Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Terimalah akibatnya.


__ADS_3

Tiara sampai mematung. Fakta kehamilan Shasa sungguh sangat mengejutkan. Bukan hanya tidak pernah menyukainya, sepupunya itu juga tidak bisa menyayangi dirinya sendiri sampai bisa sejauh itu berhubungan dengan Arzan.


"Dasar, bodoh." ucap Tiara dengan begitu ketir menatap Shasa, karena di gelapkan rasa benci sepupunya itu sampai tidak tahu batasan hingga menjadi wanita murahan. "Bahkan kau masih begitu percaya diri meminta bantuan ku setelah apa yang kau lakukan?" sindir nya dengan tegas. Sungguh, rasa simpati nya langsung sirna, yang awalnya mengkhawatirkan keadaan Shasa dia mendadak jijik, dan begitu kecewa pada wanita itu.


"Tiara," Shasa kembali meraih tangan Tiara, memanggilnya dengan suara memohon, "Maaf aku memang banyak salah pada mu, tapi tolong, Ra. Aku tidak mau kembali berurusan dengan lelaki itu." lirihnya sambil menjatuhkan air mata, tubuhnya sampai bergetar, Arzan masih ada di sana, kalau Tiara tidak membantunya dia pasti akan mendapatkan perlakuan kasar dari lelaki biadab itu.


"Itu urusan, mu." Tiara sampai menghempaskan pegangan tangan Shasa.


"Ra. Aku takut." ucapnya lagi masih memohon bantuan, dia sadar dia salah, dia menyesal, dia berjanji akan memperbaiki hidupnya, jadi mohon bantulah dia untuk kali ini saja. "Aku mohon, Ra!" lirihnya dengan terisak.


Tiara sampai menghela nafas, kalau saja dia tidak mengingat untuk menjatuhkan Arzan dia tidak akan membantu Shasa. Terserah lelaki itu akan memperlakukan Shasa seperti apa, tapi dia harus memastikan Arzan tidak bertindak jauh dengan kandungan Shasa sebelum seluruh orang tahu seperti apa kebejatan mereka. "Kali ini aku akan membantumu, tapi tetap saja kau harus menerima akibatnya." tuturnya dengan tegas, dia langsung menyuruh salah satu dari bodyguard nya itu untuk memastikan sepupunya itu sampai di rumah dengan selamat.


"Heh! Kau pikir bisa membawa dia begitu saja." Arzan sampai geram, tubuhnya yang sudah terdorong kini kembali menghampiri Tiara yang tengah berani ikuti campur dengan urusannya. "Kau pikir kau siapa sampai berani ikut campur urusan ku!" decak nya geram. Dia sudah mendekat, tapi tubuhnya kembali terdorong, para bodyguard itu terus saja menjaga Tiara. Bahkan Shasa pun sudah pergi di bawa salah satu bodyguard yang di suruh Tiara.


"Aisst. Sebenarnya siapa wanita ini, kenapa pengawal keluarga Wijaya bisa membantunya?" Arzan mengendus kesal, tidak di beri tahu pun dia tahu persis kalau logo yang ada di pakaian mereka merupakan tanda pengenal pengawal keluarga Wijaya, tapi dia tidak tahu kenapa Tiara sampai di jaga ketat oleh mereka. Shasa tidak pernah menceritakan identitas asli musuh bebuyutan nya ini, yang dia tahu Shasa membenci Tiara karena wanita itu telah merebut Kenzo, dan begitu membenci keluarga Wijaya karena telah memecat Ayahnya dari perusahaan mereka.


"Minggir! Jangan ikut campur dengan urusan kita." decak Arzan lagi sambil menatap Tiara dengan tajam.


Arzan memang punya dendam mendalam pada keluarga Wijaya, tapi saat ini dia tidak tertarik untuk berurusan dengan Tiara, siapapun wanita itu sampai bisa di jaga ketat oleh bodyguard keluarga Wijaya tidak lah penting, karena sasarannya hanyalah putra pewaris keluarga Wijaya.


Terserah Tiara mengetahui kehamilan Shasa, karena sebelum semakin banyak orang yang mengetahui itu, dia akan menggugurkan kandungan nya. Dia ingin melangkah pergi menghampiri Shasa tapi dua bodyguard itu dengan cepat menghadangnya, "Aku tidak punya urusan dengan kalian, lepaskan!"


