
Waktu masih pagi, matahari pun terlihat belum memancarkan sinar nya. Di arah dapur di sebuah rumah kecil, terlihat Tiara sedang berkutat menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami.
Beruntung saat di kota para pelayan menyiapkan satu bok besar berisi bahan makanan untuk pembekalan disini, jadi Tiara tidak harus repot-repot berbelanja bahan makanan, terlebih di kampung seperti ini susah membeli perlengkapan bahan makanan tidak selengkap seperti di kota.
Di arah lain di sebuah kamar, Kenzo terlihat masih berbaring tidur, terbalut selimut tebal menghalangi udara dingin pagi ini yang menyelusup ke seluruh tubuh nya. Lelaki yang terbiasa hidup dalam kemegahan kini terbaring pulas di sebuah ranjang kecil di kamar yang terbilang sangat sempit.
"Sayang." Bibirnya mulai bergumam, tangan bergerak mencari keberadaan sang istri tapi hanya sebuah guling yang ia dapati. "Dia sudah bangun." gumamnya sambil perlahan membuka mata. Di masih enggan bangun, kembali menarik selimut tebal itu untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Pengalaman yang tidak terkira, Kenzo benar-benar bisa tidur pulas hanya beralaskan sebuah tempat tidur sederhana. Tidak begitu empuk dan luas seperti tempat tidur nya, bahkan tidak ada penghangat ruangan seperti dikamar nya, hanya bermodalkan tubuh Tiara, dia bisa terlelap dalam sebuah kehangatan yang nyata.
Harum sebuah masakan mulai tercium, Kenzo yang awalnya masih mengantuk langsung menggeliat bangun dan bergegas keluar kamar.
"Dia sedang memasak." gumamnya dengan tersenyum kecil, pemandangan baru yang menyejukkan hati, pagi-pagi di sambut aroma harum makanan yang disiapkan sang istri. "Dari belakang saja dia terlihat cantik," gumamnya lagi, begitu kagum melihat Tiara dengan sebuah celemek yang di kenakan nya, terlebih rambut panjang nya yang di kuncir kuda membuat gadis itu semakin mempesona. Dia pun langsung berjalan pelan menghampirinya.
"Pagi, sayang!" bisik nya saat tangan itu sudah melingkar di pinggang Tiara, berdiri di belakang wanita itu sambil menyandarkan kepala di pundaknya.
"Sayang!" Tiara sampai kaget, begitu menoleh pipinya sudah di sambut kecupan sang suami. "Tidur mu nyenyak?" tanyanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Biarlah bayi besar itu terus memeluk dan bersandar di pundaknya, dia akan kembali membereskan makanan nya agar mereka bisa langsung sarapan.
"Berkat mu, tidur ku sangat nyenyak." timpal Kenzo dengan tersenyum kecil, dia kira Tiara akan terganggu tapi istrinya itu masih terlihat lihai meski dia menempel di punggungnya, "Rupanya kau pintar dalam segala hal." pujinya sambil menghirup aroma tubuh sang istri. Jika tadi tercium aroma makanan kini aroma harum tubuh Tiara lebih mendominasi. "Ternyata aroma harum yang memasak lebih menggoda." celetuknya terus bicara.
Tiara sampai tertawa kecil, ada-ada saja tingkah suaminya ini, "Mandi dulu sana! Sebentar lagi sarapannya siap." titahnya sambil mengelus pipi Kenzo.
"Mandi bareng saja yuk!" ajak Kenzo dengan begitu antusias. Sepertinya mandi bersama akan lebih menyenangkan.
"Duluan saja, aku harus membereskan ini dulu." tolak nya tidak bisa.
Sontak Kenzo langsung melepaskan pelukannya, dan berdiri tegak di samping Tiara. "Apa yang harus ku bantu?" pintanya dengan begitu antusias. Apapun itu dia akan melakukannya agar persiapan sarapan bisa segera selesai dan mereka bisa mandi bersama.
"Tidak usah, aku bisa membereskannya sendiri."
Meski di tolak Kenzo tidak mau hanya melihat saja, dia benar-benar bergerak cepat langsung mengambil sebuah mangkuk dan memberikannya pada sang istri, "Ini!" ucapnya saat Tiara sudah mematikan kompor saat menu sarapan nya sudah matang. "Apa lagi, apa aku harus menyiapkan pirang?" ucapnya lagi menawarkan.
