Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Belikan aku es krim.


__ADS_3

Kenzo dan Tiara terus mengitari pesisiran pantai dengan bergandengan tangan, berjalan tanpa mengenakan alas kaki bahkan sendal jepit sekalipun karena ingin merasakan segarnya air pantai dengan semburan ombak kecil yang menimpa kaki mereka. Dua insan itu terus saja terdiam, tanpa kata dan canda, terbenam dengan pemikiran nya masing-masing.


Tiara memandang kosong jauh ke depannya, suasana hatinya yang tadi pagi begitu ceria kini jadi berubah karena pembahasan tentang putrinya Om Roni tadi pagi. Jika saja dia tidak mengenakan kacamata hitam, mungkin Kenzo bisa melihat kilatan mata kegelisahannya.


"Dongeng tentang Cinderella saja berakhir bahagia kenapa aku tidak." gumamnya sambil menggerakkan kakinya menendang air laut di depannya. Kesal sendiri, masih pagi suasan hatinya menjadi buruk karena membahas tentang wanita yang mencintai suaminya. "Semoga saja wanita itu baik, dan berbesar hati bisa menerima kenyataan." gumamnya penuh harap. Dia sampai menghela nafas membuang pikiran buruknya, terlalu di pikirkan pun pasti akan menjadi beban, dia ke sini untuk liburan bukan untuk menumpuk beban pikiran.


Kenzo yang sadar akan tingkah Tiara langsung menghentikan langkahnya, dan menghentikan langkah gadis itu, "Dari kemarin kau meminta main di pantai tapi kenapa sekarang kau tidak bersemangat seperti ini?" tanyanya sambil perlahan mengangkat kaca mata hitam milik Tiara begitupun dengan kacamata nya. Dia harus menatap mata wanita itu agar bisa tahu apa yang di rasakan nya. "Masih kepikiran hal yang tadi?" tanyanya sambil merapikan topi sang istri.


"Tidak. Walau bagai es balok sekalipun kau suamiku, wanita manapun tidak akan ku biarkan mengambil mu dari ku." tutur Tiara dengan menyeringai. Bukan hanya ucapan nya, kilatan matanya saja memperlihatkan kepercayaan diri nya yang begitu tinggi.


Kenzo sampai tersenyum kecil, kembali memasangkan kacamata Tiara, kekhawatirannya memang tidak berarti, istrinya itu bukan wanita lemah yang mudah di perdaya, bahkan di situasi seperti ini pun masih sempat-sempatnya dia meledeknya dengan mengatainya es balok. "Dasar kau!" timpalnya sambil berbungkuk mengambil air laut dan dengan cepat ia ciprat kan ke wajah gadis itu.


"Kenzo!" Tiara sampai menjerit kesal, rasa asin air laut bahkan sampai terasa di bibirnya karena cipratan lelaki itu. "Awas, ya!" ancam nya kesal karena lelaki itu malah tertawa jahil melangkah meninggalkan nya.


"Haha.... Coba saja, kalau kau bisa menangkap ku, akan ku turuti kemauan mu apapun itu." ucapnya malah menantang, tepian pantai yang begitu luas membuatnya merasa percaya diri kalau Tiara tidak akan bisa menangkap nya.


"Kau pikir aku tidak bisa menangkap mu. Lihat saja," Tiara langsung berlari, tapi percuma langkah kakinya yang terlalu kecil sampai kalah cepat karena lelaki itu juga ikut berlari semakin jauh dari nya. "Aisst, Kenzo!"


"Hahaha," Kenzo kembali tertawa puas, mana yang katanya bisa menangkapnya baru juga berlari beberapa langkah sudah menyerah. "Kalau kau menyerah, kau yang harus menuruti kemauan ku." pintanya lagi.


"Tidak mau!" tolak nya dengan cepat, dia sudah bisa membayangkan kalau harus mengikuti kemauan lelaki itu, dia pasti akan kembali di kurung di dalam kamar tanpa di izinkan turun dari tempat tidur nya. "Es balok menyebalkan, awas ya." Dia kembali berlari mengejar Kenzo, bahkan sesekali berbungkuk mengambil air laut dengan kedua tangannya, dan menyiramkan nya pada sang suami, tapi sedikitpun tidak ada yang kena, lelaki itu terlalu gesit sampai tidak ada satu tetes pun yang mengenai tubuh maupun pakaiannya.

__ADS_1


"Aww."


Tiara tiba-tiba meringis, sontak Kenzo langsung berhenti dan menghampiri wanita itu untuk memastikan keadaan nya. "Kenapa?" tanyanya khawatir, ingin memastikan keadaan sang istri tapi wanita itu malah bergerak cepat mengambil air laut dan mencipratkan pada kemajanya.


