
Di area parkiran sekolah, mobil Arzan terlihat sudah terparkir di sana, setelah mengantarkan Jonathan dia melihat sosok Shasa yang sama-sama baru sampai di sana, tanpa ragu dia langsung menarik Shasa dan mengajak wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
"Arzan?" Shasa sampai kaget, lelaki itu bahkan langsung menghimpit tubuhnya sampai bersandar sempurna di kursi mobil.
"Penampilan mu pagi ini terlihat menggoda baby, sepertinya kau sudah siap untuk melancarkan aksi mu," Arzan menyeringai tipis, menyibakkan rambut Shasa yang kini panjangnya hanya sampai bahu, wanita itu benar-benar mengubah penampilan seperti yang dia sarankan. Leher jenjangnya yang semakin terekspos membuat nya tidak tahan untuk tidak menyentuhnya.
"Ah, jangan meninggalkan bekas Arzan, aku harus masuk kelas." Tubuh Shasa sudah meregang, setelah puas menciumi bibir nya lelaki itu kini menelusuri lehernya, dan mengecup nya sana-sini. "Ah, Arzan!" Dia sampai men-desah, lelaki itu sudah membuka tiga kancing seragamnya, hingga da-danya terlihat sempurna setelah lelaki itu menarik bra-nya dengan seenaknya, melu-mat dan meng-hisap pu-*** da-danya, bahkan meninggalkan beberapa bekas kecupan di sana "Ah. Hentikan!" akal sehatnya selalu menolak, tapi tidak dengan tubuhnya, semenjak insiden obat perangsang itu, tubuhnya bagai harus akan sentuhan, hingga mudah tersulut gairah.
"Kau benar-benar akan mendekati lelaki itu?" Tidak mempedulikan ocehan Shasa, tangan Arzan kini turun ke bawah memainkan area sensitif wanita itu dengan kedua jemarinya setelah menarik sehelai kain tipis yang menghalangi nya. "Aku benar-benar akan cemburu jika kau melakukan itu." ucapnya dengan tersenyum kecil.
"Ah, Arzan..." Tubuhnya benar-benar menjadi gila, akalnya ingin mendorong tubuh lelaki itu dan bicara baik-baik, tapi tubuhnya menikmati sentuhan itu, "Kau sendiri yang memberi ide itu, ah." Bahkan perkataanya di dominasi desa-han yang membuat Arzan semakin tersenyum senang.
"Kau sekarang menjadi penurut ya." tuturnya dengan menyeringai tipis, kini jemarinya semakin bergerak cepat membuat wanitanya mengerang keenakan.
"Ah, kau gila Arzan!"
"Tapi kau menikmatinya kan." Sudut bibirnya sampai terangkat, di ambilnya sebuah tisu, dan membersihkan area sensitif wanita itu begitupun dengan kedua jemarinya. "Kau ingit, wanita itu tidak akan hancur karena ada yang menjaganya dengan baik, maka kau harus mengusik dulu penjaganya, maka wanita itu pun akan terluka." tuturnya dengan penuh penegasan.
"Iya, aku tahu. Minggir aku harus masuk kelas."
Setelah merapikan kembali pakaian dan penampilannya, Shasa langsung turun dari mobil lelaki itu.
"Tunggu!" Arzan ikut turun, rasanya dia tidak bisa melepaskan wanita itu sebelum puas menikmati tubuhnya. Di tariknya tangan Shasa dan kembali menciumnya.
Di sudut lain, "Oh my God!" Jessica sampai mangap tak percaya melihat pemandangan di depannya, seorang Shasa yang tidak pernah mau di sentuh lelaki kini benar-benar berciuman di depan mata nya, bahkan ciuman mereka terlihat begitu hot. Padahal ini sedang di parkiran sekolah tapi lelaki itu begitu santai mencium Shasa.
"Apa itu pacarnya?" Alicia sama-sama kaget, setahu mereka Shasa begitu mencintai Kenzo sampai tidak pernah melirik laki-laki lain.
"Sha, dia siapa?" tanya nya penasaran saat Shasa sudah mendekat ke arah mereka, lelaki itu sendiri sudah pergi dengan mobilnya meninggalkan area parkiran sekolah.
__ADS_1
"Arzan." jawabnya singkat, raut wajahnya terlihat datar, dia sendiri serasa hampir gila, tubuhnya sudah terlanjur ternoda, kenapa tidak melakukan apapun sesukanya saja, mengikuti saran Arzan untuk menjadi dirinya yang lebih berbeda dari sebelumnya. "Lelaki yang waktu itu," lanjutnya menjelaskan, berucap masih dengan memasang wajah datar.
