Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Aku menunggumu.


__ADS_3

Masalah dengan berita di forum sekolah selesai, Kenzo langsung mengganti seragamnya dengan pakaian santai.


Karena terlalu banyak meluapkan emosi perutnya menjadi sangat lapar. Dia beranjak keluar kamar untuk mencari makanan berharap bisa mengganjal perut nya sebelum makan malam.


Kenzo perlahan membuka pintu, saat belahan pintu itu terbuka, matanya melihat sosok Tiara yang sedang duduk meringkuk dengan kepala yang bertumpu pada lututnya, "Dia masih di sini!" gumamnya kaget, dia tidak menyangka kalau wanita itu masih di sana, hatinya kembali luluh melihat keadaan Tiara, sungguh wanita itu sampai terlihat begitu menyediakan. "Apa dia melempar ponsel nya?" gumamnya lagi, dia berusaha menebak karena melihat ponsel Tiara sudah tergeletak dengan kondisi layar yang sudah retak.


"Hei, bukannya aku sudah menyuruh mu untuk istirahat di kamar, kenapa masih di sini?" Kenzo langsung bicara, membuat Tiara langsung mengangkat kepala dan langsung menatapnya.


"Dia menangis?" gumam Kenzo dalam hati, Tiara yang membuat masalah kenapa wanita itu pula yang menangis, dia menjadi merasa bersalah karena mengabaikan nya. "Aku menyuruh mu istirahat, kenapa malah duduk di sini?" tanyanya lagi. Suaranya memang terdengar datar, tapi kali ini berbeda, tatapan matanya begitu redup menatap wanita yang sedang duduk di depan pintu kamarnya.


"Aku menunggumu!" jawab Tiara dengan begitu lemas, dia sampai hampir kehabisan tenaga untuk berkata-kata.


Kenzo semakin tidak tega dan perlahan berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Tiara.


"Apa kau sebodoh itu sampai terus di sini, bagaimana kalau aku tidak keluar kamar sampai besok pagi, apa kau akan terus menunggu, kau bisa mati kedinginan." omelnya lagi, walau bibir seakan marah marah tapi tangannya bergerak lembut menyeka air mata Tiara yang masih membasahi wajahnya. "Jangan menangis seperti ini!" lirihnya merasa bersalah.


"Kedinginan tidak apa-apa, asal kau memaafkan ku." timpal Tiara lagi, hatinya perlahan tenang, perkataan Kenzo memang terdengar begitu kasar, tapi dia tahu kalau lelaki itu sedang mempedulikannya sekarang.


"Dasar bodoh." umpat Kenzo lagi, wanita itu memang berbuat salah, tapi tidak harus menyakiti dirinya sendiri kan. Tangannya sampai bergerak ingin menyentil kening Tiara untuk menyadarkannya, tapi ia urungkan dan tangan itu malah berakhir mendarat di kepala Tiara dan mengelusnya. "Maaf telah mempersulit keadaan, mu!" gumam nya hanya mampu bicara dalam hati, dia tidak mengira Tiara akan menunggu nya di sana.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkan mu, Tiara." tutur nya dengan begitu lirih, besar hati ingin minta maaf, tapi bibir hanya mampu bicara demikian. Dia terlalu gengsi untuk meminta maaf, toh itu ulah Tiara sendiri yang memancing kemarahan sampai dia harus mengabaikan nya.


"Dia memaafkan ku?" Tiara langsung bernafas lega. Bahkan tangan Kenzo yang mengelus kepala nya membuatnya menjadi tenang. Itu menunjukkan kalau lelaki itu tidak lagi membencinya. "Terima kasih, Kenzo." ucapnya lirih, senyuman manis kini kembali terlihat di bibirnya.


"Bangunlah! kau harus istirahat!" titah Kenzo, Penampilan Tiara yang terlihat begitu lusuh membuat dia makin kasihan pada nya, dia perlahan merangkul pundak Tiara berusaha membantunya untuk berdiri. Tapi wanita itu masih terdiam enggan untuk bergerak. "Kenapa?" tanya nya heran.


"Apa mungkin aku bisa istirahat? Aku terlalu malu dengan kejadian ini, bagaimana kalau mommy dan Daddy mu mengetahuinya. Aku bahkan begitu malu untuk menampakkan wajah ku di depan mereka." jawab Tiara dengan begitu lemas, wajahnya kembali suram mengingat beban yang dia pikirkan sekarang.


