Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Ayo mulai dari awal.


__ADS_3

Mata Tiara sampai tidak berkedip menatap layar televisi itu, hatinya bagai terhanyut sungguh bodoh jika dia masih meragukan cinta suaminya, "Bahkan di saat seperti itupun dia berusaha melindungi ku." gumamnya dengan senyuman, mata sekilas melihat ke arah di mana Kenzo berada, lelaki itu terus membuktikan kesungguhannya, bagaimana bisa dia tidak tersentuh dengan semaunya. "Terima kasih untuk semuanya, Kenzo. Dan, maaf, maafkan aku karena sudah melupakan semua tentang kita."


...~...


"Ken?" Jonathan kini yang memanggil, ada hal yang harus dia ingatkan takut Kenzo melupakannya.


"Hem."


"Hari Senin nanti ujar akhir semester, kau tidak lupa kan?" tanya Jonathan mulai bicara, ujian itu adalah penentuan akhir sekolah untuk mencari kandidat baru, mencari murid berprestasi yang pantas menduduki posisi Trisakti sekolah. "Kalau kalian tidak bisa mengikuti ujian otomatis posisi mu juga akan terganti dengan murid lain." tuturnya lagi, yang menjadi kecemasannya sekarang bukan hanya Kenzo, tapi juga Tiara. Wanita itu dari dulu begitu bersemangat ingin menduduki posisi Trisakti, tapi sekarang malah berkahir seperti ini. Dan sekalipun Tiara ikut ujian sepertinya harapan untuk mendapatkan nilai bagus sangatlah tipis mengingat kondisi nya sekarang.


"Kau tidak perlu khawatir, kata dokter kondisi Tiara sudah lebih baik, sudah bisa menjalani rutinitas seperti bisa, dan lagi, yang hilang ingatan nya bukan kepandaian nya, aku yakin Tiara bisa mendapatkan nilai yang baik." timpal Kenzo dengan tegas, walau sebenarnya dalam hati sedikit ragu, tapi dia akan memastikan kalau istrinya itu bisa mendapatkan posisi Trisakti seperti yang sudah wanita itu impikan.


"Ya, semoga saja." Jonathan ikut senang. "Dan lagi, ada berita yang mengejutkan," ucapnya lagi, kini suaranya terdengar cukup pelan.


"Apa?"


"Shasa keguguran, Ken. Setelah mendonorkan darahnya pada Tiara tubuhnya menjadi lemah, dan sepertinya itu yang membuat janin nya melemah sampai tidak bisa di selamatkan." tutur Jonathan menceritakan, prihal ini baru dia yang mengetahui nya. Itu juga karena tadi siang Arya datang ke sekolah dan meminta pihak sekolah memberi Shasa keringan agar bisa kembali bersekolah seperti biasa.


Kenzo sesaat terdiam, pantas saja Arya jarang menjenguk Tiara, rupanya keadaan Shasa juga sedang buruk, dia sampai menghela nafas, "Itu lebih baik, Jo. Karena kalau janin itu masih tetap hidup, aku pasti tidak tahan ingin membunuhnya." timpal nya dengan begitu dingin. Bagaimana tidak, itu adalah anak Arzan, walau anaknya tidak tahu apa-apa, tetap saja itu akan mengungkit kekesalannya pada Arzan, sosok bajingan yang tengah mencelakai istrinya, jika dia harus melihat anak itu tumbuh besar, pasti dia akan kembali mengingat sosok bajingan Arzan, dan pasti dia malah akan ikut kesal pada sosok anak yang tidak tahu apa-apa itu.

__ADS_1


Glek.... "A-ada untung nya juga." Jonathan sampai menelan saliva dengan begitu keras, Kenzo benar-benar begitu kesal pada sosok Arzan sampai ekspresi wajah nya saja terlihat menakutkan.


...*...


Waktu sudah malam, rencana awal Tiara bisa pulang ke rumah sekarang malah tertunda. Cuaca malam ini terlihat begitu buruk, hujan deras di disertai angin kencang terus mengguyur kota tanpa ada tanda-tanda akan segera berhenti. Kenzo pun memutuskan untuk menunda kepulangan mereka, takut malah akan beresiko jika tetap di paksakan. Membuat mereka harus kembali bermalam di rumah sakit.


"Argh....." Suara petir sesekali terdengar, Tiara yang sedang berbaring di ranjang pasien sampai tidak bisa tidur dan langsung bersembunyi di balik selimutnya karena takut. "Ken...." tidak sadar bibirnya berucap lirih memanggil suaminya.


Kenzo sendiri sedang berbaring di sofa ruangan, suara hujan yang cukup deras membuat dia tidak mendengar panggilan istrinya, dia mau tidur tapi tidak bisa, angin malam begitu mengusik tubuhnya, terlebih semua pakaian tebalnya sudah di bawa pulang sang Mommy karena kedua orang tuanya sudah terlebih dulu pulang dari tadi.


"Aisst, sial." Kenzo sampai meringkuk. Cuaca malam semakin dingin, dia sampai menggosok gosokkan tangannya mencari kehangatan, mungkin karena sekarang sedang hujan dengan angin yang begitu kencang cuacanya sampai terasa begitu dingin tidak seperti malam-malam sebelumnya.


