Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Pemilihan Trisakti angkatan baru.


__ADS_3

Settt...


Prang.....


Suara tempat makan berbahan seng terdengar begitu jelas terbentur di lantai, petugas kepolisian langsung melihat ke sumber suara untuk memeriksa nya, seketika langsung jengah saat tahu kalau orang itu lagi yang kembali berulah.


"Heh, Arzan. Sudah mending kau bisa makan gratis setiap hari, kenapa kau sombong sekali sampai membuang makanan mu hah?" sentak polisi itu dengan geram, ini bukan pertama kalinya Arzan melempar nasi cadong jatah narapidana, dia sampai kesal sendiri saat melihat nya. "Apa kau sengaja mogok makan agar mati konyol di balik jeruji ini seperti Ayah mu." decak nya lagi dengan menyeringai. Bahkan dengan sengaja mengeraskan suaranya agak Mario yang berada di sel ruangan lain bisa mengetahui seperti apa ulah adiknya ini.


"Kau!" Arzan sampai geram, kenapa harus membawa-bawa Ayahnya. Dia sampai mengacak rambutnya frustasi, hidup di penjara membuatnya seperti mau gila dan begitu sengsara, baru saja dua minggu ada di sel tahanan dia sudah seperti gelandang, mendapatkan perlakuan keras, makan-makanan yang tidak layak, bahkan tidur pun tidak nyaman. "Argh..." Kenapa malah memperkeruh suasana hatinya dengan mengungkit masa lalu Ayahnya, membuat perasaan nya semakin kacau. Ingin melawan tapi tidak bisa, dia hanya bisa meratapi nasibnya yang amat memuakkan. Rasanya dia mau mati saja karena tidak bisa hidup dalam kesengsaraan seperti ini.


Polisi itu sampai kembali menyeringai, melihat ekspresi Arzan. "Kalau mental anda selemah itu, kenapa memilih hidup jadi penjahat, dasar pecundang." cibirnya dengan begitu puas. Padahal sel yang di tempati Arzan terbilang lebih baik dari pada sel yang di tempati Mario yang hanya berukuran satu kali dua meter saja. Tapi Arzan masih saja selalu protes dan banyak berulah. "Berguru lah pada Abang mu, dia saja terlihat santai-santai saja meski harus sampai mati berada di balik jeruji ini." tuturnya lagi sambil menggebrak pintu sel tahanan Arzan, kalau mau berulah, di sini bukanlah tempat nya.


Mario yang mendengar itu hanya bisa tertunduk diam, dia sudah berpengalaman di dalam penjara, semakin melawan dan berontak dia akan semakin tersiksa, dia hanya bisa menerima setiap hukuman meski harus seumur hidup harus berada di dalam tahanan. "Terima saja Arzan, ini juga karena ulah mu yang selalu bergerak dengan gegabah." umpatnya dalam hati.


...****************...


Keadaan di aula sekolah Trisakti.


Suasana mulai bergemuruh. Acara yang di tunggu-tunggu setiap siswa setelah melewati ujian semester kini tiba, penobatan murid Trisakti angkatan baru yang selalu menjadi kebanggaan sekolah ini akan segera dimulai. Semua murid dari mulai kelas X sampai kelas XII terlihat sudah memenuhi aula, beratus-ratus kursi yang sudah di siapkan panitia hampir sudah terisi penuh oleh setiap siswa. Di sisi kiri di isi setiap murid kelas X, di sisi tentang tempat murid kelas Xl dan di sisi kanan khusus di duduki kelas XII baik kelas biasa maupun kelas unggulan.

__ADS_1


Sang pembawa acara sudah mulai membuka acara tapi Azzura dan Priscilla terlihat begitu gelisah karena teman mereka; Tiara bersama suaminya itu belum juga terlihat bergabung di aula.


"Aisst, Tiara masih di mana coba? Tidak tahu ini acara penting dia malah kesiangan." Azzura terus menengok pintu masuk aula. Dari tadi sudah menghubungi Tiara tapi wanita itu katanya malah baru bangun belum bersiap untuk pergi sekolah.


"Namanya juga sudah menikah, tidur pun pasti akan selalu nyenyak karena terus bersandar di pelukan suaminya." timpal Priscilla dengan begitu santai, jangan terus melihat ke belakang, nikmati saja acaranya. Tiara juga pasti akan menghadiri acara ini karena jelas ini momen yang paling di tunggu wanita itu. "Simpan saja barang mu di kursi ini biar tidak ada yang menempati!" titahnya meminta Azzura menyiapkan satu kursi untuk Tiara.


Azzura pun langsung melepas tas nya tapi belum juga di simpan Shasa terlihat berjalan ke arah mereka mencari kursi kosong karena sama-sama kesiangan.