Tiara hanya tersenyum kecil, belum juga dia jawab, Kenzo sudah melangkah pergi menuju rak piring, dan langsung menyiapkan dua piring di atas meja makan, "Terima kasih," tuturnya senang, mau bagaimana lagi dia menolak pun lelaki itu bersikeras untuk membantunya.
"Sudah beres kan, ayo mandi bareng!" ajak nya lagi sambil melepas celemek di tubuh sang istri, bahkan dengan cepat membopong tubuh itu dan langsung berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Kenzo!" Tiara sampai kaget.
Kenzo sendiri hanya cengengesan tidak mempedulikan rengekan Tiara, "Jangan banyak gerak, kita harus bergegas karena harus ke makam kan." tuturnya dan bergegas membuka pintu kamar mandi. Judulnya saja sih mandi, tapi entah apa yang akan terjadi di dalam nanti.
...----------------...
Beberapa jam berlalu, waktu hampir jam sepuluh pagi, pasutri itu kini sudah siap dengan pakaian serba hitam untuk berjiarah ke makam keluarga Tiara, agenda yang seharusnya pergi pagi-pagi malah di undur karena mereka membutuhkan waktu yang cukup lama saat membersihkan tubuh mereka, bukannya mandi, dua insan itu malah bercanda ria di dalam kamar mandi, entah apa yang mereka lakukan, yang jelas butuh waktu satu jam mereka menghabiskan waktu di dalam sana.
Tiara sesaat mematung, matanya melihat penampilan Kenzo dari atas sampai bawah, lelaki itu terlihat begitu tampan dengan style nya sekarang, "Dia benar suamiku?" gumamnya sambil menatap Kenzo dengan begitu kagum, masih berasa seperti mimpi mempunyai suami setampan ini, bak sosok pangeran di negeri dongeng, suaminya itu terlihat begitu tampan, terlebih busana serba hitam itu membuat nya terlihat begitu mencolok karena kulit putih nya terlihat semakin bersinar.
"Menuju pemakaman harus jalan kaki, apa tidak apa-apa?" tanyanya ragu, medan yang akan mereka lewati jalanan tanah, dan mungkin jalanan itu pasti akan begitu kotor dan becek. Itu pasti akan mengotori sepatu mahal yang sedang di kenakan suaminya.
"Tidak apa-apa, ayo!" ajak nya sambil meraih tangan Tiara dan bergegas keluar rumah. Apalah arti sebuah jalan kaki kalau yang akan dia tuju sebuah restu.
Langkah demi langkah terlewati, rumah-rumah kecil di pinggiran jalan setapak sudah mereka lalui. Tiara sesekali menatap Kenzo memastikan keadaannya, apa suaminya itu merasa nyaman dengan keadaan seperti ini, berjalan di pinggiran kampung merupakan hal baru membuatnya merasa kasihan, terlebih dari tadi banyak warga kampung yang terus memperhatikan mereka terutama pada suaminya, yang notabenenya seorang warga asing di sana.
"Euleh-euleh, Neng Tiara, iye teh? Bade ka mana Neng?" (Wah, Neng Tiara ini ya? Mau ke mana Neng?")
"Neng Tiara mani geulis pisan ayena mah." (Neng Tiara cantik sekali sekarang mah,)
Beberapa orang warga menyapa dan menghentikan perjalanan Tiara, mereka begitu terkejut saat melihat gadis kampung itu kembali ke sini, bukan hanya gosip belaka, berita yang sudah beredar luas memang benar adanya, Tiara yang dulu kini terlihat lebih cantik bahkan menggandeng suami tampan bak artis papan atas.
Tiara langsung tersenyum menyapa mereka, dan perlahan mendekat menyalami semuanya bergantian. "Muhun, Bi. Iye caroge Tiara." (Iya, Bi. Ini suami, Tiara.) timpal nya sambil merangkul lengan Kenzo memperkenalkan suaminya itu. Dia bahkan harus berbicara dengan bahasa sudah mengimbangi pembicaraan mereka. "Abi teh bade ka makam, Nenek." (Aku mau ke makam, Nenek.) timpal nya lagi menjawab pertanyaan mereka.
Kenzo hanya menggaruk tengkuknya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, "Bahasa apa itu?" gumamnya heran, walau begitu dia ikut tersenyum menyapa ibu-ibu yang sedang menatapnya dengan senyuman.
