
"Tutup semua akses transportasi keluar negeri. Tangkap Arzan jangan sampai lepas, mau hidup atau mati, bawa bajingan itu ke hadapan ku!"
Amarah Kenan meluap-luap, setelah mendapat kabar tentang Tiara dia langsung menghubungi bawahannya, tidak pernah terbayang kalau kini Tiara lah yang menjadi korban kegilaan putra Wiranto, dia saja begitu terpukul, lalu bagaimana dengan keadaan putranya. Luka dan trauma Kenzo sudah cukup dalam akibat tragedi di masa lalu dan penyakit yang di deritanya, dia tidak bisa membayangkan akan se-hancur apa perasaan putranya sekarang saat wanita yang di sayangi nya celaka akibat demen musuh-musuh nya.
"Maaf, ini semua salah Daddy Ken." Kenan sampai mengusap kasar wajahnya dengan penuh kegelisahan, kalau saja dia tidak pernah memancing masalah di masa lalu mungkin keadaannya tidak akan berakhir seperti ini. Tidak bisa terus berdiam diri, dia pun langsung beranjak berdiri menghampiri sekretaris nya.
"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang!" pintanya tanpa basa-basi. Dia benar-benar akan merasa bersalah kalau menantunya itu sampai kenapa-napa.
...*...
Suara ambulans terdengar jelas membelah jalanan. Mobil-mobil yang memenuhi jalan langsung menepi memberikan jalan. Untung saja saat Kenzo begitu frustasi dengan keadaan Tiara, Jonathan dan Chelsea langsung menghampirinya dan memberikan bantuan.
Jonathan dengan sigap menelepon ambulans dan menenangkan perasaan Kenzo, sedangkan Chelsea langsung menghubungi kedua orang tua Kenzo memberi tahu keadaan Tiara dan apa sebabnya.
Mobil ambulans yang membawa Tiara kini sudah sampai di rumah sakit, para petugas medis langsung berhambur menghampiri ambulans itu memberi bantuan. Brankar yang di tumpangi Tiara sudah terdorong masuk ke dalam menuju ruangan IU, keadaan Tiara sudah kritis membuat para medis kutar ketir dan bergegas melakukan pertolongan.
Kenzo terus berlari kecil mengimbangi langkah para medis yang tengah menangani istrinya, tangannya bahkan tidak lepas menggenggam tangan Tiara dengan penuh kehangatan, hatinya begitu kacau, pikiran nya begitu buntu, matanya tak kuasa melihat tubuh Tiara yang terkujur lemas tak sadarkan diri. Darah dari kepala Tiara terus saja keluar membuat tim medis yang menangani nya begitu kewalahan.
"Kau harus kuat, Tiara." mata Kenzo sampai terlihat begitu merah, begitu pilu menahan rasa sakit dan sedih dengan keadaan istrinya.
"Maaf Tuan Kenzo. Mohon tunggu di luar."
Salah satu suster menghentikan langkah Kenzo, mereka harus fokus menangani Tiara, dan memohon agar Kenzo menuggu di luar saja.
"Tapi sus!" Kenzo ingin protes, dia ingin terus berada di samping Tiara, ingin memastikan keadaan istrinya, tapi pegangan tangannya sudah terlepas, bahkan pintu ruangan itu sudah tertutup rapat membuat dia tidak bisa lagi melihat Tiara. "Argh....." Dia sampai mengacak rambutnya frustasi, kepalanya sampai ia benturkan ke pintu ruangan. Tangannya mencengkram erat handel pintu ruangan itu, rasanya dia sudah hampir gila, "Kau harus kuat, Tiara." tubuhnya sampai ambruk terduduk di lantai. Saat istrinya tidak berdaya kenapa dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Jonathan yang sedari tadi berada di belakang Kenzo langsung menghampiri lelaki itu, dia ikut sedih melihat keadaan sahabatnya sekarang, "Ken, tenang Ken!"lirihnya sambil ikut berjongkok, dia langsung membantu Kenzo untuk berdiri. Dia tahu lelaki itu begitu mengkhawatirkan keadaan istrinya tapi jangan memperburuk keadaan nya sendiri. "Ayo, bangun! Kau harus kuat, agar Tiara pun bisa lebih kuat melalui semua ini."
