
Kenan menancap mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota, perasaan nya begitu gelisah, dia harus secepat mungkin sampai di rumah sakit untuk memastikan keadaan menantunya. Penangkapan Mario yang sudah dia rancang sedemikian rupa malah berakhir dramatis dan malah mengorbankan menantunya sendiri. Matanya sesekali melihat keadaan di kursi penumpang belakang di mana putranya berada.
"Lebih cepat lagi, Dad!" Kenzo sendiri semakin khawatir, terus mengelus kepala Tiara yang tengah terbaring lemas di pangkuannya. Hatinya bagai ikut sakit, begitu kejamnya seorang Mario sampai tega memukul Tiara hingga istrinya itu jatuh pingsan tidak sadarkan diri. "Cepat, Dad!" pintanya lagi.
Kenan hanya bisa menghela nafas, ini sudah batas kecepatan tinggi, dia tidak bisa mengemudikan mobilnya lebih cepat lagi, "Iya, tenang lah! Sebentar lagi kita sampai, Ken."
Lima menit berlalu, mobil Kenan sudah berhenti di depan pintu utama rumah sakit diikuti beberapa mobil yang mengikutinya dari belakang. Tidak ada waktu untuk memarkirkan mobilnya di parkiran, dia langsung turun membukakan pintu untuk Kenzo sampai kini putranya itu langsung memboyong menantunya menuju ruang UGD.
Satpam rumah sakit yang awalnya ingin marah menegur orang yang menyimpan mobilnya sembarangan, langsung terdiam kembali, saat tahu itu rengrengan keluarga Wijaya, dia bahkan sampai mematung, yang sakti satu orang yang mengantarkan nya hampir sepuluh mobil. Bahkan di kawal satu mobil polisi.
Bagaimana tidak banyak orang yang mengantar, kejadian itu terjadi saat di sekolah, Jonathan dan Azzura yang sedang berbincang langsung kutar ketir, Mario yang sedang mengotak-atik komputer langsung berlari meninggalkan ruangan penyiar, Devan dan Reno yang sedang Mabar langsung AFK lebih mementingkan keadaan istri teman Mabar-nya itu. Bahkan Priscilla yang sedang melatih anak-anak basket langsung keluar dari lapangan. Teman mereka sedang kesusahan, mereka tidak mungkin duduk diam dan memilih menemani Kenzo ke rumah sakit.
"Permisi, jangan menghalangi jalan." Kenan yang berjalan paling depan membantu membuka jalan untuk putranya agar cepat sampai di ruangan tujuannya. "Sus..!" panggilannya pada beberapa perawat agar mereka segera menangani menantu nya.
"Dokter nya mana?" Kenzo ikut bersuara setelah membaringkan istrinya di ranjang rumah sakit. Tolonglah segera periksa keadaan Tiara agar istrinya tidak kenapa-kenapa.
"Apa yang terjadi?" Dokter terlihat masuk, langsung menghampiri Tiara dan memeriksanya. Dia sampai menghela nafas, tidak di ceritakan pun dia tahu apa yang terjadi dengan wanita itu. "Benturan nya terlalu keras, apa Nona terjatuh?" tanyanya memastikan, bahkan dia begitu kaget saat melihat bekas sayatan di lehernya. "Sungguh malang nasib mu, Nak."
Kenzo dan Kenan tidak bisa menjawab, mengingat nya saja hati mereka sakit, bibir mereka terbungkam tidak kuasa mengucapkan penyebabnya.
"Segera perban luka di leher, Nona. Dan langsung bawa ke ruang CT scan!" titah sang Dokter pada suster yang ada di sana. Tiara memang pingsan, tapi keadaan saraf otaknya sungguh memprihatinkan.
"Dok, apa keadaan Tiara separuh itu sampai harus CT scan?" Kenzo sampai kaget.
"Benturan di punggung Nona cukup keras, dan itu mengganggu saraf otak bagian belakangnya."
