
Keadaan di UKS, di ruangan yang berbeda. Kenzo terlihat memboyong Tiara untuk mengobati tubuh sang istri yang memar akibat terjatuh tadi. Sedangkan di ruangan lain terlihat Jessica dan Alicia membantu Shasa yang masih belum kunjung sadar juga.
Brrakk.
Pintu kamar UKS tertutup sempurna, Kenzo dengan cepat mengunci pintu itu agar sang istri tidak lagi merengek ingin melihat keadaan Shasa padahal dirinya sendiri terluka.
"Ken." Tiara sampai kaget, lelaki itu kembali dan ikut duduk di ranjang UKS yang di tempati nya. Bahkan tangan lelaki itu langsung menyibakkan celana olahraga nya, "Ken, ini UKS sekolah kau mau apa?" ucapnya sudah mulai gugup.
Kenzo enggan menjawab, dia hanya ingin melihat memar di kaki wanita itu dan dengan cepat mengambil salep untuk mengobatinya. "Kalau kau sudah berpikir lebih dari ini, dengan senang hati aku akan melakukannya." ucapnya dengan tersenyum kecil. Bahkan dia langsung berbungkuk mengecup paha mulus wanita itu.
"Kenzo!" Tiara sampai bergidik geli, refleks mendorong tubuh Kenzo agar lelaki itu tidak lebih menggila. "Aku sudah tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat Shasa apa dia sudah siuman atau tidak?" ucapnya lagi kembali memohon pada sang suami. Shasa terjatuh pingsan, bagaimana dia tidak penasaran dengan keadaan wanita itu. Ada apa dengan Shasa, kenapa wanita itu bisa pingsan.
"Kalau hanya ingin melihat, nanti saja. Kau istirahat dulu! Jangan terus memikirkan wanita itu," titahnya sambil perlahan membaringkan tubuh Tiara, bahkan dia sendiri ikut meringkuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Ken!" Tiara kembali kaget, yang biasanya dia berada di dekapan lelaki itu, kini Kenzo yang meringkuk di dekapannya. "Kau sakiti?" tanyanya kaget, tangannya langsung bergerak mengelus kepala sang suami bahkan menyentuh keningnya memastikan suhu tubuhnya.
"Tidak, hanya ingin istirahat saja." timpal nya sambil memejamkan mata. Dari kemarin sampai sekarang waktu yang di lalui nya cukup melelahkan, terlebih tidak bisa tenang sebelum masalah Tiara dan Shasa kelar, sampai dia tidak bisa istirahat total. Setelah cukup lega, rasanya ia ingin istirahat sejenak.
"Iya, Istirahatlah!" Tiara kembali mengelus rambut Kenzo, bukan hanya mengurusi dirinya, suaminya itu pun dari tadi pagi terus meladeni kemauan Chelsea yang terus merajuk dan terus menyusahkan sang suami.
"Tiara!"
"Hem."
"Aku sudah membuat ppt untuk pertemuan malam minggu besok, kau harus mempelajarinya, karena kau yang harus persentasi dalam meeting nanti." tuturnya memberi tahu sang istri. Matanya masih terpejam tapi bibir nya terus menjelaskan apa yang akan mereka hadapi akhir pekan nanti.
"Siapa saja yang akan hadir dalam meeting nanti?" tanyanya memastikan. Tiara harus tahu siapa saja yang akan hadir, biar presentasi yang akan dia pelajari bisa tepat sasaran dan lebih meyakinkan orang-orang yang akan mendengarkan nya.
"Itu merupakan meeting perusahaan yang cukup terbuka. Pasti akan banyak orang-orang penting, karena masalah yang akan di bahas terkait pasar internasional," jawab Kenzo dengan jelas. Ini semua berawal karena berita yang Arzan sebarkan, salah satu brand perusahaan Wijaya di kecam buruk, oleh karena itu banyak pihak yang di rugikan terlebih ini sudah tembus pasar internasional, kepemerintahan pun ikut terseret merasa di permalukan sampai-sampai sang Daddy mendapat teguran keras. "Kita hanya di tugasnya untuk mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar, biar selebihnya Daddy yang urus." tuturnya lagi menjelaskan.
Tiara sesaat terdiam, klarifikasi? kalau tujuannya untuk membersihkan nama baik perusahaan berarti dalam meeting nanti, benar-benar banyak sekali yang akan hadir, "Apa mungkin utusan dari kepemerintahan pun akan hadir malam nanti?" tanyanya memastikan. Jika yang hadir orang-orang penting seperti itu, dia tidak begitu yakin persentasi nya nanti akan memuaskan.
__ADS_1
"Iya. Para investor asing pun sama-sama akan hadir, bahkan pihak perusahaan Prawira pun akan menghadiri pertemuan itu."
