
Victoria Basketball Club, di sinilah Tiara berada. Setelah pulang sekolah dia di ajak Priscilla ke sebuah gedung besar tempat latihan basket ternama dan paling besar di kota dan ternyata itu milik keluarga Priscilla. Tempat yang selalu di buru setiap orang yang mencintai olahraga basket untuk melatih dan memperdalam skill mereka.
"Tidak heran dia jago basket, orang keluarga nya bergelut di bidang basket." gumam Tiara dengan mata terus mengitari sekelilingnya. Memang hanya di kota dia bisa melihat bangunan-bangunan yang begitu menakjubkan.
"Ayo masuk!" ajak Priscilla pada Tiara dan Azzura. Iya, dia memang menerima tawaran Tiara. Tapi dia tidak mau menanggung resiko. Sebelum pertandingan dimulai dia harus melihat dulu sampai mana kemampuan Tiara dan Azzura yang akan menjadi teman satu tim nya. Jika kemampuan mereka di bawah standar mau tidak mau harus melatihnya dulu karena dia tidak mau sampai kalah yang kedua kalinya dari Shasa dan kedua kawannya.
"Oh my God. Aku sudah lama tinggal di kota tapi baru pertama kali menginjakkan kaki di sini." ucap kagum Azzura, dia sama-sama terkesima, mangap melihat kemewahan lapangan basket di dalam gedung itu. Bukan hanya satu tapi ada beberapa lapangan dengan pasilitas yang berbeda. "Kita mau latihan di area yang mana?" tanyanya penasaran. Pasalnya dari sekian banyak lapangan sudah ada beberapa kelompok yang sedang latihan.
"Di atas," jawab Priscilla singkat, dia langsung mengajak dua temannya itu untuk mengikutinya.
Priscilla langsung melangkah, di ikuti Tiara dan Azzura sampai kini mereka berjalan dengan beriringan. "Tunggu! Aku hanya mengajak kalian tapi kenapa mereka juga ikut ke sini." tanya Priscilla sambil menoleh ke belakang melihat keberadaan Kenzo, Jonathan beserta Devan. Tiga laki-laki itu berjalan dengan begitu santai mengikuti langkah mereka, walau tanpa di minta.
"Maaf!" Tiara sampai tersenyum kikuk, dia tahu Priscilla pasti akan canggung jika Kenzo juga ikut bersama mereka, tapi suaminya itu mana bisa mengizinkan nya keluar rumah sendirian saja, alhasil suaminya itu harus menemaninya dan mengajak Devan beserta Jonathan untuk ikut bersama.
"Anggap saja kita sedang tripel date, Cill." timpal Azzura sambil cengengesan, nikmati saja momen ini, jarang-jarang kan mereka keluar bersama, di temani teman cogan nya pula, walaupun mereka ke sini untuk olahraga, di bawa enjoy saja.
"Triple date apaan? Kalian enak di temani lelaki yang kalian suka, nah gue?" timpal Priscilla dengan begitu ketus.
Tiara dan Azzura sampai saling menatap cengengesan. "Kan ada, Devan." jawab mereka bersamaan. Priscilla sampai mengendus kesal, sepertinya wanita itu tidak terima di comblang kan dengan Devan.
"Aisst. Sekarang kalian bisa meledek ku, tapi awas saja kalau saat di lapangan kalian membuatku kesusahan." decak nya sambil berlaju pergi. Priscilla merupakan wanita tegas jika itu menyangkut pertandingan, siapa saja teman satu tim nya, bersiaplah menerima instruksi darinya.
"Siap, kapten." Lagi-lagi menjawab serempak. Tiara dan Azzura tidak hentinya memasang senyuman, setelah cukup mengenal Priscilla rupanya wanita itu menyenangkan juga, mereka langsung menggandeng lengan Priscilla dan berjalan beriringan dengan nya.
Tiga laki-laki yang ada di belakang tiga wanita itu hanya bisa geleng kepala, tidak mengira mereka bertiga akan cepat akrab juga.
Mereka semua sudah ada di lantai paling atas. Terlihat Kenzo, Jonathan dan Devan sudah duduk berjejer di kursi penonton menunggu tiga wanita yang sedang bersiap mengganti pakaian olahraga nya.
Tantangan dari Shasa bukanlah sebuah lelucon, maka mereka pun harus berlatih dengan sungguh-sungguh, agar pertandingan basket mereka tidak mengecewakan.