"Apa?" Kenzo sampai mengusap kasar wajahnya, ada-ada saja kenapa kesialan selalu menimpa istrinya, "Tapi Tiara akan baik-baik saja kan, Dok?"
"Saya tidak bisa mengira-ngira, hasilnya akan di ketahui setelah melakukan CT scan. Saya hanya bisa menafsirkan kalau Nona akan mengalami dua kemungkinan."
"Apa, Dok?" Kenzo semakin gelisah, jangan bilang kalau kemungkinan itu akan lebih fatal dari kecelakaan sebelumnya
__ADS_1
Dokter kembali menghela nafas sambil menepuk pundak Kenzo, sedari awal dia sudah menasehatinya untuk tidak membuat tekanan pada Tiara terlebih jangan sampai wanita itu kembali terluka. "Bersabar lah!" hanya itu yang dia ucapkan. Saraf otak Tiara yang sedang dalam masa pemulihan terganggu, dia tidak bisa mengucapkan kalau itu akan mengakibatkan kebutaan.
"Dokter?" Kenzo terus meminta penjelasan dari orang yang menggunakan setelah putih itu, tapi percuma Sang dokter langsung pergi, di ikuti para suster yang mendorong ranjang Tiara menuju ruangan CT scan.
"Mohon tenang, Tuan. Nona pasti baik-baik saja!" Suster hanya bisa menenangkan, menyuruh semua orang yang mengkhawatirkan pasiennya agar bisa menunggu, dan dia pun langsung pergi menyusul dokter yang akan memeriksa keadaan Tiara.
...***...
...POV Tiara...
Perlahan mata ku terbuka, semua yang kulihat terasa terang tak berujung, tubuh ku perlahan bangun, ringa, tubuhku bak melayang tanpa beban, mataku langsung mengitari sekitar, "Di mana ini?" Keadaan di sekitar ku terasa begitu asing, aku merasa kalau aku ada dimensi lain.
"Tiara!"
Suara seorang yang tidak asing memanggil ku, ku tengok dan kucari di mana sumber suara itu. "Nenek!" Senang bukan main, air mataku sampai terjatuh, sosok yang amat ku rindukan kini muncul di depan mata. "Tiara, merindukan Nenek." Ku peluk tubuh tua itu dengan begitu erat. Ku sandarkan kepalaku di pundaknya. Lelah dan rasa sedih yang kurasa serasa sirna saat ku bersandar di pelukannya. Dialah Nenek, sosok yang selalu menjadi tempat berlabuh ku di segala kondisi. Dialah sosok yang amat ku rindukan. "Tiara merindukan, Nenek." ucap ku dengan terisak.
"Maaf Nenek malah meninggalkan mu begitu saja, Tiara."
"Ayo ikut dengan Nenek! Nenek tidak bisa membiarkan mu terus tersiksa dan terluka, Tiara."
"Sungguh, Nek?" Aku teramat senang mendengar ajakan Nenek, bahkan Nenek terus membelai rambut ku dan mendekap ku dengan penuh kehangatan, seolah dia tidak akan lagi meninggalkan ku. "Tapi..." Aku tertegun, ada yang mengganjal, aku begitu senang bisa terus bersama Nenek, tapi hatiku terasa berat.
"Kenapa, kau tidak akan lagi terluka jika ikut dengan Nenek, Tiara."
Nenek terus membelai kepalaku, semakin Nenek mengajak ku untuk pergi hati ku semakin sakit.
"Tiara tidak bisa, Nek." Tolak ku dengan tegas, Aku merasa ada sesuatu yang ku lupakan.
"Kenapa? Ayo ikut Nenek karena Nenek tidak bisa tenang jika meninggalkan mu seorang diri, Tiara."
