
DEFEAT
Suara sound permintaan terdengar begitu jelas, semua yang ikut bermain hanya bisa mengendus kesal. Sepertinya hari ini hari yang begitu sial karena permainan mereka kacau balau. Tidak ada win steak, yang ada malah lost steak yang begitu memalukan.
"Jir sial..." Kenzo mengendus kesal. Hampir saja ponselnya ia lempar. Dia langsung menyandarkan kepalanya di kursi dan menghela nafas panjang.
"Bos hari ini gak konsen ya?" tanya Reno ikut menyandarkan kepalanya di kursi. Dari tadi terus memperhatikan Kenzo, dan lelaki itu tidak terlihat baik dalam permainannya.
"Iya, Ken. Bahkan kita tidak memenangkan satu permainan pun." ucap Devan, menimpali perkataan Reno. Seapes-apes nya mereka bermain, tidak pernah lost steak seperti sekarang. Dan yang lebih parahnya lagi Kenzo lah biang kekalahannya. "Kayak bukan lo saja." ujar nya lagi, penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan kapten mereka itu.
"Ada orang yang ku tinggalkan di kelas, dan itu terus terngiang di kepala. Bikin sial saja." umpat Kenzo menjawab kesal, dia sendiri tidak mengira kalau meninggalkan Tiara malah menjadi beban pikirannya. "Dia kan ceroboh, bagaimana kalau terjadi sesuatu." keluhnya dalam hati.
"Siapa?" tanya antusias Devan dan Reno penasaran. Baru kali ini melihat seorang Kenzo tidak fokus bermain game karena memikirkan seseorang. "Apa Shasa?" tebak Devan. Jika itu Shasa dia akan menasehati Kenzo untuk tidak terlalu memikirkan Mak lampir itu.
"Tebakan lo terlalu melenceng." jawab Kenzo dengan datar, bahkan kaki Devan di bawah sana ia tendang dengan begitu keras. Shasa memang selalu dekat dengan nya, tapi dia tidak segila itu sampai terus memikirkannya. "Gue duluan." ucapnya lagi, Kenzo lekas berdiri dan mengambil barang-barang nya. Rasanya dia tidak ingin terus berlama-lama di sana karena ingin mencari Tiara.
"Serius Ken. Akh gak seru lo," keluh Devan berusaha mencegah Kenzo pergi, pasalnya belum juga dua jam mereka kumpul bersama, Kenzo sudah mau pergi saja. "Satu kali permainan lagi lah." cegah nya memohon.
"Besok lagi, gue ajak orang itu sekalian biar mood gue gak hancur kayak sekarang." timpal Kenzo sambil melangkah menuju pintu keluar. Bermain game adalah keseruan nya, tapi tidak bisa konsentrasi bila ada yang menggangu pikirannya. Sepertinya tidak akan apa-apa jika mengajak Tiara dan memperkenalkannya kepada kedua temannya ini.
Devan dan Reno langsung antusias, "Serius?" ucap kompak keduanya. Mereka sudah penasaran siapa orang yang telah mengkontaminasi pikiran seorang Kenzo sampai membuat lelaki itu tidak konsentrasi seperti sekarang.
Kenzo terus melangkah pergi enggan merespon keduanya, namun dia mengingat sesuatu dan kembali berbalik melihat Devan. "Ingat yang tadi gue bilang, datanya sudah harus ada besok." titah Kenzo lagi.
Devan sendiri hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan Kenzo, "Iya, iya pergi sana. Gue makin penasaran ama orang itu," timpal Devan dengan tersenyum kecil. Pasalnya tadi Kenzo banyak bertanya tentang murid kelas unggulan yang di pindahkan ke kelas nya. Mereka semua tidak lain adalah murid korban kelicikan si Mak lampir Shasa.
Bahkan Kenzo membutuhkan biodata murid-murid itu karena harus memberikan nya pada seorang, dan sepertinya orang yang di maksud Kenzo adalah orang sama yang membuat Kenzo kelayapan memikirkannya.
...*...