Jessica dan Alicia sampai saling menatap dengan cengengesan, rupanya ada baiknya juga meminum obat perangsang waktu itu Shasa bisa sedikit terlepas dari ambisi mendekati Kenzo yang sudah jelas lelaki itu tidak pernah menyukai sahabat nya ini.
"Kenapa? Mentang-mentang kalian sudah punya pacar jadi kalian bisa meledek ku!" Kesal sendiri, hari di mana mereka meneguk minuman perangsang dia sendiri yang kesusahan mencari obat penangkal dan pada akhirnya berlabuh di tubuh Arzan, sedangkan kedua temannya langsung menghubungi pacarnya masing-masing.
Alicia sampai tergelak melihat ekspresi kesal Shasa, "Dari awal sudah ku bilang kan. Jangan terlalu memaksakan diri, kau sampai tidak bisa menikmati masa muda mu, Sah." tutur Alicia sambil menggandeng tangan Shasa. Dia dan Jessica sudah menasehati Shasa untuk jangan terus mengejar Kenzo dan berusahalah membuka hati untuk laki-laki lain.
"Bagaimana making love, bukankah itu sesuatu yang menyenangkan." bisik nya lagi berusaha menggoda Shasa. Memang dari mereka bertiga, hanya Shasa yang so alim yang tidak pernah mengenal pergaulan bebas berbeda dengan dia dan Jessica.
"Tidak terlalu buruk." jawabnya masih dengan wajah kesal.
"Ayolah, Sha. Jangan memasang wajah datar seperti ini, senyum dong! Masa kalah begitu saja, mau gue ceburin aja sekalian si Tiara menyebalkan itu biar lo tersenyum senang."
"Untuk sementara jangan dulu mengusik nya, aku mempunyai rencana lain." kilah Shasa dengan cepat, ada yang harus ia lakukan, setelah memastikan semua itu, dia benar-benar akan menjatuhkan Tiara, dan pastinya dengan cara yang berbeda, dan itu pasti akan lebih menyakitkan bagi wanita itu.
"Ya, kita mengikuti apapun yang kau inginkan." jawab serempak Jessica dan Alicia.
Keadaan di kantin sekolah. Murid-murid sudah mulai memenuhi meja kantin sekolah memanfaatkan jam istirahat makan siang mereka untuk mengisi perutnya. Begitupun dengan Kenzo dan Jonathan, dua lelaki populer sekolah Trisakti ini sama-sama terlihat mengantri untuk mengambil makanannya. Menyandarkan punggungnya di meja kasir sambil menatap dua wanita yang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Pemandangan yang tidak terduga." ucap Jonathan tiba-tiba, salah satu alisnya sampai terangkat melihat jelas kedekatan Azzura dan Tiara yang sedang tertawa lepas entah sedang membicarakan apa, "Aku tidak mengira mereka bisa sedekat itu?" tanyanya pada Kenzo, terasa aneh, sejarah kelam seorang Kenzo kini malah dekat dengan kekasih lelaki itu.
"Entahlah, mungkin karena kejadian di pesta malam itu." jawab Kenzo dengan datar, kedua tangan lelaki itu kini mengambil dua piring makanan untuk nya dan untuk istrinya. "Ayo!" ajaknya sambil berjalan terlebih dulu.
Jonathan sampai mengangkat sudut bibirnya, seorang Kenzo sekarang jadi budak cinta yang selalu setia memproritaskan Tiara. "Bu! Antarkan minumannya, ya." pintanya pada pelayanan kantin, kini dia berlaju mengikuti langkah Kenzo dengan membawa makanan di kedua tangannya.
"Minggir, pindah sana!" ucap Kenzo dengan dingin. Menyuruh Azzura pindah tempat karena dia mau duduk di samping Tiara. "Tuh di sana masih kosong." tunjuk nya pada bangku kosong persis di depan Tiara.
"Aisst, menjengkelkan sekali." walau bibir Azzura berdecak dia langsung menghindar dan duduk di bangku yang Kenzo maksud. Dia mengalah, tahu pasangan suami istri itu sedang lengket lengketnya nya sampai nempel terus kayak perangko.
__ADS_1
Jonathan ikut bergabung, "Nih!" menyodorkan pirang makanan di depan Azzura, "Bikin report saja, ada angin apa model Trisakti mau makan di kantin sekolah, biasanya lo nangkring di cafe depan sekolah." umpatnya sambil mendudukkan badannya di samping Azzura, pasalnya tadi wanita itu merengek agar di ambilkan makanan oleh nya.