__ADS_1
...*...
Keadaan di dalam, Tiara sudah terbaring di ranjang pasien, selang infus dan selang oksigen, bahkan beberapa peralatan medis sudah terpasang di tangan, hidung dan juga tubuhnya.
Suara detak jantung Tiara, dan keadaan nya sekarang sudah terpantau di layar monitor. Dokter dan para suster sudah melakukan penanganan, mereka berusaha melakukan yang terbaik untuk membantu keadaan Tiara. Namun apalah daya, semaunya tidak sesuai harapan mereka. Benturan di kepala Tiara sepertinya sangatlah keras membuat wanita itu mengeluarkan banyak darah, dan mengalami cedera otok yang begitu parah.
"Dok, detak jantungnya sudah melemah," Suster mulai gelisah, karena terlalu banyak mengeluarkan darah keadaan organ di dalam tubuh Tiara sudah mulai tidak bisa berfungsi dengan baik.
Sang dokter ikut gelisah, bahkan matanya sampai melebar kaget setelah melihat hasil CT scan kepala Tiara, kini terlihat jelas seberapa parah cedera yang dialami gadis ini, "Lakukan transfusi, kita harus segera melakukan operasi." titahnya memberi tindakan. Dinding otak Tiara mengalami cedera retak, sampai membuat pembuluh darah di sekitar otak mengalami kelainan, otak kecilnya cedera dan terhimpit akibat benturan keras.
"Lakukan yang terbaik, cepat!" titah Dokter itu lagi dengan begitu tegas, bila cedera sudah cukup parah sampai mengenai bagian otak besar, kecil, dan tengah, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan menantu keluarga Wijaya ini.
"Baik, Dok!"
Semua petugas medis di buat kutar ketir, keadaan Tiara yang begitu memperihatinkan menjadi PR besar untuk mereka. Jika mereka tidak bisa menyelamatkan nyawa gadis ini maka hancurlah nama baik rumah sakit ini.
...*...
"Sayang!" Air mata Ze langsung terjatuh tidak terbendung, setelah syok mendengar keadaan Tiara kini dia begitu sedih melihat keadaan putranya, keadaan Kenzo terlihat begitu kacau, rambutnya sudah acak-acakan tidak beraturan, raut wajahnya tertekuk lemas, bahkan pakaiannya sudah tidak berupa dengan bercak darah di mana-mana.
"Tiara, Mom." Suara Kenzo sampai terdengar begitu berat, kepalanya langsung bersandar di bahu sang Mommy melepas kegelisahan. "Tiara akan baik-baik saja kan, Mom?" lirihnya lagi dengan penuh kesedihan. Hatinya begitu kacau sampai tidak bisa mengontrol dirinya.
"Iya, Tiara pasti akan baik-baik saja, sayang." Ze sampai tidak henti-hentinya mengelus punggung dan kepala Kenzo. Baru saja dia melihat senyuman Kenzo setelah putranya itu melupakan trauma masa lalunya, kini Kenzo malah kembali terpuruk dan terluka melihat keadaan wanita yang di sayangi nya. "Semuanya akan baik-baik, Ken. Kau harus tenang."
Cklek....
Pintu ruangan terbuka, terlihat seorang suster menghampiri Kenan dan keluarganya.
__ADS_1
Kenzo langsung berdiri, dia sudah begitu khawatir bagaimana keadaan istrinya, semoga saja Suster itu membawa kabar baik tentang Tiara, "Bagaimana keadaan istri saya?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Maaf," Wajah suster itu sampai menekuk, dia begitu gugup, terlebih bukan hanya Kenzo yang menatapnya dengan penuh tanya, sosok Kenan pun menatapnya dengan tajam penuh pertanyaan.
"Bicara Sus! Kenapa istri saya?" Kenzo sudah begitu khawatir, jangan bicara yang tidak-tidak atau dia akan menghajar seluruh petugas medis karena tidak bisa menyelamatkan istrinya.