Kenzo sudah sampai di ruangan kelas, celingukan sana sini mencari keberadaan Tiara, tapi nihil di cari ke sudut manapun Tiara tidak ada di mana-mana. "Aisst, dia ke mana?" decak nya kesal. Ada rasa sesal karena dia meninggalkan nya begitu saja. "Dia tidak apa-apa kan?"
Kenzo kini merogoh ponsel dari sakunya, bermaksud menghubungi Tiara dan bertanya di mana posisinya. "Sial..." decak nya lagi. Dia sampai tidak ingat kalau dia tidak memiliki nomor ponsel Tiara. Mau tidak mau di harus berkeliling sekolah untuk mencarinya.
Sementara itu, Jonathan dan Tiara masih terlihat duduk bersama. Menghabiskan waktu berdua menunggu sosok Kenzo yang entah kapan akan terlihat batang hidungnya.
"Jo, apa kau tahu biasanya di mana Kenzo berkumpul dengan teman-teman nya?" Tiara berusaha bertanya. Mereka berteman dekat, mungkin Jonathan tahu tempat Kenzo berada. "Ini sudah lama sekali, aku harus menyusulnya." ucapnya lagi dengan penuh harap. Terus menunggu seperti ini juga percuma.
Jonathan sesaat terdiam, dia memang tahu tempat biasanya Kenzo nongkrong dengan teman Mabar nya, tapi tidak bisa memastikan kalau sekarang pun mereka berkumpul di sana. "Apa lebih baik jika kau meneleponnya." ucap nya memberi saran. Akan lebih baik jika Kenzo yang mencari Tiara, bukan malah Tiara yang mencari nya.
Tiara tersenyum kikuk, "Aku tidak punya nomer Kenzo," ucapnya jujur. Dari tadi dia juga bukan tidak berpikir sampai ke sana, hanya saja kendalanya dia tidak punya nomor ponsel tunangannya sendiri.
__ADS_1
"Oh." Jonathan tertawa kecil, ekspresi Tiara benar benar polos, dia langsung mengambil ponselnya untuk membantu Tiara menghubungi Kenzo. "Nih, aku punya nomor nya. Kau bisa menghubunginya sekarang." titah nya memberi Tiara bantuan. Memberi ponselnya sendiri agar Tiara menghubungi Kenzo dari ponselnya.
Tiara sampai kegirangan, kurang baik apa coba seorang Jonathan, setelah menemaninya menunggu Kenzo, lelaki itu malah meminjamkan ponselnya supaya dia bisa menghubungi Kenzo. "Wah, kau baik sekali. Terima kasih." ucapnya dengan tersenyum lebar.
Tanpa membuang waktu, Tiara langsung melakukan panggilan pada Kenzo dari ponsel itu.
Telepon nya tersambung, Tiara terus mendekatkan ponsel itu di telinganya menunggu jawaban dari Kenzo di balik teleponnya.
"Ada apa?" suara Kenzo terdengar jelas di balik teleponnya. Tiara sampai langsung mengenali suara itu, mau di telepon atau bicara secara langsung nada bicaranya terdengar begitu dingin.
"Kau di mana? apa kau sengaja meninggalkan ku agar aku jalan kaki sampai rumah." ucap Tiara dengan penuh omelan. Agak kesel, dia harus memakan waktu cukup lama untuk menunggu lelaki itu tanpa kepastian.
Kenzo yang menerima panggilan dari Jonathan langsung kaget, kenapa yang ia dengar malah suara Tiara. Di mana sebenarnya wanita itu sampai bisa menggunakan ponsel Jonathan. Dia sampai berpikir yang tidak-tidak, kan.
"Kau! kenapa bisa menggunakan ponsel Nathan? Mana ponsel mu hah? Apa kau tahu, dari tadi aku mencari mu? Apa kau baik-baik saja? Kau di mana? Aku akan segera ke sana!" tanyanya dengan begitu khawatir, seakan begitu tergesa-gesa ingin mendapat jawaban dari Tiara. Bahkan dia tidak sadar begitu banyak pertanyaan yang dia lontarkan. "Kau di mana?" tanya nya lagi. Karena Tiara tak lagi bersuara.
