
Bukannya mendengar ocehan Chelsea, Kenzo malah terus menatap Tiara, memperhatikan reaksi sang istri setelah mengetahui sosok Chelsea yang pernah di ceritakan nya. "Kenapa? adik ipar mu tuh. Kau tidak mau menyapanya." bisik nya sambil melingkarkan tangan di pinggang Tiara dan menarik gadis itu agar semakin mendekat ke arahnya.
"Dia saja tidak menganggap keberadaan ku, bagaimana aku mau menyapanya." jawab Tiara dengan ketus, tadinya dia mengira kalau sosok Chelsea akan sedikit dewasa, tapi perkiraannya jauh dari bayangan. Dia sampai tidak mood untuk bersikap baik pada wanita itu terlebih saat mendengar dan melihat sikapnya yang sedikit kurang sopan.
Kenzo sampai tersenyum kecil, langsung mengelus kepala Tiara, baru juga saling berhadapan di layar ponsel, istrinya itu sudah jeles seperti ini, apalagi kalau nanti mereka sudah di pertemukan. Terlebih sikap Chelsea suka kekanak-kanakan.
"Kak Kenzo, kenapa tidak menjawab pertanyaan ku si. Kak Ken kapan pulang? jangan lupa oleh-oleh nya ya." ucap polos Chelsea, saking antusiasnya melihat Kenzo setelah sekian lama dia sampai lupa tujuan utamanya menghubungi lelaki itu.
Kenzo sampai menghela nafas, begitulah Chelsea yang dia kenal, gadis rewel yang bisa nya hanya merengek meminta perhatian nya. "Hei, sebelum kau mengoceh ke sana kemari bukannya kau harus menyapa Kakak ipar mu dulu." titahnya dengan begitu tegas, sambil menatap Chelsea.
Chelsea di sebrang sana sampai mengeram kesal, "Kakak ipar?" umpatnya dengan memasang wajah cemberut, rasanya dia tidak terima menganggap wanita itu sebagai Kakak iparnya, kalau saja bukan Kenzo yang memintanya dia tidak akan pernah mau menyapa wanita itu, "Hai, Kak Tiara," ucapnya dengan tersenyum yang di buat-buat.
Tiara sampai mengangkat sudut bibirnya, sang Mommy pasti sudah sangat jauh menceritakan tentang dirinya sampai wanita itu sudah tahu namanya. "Hai, salam kenal adik ipar." timpal Tiara dengan menyeringai, bibirnya tersenyum lebar bak seorang Kakak yang sedang menyapa adiknya. Tapi hatinya berkata lain, dia langsung menggandeng lengan Kenzo membuktikan pada wanita itu kalau lelaki ini sudah menjadi miliknya. "Ini suamiku adik ipar." batin nya dengan tersenyum senang.
"What?" Chelsea sampai kesal sendiri, dia tidak sudi menjadi adik ipar wanita itu, "Aku punya nama, Chelsea, panggil saja namaku." timpal nya dengan begitu jutek, dia menyukai Kenzo, tidak terima jika dia malah hanya di anggap sebagai adiknya saja.
"Chelsea," Kenzo sampai menegur wanita itu dengan tegas, lebih sopan lah sedikit karena dia juga selalu menghargai nya. "Kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi aku tutup," ucapnya sambil mengambil ponsel nya, ingin mengakhiri panggilannya tapi terhenti karena Chelsea kembali merengek dan terus bicara.
"Iya-iya maaf, Kak Ken, tapi tunggu dulu. Ada yang ingin ku bicarakan." pintanya dengan begitu nyaring, Chelsea langsung memperlihatkan sosok Ze agar Tante nya itu yang bicara pada putranya. "Ini, Tante mau bicara," ucapnya lagi, dia yakin kalau Ze yang bicara lelaki itu pasti akan mengabulkan nya.
"Apa, Mom?"
"Ken. Chelsea akan menginap di rumah kita sampai Om Roni dan Tante Rani tiba di sini, dia meminta tinggal di kamar ini apa tidak apa-apa?" tanyanya langsung, dia sedikit ragu untuk bicara tapi mau bagaimana lagi Chelsea yang memintanya.
__ADS_1
"Tidak." jawab Kenzo dengan begitu tegas tanpa basa-basi.
Chelsea sampai kembali cemberut, apa si istimewanya kamar itu sampai dia tidak boleh menempatinya. "Kak Kenzo! Ayolah, cuma sebuah kamar doang juga, pelit sekali," rengek nya berusaha memohon, tapi percuma lelaki itu malah menatapnya dengan tajam tanpa ada niatan mengabulkan permintaan nya.
"Sekali tidak iya tidak, Chelsea. Masih banyak kamar kosong. Kau pilih saja yang manapun asal jangan kamar itu." titah nya dengan tegas.
Chelsea hanya bisa menunduk kesal, "Iya." jawabnya singkat, dia semakin kesal saat matanya tidak sengaja menatap Tiara yang sedang tersenyum kecil menatap nya, wanita itu terlihat seperti sedang meledeknya, "Dasar menyebalkan."
"Dah adik ipar, sampai ketemu di rumah ya." ucap Tiara kembali bersuara sebelum panggilan itu di akhiri suaminya, dia dengan sengaja menekankan kata adik ipar agar wanita itu menjadi sadar, terlebih ekspresi wajah itu selalu membuatnya ingin tertawa sampai rasanya ingin terus mengerjainya, "Tunggu oleh-oleh nya ya, Kakak pasti akan membelikan nya." ucapnya lagi dengan menyeringai senang. Rasanya dia ingin tertawa puas melihat ekspresi kesal wanita itu.
