Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Hukuman di balas hukuman.


__ADS_3

Kenzo sedang duduk di basecamp tempat nya Mabar. Duduk di sofa ruangan itu sambil memasang headset bluetooth mendengarkan musik. Perasaannya sedang kacau, dia kira Tiara akan dengan mudah memaafkan nya, tapi sampai sekarang wanita itu masih saja mendiamkannya. Padahal mereka duduk di satu bangku yang sama, tapi Tiara tidak bicara sepatah katapun.


"Akh, menjengkelkan sekali." decak nya kesal, dia makin membesarkan volume music itu untuk menghilangkan kegundahannya.


Musik berputar otomatis, lagu Andika kangen band yang berjudul Takan terganti terdengar jelas di telinganya,


Ku bersyukur memiliki kamu


Ku bahagia ada di sampingmu


Hati ini terasa tenang


Bila kau selalu bersama diriku


Kuterima kekurangan kamu


Kauterima kekurangan aku


Lengkapilah lembar jalanku


Untuk mengarungi di setiap langkahku


Dari dalam hati, kau takkan terganti


Sampai nanti aku mati


Kucintai kau setulus hati


Kusayangi kau sepenuh hati


Aku mohon, kau tetap di sini


Menemani aku sampai akhir nanti


Lagu itu terngiang-ngiang di kepala Kenzo terasa menancap pas dengan kehidupannya.


"Apa tidak ada yang lain?" decak nya lagi. lagu itu malah membuatnya semakin memikirkan Tiara, "Woi, jangan memutar lagu ini, ganti!" teriaknya pada Devan. Dia bisa frustasi jika terus mendengarkan music ini.


"Remote nya ada di dekat lo, kenapa malah nyuruh gue," timpal Devan keheranan. "Kesambet apa tuh si Kenzo?" gumamnya sampai geleng kepala, dari tadi temannya itu terlihat begitu sensitif. Entah apa yang di pikirkan nya.


Kenzo baru sadar, langsung meraih remote itu tapi music itu terus terdengar di telinganya.


Kan kujaga kau selama-lamanya

__ADS_1


Sampai raga tak lagi bernyawa


Aku mohon, kau tetap setia


Menemani aku sampai akhir dunia


Dari dalam hati, kau takkan terganti


Sampai nanti aku mati


"Aisst, bikin jengkel saja." decak nya kesal, bukanya mengoper lagu, Kenzo dengan cepat melepaskan headset nya.


"Kenapa, Bos galau lagi ya?" tanya Reno keheranan. Bukannya waktu itu akan membawa orang yang membuat nya kepikiran, tapi sekarang dia datang sendiri dengan mood yang berantakan, "Kalau mood Bos jelek, kenapa pacarnya gak di ajak ke sini saja." timpal Reno begitu polos.


Kenzo makin frustasi, jangankan di ajak ke basecamp nya, di ajak bicara saja dia diam. "Dia sedang mode galak." tutur Kenzo keceplosan, dia bahkan memasang wajah masam.


Sontak Devan dan Reno sampai terbahak-bahak, apa lelaki itu benar-benar Kenzo yang mereka kenal.


"Kalian berani mentertawakan ku, hah?" decak Kenzo kesal, dia langsung melebarkan mata menatap keduanya.


Bukannya takut, mereka berdua malah saling menatap cengengesan, "Di bujuk dong, Bos. Biar gak galak lagi." timpal Reno memberi saran.


Kenzo sesaat terdiam, sepertinya perkataan Reno sedikit masuk akal, "Kalian tahu bagaimana cara membujuk wanita agar dia tidak kesal lagi?" tanya nya polos, Kenzo memang pintar dalam segala hal, tapi dia tabu dalam urusan wanita, apalagi yang bersangkutan dengan cinta. Bertanya pada kedua temannya yang sama-sama tidak berpengalaman, karena mereka jomblo seumur hidup.