Kenzo sampai malas melihat ekspresi Tiara yang seperti itu, dia langsung menggerakkan telunjuknya dan menekan kening Tiara. "Bodoh, ayo bangun! Jangan memikirkan itu karena aku sudah membereskannya." timpal Kenzo dengan begitu tegas, wanita itu memang penuh dengan kesialan, tapi jangan terlihat menyediakan karena dia ada di sampingnya.


"Sungguh?" Tiara hampir tidak percaya, begitu pedulinya seorang Kenzo padanya bahkan saat lelaki itu muak melihatnya dia masih mau membantunya. "Terima kasih banyak." ucapnya dengan begitu tulus.


Tubuh Tiara kini bergerak, berdiri dengan begitu perlahan. Namun tubuh itu tiba-tiba oleng "Awas!" Kenzo kaget, refleks menggerakkan tangannya memeluk tubuh itu agar Tiara tidak terjatuh. "Apa kau tidak bisa berhati-hati!" omelnya kaget. Bagaimana kalau dia tidak bergerak cepat, mungkin tubuh Tiara akan kembali terjatuh ke lantai.


Tiara sama-sama kaget langsung mencekam switer Kenzo takut terjatuh, mendongkangkan kepala menatap wajah lelaki itu "Maaf, kaki ku kesemutan, Ken." jawabnya malu, bahkan lebih malu lagi saat sadar jarak wajah mereka ternyata begitu dekat. Dia sampai bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu bahkan pelukannya terasa begitu hangat membuat dia merasa begitu nyaman.


Kenzo sampai kaku, tubuh Tiara menempel sempurna di tubuhnya, bahkan wajah mereka begitu dekat, "Argh!" ini bahaya, dia lelaki normal yang punya perasaan, dia tidak bisa menjamin bisa mengendalikan dirinya jika terus berada dalam posisi seperti ini, "Apa sudah lebih baik! tanganku bisa keram." decak nya mengalihkan kecanggungan, dia sampai memalingkan muka, bisa-bisa perasaannya tidak karuan kalau terus seperti ini, tapi tidak mungkin juga melepaskan tubuh Tiara begitu saja.


"Akh, maaf." Tiara refleks melepaskan tangannya, wajahnya sampai tersipu malu, langsung menundukkan kepala sambil memundurkan badannya. "Kaki ku sudah lebih baik." ucapnya lagi.

__ADS_1


Kenzo sampai tersenyum kecil melihat ekspresi Tiara, bahkan dia bisa melihat jelas wajahnya yang bersemu merah. "Manis nya," ucapnya keceplosan. "Akh, apa yang ku ucapkan?" umpat nya kesal memarahi dirinya sendiri. Dia sampai kembali memalingkan muka berharap Tiara tidak mendengar perkataannya.


"Cepatlah masuk kamar!" titah nya lagi, dia tidak mau terus salah tingkah kalau terus bersama Tiara.


Nada panggilan di ponsel Kenzo tiba-tiba terdengar, Kenzo langsung mengecek ponselnya dan seketika melebarkan mata. "Daddy!" ucapnya begitu kaget. Hatinya mulai tidak tenang "Tidak mungkin Daddy sudah keburu melihat berita itu sebelum Mario menghapusnya."


keluhnya. Dia masih belum punya alasan yang bisa meyakinkan sang Daddy untuk membela tunangannya.


Tiara yang awalnya ingin pergi langsung terhenti, "Ada apa, Ken?" tanyanya penasaran melihat ekspresi Kenzo yang terlihat begitu mencurigakan.


"Tidak apa-apa, masuk lah! Aku juga akan ke kamar." pinta Kenzo, laparnya tiba-tiba hilang takut sesuatu yang tidak ia harapkan benar-benar terjadi.


"Apa benar tidak apa-apa? Kenapa dia terlihat kaget?" Tiara penasaran, tapi Kenzo terus menyuruhnya masuk kamar, mau tidak mau dia pun perlahan berjalan masuk.


Kenzo sendiri langsung masuk kamar setelah melihat sendiri kalau Tiara benar-benar istirahat di kamarnya.


Kenzo sesaat menarik nafas, harap-harap cemas ingin mengangkat panggilan dari sang Daddy. "Halo, Dad." sapa Kenzo setelah mengangkat panggilan itu.


"Kenapa lama sekali, kau sedang apa?"

__ADS_1


tanya Kenan di sebrang sana, nada bicaranya sampai terdengar sedikit kesal, sampai membuat Kenzo menghela nafas.


__ADS_2