Panggilan berakhir, Kenzo kembali menyimpan ponselnya dan langsung memeluk Tiara dari belakang, melingkarkan tangannya di perut sang istri dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu, "Maaf, begitulah dia," tuturnya dengan begitu pelan, dia tahu Tiara jeles pada Chelsea tapi istrinya itu malah meladeninya dengan begitu elegan.
"Kenapa kamu yang minta maaf? Aku tidak apa-apa," timpal Tiara dengan cepat, iya namanya juga sebuah kehidupan, hubungan tanpa sebuah masalah mungkin tidak akan berwarna. Dia bisa memaklumi nya.
"Hem," Tiara langsung mengangguk, tanpa wanita itu minta hari ini dia memang bermaksud membeli oleh-oleh dari Bali sebelum dia pulang, sekalian saja juga membeli sesuatu untuk wanita itu toh tidak terlalu susah, "Aku akan buktikan kalau aku seorang Kakak yang harus dia patuhi, bukan seorang wanita yang harus dia saingi." ucapnya dengan tersenyum tipis.
Kenzo sampai tersenyum senang, "You are the best, you always make me love you more," lirihnya sambil memeluk Tiara dengan erat. Iya, untung saja istrinya itu seorang Tiara, kalau bukan wanita dewasa seperti istrinya itu mungkin dia akan mumet sendiri menghadapi kecemburuan yang tak bertepi.
"Thank you very much my husband, i love you too."
Suara ketukan pintu dari luar kamar mereka tiba-tiba terdengar, Kenzo yang masih nyaman memeluk sang istri rasanya tidak mau melepaskan pelukan itu. "Ada apa?" tanyanya sambil menoleh ke arah pintu, tanpa bergerak sedikitpun.
"Maaf, Den, motornya sudah siap." jelas Pak Tono. Untung saja pendengaran Pak Tono cukup baik, walau Tuan mudanya bersuara dari dalam, tapi dia masih bisa mendengar suara nya.
__ADS_1
"Motor?" Tiara yang kaget, dia langsung berbalik ingin bicara sambil menatap suaminya. "Kita jalan-jalan pakai motor?" tanyanya dengan antusias. Kemarin kan dia hanya bercanda, tapi suaminya itu benar-benar mengabulkan nya.
"Iya, Kau sendiri yang bilang kalau jalan-jalan pakai motor pasti lebih asyik kan."
Iya, itu memang sesuatu yang Tiara inginkan, tetapi bagaimana dengan suaminya sendiri, "Dan kau, apa tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Bukannya kalau naik motor udah dari hembusan angin pasti akan terasa dingin dan itu akan langsung menerpa tubuhnya, "Kau bahkan hanya menggunakan kaos dalam dan kemeja saja, mana switer mu?" tanyanya khawatir, tubuh Kenzo lemah dari udara dingin, dia tidak bisa memaksakan suaminya untuk terus mengikuti kemauannya.
"Tidak apa-apa, sayang." jawab Kenzo dengan tegas, tangannya sampai bergerak mengelus kepala Tiara, ternyata sesenang ini mendapat perhatian dari seseorang yang dia sayang, "Sekarang aku sudah lebih baik." timpal nya menjelaskan.
"Benarkah?" Tiara sampai antusias, setelah di ingat-ingat selama di Bali saja Kenzo tidak pernah mengenakan switer nya.
"Iya."
"Syukurlah." Tiara sampai berhambur memeluk Kenzo, "Aku ikut senang mendengar nya." ucapnya tanpa melepaskan pelukannya itu.
Kenzo sampai kegirangan mendapat pelukan hangat dari sang istri, "Apa kita cancel saja jalan-jalan nya?" bisik nya sambil membalas pelukan Tiara. Kalau Tiara terus memeluknya seperti ini dia tidak bisa menjamin bisa menahan gairahnya.
"Tidak, ayo jalan-jalan sekarang." Tiara sampai refleks melepaskan pelukannya, tidak di perjelas pun dia sudah mengerti arah pembicaraan lelaki itu. "Ayo!" ajaknya lagi sambil mendorong pelan tubuh Kenzo, bisa bahaya kalau terus berdekatan dengan lelaki ini.
Kenzo sampai terkekeh, "Baiklah ayo." timpal nya sambil meraih tangan Tiara dan langsung menggenggamnya. "Ngomong-ngomong, kau akan membeli apa untuk adik ipar mu itu, kau terlihat begitu antusias saat tadi mengucapkan oleh-oleh untuk nya." tanyanya penasaran, dia terus menggenggam tangan Tiara sambil berjalan keluar kamar.
"Lihat saja nanti, aku jamin dia pasti akan menerimanya dengan senang hati." timpal Tiara dengan menyeringai senang. Belum juga apa-apa dia sudah ingin tertawa saat membayangkan nya.
Kenzo sampai mengacak rambut Tiara, memang salah besar kalau dia mengira Tiara akan di persulit oleh Chelsea, keadaan pasti malah sebaliknya, belum juga apa-apa istrinya itu sudah tersenyum kegirangan saat pertama kali menghadapi wanita rewel itu.
__ADS_1