Ajakan Nenek terus membuat ku terhanyut, ku lepas pelukan itu dan ku tatap wajah Nenek yang tengah menatapku dengan pilu, kini aku sadar, aku tidak lah seorang diri, "Nek!" panggil ku dengan lirih, ku belai wajah keriput itu dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih telah menghawatirkan Tiara, Nek. Tapi Tiara tidak bisa ikut dengan Nenek, karena ada seseorang yang sedang menunggu ku." Air mataku tiba-tiba kembali terjatuh. Ku bujuk Nenek, ku yakinkan kalau aku akan baik-baik saja meski tanpa nya. "Aku tidak sendiri Nek, aku mempunyai keluarga yang amat menyayangi ku." ucap ku lagi berusaha meyakinkan Nenek agar dia tidak mengkhawatirkan ku lagi.
__ADS_1
"Berjanjilah untuk bahagia, Tiara."
Air mataku kembali terjatuh, "Iya, Nek. Tiara pasti bahagia," Nenek terlihat luluh, bibirnya perlahan mengecup kening ku. Membuat mataku terpejam.
"Nek.... Nenek!" Mataku kembali terbuka, semuanya terasa gelap, nenek pergi entah kemana, "Nenek...." panggil ku lagi dengan lirih. Tangan ku terus meraba mencari keberadaan nya, tapi sosok itu telah pergi entah kemana, hanya kegelapan yang menyelimuti ku, membuat dada ku sesak, "Nenek, Tiara takut."
...----------------...
Kenzo langsung menghampiri Tiara tatkala bibir istrinya itu terus bergumam memanggil Neneknya, "Tiara!" dia begitu kaget tangannya langsung menggenggam tangan istrinya itu untuk menyadarkannya. "Tiara!" ucapnya lagi dengan begitu gelisah.
Dokter yang sama-sama ada di sana langsung menghampiri Tiara, "Tidak apa-apa, Tuan. Nona hanya bermimpi."
Bukan hanya Kenzo yang khawatir, semua yang ada di ruangan langsung berkerumun melihat keadaan wanita itu.
Mata Tiara perlahan terbuka, rasa takut akan kegelapan yang menyelimutinya kini lenyap tatkala matanya melihat sosok lelaki yang begitu ia cintai, sosok lelaki yang membuatnya menolak ajakan sang Nenek untuk ikut bersama nya, "Kenzo," panggilan nya lirih dengan air mata yang tiba-tiba terjatuh begitu saja. Sang Nenek tiba-tiba muncul di mimpinya mengajak ia untuk ikut bersamanya, dan itu membuatnya mengingat kalau selama ini ada sosok lelaki yang terus saja melindunginya, ada sosok lelaki yang amat menyayangi nya.
"Iya, ini aku, jangan menangis," Kenzo sampai tertegun, apa yang ada dalam mimpi Tiara sampai menangis seperti ini, "Tidak perlu takut ada aku disini." tangannya langsung bergerak menyeka air mata itu. Dan perlahan membantu Tiara yang sepertinya ingin bangun dari tidurnya.
"Ken," Tiara tak mampu berkata-kata, hanya tangannya yang bergerak merangkul lelaki itu dan memeluknya dengan erat. "Aku pasti akan bahagia karena ada dia, Nek."
Kenzo sampai kebingungan sekaligus senang, dia langsung menatap sang Dokter, seolah berkata, ada apa dengan istrinya.
Sang dokter langsung tersenyum, "Sepertinya ingatan Nona sudah kembali." lirihnya sama-sama tak percaya.
Sontak Kenzo langsung membalas pelukan itu, dan membelai Tiara dengan begitu lembut, "Jangan menangis, semuanya sudah berakhir, tidak ada lagi yang akan menyakitimu, akan ku pastikan kau akan baik-baik saja, Tiara."
Tiara mengangguk, bukannya berhenti menangis air mata itu malah semakin menjadi, "Nek, Nenek dengar itu kan, Tiara sekarang tidak sendiri, Tiara tidak akan terluka atau pun tersiksa lagi, tenang lah di sana karena Tiara pasti akan hidup bahagia, ada dia yang akan melindungi ku, ada dia yang selalu menjaga ku."
"Ini suami Tiara, Nek. Tiara, begitu mencintai nya Nek. Tiara janji Tiara pasti akan bahagia bersamanya."
"
__ADS_1