"Aku baik-baik saja, aku di bawah pohon di depan ruangan komputer, cepat kesini!" jawab Tiara dengan singkat. Tidak ingin banyak bicara biar lelaki itu segera menghampirinya.
"Tunggu, aku kesana sekarang!" jawab Kenzo dengan cepat.
Panggilan terputus, Tiara kembali mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. "Terima kasih, Jo. Maaf lagi-lagi merepotkan mu." keluh Tiara, dia ingin mengembalikan ponsel itu tapi Jonathan tidak kunjung mengambilnya.
"Bisa kau simpan nomor mu di ponsel ku. Untuk jaga-jaga, siapa tahu kau membutuhkan bantuan ku lagi." pinta Jonathan. Ini benar benar waktu yang tepat untuk meminta nomor telepon wanita itu.
Jonathan tersenyum senang, dia kembali mengambil ponselnya dan lekas menyimpan nya sebelum Kenzo sampai di sana.
Tidak membutuhkan waktu lama, Kenzo akhirnya sampai di depan ruangan komputer. Langsung melihat ke sebuah pohon besar di mana ada Tiara dan Jonathan sedang duduk persis di sebuah bangku di sana.
"Ternyata kau di sini." ucap Kenzo sedikit bernafas lega. Dia kira Tiara kenapa-kenapa, tapi ternyata wanita itu baik baik saja. Dia langsung ikut duduk, mengistirahatkan tubuhnya karena dia harus berlari untuk bisa sampai di sana.
"Kau dari tadi dengan nya?" tanya nya lagi sambil melirik Jonathan yang tidak jauh dari tempat duduk Tiara.
"Iya. Kau menghilang bagai hantu, makanya Jonathan menemani ku." jawab jujur Tiara. Dia langsung menatap Kenzo sampai bisa melihat dengan jelas keringat yang bercucuran di dahinya. "Apa dia ke sini sambil berlari?" gumamnya. Agak kasihan juga, sepertinya Kenzo sudah kemana-mana mencarinya.
"Yu, pulang!" Kenzo hendak berdiri, namun pergerakan nya terhenti karena tangan Tiara meraih lengan nya. "Apa?" tanya nya heran. "Aku dari tadi mengkhawatirkan mu, dan kau malah bersantai dengan laki-laki lain, bahkan sekarang masih belum mau pergi, dasar menjengkelkan." gumam Kenzo dalam hati. Dia sampai terus menatap Tiara apa sebenarnya yang di inginkan wanita itu.
"Istirahat lah dulu, kau terlihat lelah." cegah Tiara, bahkan tangannya sampai tak sadar bergerak menyentuh dahi Kenzo dan menyeka habis kering lelaki itu. "Akh, maaf! habisnya kau terlihat lelah." ucapnya malu, dia sampai kaku, tidak bisa menurunkan kembali tangannya karena telapak tangan Kenzo dengan cepat menyentuh punggung tangannya dan menggenggamnya dengan begitu erat.
"Apa kau mencoba memperhatikan ku sekarang?" tanya Kenzo dengan suara rendah nya. Dia perlahan menurunkan tangan Tiara tanpa ada niatan melepaskan genggamannya.
"A-aku hanya ingin membantu, so-soal nya kau terlihat lelah." Tiara menjawab dengan suara gagap, tatapan Kenzo terlihat berbeda dari biasanya sampai dia hampir tidak bisa bersuara.
__ADS_1
Kenzo sesaat terdiam, tersenyum kecil melihat ekspresi Tiara, rasanya dia benar benar gila, dia sampai tidak bisa mengontrol diri. Setelah mengkhawatirkan Tiara dia malah terlena karena tingkah Tiara yang seolah sedang memberi perhatian pada nya. "Akh, Sial." Kenzo tersadar, dia kembali melepaskan tangan Tiara dan mengusap kasar wajahnya
"Aku bisa melakukannya nya sendiri." ucap Kenzo sambil membuang muka. Dia sampai salah tingkah. Bisa-bisanya dia mati gaya karena tingkah Tiara yang tiba-tiba mempedulikannya. "Aku tidak lelah, ayo pulang!" ajak nya lagi.
Tiara pun langsung berpamitan pada Jonathan, dan berterima kasih atas bantuannya sore ini.