Tiara sampai tersenyum miris mantap Arzan, kelakuan nya itu memang bagaikan hewan, "Dasar bajingan! Aib mu sekarang menjadi urusan ku, Arzan." decak nya dengan geram, setelah apa yang lelaki itu lakukan pada perusahaan Wijaya dia pikir bisa lepas begitu saja, "Kau pikir hanya kau yang bisa bertindak kotor?" tuturnya dengan menyeringai. Jika Arzan telah berani menjatuhkan perusahaannya Wijaya dengan menyebarkan berita bohong, maka dia bisa menyebarkan berita tentang kelakuan lelaki itu yang tengah menghamili seorang gadis remaja yang masih bersekolah, dan lebih parahnya lagi tidak mau bertanggung jawab.


Deg... Arzan semakin tersudut, bahkan perkataan wanita itu tidak terdengar main-main, "Aisst, sebenarnya kau siapa hah?" Dia sampai di buat heran, kenapa Tiara sampai sedalam itu ikut campur urusan nya.


"Dia Nona muda kami, apa kau budeku." Bodyguard itu yang sewot, berani sekali lelaki itu membentak Nona mudanya.

__ADS_1


"Sudah Pak, jangan terus meladeni dia, ayo pergi! Kenzo pasti sudah menunggu ku." ajak Tiara, bibir bicara pada kedua bodyguard nya, tapi matanya menatap Arzan dengan penuh kemenangan, akhirnya dia mendapatkan berita baik untuk meringankan beban suaminya. "Ini hanya awal karena kau berani mengusik perusahaan Daddy, Om Arzan." ucapnya lagi sambil berlaju pergi. Dia hanya perlu memastikan Shasa sampai rumah dengan aman, agar Arzan tidak lagi macam-macam sebelum berita itu di terbitkan.


...~...


Sementara itu di ruangan UGD, Chelsea sudah di tangani oleh dokter, tubuhnya sudah semakin membaik, luka di keningnya sudah di perban. Kenzo sudah lebih tenang karena wanita itu sudah lebih baik, tapi perasaannya menjadi gelisah, sang istri yang izin pergi sampai sekarang belum juga kembali.


"Dia ke mana?" gumamnya sambil mengambil ponsel untuk menghubungi Tiara, tapi belum juga melakukan panggilan, Tiara sudah terlihat memasuki ruangan di temani bawahannya. "Loh, kok bisa bersama mereka?" tanyanya saat Tiara semakin mendekat, bahkan raut wajah sang istri terlihat begitu senang. "Ada apa?" tanyanya heran.


Tiara sampai tidak sempat bicara karena lelaki itu terus saja bertanya, "Nanti aku jelaskan di rumah," jawab nya dengan tersenyum kecil, sekarang mereka harus fokus dengan kondisi Chelsea, prihal Arzan dan Shasa, dia akan membicarakan nya di rumah sembari membereskan semuanya.


...***...


Keadaan di kantor Prawira, semua pekerja di sana sudah di buat heboh dengan berita yang baru saja beredar, beberapa stasiun televisi, bahkan di beberapa artikel sudah tersebar luas video pendek dan beberapa foto Arzan dan Shasa saat di rumah sakit. Prawira dan Arya bahkan hampir tidak percaya mendengar dan melihat berita itu.


"Di mana, Arzan?" tanya Prawira pada bawahannya, tangannya sampai mengepal geram. Sejak tadi pagi dia tidak melihat keberadaan putra angkatnya itu dan sekarang malah menggemparkan masyarakat dengan berita kebejatannya, sungguh sangat memalukan, "Di mana dia?" Dia sampai meninggikan suaranya karena tidak ada yang menjawab pertanyaan.


"Argh, dasar anak tidak tahu diri, segera hubungi dia suruh secepatnya menemui ku!" titah Prawira lagi, dia sampai menghela nafas panjang dan kembali ke ruangannya, bisa-bisanya lelaki itu membuat masalah besar dan mengecewakan nya.


Sementara itu, Arya baru menghentikan mobilnya di pekarangan rumah, setelah melihat berita itu dia langsung menghubungi Shasa memastikan keberadaan putrinya.


"Kau!" Arya langsung mengepalkan tangannya geram, saat turun dari mobil dia mendapati Arzan sedang berdiri di depan rumahnya, tidak bisa menguasai amarah, dia langsung menghampiri lelaki itu dan tanpa ragu memukulnya.


Bugh... Satu tinju mendarat di wajah lelaki itu. "Belum puas kau menghancurkan kehidupan putri ku?" decak nya kesal. Dia sudah teramat percaya pada sosok Arzan tapi pada akhirnya lelaki itu begitu membuatnya kecewa. Berita itu bak tamparan dan hinaan untuk, hatinya ikut sakit. Bagaimana sekarang masa depan putrinya, bagaimana sekarang keadaan Shasa, berita kehamilannya bahkan sudah tersebar di mana-mana. Ingin meminta lelaki itu untuk bertanggung jawab pun rasanya muak, setelah melihat perlakuan kasar lelaki itu pada putrinya.