Tiara sampai terkejut, jadi yang akan mereka hadapi kali ini bukan masalah sepele seperti yang sebelum-sebelumnya, "Jadi maksudnya kita harus kembali mendapatkan kepercayaan dari investor asing itu, dan kembali memberikan citra baik di kepemerintahan. Biar perusahaan Wijaya tidak kalah saing dari perusahaan Prawira?"
"Iya, rupanya kau cukup pintar meski tidak aku jelaskan," Kenzo sampai mendongkangkan kepala, kembali membuka mata menatap wajah sang istri, "Berita miring itu benar-benar sudah mempengaruhi opini publik, pilihan kita ada dua, berusaha sebaik mungkin kembali menarik kepercayaan semua pihak, atau cari kesalahan perusahaan Prawira dan balikan serangannya, buktikan seberapa buruknya perusahaan mereka biar kepercayaan semua pihak kembali tercurah pada perusahaan kita." tutur Kenzo dengan menyeringai. Arzan telah bersaing dengan cara kotor, tidak ada salahnya membalikkan serangan itu dengan cara kotor juga.
"Aku pilih cara lembut saja, sepertinya aku tidak pandai menjatuhkan orang dengan cara kotor." timpal Tiara dengan tersenyum kikuk. Sang suami terlihat begitu semangat untuk menjatuhkan Arzan dengan cara menguak aib nya, tapi dia sendiri begitu buntu. Bagaimana tidak, kalau ingin membalikkan kejahatan Arzan, mereka harus mengorek informasi tentang lelaki itu dan mencari-cari celah dari kesalahannya.
"Tidak perlu repot-repot turun tangan sendiri, aku sudah memerintahkan beberapa orang bawahan Daddy untuk memata-matai lelaki itu." timpal Kenzo dengan begitu santai. Sekarang tinggal menunggu waktu, akankah bawahnya itu mendapatkan kabar menarik untuk menjatuhkan nya. Karena dalam pikirannya sekarang dia bukan ingin menghancurkan perusahaan Prawira. Melainkan ingin mengeluarkan kekuasaan Arzan dari sana.
...*...
Sementara itu di ruangan yang di tinggali Shasa. Alice dan Jessica masih gelisah dan mondar-mandir menunggu Sahsa siuman, karena sekarang bukan jam pelajaran sekolah, petugas UKS sudah tidak berjaga di sana sampai membuat dua wanita itu kebingungan bagaimana cara membangun Shasa.
"Ayolah, Sha. Sebenarnya kau kenapa si, kenapa bisa pingsan coba." Jessica terus saja mengelus kepala wanita itu, bahkan sesekali mendekatkan aroma minyak angin di hidung Shasa untuk memancing kesadaran wanita itu.
"Apa kita bawa ke rumah sakit saja." Alicia berusaha memberi saran, Shasa pingsan cukup lama, bagaimana bisa mereka terus diam saja.
"Kita tunggu lima menit lagi, kalau masih belum siuman kita bawa ke rumah sakit."
"Astaga, Shasa. Akhirnya kau bangun juga. Kau tahu bagaimana khawatir nya kita." Jessica langsung berhambur memeluk wanita itu, Alicia sendiri langsung memberikan air minum, agar keadaan Shasa bisa lebih fit.
Shasa perlahan bangun untuk mendudukkan badannya, kembali memegang kepalanya yang masih terasa berat, separah-parah nya dia sakit dia tidak pernah sampai hilang kesadaran seperti ini. "Benar-benar hari yang begitu memuakkan." decak nya sambil menyandarkan punggungnya.
Alicia dan Jessica sampai begitu khawatir, "Sebenarnya kau sakiti apa, Sha? Ayo kita ke rumah sakit saja." ajak Alicia. Keadaan Shasa terlihat begitu lemas, tidak mungkin terus di biarkan begitu saja.
"Entahlah, setiap pagi aku tidak pernah sarapan dengan baik, perut ku selalu mual bahkan tadi pagi aku sampai muntah-muntah," tuturnya menceritakan, mungkin ini karena asam lambungnya yang kambuh, terlebih akhir-akhir ini dia terlalu sering bergandengan, "Mungkin aku masuk angin." timpal nya lagi.
Jessica sesaat terdiam, "Tunggu, kau bilang apa tadi? Mual muntah?" tanyanya dengan melebarkan mata, jangan sampai apa yang ada dalam pikirannya benar-benar terjadi dengan atasannya ini. Terlebih dia tahu bagaimana hubungan Shasa dengan teman lelakinya itu. "Kau tidak telat datang bulan, kan?" tanyanya untuk memastikan.
Deg... Shasa sampai terdiam. Mencerna apa yang Jessica tanyakan. "Argh....."
__ADS_1
Alicia yang kaget, "Kau gila, Jes. Jangan mengada-ada." Dia yang sewot sampai memukul punggung Jessica, tidak di perjelas pun dia sudah tahu maksud pembicaraan wanita itu.
