
Karena sudah melihat keadaan Shasa, Kenzo langsung mengajak Tiara untuk segera keluar dari sana, berlama-lama melihat Shasa moodnya jadi kacau, ingin rasanya memberi pelajaran pada wanita itu, melihat hanya tangannya yang memakai gips rasanya kurang, kenapa gak sekalian aja kaki nya juga di pasang gips biar gak bisa jalan. "Ayo pulang, tadi kau hanya ingin melihat keadaan nya saja kan. Dia masih hidup, tenang saja." ajak Kenzo dengan datar, dari suaranya saja terdengar jelas kalau ia muak terus berada di sana.
"Tung--" Tiara ingin bicara tapi keburu terpotong oleh perkataan Shasa.
"Kalian mau pulang begitu saja? Tiara kau harus mengantar ku pulang!" pinta Shasa tanpa tahu malu. Dia berharap besar Kenzo akan mengantarkan nya pulang ke rumah. Dengan keadaan nya yang seperti ini Tiara tidak akan meninggalkan nya begitu saja dan wanita itu pasti akan meminta Kenzo untuk membantunya.
"Ken," Tiara langsung menatap Kenzo, meminta pendapat lelaki itu, jujur dia kasihan melihat keadaan Shasa, dengan keadaan seperti itu bagaimana wanita itu akan pulang ke rumah kalau dia tidak membantunya.
Kenzo langsung mengepalkan tangannya geram, ingin sekali membentak Shasa karena wanita itu tidak tahu malunya masih meminta bantuan pada orang yang sudah dicelakai nya. Sialnya dia harus tahan, tahan amarah karena menghargai Tiara.
"Maaf, adik belum bisa pulang sebelum walinya datang," salah satu suster memotong pembicaraan mereka.
Kenzo langsung menyeringai menemukan cara untuk kabur dari wanita itu tanpa membuat Tiara khawatir, "Akan ada Pak Arya yang akan membantunya, kita pulang saja." timpal Kenzo tidak mau memenuhi keinginan Shasa. Seenaknya saja meminta Tiara membantunya.
"Suster, Ayah saya tidak bisa datang karena sedang sibuk di kantor, bisakah saya pulang sekarang?" pinta Shasa dengan memohon, seolah berkata Tiara dan Kenzo harus membantunya karena Arya tidak bisa datang ke sana. "Tiara kau harus membantu ku!" pintanya lagi.
Tiara sampai serba salah, dia harus bagaimana, dia tidak mungkin mengabaikan Shasa, "Ken!" Tiara kembali menatap Kenzo, tatapan nya penuh harap. Untuk kali ini saja tolong bantulah Shasa, karena dia akan merasa bersalah jika mengabaikannya.
"Dengar! aku akan meminta bantuan Daddy agar paman mu itu bisa ke sini untuk membantu anaknya pulang, jadi jangan terus mengkhawatirkan nya, kita pulang sekarang!" ucap Kenzo dengan tegas, bahkan dia sampai mengelus kepala Tiara agar wanita itu mendengarkan perkataan nya. Jangan termakan omongan Shasa, wanita itu sengaja memanfaatkan kebaikan nya, untuk mempersulit dirinya. "Sus, pastikan pasien nya tidak kemana-mana sebelum walinya datang!" pintanya pada suster di sana, dia harus meyakinkan Tiara kalau sepupunya itu akan baik-baik saja tanpa bantuannya.
"Baik." jawab suster itu dengan sigap.
__ADS_1
Shasa sampai geram, kenapa tidak ada sedikitpun rasa simpati Kenzo padanya, apa sih kelabilan Tiara sampai wanita itu selalu saja lebih unggul dari nya, segala sesuatu yang seharusnya berpihak padanya kini di rebut oleh wanita kampung itu. "Akh, dasar menjengkelkan!" gumamnya kesal.
"Kita pulang sekarang?" tanya Kenzo lagi seolah dia memberi kebebasan, dia tidak akan pernah memaksa jika memang Tiara masih ingin terus di sana.
"Iya," Tiara langsung mengangguk, perkataan Kenzo benar, ada Arya yang merupakan Ayah nya, tanpa dia pun Shasa pasti baik-baik saja. Dia kembali melihat Shasa untuk berpamitan kepada nya. "Maaf Sha, aku harus pulang, semoga cepat sembuh." ucapnya dengan harapan baik, dia pun langsung melirik Alicia, di tinggal pun mungkin tidak apa-apa karena ada Alicia yang menemaninya, "Al, tolong jaga Shasa. Aku pulang dulu." pamitnya lagi.
Tiara langsung berbalik mengikuti langkah Kenzo, lelaki itu yang selalu menjaga nya, maka dia pun harus lebih patuh pada nya.