"Maaf, bisa ikut duduk di sini?"


"Tidak ini untuk Tiara," Azzura langsung menjawab cepat, Shasa memang sudah meminta maaf pada dia dan Priscilla atas semua kesalahannya, tapi dia tidak bisa dengan mudah memaafkan nya, jadi dia tidak bisa ramah memperlakukan wanita ini seperti saat Tiara memperlakukan nya. "Tuh di sana ada kursi kosong!" tuturnya sambil menunjuk ke belakang mereka di mana Jonathan, Devan dan Mario berada.


Mario yang melihat itu langsung menggeser kursi itu agar sedikit menjauh dari nya, "Duduk saja!" titahnya dengan datar. Kalau tidak mengingat ucapan Tiara dia benar-benar akan mengabaikan wanita ini.


Shasa sampai tertegun, apa benar ini Mario, padahal lelaki ini kemarin-kemarin menatapnya dengan jijik dengan penuh kebencian, tapi sekarang terlihat biasa saja saat melihat keberadaan nya. "Terima kasih."


Devan yang melihat itu sampai cengengesan, "Akhm, Shasa tuh." bisik nya menggoda Mario. Di antara dia, Kenzo, Jonathan dan Reno. Hanya Mario lah yang masih membenci Shasa karena lelaki itu pernah menjadi korbannya, melihat ekspresi kesal Mario dia malah tertarik untuk meledeknya. "Gebetan baru ya?" ucapnya lagi dengan tertawa jahil.


Mario sampai jengah, "Si An-jing." umpatnya geram, gebetan dari mananya, melihatnya saja dia ogah.

__ADS_1


...*...


Di parkiran, mobil Kenzo terlihat baru sampai, karena tragedi tadi malam yang begitu memuakkan dia malah bangun kesiangan. Bagaimana tidak, dua Minggu tidak bisa menyentuh Tiara memang sebuah petaka yang begitu menyiksa.


Saat semua itu sudah hampir terjadi pun dia berpikir kembali, mengingat istrinya belum sembuh total, terlebih luka di kepalanya, membuat dia harus kembali menahan hasratnya dan pada akhirnya harus tidur tanpa terjadi apa-apa sampai membuatnya menjadi lelaki paling konyol karena harus mandi air dingin di tengah malam untuk meredam hasratnya yang sudah menggebu-gebu.


Tiara sendiri yang menjadi korban terlihat sedang sibuk dengan makeup nya, tapi bukan untuk wajah melainkan untuk menutupi bekas kecupan sang suami yang berbekas di lehernya. "Ken!" panggil nya sambil menoleh. Karena kesiangan dia sampai harus merapihkan penampilan nya di dalam mobil saat di perjalanan, "Apa sudah tertutup semua?" tanyanya tanpa dosa. Tidak tahu suaminya masih uring-uringan karena belum bisa memuaskan hasratnya ekh dia malah dengan begitu santai kembali mengingatkan nya.


"Ck...." Kenzo hanya bisa menghela nafas, tubuhnya langsung bergeser menghadap Tiara untuk membantu istrinya itu, "Sini!" pintanya agar Tiara memberikan bedak nya. Masih ada bekas yang belum tertutup sepertinya istrinya itu tidak bisa menjangkaunya. Setelah menutupi bekas itu dia pun langsung melepas ikat rambut Tiara dan mulai menggeraikan rambut itu dan merapihkan nya.


"Sudah." ucapnya dengan tersenyum kecil, setiap hari dan setiap saat dia selalu melihat wajah imut nan cantik ini bagaimana dia bisa tahan untuk tidak melahapnya. Cup... Pada akhirnya satu kecupan kembali mendarat di bibir itu.


Si empunya sampai gelang kelapa, "Ken sudah, kita kesiangan!" rengek nya sambil mendorong tubuh Kenzo yang masih menatapnya dengan begitu intim. Bukan karena apa-apa, dia sendiri selalu terlena kalau lelaki itu sudah mulai menyentuhnya, kalau di biarkan yang ada mereka bukan lagi kesiangan, tapi tidak menghadiri acara sama sekali.


Kenzo sampai mengacak kasar rambutnya, dia lelaki normal, wajar kan kalau ingin terus mencium wanitanya, "Pelit," celoteh nya sambil perlahan membuka pintu mobil.


Tiara sampai terkekeh, kelakuan suaminya itu memang sudah ada-ada saja, padahal tadi malam pun dia tidak menolak, Kenzo sendiri yang tiba-tiba berhenti dan pergi begitu saja saat mencumbu nya.


"Ayo turun!" ajak Kenzo setelah membuka pintu mobil Tiara, dengan cepat mengulurkan tangan mengajak sang istri untuk masuk ke dalam dengan bergandengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2