"Aww, sakit tahu. Aku kan hanya bertanya saja."
Dua wanita itu kini kembali menatap Shasa, kenapa wanita itu masih diam, bahkan kini raut wajahnya terlihat tegang, "Sha, jangan bilang apa yang kita pikirkan itu memang benar? Kau tidak sedang hamil kan?" Jessica sampai mangap hampir tak percaya. Jangan bilang kalau Shasa memang sedang hamil. Terlebih ciri-ciri yang wanita itu sebutkan memang mengarah ke sana.
"Hamil?" Shasa sampai mengepalkan tangannya dengan begitu kuat, hal itu tidak pernah sedikitpun terbayang di pikirkan, kalau dia benar-benar hamil apa jadinya, bagaimana sekolah nya, bagaimana masa depan nya. Dengan membayangkan nya saja itu sudah membuat nya sesak. "Tidak, itu tidak boleh terjadi." dia sampai berdecak kesal, memukulkan kedua tangannya pada ranjang yang ia duduki. Kalau dia sampai hamil, berakhirlah sudah masa depan nya.
"Tenang, Sha. Coba cek pakai tespek dulu, siapa tahu kau mungkin hanya masuk angin saja."
...***...
Esok harinya.
"Hei, kenapa pagi-pagi begini kau sudah di sini?" Arzan sampai menyeringai, mempersilahkan Shasa untuk masuk, sungguh mengejutkan dia mendapati wanita itu sudah berdiri di depan pintu apartemen nya. "Kau merindukanku?" ucapnya sambil merangkul wanita itu dan menggiringnya ke sofa. Bahkan dia langsung menghimpit tubuhnya dan mulai mencium bibirnya.
"Stop!" Shasa langsung mendorong tubuh Arzan, bisakah lelaki itu lebih tenang, jangan terus tersulut gairah jika berdekatan dengannya. "Stop, Arzan!" Shasa sampai meninggikan suaranya, tapi percuma lelaki itu kini malah turun ke bawah mengecup lehernya. "Arzan stop, aku hamil." tuturnya dengan suara berat. Akhirnya Ia ungkapan juga apa yang dari tadi menjadi beban berat di hatinya.
"Apa?" Arzan sampai kaget, langsung menghentikan kegiatannya dan menatap wajah wanita itu.
"Aku hamil, Arzan. Aku hamil." jawabnya dengan penuh amarah, dadanya semakin sesak, setelah melihat hasil tespek dan menunjukkan kalau hasilnya positif dia langsung menemui lelaki ini, dia sudah hampir frustasi, mengetahui kenyataan yang terjadi, "Aku hamil, bajingan." decak nya sambil memukul dada Arzan. Ingin sekali dia meluapkan kekesalannya. Gara-gara lelaki ini, semuanya gara-gara lelaki ini, kesuciannya hilang, masa depan nya pun di ambang kehancuran.
"Argh, sial!" Arzan sampai kesal, bisa-bisanya dia kebobolan, "Tenang, Sha!" ucapnya sambil menghentikan pergerakan wanita itu yang terus memukulnya.
"Kau pikir aku bisa tenang? Aku hamil, Arzan, bagaimana sekolah ku hah? Bagaimana masa depan ku?" decak nya geram, air matanya sampai terjatuh, bisa-bisanya lelaki itu masih terlihat santai setelah apa yang telah di lakukan nya. Dia begitu suram, pikirannya buntu, bagaimana jika orang-orang mengetahui kehamilannya.
"Iya, aku tahu. Makanya tenang dulu." Arzan langsung meraih kedua pundak Shasa, bahkan dia langsung memeluknya untuk menenangkan wanita itu. "Siapa saja yang sudah mengetahui hal ini?" tanyanya sambil mengelus kepala Shasa. Tenang lah dulu karena dia akan memikirkan jalan keluarnya.
"Tidak ada, tidak ada yang tahu." lirihnya masih dengan terisak, dia tidak menyangka nasibnya berakhir seperti ini. Hatinya bagai hancur berkeping-keping, bagaimana dia harus menanggung malu jika orang-orang mengetahui ini.
"Ayo kita lakukan Aborsi," ajak Arzan masih dengan mendekap tubuh wanita itu, "Kita tidak boleh membiarkan janin ini tetap bersemayam di dalam rahim mu, Sha." tuturnya memberi saran.
__ADS_1
Shasa sampai tersentak dan refleks mendorong tubuh Arzan, "Aborsi?" hampir tak percaya. Dia memang tidak menginginkan kehamilan ini tapi tidak pernah membayangkan harus membunuh janin itu. "Kau gila,"
"Tidak ada cara lain, Sha. Bukan hanya kau yang akan di rugikan dengan kehamilan mu ini, aku juga akan terancam kalau Ayah Prawira sampai mengetahui ini."