Suara petir terdengar begitu keras, bahkan suaranya sampai menggema di seluruh ruangan, Tiara yang sedang berbaring di ranjang pasien seorang diri sampai ketakutan, "Ken?" karena takut dia kembali memanggil lelaki itu. "Kenzo!" panggilannya lagi dengan cukup keras


Kenzo sampai refleks bangkit dan menghampiri tempat tidur Tiara, "Kenapa? apa ada yang sakit?" dia sampai kutar ketir.


"Tidak," Tiara sampai menggeleng kepala, sungguh perhatiannya seorang Kenzo sampai saat dia panggil pun lelaki itu mengira ia kesakitan, "Aku, takut," rengek nya dengan malu.


"Tidurlah, mungkin sebentar lagi hujan nya reda." timpal Kenzo sambil mengelus kepala Tiara berusaha menenangkannya. Tapi bukannya tenang, Tiara kembali terkejut karena suara petir itu terus saja terdengar keras.

__ADS_1


"Temani aku, aku tidak bisa tidur sendiri, Ken." pintanya dengan ragu, Tiara sampai menunduk malu, dari kemarin dia yang selalu menjaga jarak tapi sekarang dia meminta bantuan lelaki itu, mau bagaimana lagi, petir itu terdengar jelas membuatnya begitu takut sampai tidak bisa tidur sendiri.


"Kau yakin?" Kenzo sampai tersenyum kecil, sebelumnya Tiara selalu menjaga jarak sampai tidak mau kontak pisik dengan nya.


"Ya sudah, kalau tidak mau tidak apa-apa, aku tidur sendiri."


Kenzo sampai kembali tersenyum, ekspresi manja Tiara terlihat sama persis seperti biasanya. "Bukan tidak mau, aku hanya takut kau tidak nyaman, Tiara." ucapnya so jual malah, padahal dalam hati sudah kegirangan, itu yang dia inginkan dan sekarang Tiara sendiri yang memintanya. "Baiklah, aku akan menemanimu," tuturnya sambil beranjak naik ke tempat tidur Tiara dan ikut berbaring di bawah selimut wanita itu. Ingin rasanya dia langsung memeluk tubuh itu tapi dia tahan takut malah memperburuk suasana jika Tiara tidak menginginkan nya.


Petir kembali terdengar, Tiara sampai refleks meringkuk berlindung di tubuh Kenzo, bahkan tangan sampai menempel di dada bidang lelaki itu mencari perlindungan. "Akh, maaf." setelah sadar dia sampai kembali menarik tangannya agar menjauh dari tubuh Kenzo.


"Kenapa minta maaf, aku suamimu, kau bebas menyentuh ku, kau bisa terus berlindung pada ku." Kenzo sampai merubah posisinya, yang awalnya terlentang menatap langit-langit kini badan nya bergeser berbalik menghadap Tiara. "Sini, kapanpun kau ingin berlindung, kau bisa berlindung dengan nyaman, Tiara." lirihnya berusaha meminta istrinya untuk mendekat. Jika takut berlindung saja jangan ada batasan di antara mereka.


Tiara sesaat terdiam, dia hanya menatap Kenzo sambil berusaha meyakinkan dirinya sendiri, lelaki yang ada di depannya adalah suaminya, begitu banyak perhatian yang telah lelaki itu berikan untuk nya, jika dia terus menjaga jarak seperti ini bukankah itu malah akan menyakiti hati suaminya sendiri.


"Terima kasih." Tiara akhirnya mendekat, meringkuk di dekapan sang suami dengan begitu canggung, kepalanya langsung bersandar di dada bidang lelaki itu dengan begitu nyaman. "Terima kasih atas semua perhatian mu," lirihnya lagi dengan perlahan memejamkan mata. Tidak bisa di pungkiri tubuhnya memang begitu nyaman bersandar pada lelaki ini.


"Apa aku boleh memeluk mu?" Suara Kenzo sampai terdengar lirih, tolong izinkan dia untuk memeluk tubuh itu karena dia begitu merindukan kehangatan ini.


Tiara sampai mendongkangkan kepalanya menatap wajah Kenzo, "Aku istri mu, kau bebas memeluk ku kapanpun itu," lirihnya dengan senyuman, bahkan tangannya pun perlahan bergerak melingkar di punggung lelaki itu. Ingatan nya mungkin hilang, tapi mulai dari sekarang dia akan berusaha membalas kebaikan lelaki ini, "Ayo mulai dari awal, aku akan belajar untuk menjadi istri yang baik untuk mu."

__ADS_1


Senang bukan main, hati Kenzo bagai berbunga-bunga, tidak ingin membuang waktu tangannya langsung bergerak memeluk Tiara dan mendekapnya dengan begitu erat, bahkan tangannya tidak henti mengelus rambut Tiara, sungguh hatinya begitu lega mendengar ucapan istrinya, "Iya, mari kita mulai lah dari awal, sayang." lirihnya sambil mengecup kening sang istri, dia teramat senang sampai tidak mampu berkata-kata, hatinya begitu tenang saat istrinya ini kembali ke pelukannya.


__ADS_2