
Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid mulai membereskan alat tulis dan buku-buku mereka untuk bergegas pulang, begitupun dengan Tiara, setelah membereskan barang-barang nya, gadis itu langsung mengambil tas milik sang suami untuk lekas pergi keluar kelas.
"Aisst, sepatu!" Tiara baru sadar, kalau sepatu yang sebelahnya lagi sudah dia lemparkan pada murid laki-laki yang tadi, "Akh, aku lepas saja semaunya." gumamnya sambil melepas satu sepatunya lagi. Dia malas sekali kalau harus kembali mengambil sepatunya, dia memilih membuang semua sepatunya dan kini kakinya hanya beralaskan kaos kaki saja. Lekas pergi ke luar takut Kenzo menunggunya terlalu lama di parkiran.
Brug.
Karena terlalu terburu-buru, Tiara sampai menubruk seseorang, langsung menoleh mengangkat kepalanya melihat siapa yang dia tabrak, "Ekh, ku kira kau menunggu di parkiran," ucapnya dengan tersenyum kikuk, rupanya yang dia tabrak suaminya sendiri. Refleks langsung menggerakkan kedua kakinya saat sang suami menatapnya dengan penuh heran.
"Habis nge-bolang dari mana? Kenapa sepatunya di lepas?" Tanya Kenzo dengan wajah datar, apa lagi sekarang yang di lakukan istrinya, sampai sepasang sepatunya menghilang dari kakinya.
"Emang aku si bolang? aku kan bukan anak kecil," hanya bisa mengeluh dalam hati, Tiara kembali tersenyum kikuk, bingung menjawab pertanyaan sang suami, "Em, itu-itu-" jawabnya ragu, bagaimana kalau dia kena omelan Kenzo, haruskah dia bilang kalau sepatunya dia pakai menghajar orang yang menghina sang suami.
"Di pakai menghajar anak orang, Ken." Sahut Jonathan tiba-tiba, dia menimpali pembicaraan mereka karena dia sendiri merasa jadi korban amukan Tiara, pacar sahabatnya itu sukses membuat kaki nya nyut-nyutan setelah di injak wanita itu dengan begitu keras, "Anak-anak yang duduk di bangku belakang kembali mengoceh tentang putra Pak Kenan, pacar mu tiba-tiba marah dan tanpa ragu melemparkan sepatu nya." lanjut Jonathan menjelaskan. Kenzo harus tahu seberapa bar-bar nya pacarnya itu.
Mendengar itu, Kenzo langsung tersenyum kecil, dia sudah hapal seberapa kotor nya mulut mereka, karena memang dia sudah terbiasa mendengar hinaan itu, tapi dia selalu membiarkan mereka enggan menanggapi karena semua murid di sekolah tidak ada yang tahu kalau yang mereka bicarakan adalah dirinya. Dan sekarang sang istri malah menghajar mereka bahkan rela melepas sepatunya. "Benarkah?" ucapnya berusaha menggoda Tiara.
Tiara sendiri langsung menundukkan kepala, "Maaf," lirihnya mengakui semuanya, apa Kenzo akan marah karena dia bertingkah sesukanya.
"Lain kali biarkan saja," timpal Kenzo sambil mengelus kepala Tiara, dia sudah kebal dengan ocehan ataupun hinaan orang-orang di luaran sana dengan rumor yang beredar.
__ADS_1
"Tapi," ingin bicara tapi Jonathan masih ada di sana. "Mereka menghina mu, Ken." akhirnya hanya bisa bicara lewat tatapan mata.
Tapi bukannya menanggapi keluhan Tiara, Kenzo malah berjongkok di depan Tiara, dan menyuruh sang istri naik ke punggungnya, "Ayo, ku gendong. Kau tidak mungkin berjalan sampai bawah tanpa sepatu, kan?" pintanya tanpa ragu.
Tiara malah yang malu sendiri, "Tidak usah, Ken. Aku bisa jalan kok." masa iya harus di gendong, baru juga Kenzo berjongkok di depannya semua murid langsung menoleh ke arah mereka, apalagi kalau benar-benar sampai di gendong lelaki ini, "Bangun! Tanpa sepatu pun aku bisa jalan kok." tolaknya tidak enak. Namun bukan Kenzo kalau lelaki itu tidak bertingkah sesukanya, "Ken?"