__ADS_1
"Apa tidak ada seragam olahraga yang lain, ini terlalu seksi, Cilla." umpat Tiara sambil terus berjalan menuju lapangan, dari tadi dia terus saja protes karena kustom olahraga yang di siapkan Cilla sepertinya kekurangan bahan. Bukan hanya kaus atasan nya dengan lengan pendek bagai tank top, celananya juga begitu mini sampai memperlihatkan paha nya.
"Style anak-anak basket memang begini Tiara, enjoy saja, kau terlihat semakin cantik dengan penampilan seperti ini." Azzura yang menjawab, dia yang lebih tahu tentang fashion, di mana-mana seragam olahraga basket ya memang seperti ini.
"Itu lebih baik dari pada hanya menggunakan bikini." cetus Priscilla dengan tajam. Bukankah sudah di bilang kalau sudah di lapangan jangan melawan, turuti saja. Itu lebih baik dari pada harus latihan menggunakan seragam sekolah dengan rok pendek yang lebih tidak nyaman.
"Iya, baiklah. Ayo." Akhirnya menurut juga, tapi tetap saja Tiara masih canggung dan terus mengekor di belakang dua wanita itu untuk menyembunyikan tubuh seksinya. Dia sedikit ragu takut Kenzo mengomelinya.
Tiga wanita itu memasuki lapangan, Azzura dan Priscilla berjalan paling depan, sedangkan Tiara masih saja bersembunyi di belakang. Terus berjalan semakin mendekat ke arah tiga laki-laki yang sedang duduk santai di kursi di sisi lapangan.
Devan terlebih dulu menyadari kedatangan tiga wanita itu, langsung menoleh ke arah mereka tanpa sadar langsung terbatuk-batuk sampai kembali menunduk. "Alamak, godaan macam apa ini." umpatnya dalam hati. Dia sampai mengambil ponselnya untuk menghilangkan kecanggungan nya.
Jonathan yang duduk di samping Devan sampai keheranan, ikut menoleh sampai kini bisa melihat Azzura yang berjalan terlebih dulu di antara tiga wanita itu.
"Akhem." Bikin kegerahan, seragam basket putri sungguh meresahkan terlebih yang dia lihat wanita yang dia sayang.
"Kenapa? Ada yang salah?" Azzura malah nyengir seolah menantang, berpenampilan seksi memang kebiasaannya, tapi tidak menyangka penampilan nya sekarang sukses membuat Jonathan kelimpungan.
Azzura dan Priscilla sampai saling menatap, ide Jonathan memang cukup menarik.
"Bukannya begitu, Dev?" timpal Jonathan lagi sambil menyikut lengan Devan mencari kawan untuk mengiyakan saran nya.
Devan yang mendengar itu langsung menyeringai, tidak buruk juga, "Ya, kalau kalian bisa mengalahkan kita, otomatis kalian pasti bisa mengalahkan Shasa." tuturnya dengan begitu antusias. Mumpung sudah datang ke sini kan, kenapa tidak bersenang-senang saja sekalian. "Gas, Ken!" ajaknya sambil menepuk pundak Kenzo. Tapi jangankan merespon, menoleh saja tidak, Kenzo sedang fokus pada ponselnya sampai tidak menyadari kedatangan Tiara, apalagi menanggapi ocehan kedua kawannya.
"Woi, pacar loe di embat orang." tegur Devan sambil menyikut lengan Kenzo.
"Hem." Kenzo sampai refleks menoleh mencari keberadaan Tiara, dia langsung tersenyum kecil saat matanya melihat sosok imut yang bersembunyi di belakang Priscilla. "Kau sedang apa? Mau latihan atau petak umpet!" bibir bicara pedas tapi mata terpukau melihat penampilan Tiara. Walau sudah terbiasa melihat tubuh wanita itu tanpa sehelai benang pun, tapi tetap saja Tiara yang terlihat begitu seksi sangatlah menggoda.
Tiara sampai tersenyum lebar mengangkat dua jarinya, seolah minta pengampunan, "Sedang petak umpet, Bos ku." jawabnya dengan candaan. Tubuhnya hanya milik suaminya, sebelum Kenzo melihat penampilannya dia tidak akan menunjukkan dirinya. Bisa-bisa sang pemilik jiwa raganya bisa marah.
__ADS_1
"Aisst, kalau saja sedang di rumah aku akan langsung melahapnya." umpat Kenzo yang sudah mulai kegerahan. Dia langsung berdiri untuk menghampiri sang istri. "Ayo, kita bertanding. Yang kalah harus mengikuti apapun yang di inginkan pemenangnya." ucapnya ikut merespon saran Jonathan. Sasarannya hanya Tiara. Rasanya dia ingin mengerjai istrinya itu.