...***...
Suara panggil di ponsel Kenzo memecah keheningan di dalam mobil, Kenzo yang sedang mengemudi tidak bisa mengangkat panggilan itu dan meminta Tiara melihat ponselnya. "Bisa lihat ponsel ku?" pinta nya pada Tiara.
Gadis itu pun lekas mengambil ponsel Kenzo dan melihat siapa di balik panggilan masuk itu. "Devan." ucap Tiara memberi tahu. Karena nama itu yang tertulis di ponselnya.
"Angkat dan loud speaker." titah Kenzo. Walau tanggung sedang menyetir dia harus mengangkat panggilan itu takut ada hal penting yang akan Devan sampaikan.
Sesuai perintah, Tiara sudah melakukan apa yang Kenzo perintahkan. Sampai kini terdengar jelas suara Devan di sebrang sana. "Ken, apa kau sudah menemukan orang itu?" Devan langsung bertanya.
Suara tertawa lelaki itu bahkan mendominasi pertanyaan nya.
Kenzo sampai mengendus kesal, "Sudah." jawab singkat, dia kira ada hal penting yang akan Devan sampaikan, tau gini dia tidak akan meminta Tiara untuk mengangkatnya. "Kalau gak ada yang penting gue tutup." decak Kenzo kembali bicara.
"Woi, tunggu bro sensitif amat. Ada Hot News, Ken." Devan dengan begitu antusias berusaha menjelaskan, takut Kenzo benar benar akan menutup panggilan nya.
"Apa?" Kenzo menjawab datar, dia sudah biasa mendapatkan berita-berita aneh dari Devan. Dan seperti biasa dia akan mendengarkan walau sebenarnya enggan untuk menanggapi nya.
"Kau masih ingat kan si murid baru yang waktu itu, dia mendadak viral di forum sekolah karena kedekatannya dengan si Jonathan. Ada salah satu jurnal sekolah yang mendapat foto kemesraan mereka dan meng-upload nya di forum sekolah. Belum sampai dua jam di upload, postingan itu sudah mendapat like dan komentar yang banyak dari anak anak sekolah."
Deg...
Perasaan Tiara mulai tidak enak, bukannya Devan sedang membicarakan tentang dirinya, tapi kenapa bisa ada berita seperti itu. "Apa yang terjadi? mesra apanya?" Tiara bingung sendiri, pikirannya sampai kalut tidak bisa berpikir jernih. Ketenangan nya mulai terusik, di tambah Kenzo dari tadi sudah menatapnya dengan tatapan tajam dengan penuh tanya.
"Sini!" Kenzo langsung mengambil kasar ponselnya dari tangan Tiara. Memperlambat laju mobilnya, langsung mengakhiri panggilan Devan.
Dia harus menelusuri link forum sekolah untuk memastikan apa yang di ucapkan Devan.
"Agrh..." Kenzo sampai mencekam keras setir mobil nya. Dia benar benar kecewa dengan apa yang di lihatnya. Dia sampai melempar ponsel itu ke pangkuan Tiara. Rasanya dia ingin menurunkan wanita itu dari mobilnya. "Kau puas!" decak nya kesal, suaranya sampai terdengar begitu berat karena menahan amarahnya.
Tiara sampai terperanjat, dengan cepat mengambil ponsel Kenzo yang hampir jatuh ke bawah. "Akh, kenapa bisa seperti ini?" Tiara sampai membelalakkan mata, terkejut bukan main melihat foto nya dengan Jonathan terpanjang jelas di forum sekolah. Begitu cerobohnya dia sampai memancing kesalahan pahaman yang membuat Kenzo marah padanya.
Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya Kenzo yang salah paham, seluruh murid di sekolah menjadi salah paham hanya karena sebuah foto yang tercipta dari sebuah kecelakaan.
"Ken, ini tidak seperti yang kau lihat."
__ADS_1
ucap lirih Tiara, dia akan berusaha menjelaskan semuanya. "Ken!" ucapnya lagi dengan memohon. Hatinya benar-benar sakit, Kenzo bahkan tidak mempedulikan ucapannya.