Kenzo langsung menarik tangan Tiara sampai gadis itu naik ke punggungnya, "Jangan banyak bicara, jangan banyak gerak. Kalau tidak kau bisa jatuh." tuturnya dengan tersenyum kecil, perlahan berdiri dan terus menggendong Tiara tanpa mempedulikan sekitarnya, salah siapa melepas sepatunya, dia tidak mungkin membiarkan Tiara berjalan dengan keadaan seperti itu.
"Ken ini lantai tiga, kau pasti lelah jika harus menggendong ku sampai bawah." bukan hanya kaget, dia kasihan jika Kenzo benar-benar harus menggendongnya.
"Sudah ku bilang diam, kan! Berpegangan saja." titah Kenzo tanpa mendengarkan ocehan Tiara. Istrinya pun langsung menurut, akhirnya wanita itu perlahan mengalungkan tangan di pundaknya.
"Diam lah! dari pada terus mengoceh apa kau sudah memikirkan mau liburan ke mana?" tanya Kenzo tiba-tiba, dia harus mengalihkan pembicaraan agar Tiara tidak terus protes dan merengek minta turun. "Kita akan berangkat malam minggu, jadi secepatnya kau harus memastikan mau pergi kemana, biar sekretaris Daddy yang mengurus sisanya."
"Apa tidak apa-apa jika aku ingin ke pantai?" tanya Tiara dengan begitu antusias, yang awalnya menjaga jarak kini tubuh Tiara menempel sempurna di punggung sang suami karena terlalu girang dengan tawaran liburannya. Karena baginya tawaran liburan bukan hanya liburan semata, tapi ada maksud lain di baliknya.
"Tidak buruk." timpal Kenzo dengan tersenyum girang, menjinakkan Tiara memang cukup mudah, yang tadi merengek minta turun sang istri kini malah mempererat pegangannya nya.
"Liburan nanti akan ku anggap sebagai hari kencan pertama kita," ucap Tiara dengan berbisik di telinga Kenzo, Iya, baginya ajakan liburan dari Kenzo dia anggap sebagai ajakan kencan dari lelaki kaku itu. Layaknya sepasang kekasih normal pada umumnya, dia ingin merasakan bagaimana berkencan dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Kencan?" Kenzo kembali mengulang kata itu, yang dia tahu kencan itu hanya di lakukan oleh sepasang kekasih yang sedang berpacaran, tapi kan mereka sudah menikah, apa masih bisa di katakan berkencan.
"Iya."
"Jadi maksudnya get married first fast later?" tanya Kenzo sambil menolehkan wajahnya menatap wajah Tiara yang bersandar di bahunya.
"Ya bagaimana lagi, kau nya terlalu galak sampai tidak pernah mengajakku kencan," umpatnya dengan meledak.
Kenzo sampai terkekeh, di dalam kamus nya tidak ada kata kencan, jadi tidak terbayang sedikit pun untuk mengajak Tiara berkencan. "Kalau begitu, kita kencan sekarang saja, kau mau ke mana?" langsung di bayar kontan, jika itu yang di inginkan Tiara dia akan mengabulkan nya. Sepertinya itu tidak terlalu buruk juga.
"Kalau sekarang tidak bisa, hari ini aku sudah cukup lelah, aku ingin istirahat." timpal Tiara dengan suara lemas, dia bahkan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo untuk mencari kenyamanan.
"Kalau begitu kita kencan di rumah saja." ucap Kenzo dengan polos.
Sudahlah, Tiara tidak ingin menanggapi perkataan suaminya lagi, mana ada kencan di rumah, yang ada dia akan di sekap di dalam kamar dan tidak di perbolehkan turun dari tempat tidur nya. "Pokoknya sampai rumah aku mau istirahat," timpalnya menekankan.
Kenzo sampai tersenyum kecil, karena sudah tahu arah pembicaraan Tiara, "Biasanya juga langsung istirahat." timpal nya tanpa dosa.
"Istirahat dari mana, kau selalu saja mengganggu ku, tahu." Tiara sampai sewot, bisa-bisanya lelaki itu tidak mengakui kelakuan nya sendiri.
__ADS_1
"Iya-iya. Baiklah, untuk malam ini saja aku tidak akan menggangu mu,"