspresi menggemaskan seperti itu. Bahkan Tiara langsung mengangguk-angguk kan kepalanya. "Sial.... Bagaimana aku bisa menolaknya." gumamnya dalam hati. Dia pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Jonathan.
...*...
Di klinik dekat sekolah, Jonathan dan Alicia masih setia menunggu pemeriksaan Shasa, wanita itu sepertinya cukup parah sampai memakan waktu lama di periksa di dalam.
"Nathan, bagaimana ini apa kita harus menelepon orang tua nya?" tanya Alicia mulai tidak tenang. Kalau Shasa sampai kenapa-kenapa bagaimana.
"Tenang lah, Tiara katanya akan ke sini, mungkin dia akan membantu menelepon Ayah Shasa." timpal Jonathan. Dia sudah menerima panggilan dari Kenzo, mereka berdua akan secepatnya ke sini.
Salah satu perawat terlihat keluar, memberi tahu kalau pasien sudah bisa di jenguk.
"Silahkan masuk adik-adik, tapi jangan di ajak pulang dulu, kami sedang menunggu konfirmasi dari walinya." tutur perawat itu. Dia langsung membuka pintu ruangan mengisyaratkan pasien bisa di jenguk sekarang.
Tiara dan Kenzo sudah sampai di sana, mereka langsung menghampiri Jonathan dan Alicia yang baru mau masuk ke dalam.
"Di mana, Shasa?" tanya Tiara tanpa basa-basi, Alicia langsung menunjuk di mana Shasa dan mereka pun sama-sama masuk ke dalam.
"Shasa?" Alicia sampai kaget, kening Shasa terpasang perban, tangan kanannya bahkan di pasang gips, separah itu kah keadaannya. "Tangannya kenapa, Sah?" tanyanya sambil mengelus kepala Shasa karena kasihan.
"Entahlah, aku di suruh memakai ini, katanya untuk berjaga-jaga, karena tadi terbentur cukup keras di tangga." jawab Shasa ketus. Niatan ingin mencelakai Tiara, malah dirinya sendiri yang terluka.
Alicia, Jonathan dan Tiara cukup khawatir melihat keadaan Shasa, tapi tidak dengan seorang lelaki yang terus menggenggam tangan tunangannya, entah ekspresi apa yang tergambar di wajahnya, dia hanya menyeringai puas melihat keadaan Shasa. "Mampus," gumamnya pelan.
__ADS_1
Tiara yang mendengar umpatan itu langsung menoleh, "Kau bicara apa?" tanyanya sambil melebarkan mata.
Kenzo sampai menggaruk tengkuknya, "Tidak bicara apa-apa, aku hanya kasihan pada nya." jawab Kenzo dengan begitu santai sambil berbohong. Dia langsung memalingkan muka karena ketahuan Tiara sudah tersenyum senang di atas penderita orang.