"Kena." Tiara sampai menyeringai senang, akal bulusnya untuk berpura-pura kesakitan ternyata ampuh juga, akhirnya dia bisa membalaskan kejahilan lelaki itu.


"Aisst. Kau curang. Basah, Tiara." protes Kenzo tidak terima.


Tiara malah terbahak, akhirnya bisa mengalahkan lelaki itu, "Hahaha. Tidak ada peraturannya yang penting bisa kena, kan?" Dia malah menjulurkan lidah meledek Kenzo. Tersenyum penuh kemenangan sambil kembali mencipratkan air laut pada suaminya.


"Kau!" Kenzo langsung menggendong Tiara, membawa wanita itu untuk menepi, karena kalau di biarkan basah sudah semua bajunya karena ulah wanita ini, "Kau puas!" decak nya kesal.


"Hem, kau mau apa?"


"Belikan aku es krim."


"Hanya itu?" Kenzo sampai menoleh ke belakang, dia kira istrinya itu akan meminta yang aneh-aneh ternyata hanya ingin itu saja. "Tidak ada yang lain, biar Pak Tono sekalian membelikan yang lain lagi."


"Tidak mau, aku ingin kau yang membelikan nya, bukan malah menyuruh orang lain."


"Kenapa, tidak ada bedanya kan. Kau menyuruhku dan aku menyuruh Pak Tono." timpalnya tanpa dosa. Bukan karena apa-apa, mana pernah dia membeli es krim, dia tidak tahu ke mana harus membelinya, segala keperluannya selalu di urus Pak Tono apapun itu, "Suruh Pak Tono saja." tolaknya tidak mau.

__ADS_1


"Jelas beda, sayang. Kalau suami ku yang membelikan nya rasanya pasti akan lebih manis." ucapnya dengan terkekeh, dia tahu kebiasaan Kenzo yang selalu bergantung pada para pelayan nya, maka hari ini dia akan membuat lelaki itu berusaha sendiri dengan apa yang di inginkan nya.


"Aisst, kau mengerjai ku." decak nya kesal. Rasa es krim kan begitu-begitu saja, mana bisa berbeda orang yang beli berbeda rasa. Bisa-bisanya dia di perdaya sang istri. Tapi mau menolak pun dia sudah janji.


...*...


Beberapa menit berlalu, Tiara sudah duduk di sebuah bangku di depan mini market di sekitaran pantai, menunggu sang suami yang entah kenapa akan keluar dari sana. "Dia tidak sebodoh itu kan sampai tidak bisa membeli sebuah es krim." gumamnya dengan cengengesan. Dia terus saja melihat ke arah pintu mengunggu suaminya keluar dari sana.


Lima menit berlalu, yang di tunggu belum juga keluar, Tiara sampai sudah bosan menunggu di luar, dia ingin beranjak bangun untuk menghampiri sang suami tapi pergerakannya terhenti karena ada dua orang pemuda menghampirinya.


"Hai, sendirian saja?" tanya salah satu pemuda dan ikut duduk di samping nya.


Tiara sampai refleks bergeser, walau tidak terlihat menyeramkan tetap lelaki itu orang asing. "Saya sedang menunggu seseorang." timpal nya dengan gugup.


"Jangan takut, Nona. Kita orang baik-baik." timpal salah satu pemuda yang lainnya. "Boleh kenalan?" pintanya tanpa basa-basi, dia sampai mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Tapi detik selanjutnya tangan nya langsung ia turunkan kembali saat merasakan aura dingin di belakangnya.


"Minggir, bodoh. Apa yang kalian lakukan hah?" Suara Kenzo terdengar menggelegar. Langsung menggeser tubuh lelaki itu agar menjauh dari Tiara. Baru juga di tinggal sebentar menit sudah ada semut-semut nakal yang menghampiri istrinya. "Pergi!" titahnya dengan menatap tajam mereka. Sontak dua pemuda itu langsung pergi terbirit-birit meninggalkan Tiara.


"Suami ku memang paling baik." Tiara sampai menyeringai senang, langsung berdiri menghampiri Kenzo, tersenyum lebar menyambut kedatangan sang suami, "Mana es krim ku?" tanyanya langsung.


"Nih," Satu tangan Kenzo menyodorkan kantong plastik berisi es krim dan satu tangannya lagi menarik topi Tiara agar topi itu menghalangi wajah cantik nya. "Besok lagi kalau mau jalan-jalan kau harus pakai masker." decak nya kesal. Wajah cantik itu hanya miliknya, tidak boleh ada lelaki lain yang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2