"Thanks, ketua osis." Azzura langsung menyeringai senang, memang hanya dia wanita yang berani menjajah seorang ketua osis jadi wajar kalau bibir lelaki itu selalu mengomeli nya. "Wah, meja makan khusus Trisakti kita jajah, Ra." ucapnya sambil tersenyum menatap Tiara.
Sebelumnya Azzura tidak pernah berpikir akan sebebas ini, bisa dekat dengan dua lelaki populer Trisakti tanpa ada Shasa yang selalu ada di samping mereka. Bahkan dia tidak pernah makan siang di kantin karena terlalu muak jika harus melihat wajah wanita licik itu. Tapi setelah berteman dengan Tiara, semuanya berubah, bukan hanya karena wanita itu sangat baik, dia pun bisa kembali dekat dengan Jonathan; yang merupakan teman satu angkatan saat bersekolah di bangku SMP.
"Nathan, apa Shasa tidak pernah menyapa mu sama sekali, kalian kan masih anggota Trisakti?" tanya Azzura tiba-tiba, dia teramat penasaran dengan wanita itu. Kehidupan Shasa terlalu berubah drastis, bahkan terkadang dia mengira kalau wanita itu sudah menghilang di telan bumi setelah insiden beberapa minggu yang lalu. Hingga membuatnya bertanya-tanya apa yang terjadi dengan wanita itu sekarang.
"Tidak ada alasan untuk menyapa nya jika dia tidak menyapa terlebih dulu." jawab Jonathan singkat. Ya, setelah mengetahui Arya dan Shasa malah bersekutu dengan Arzan dia menjadi kesal dengan wanita itu. Kehadiran mereka malah memperkuat Arzan di perusahaan, kinerja Arya di kantor sangat baik, membuat kepercayaan sang Ayah berlimpah kepada Arzan karena telah membawa sosok Arya Wiguna bekerja di kantornya.
Tiara yang mendengar percakapan mereka sampai menghela nafas, padahal tadinya ia ingin mengetahui bagaimana keadaan Shasa sekarang, "Ku kira kalian berhubungan baik." timpal nya dengan suara melemas.
"Aku sering melihat nya, tapi tidak pernah berturut sapa." timpal Jonathan singkat, dia sering melihat Shasa bersama Arzan, tapi dia tidak begitu mood untuk bicara dengan wanita itu.
"Sering bertemu? Di ma--" ingin bicara tapi Kenzo malah menyuapinya. Membuat nya terbungkam tanpa kata, dia langsung menoleh sang suami yang sedang menatapnya, "Aku mau berta-" kembali membuka mulut tapi kalah cepat dengan pergerakan Kenzo yang kembali menyuapinya.
"Kalau sedang makan jangan banyak bicara, nanti kau tersedak." titah Kenzo dengan datar, ucapnya sedingin es balok tapi tangannya kembali menyuapi wanitanya, dan kembali menyuapkan makanan untuk dirinya. Dia tidak mau Tiara terus bertanya tentang wanita licik itu, apalagi kalau terus mengkhawatirkan nya.
Suasana di kantin tiba-tiba terdengar ricuh, Shasa yang sedari tadi di bicarakan kini terlihat memasuki kantin hingga memancing perhatian murid yang lain. Bukan karena apa-apa, hanya saja ada aura yang berbeda dari wanita itu, bukan hanya penampilan nya yang semakin cantik dengan rambut sebahu nya, sekarang sikapnya pun terlihat lebih berbeda, membuat wanita itu terlihat lebih anggun dari sebelumnya.
"Hai, boleh ikut duduk di sini?" pintanya dengan begitu ramah, tersenyum manis pada empat orang yang tengah duduk di meja yang biasanya dia juga suka duduk di sana.
"Sha!" Tiara sampai kaget, senyuman itu yang selalu dia rindukan dari sosok Shasa, senyuman Shasa kecil yang dia kenal.
Kenzo sampai langsung meraih tangan Tiara, memberi isyarat agar jangan mengizinkan Shasa bergabung bersama mereka.
Begitupun dengan Jonathan, lelaki itu langsung menyenggol lengan Azzura agar jangan menggeser tubuhnya biar Shasa duduk di meja lain.
Tapi sepertinya dua wanita itu tidak peka, dengan serempak Tiara dan Azzura mempersilahkan Shasa bergabung di sana, karena terlalu kasihan melihat ekspresi nya.
__ADS_1
"Aisst..." sontak kedua lelaki itu langsung mengendus kesal.