"Nathan, mau pulang bareng? ada yang harus ku bicarakan," pinta Kenzo sambil melihat ke arah Jonathan, karena lelaki itu sudah minta maaf, tidak ada salahnya jika dia memperbaiki hubungan pertemanan mereka.
"Apa tidak apa-apa?" timpal Jonathan kaget, dia malah yang malu sendiri. Kenzo masih mau mengajaknya padahal dia sedang bersama Tiara, apa lelaki itu tidak takut kalau dia akan mengambil wanitanya.
Tiara sampai melebarkan mata, refleks mencubit lengan Kenzo, bisa-bisanya lelaki itu begitu percaya diri sampai menggunakan kata itu untuk di jadikan candaan. "Kau!"
"Kenapa? kenyataannya begitu kan?" timpal Kenzo sambil meledak Tiara, padahal dia tidak pernah tahu bagaimana perasaan wanita itu padanya.
Jonathan sampai terkekeh, melihat tingkah mereka, itulah Kenzo yang dia kenal, sosok angkuh yang tidak mudah di kalahkan.
"Ayo!" ajak Kenzo lagi. Mereka bertiga langsung pergi keluar klinik dengan berjalan beriringan.
Formasi yang enak di pandang, Kenzo berjalan di tengah, Tiara di sisi kiri nya sedangkan Jonathan berjalan di sini kanannya, sungguh hal yang tidak pernah terduga, Tiara sampai tersenyum senang melihat kedua lelaki itu kembali dekat seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Kita mau ke mana?" tanya Tiara penasaran, jika dua lelaki itu mau bicara apa tidak apa-apa dia ikut bersama mereka.
"Jangan banyak tanya, ikuti saja." timpal Kenzo datar. Dia sampai tersenyum tipis melihat ekspresi cemberut Tiara karena dia tidak menjawab pertanyaannya.
Baru berjalan beberapa langkah dari pintu keluar klinik, mereka bertiga sudah di sambut oleh Arzan yang dari tadi mengunggu Jonathan keluar.
"Wah, wah. Dari tadi aku mencari mu ternyata kau di sini!" ucap Arzan dengan girang, dia tersenyum lebar menyambut mereka bertiga, ternyata tidak salah murid di sekolah tadi memberi tahu di mana Jonathan, adik nya itu benar-benar berada di sini bahkan sedang bersama Kenzo dan wanita yang tadi, "Rupanya kalian benar benar akrab ya." ucapnya lagi, bibirnya bicara apa, matanya melihat ke arah mana.
Kenzo sampai langsung menggenggam tangan Tiara, "Dia lagi," gumam nya kesal, lebih kesal lagi tatapan mata lelaki itu sungguh tidak sopan sampai terus memperhatikan Tiara. Jonathan yang sadar dengan tingkah Arzan jadi malu sendiri. Kakak angkat nya itu benar-benar sudah memancing kekesalannya.
"Pulang lah, aku bisa pulang sendiri. Aku ada urusan!" titah Jonathan dengan cepat dan tegas, dia tidak ingin membuat Kenzo kesal karena lelaki itu terus memperhatikan wanitanya.
"Wah, kalian sampai melihat ku sinis seperti itu. Apa kalian bodyguard wanita ini sampai menjaganya dengan begitu ketat?" ledek Arzan dengan senyuman yang penuh hinaan, "Aku malah semakin tertarik pada nya." ucap nya lagi dengan begitu santai, tatapan tajam Kenzo dan Jonathan membuatnya malah semakin tertantang, seberapa istimewanya wanita itu sampai mereka berdua terlihat begitu kesal hanya karena dia menatap nya saja. "Mau berkenalan dengan ku?" pinta nya pada Tiara.
Kenzo yang sudah geram, benar-benar naik pitam, lelaki di depannya ini tidak bisa di biarkan, dia ingin maju tapi Tiara menghentikannya sambil menggelengkan kepala. "Abaikan saja." bisik nya berusaha meredam emosi Kenzo.
"Maaf ya Om. Kita ada urusan, entah apa maksud anda bilang tertarik pada saya, tapi saya tidak pernah tertarik dan tidak mau berurusan apalagi berkenalan dengan Om-om. Jadi maaf, kita permisi." tutur Tiara dengan senyuman yang di buat-buat, nada bicara terdengar begitu tegas. Bahkan dia memperjelas kata 'Om.' Agar lelaki itu tidak pernah lagi mengganggu nya. Seolah berkata bermain lah dengan wanita sebaya nya, jangan terus mengganggu nya karena dia tidak pernah nyaman saat melihatnya.
"Om!" Arzan kaget.
Jonathan dan Kenzo sampai terkekeh, di sekak mati dia oleh Tiara, sampai di tolaknya mentah-mentah. "Pulang lah dengan selamat, Om Arzan!" ledek Kenzo dengan menyeringai, menepuk pundak lelaki itu dan melangkah pergi dari hadapannya sambil menggenggam tangan Tiara.
__ADS_1