"Apa kalian sedang mempermainkan ku!" decak Kenzo geram, masa iya dia harus memberi Tiara coklat dan bunga. Hanya dengan membayangkan nya saja dia bergidik geli. Dengan perkataan saja susah, apalagi kalau menyogoknya seperti itu.


"Akh, bos tidak bisa romantis si. Memberikan coklat atau bunga pada wanita bukan lelucon bos, itu bentuk perhatian." timpal Reno meyakinkan. Dia memang jomblo, tapi dia suka mendengar dari teman temannya. Bahkan terkadang melihatnya di drama-drama Korea.


Kenzo kembali terdiam, entah harus menuruti perkataan mereka atau tidak, dia benar benar di bikin pusing. Dia langsung mengambil ponselnya untuk mengabari Tiara. Wanita itu pasti akan marah-marah karena dia bolos kelas di pelajaran terakhir. Dia langsung mengetikkan pesan dan ia kirimkan pada Tiara.


...Ambilkan tas ku, dan tunggu di mobil, sebentar lagi aku menyusul. Kunci mobilnya di dalam tas....


"Mana data itu?" tanya Kenzo, dia langsung menatap Devan menagih dokumen yang di pintanya tempo lalu. "Kau tidak lupa kan?" ucapnya lagi. Jika data murid murid itu masih belum ada, dia benar-benar akan menghukum lelaki itu.


"Bentar gue ambil!" timpal Devan. Dia langsung berdiri mengambil sebuah map berisi data data yang Kenzo butuhkan.


Lekas kembali langsung memberikan map itu pada Kenzo. "Nih! gue penasaran mau Lo apakan mereka, sampai butuh biodata nya?" tanya nya penasaran.


"Entahlah," jawabnya enteng. Kenzo belum tahu persis apa yang akan Tiara lakukan sampai membutuhkan informasi tentang mereka.


...*...


Tiara terlihat sedang duduk bersama Ze di ruangan TV, menonton film bersama sambil berbincang ria menunggu kedatangan Kenan dari kantornya. Makin hari mereka berdua terlihat makin dekat bagai seorang ibu dan anak.

__ADS_1


"Apa yang Kenzo lakukan, dari tadi dia tidak terlihat turun ke bawah." tanya Ze keheranan. Biasanya putranya itu suka nongkrong di bawah sebelum tidur malam.


"Entahlah, mom." jawab Tiara singkat. Mulutnya penuh dengan cemilan, dengan mata asyik menonton drama favoritnya.


Sebenarnya dia bisa menebak, mungkin lelaki itu malas melihatnya karena sedari tadi dia mengabaikannya. Iya, ini hukum untuk Kenzo karena lelaki itu berani menyentuhnya.


Baru juga di bicarakan, Kenzo terlihat menghampiri mereka dan mengambil cemilan Tiara. "Bagi!" pintanya tanpa dosa, dia langsung duduk di samping Tiara ikut menonton drama yang di tonton kedua wanita itu. "Enak." ucapnya lagi, dengan begitu santai mengunyah cemilan dari hasil rampasan.


Tiara mendelik, bisa-bisanya Kenzo sesantai itu, "Hei, bisa menjauh! di sana masih kosong." titah Tiara, jarak mereka terlalu dekat dia sampai bisa mencium aroma khas tubuh Kenzo, jika terus seperti itu, bisa bahaya untuk jantungnya.


Kenzo enggan menjawab, enggan menggeser tubuhnya. Dia sengaja terus seperti itu agar wanita itu terus bicara. Seharian tadi tidak mendengar ocehan Tiara rasanya terasa hampa.


Tiara yang mengalah, ingin menggeser tubuhnya tapi terhenti. Kenzo malah menahan tangannya. "Apa hukum ku belum berakhir?" bisik nya pelan, bibirnya bicara tapi tatapan matanya masih fokus ke depan, ada sang Mommy di samping Tiara, jadi dia tidak boleh mencurigakan.