Arzan sendiri hanya bisa menahan rasa sakit tanpa bisa berkata-kata, dia tidak menyangka perkataan Tiara benar-benar nyata bahkan tidak membutuhkan waktu sampai dua jam dari kejadian tadi, sudah menjadi hot news yang sudah tersebar di mana-mana.


"Argh, sial." Dia sudah bingung bagaimana harus menghadapi Prawira.

__ADS_1


...~...


Sementara itu di kediaman keluarga Wijaya. Ze dan beberapa pelayan memapah Chelsea ke kamarnya, Ze begitu kaget melihat keadaan Chelsea yang cedera. Orang tuanya pasti akan kaget melihat keadaan putrinya, terlebih malam ini Roni dan Rani akan tiba di sini.


"Sayang, mana yang sakit. Apa perlu Tante panggil perawat ke rumah." ucapnya dengan begitu gelisah, dia langsung membantu Chelsea untuk membaringkan tubuhnya.


"Tidak apa-apa kok, Tan. Ini sudah lebih baik. Tadi Kak Kenzo langsung membawa ku ke rumah sakit." ucap Chelsea dengan begitu riang, tidak apa-apa dia jatuh dari tangga karena dia bisa mendapatkan perhatian Kenzo dengan begitu khusus. "Tapi Tan, Kak Kenzo sekarang di mana ya?" tanyanya heran, tadi Kenzo begitu memperhatikannya tapi setelah sampai di rumah lelaki itu tidak terlihat batang hidungnya.


"Kenzo katanya mau istirahat dulu, sayang. Kau juga harus istirahat ya." jawab Ze sambil mengelus kepala Chelsea, dia juga tidak tahu apa yang sudah di lakukan putra dan menantu nya itu, saat tadi sampai di rumah pasangan pasutri itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Bahkan sampai meminta izin jangan sampai mengganggu mereka sampai pagi tiba.


...~...


Di dalam kamar, Kenzo langsung menghempaskan Tiara di atas ranjang, istrinya itu cukup nakal juga sampai membuatnya geleng kepala. Dia langsung menghimpit tubuh itu dan mulai mencumbu nya.


"Ken!" Tiara sampai kaget, kalau mau bicara bicara saja, kenapa itu tangan dan bibir sudah tidak sinkron bergerak sesukanya.


"Mana yang katanya tidak bisa melakukan cara kotor, bahkan kau langsung mempengaruhi perspektif publik dengan berita yang kau buat, Tiara." decak nya kagum, tangannya langsung beralih mengelus rambut Tiara, setelah menceritakan apa yang tengah terjadi dengan Arzan dan Shasa, istrinya itu rupanya sudah meminta bawahannya untuk membereskan semuanya tanpa sisa. Alhasil berita itu muncul tanpa tak terduga.


"Shasa yang meminta, kalau saja lelaki itu mau bertanggung jawab, aku tidak akan bertingkah sejauh itu." timpal Tiara dengan begitu santai, Shasa yang merengek ketakutan takut Arzan terus memaksanya melakukan aborsi, maka cara itu yang lebih baik agar Shasa dan janinnya tetap selamat. "Terima saja akibatnya, salah siapa mereka berani mengusik perusahaan Daddy." ucapnya lagi, terima saja meski semua orang mengetahui kehamilan Shasa, itu lebih baik agar Arzan dan Shasa menerima akibat semua kelakuannya.


Kenzo sampai tersenyum senang, entahlah dia tidak bisa berkata-kata, apa yang di rencanakan Tiara cukup membantunya, dia tinggal membereskan sisanya esok hari dalam acara rapat terbuka nanti, berita miring itu akan berdampak buruk pada perusahaan Prawira, dan sang Daddy akan dengan mudah menarik kembali kepercayaan publik, dan semua pihak yang terkait. Perusahaan Wijaya pasti akan kembali berjaya dengan sendirinya.


"Ayo istirahat dulu sebelum esok hari datang," lirih nya, kembali mencumbu sang istri.


Tiara sampai gelang kepala, istirahat dari mana kenapa itu tangan udah bergerak seenaknya, "Hei. Aku mau mandi dulu." protesnya sambil mendorong tubuh Kenzo, tangannya langsung bergerak mencegah pergerakan tangan sang suami yang sudah bergerak nakal, tapi percuma lelaki itu malah semakin bergerak sesukanya.


"Tidak mandi juga sudah harum, Yang." timpal Kenzo dengan menyeringai, tidak mau banyak bicara lagi dia langsung meminta jatahnya karena akhir-akhir ini sang istri selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2