"Ka-kami membutuhkan pendonor, rumah sakit kehabisan stok darah yang sama dengan Nona, golongan darah ab sangat langka kami membutuhkan pendonor sekarang juga." suster itu sampai begitu gugup, dia tidak mampu bicara kalau keadaan Tiara sudah koma. Penanganannya sedikit terkendala karena stok darah yang tidak tersedia, sedangkan tubuh Tiara butuh sekali transfusi darah.
Golongan darah Tiara cukup langka, rumah sakit tidak memiliki stok darah banyak, hanya ada satu kantong darah dan itu tidak cukup untuk membuat keadaan Tiara membaik.
"Apa?" Kenzo sampai melemas, kenapa bisa kehabisan stok darah, membuatnya semakin gelisah, di sana tidak ada satupun keluarga biologis Tiara, terlebih dia sudah tahu kalau golongan darah nya dan kedua orang tuanya tidak ada yang sama dengan istrinya itu.
"Maaf, Tuan. Kami tahu bagaimana perasaan Tuan. Kami sudah berusaha yang terbaik, mohon kerjasamanya! Siapa tahu ada anggota keluarga Nona dengan golongan darah yang sama. Nona membutuhkan transfusi darah sekarang juga." tutur Suster itu kembali menjelaskan.
Ini tidak sesuai yang di harapkan, tubuh Tiara terlalu lemah, setelah melakukan operasi pada kepala nya tubuh wanita itu tidak mampu melawati masa kritis, malah terbaring dalam keadaan koma, hanya transfusi darah harapan mereka satu-satunya agar tubuh itu bisa kembali normal.
Kenzo sampai kembali terduduk lemas. Saat matanya melihat ke arah Jonathan dan Chelsea pun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Darah mereka berbeda dengan Tiara. "Argh...!"
"Tenang, Ken. Biar Daddy hubungi bawahan Daddy. Mereka bisa membantu kita mencarikan transfusi darah untuk Tiara sekarang juga."
Kenan hanya bisa menenangkan keadaan putranya, tangannya langsung bergerak mengambil ponsel untuk menghubungi bawahannya.
"Pak, saya bisa mendongkangkan darah saya. Darah saya dan Tiara sama." Suara Shasa tiba-tiba terdengar begitu lemas, sontak semuanya langsung menoleh ke sumber suara.
Shasa dan ayahnya sedang berada di rumah sakit mengecek kesehatannya dan malah mendengar kabar buruk tentang Tiara, terlebih mendengar tentang donor darah itu membuatnya ingin membantu sepupunya itu. "Jika di izinkan saya ingin mendonorkan darah saya." ucapnya lagi membuat semua orang terkaget-kaget.
"Shasa?" Kenzo bahkan langsung tercengang, tidak mengira kalau Shasa ada di sana, benarkah Shasa ingin membantu Tiara tanpa meminta imbalan apa-apa. "Aku sungguh mengharapkan bantuan mu. Tapi jangan pernah mengharapkan imbalan, Sha. Lagi pula keadaan mu sedang tidak fit." ucapnya tidak ingin berharap lebih. Di luar sana masih banyak yang memiliki golongan darah yang sama dengan istrinya, dia tidak mau pertolongan Shasa malah berakhir menjadi bumerang untuk Tiara, terlebih jika harus mendonorkan darah nya itu pasti akan berdampak buruk untuk kesehatan Shasa.
__ADS_1
"Tidak Ken, sungguh aku tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya ingin menolong Tiara. Maaf, ini mungkin tidak seberapa dengan perlakuan ku selama ini pada Tiara, tapi anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku padanya." Suara Shasa sampai terdengar lirih, kepalanya sampai tertunduk malu, dia hanya ingin memperbaiki kesalahannya.
Kenan dan Ze pun sampai tertegun, syukurlah jika memang keluarga Arya sudah berubah. "Terima kasih Nak Shasa atas bantuannya." Ze ikut bersuara. Tidak ada waktu jika harus terus bicara, biar Shasa langsung mengikuti suster itu dan langsung mendonorkan darahnya.