Tiara ingin tertawa, tapi ia tahan. Rasanya puas mengerjai Kenzo. Jika lelaki itu suka jual mahal, dia pun harus bisa melakukannya. "Entahlah!" sahut nya pelan, dia kembali memposisikan duduknya tanpa ada niatan untuk pergi. Bagai dunia milik mereka berdua, Ze saja tidak sadar dengan apa yang terjadi dengan kedua nya.


Kenan terlihat memasuki ruangan itu, dia baru pulang kantor dan langsung mencari keberadaan sang istri. "Rupanya kalian di sini." tutur nya sambil menghampiri Ze, langsung memeluk dan mengecup kening sang istri, tanpa keraguan meski ada dua pasangan mata anak muda yang melihat tingkah mesra nya.


"Tumben mas sudah pulang." timpal Ze, dia tidak kalah mesra langsung melingkarkan tangan di pinggang sang suami. "Aku tidak tahu mas bakal pulang cepat, jadi tidak menunggu di depan." ucapnya lagi. Tingkah dan ucapan suami istri itu malah terlihat begitu mesra di mata dua anak muda yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Sepertinya Kenan dan Ze memang sengaja bertingkah mesra untuk memancing putranya.


"Ken, bagaimana apa sudah mempertimbangkan tawaran Daddy?" tanya Kenan, dia langsung melihat ke arah Kenzo tanpa melepaskan rangkulannya menggandeng sang istri.


"Iya, kita bersedia, Dad. Menikah muda juga tidak ada salahnya." jawab Kenzo dengan penuh percaya diri tanpa keraguan. Dia sampai melirik Tiara ingin melihat reaksi wanita itu.


Tiara sampai mematung, langsung menatap lelaki itu dengan melebarkan mata, "Kita? bahkan kau tidak bertanya dulu bagaimana pendapat ku." bisik nya kesal, jemarinya langsung mencubit lengan Kenzo, sesantai itu Kenzo mengiyakan untuk menikah muda tanpa memberi tahu dulu padanya.


Kenzo hanya tersenyum kecil, ekspresi wajah yang ia harapkan, bahkan kekesalan Tiara sampai terlihat jelas dari cara wanita itu mencubit keras lengannya. "Satu sama, kau berani menghukum ku, maka ini balasan hukuman dari ku." timpal nya malah meledak. Dia masih saja memasang wajah tanpa dosa setelah mengerjai calon istrinya.


Tiara sampai tercengang tanpa bisa berkata-kata, memang bukan Kenzo namanya kalau tidak bertindak sesukanya. "Akh, memang kesalahan besar berani macam-macam dengan nya." jerit Tiara dalam hati. Kalau akhirnya jadi begini, dia tidak akan berani mendiamkan Kenzo seharian.


"Baguslah, kalau begitu Daddy akan mengatur acaranya akhir pekan nanti." ucap Kenan kembali menjelaskan. Sepertinya melangsungkan pernikahan akhir pekan nanti lebih baik, mereka sedang sama-sama istirahat dari rutinitas nya.


"Akhir pekan?" Kali ini bukan hanya tercengang, Tiara sampai terbatuk-batuk, secepat itukah? Sungguh dia benar-benar belum siap menjalankan nya.


"Kenapa sayang? Apa kamu keberatan?" tanya Ze memastikan, khawatir karena Tiara sampai terbatuk-batuk setelah mendengar ucapan suaminya.


"Tidak, Mom. Dia hanya tersedak cemilan. Kita tidak keberatan." jawab Kenzo dengan cepat. Yang di tanya siapa? Yang menjawab siapa? Kenzo rasanya ingin tertawa melihat ekspresi kaget Tiara.


"Kenzo!" teriaknya dalam hati. Kalau saja


tidak ada kedua orang tuanya, Tiara pasti sudah memukul lelaki itu.

__ADS_1


"Karena acaranya tinggal beberapa hari lagi, kalian harus menemui Pak Arya untuk meminta izin. Masalah selebihnya biar Daddy yang membereskannya." tutur Kenan memberi saran. Apapun keputusan nya, mereka tetap harus memberi tahu Arya, menghargai nya karena dia masih bagian keluarga Tiara.


__ADS_2