Empat insan itu langsung kegirangan, ide itu sepertinya akan lebih menyenangkan dan tentunya lebih menantang.
"Bagaimana? Kau siap melawan ku?" tanyanya pada sang istri, Kenzo langsung mendorong tubuh Tiara agar sedikit menjauh dari Priscilla. Langsung melepas switer nya dan melingkarkan switer itu di pinggang Tiara, untuk menutupi paha mulus wanita ini.
Tiara sampai tersenyum kecil, sudah mengira suaminya itu tidak akan membiarkan penampilannya sekarang, terlebih ada lelaki lain di sekitarnya. "Siap lah, kenapa tidak," jawab Tiara dengan tersenyum kecil, kan ada Priscilla yang jago basket kenapa harus takut dengan tantangan itu, walau tim nya kalah melawan tim suaminya, dia sudah hapal wacana apa yang di inginkan lelaki ini.
"Baiklah, bersiaplah kalah dari ku, Tiara. Dan perlihatkan tubuh seksi ini hanya di depan ku, aku tidak ingin ada lelaki lain yang melihatnya." bisik nya sambil mengikatkan switer itu dengan begitu erat. Walau dia tahu Jonathan dan Devan tidak mungkin jelalatan, dia tetap tidak rela karena semua itu hanya miliknya, hanya dia yang boleh melihatnya.
Tiara sampai tersenyum tipis, melihat keadaan, saat di rasa tidak ada yang melihat ke arah mereka dia dengan cepat berjinjit mengecup bibir sang suami yang telah menasehatinya, "Siap Bos, ku. Semuanya hanya milikmu." ucapnya dengan menyeringai. Dia perlahan memundurkan tubuhnya dan langsung bergabung dengan Priscilla dan Azzura, untuk bertanding melawan tim suaminya.
Kenzo sampai mematung sempurna, "Aisst, Tiara." Bisa-bisanya dia mati gaya karena seorang wanita. Jangan bilang kecupan itu sebuah sogokan agar dia mengalah dari wanita itu.
...***...
Esok harinya.
Suasana di lapangan basket sekolah terlihat begitu ramai, berita tentang pertandingan basket antar tim Tiara dan tim Shasa sudah menyebar ke seluruh murid sekolah. Hampir semua murid kini sudah berbondong-bondong berdatangan untuk melihat pertandingan.
Di tengah lapangan sudah terlihat dua tim yang siap bertanding, di sisi kanan sudah terlihat tim Tiara, wanita itu di hapit Azzura dan Priscilla, sedangkan di sisi kiri sudah terlihat tim Shasa, wanita itu berdiri paling tengah berhadapan persis dengan Tiara. Sedangkan Jessica berhadapan dengan Azzura dan Alicia sendiri berhadapan langsung dengan Priscilla.
"Gue tidak mengira Tiara akan mengajak pecundang seperti, mu." cecar Alicia dengan menyeringai, setelah kejadian waktu mengerjai Priscilla baru kali ini dia kembali berhadapan dengan wanita ini.
Priscilla tidak kalah menyeringai, dia bahkan tidak percaya bisa kembali berhadapan dengan musuh bebuyutannya, "Gue tidak mengira seorang kapten basket putri masih punya muka setelah menantang bermain basket pada lawan yang tidak sepadan dengan kemampuannya," timpalnya membalikkan ledekan Alicia. Kalau wanita itu merasa jago, tantang lah lawan yang sepadan dengan nya, bukan malah menjatuhkan harga diri sendiri dengan merendahkan level kemampuan nya. "Dasar pecundang, abadi." umpatnya berusaha memancing kemarahan wanita itu. Semakin Alicia marah, semakin besar ambisi wanita itu untuk memang, dan akan semakin buyar juga strategi bermainnya, jika wanita itu semakin tersulut emosi.
"Apa kau bilang?" Alicia tidak terima, bukan hanya sudah kembali mendapatkan teman, Priscilla sekarang berani melawannya. "Akan ku pastikan kau akan bertekuk lutut yang kedua kalinya," ancam nya dengan tegas.
Tiara yang melihat sorotan tajam mata Alicia langsung meraih tangan Priscilla, meyakinkan wanita itu kalau ancaman Alicia tidak akan berarti selama wanita itu berpihak padanya, "Jangan banyak bicara sebelum melihat faktanya. Kau buktikan saja kemampuan mu di lapangan, baru kau bisa bicara." timpal Tiara dengan menatap tajam Alicia.
__ADS_1
Shasa sampai menyeringai dan turun tangan, "Oke, ayo kita buktikan, dan bersiaplah menerima kekalahan."