"Abong urang kota nya, mani kasep. Neng mani untung gaduh caroge teh, tos kasep benghar deui, sasaha hoyong atuh gaduh minantu cara kieu." (Namanya juga orang kota ya, tampan sekali. Neng beruntung punya suami, sudah ganteng, kaya lagi. Siapa pun pasti mau punya menantu sepertinya.")
Ibu-ibu itu terus bicara. Kenzo lagi-lagi hanya bisa diam dan menjadi pendengar setia tanpa tahu apa yang mereka bicarakan.
"Hatur nuhun, Bi." (Terima kasih, Bi.) Tiara langsung tersenyum dan mengangguk. Walau terkesan berlebihan tapi perkataan ibu-ibu itu memang kenyataannya.
"Apa yang mereka bicarakan?" Tidak ingin jadi pendengar yang tidak tahu apa-apa, Kenzo sampai berbisik-bisik, Tiara enak bisa bercengkrama dengan mereka, tapi dia, dia sudah di buat pusing karena tidak mengerti sedikitpun apa yang mereka bicarakan.
Tiara sampai tersenyum kecil, memaklumi Kenzo yang tulen anak kota pasti tidak mengerti sedikitpun dengan bahasa sudah. "Kata mereka aku beruntung punya suami seperti kamu, kamu memang contoh menantu idaman yang sempurna," jawab nya dengan tersenyum lebar, perkataan ibu-ibu itu memang benar, dia sendiri juga hampir tidak percaya, merantau ke kota malah mendapatkan jodoh lelaki yang begitu sempurna, dan yang lebih membuatnya beruntung lagi karena lelaki itu begitu menyayangi nya.
__ADS_1
Kenzo sampai tersenyum kecil dan langsung mengelus kepala Tiara, pantesan istrinya itu terlihat begitu berbinar saat bercengkrama dengan mereka, ibu-ibu itu rupanya sedang memuji hubungan mereka.
"Kenalan atuh kasep. Saha namina?" (Kenalan dong ganteng, siapa namanya?) Tanya salah satu ibu-ibu itu penasaran, kali-kali kan mereka bisa bercengkrama dengan orang kota yang memiliki pasar yang sangat tampan.
Tiara langsung berbisik mengartikan apa yang mereka katakan agar suaminya sendiri yang bicara. "Mereka bertanya siapa namamu?"
Kenzo langsung menatap ibu itu dengan senyuman, "Kenzo, Bi." jawabnya memperkenalkan diri.
Sontak ibu-ibu itu langsung berbinar, bak di sapa seorang artis, hati mereka jadi meloyot kegirangan.
"Ampun, si kasep mani sopan kitu. Bungaheun atuh Neng Nenek, gaduh incu nikah ka pameget anu kasep bari jeng sopan." ( Duh ganteng, sopan sekali. Nenek pasti bahagia Neng mempunyai cucu yang menikah dengan lelaki yang tampan dan juga begitu sopan.) timpal ibu itu kembali memuji.
Tiara kembali tersenyum lebar, dan mengartikan apa yang ibu itu katakan. "Katanya kamu pemuda yang baik, mereka bilang; Nenek juga pasti akan bahagia karena aku menikah dengan lelaki baik seperti mu." tuturnya menjelaskan.
"Terima kasih, Bi." Kenzo menimpali, ikut tersenyum senang, karena itu yang dia harapkan, walau sang Nenek yang menjadi sosok orang tua Tiara sudah tidak ada, dia ingin membuktikan kalau dia lelaki yang akan membahagiakan cucu nya.
...----------------...
Di sebuah pemakaman yang tidak terbilang luas, tempat peristirahatan terakhir sebuah jiwa yang telah berpisah dengan raga; Tiara dan Kenzo terlihat di antara kuburan-kuburan itu, duduk bersebelahan saling bersandar satu dan lainnya.
"Nek, Tiara kembali menjenguk Nenek." ucap gadis itu, Tiara terduduk lemas, tangannya langsung mengelus sebuah batu nisan yang merupakan tempat peristirahatan terakhir sang Nenek. Sedih, rasanya waktu bergulir dengan begitu cepat, setelah neneknya pergi meninggalkannya seorang diri, dan menyuruhnya merantau ke kota, akhirnya dia kembali mengunjungi makam sang nenek setelah sekian lama. "Terima kasih, berkat Nenek tidak mengijinkan Tiara tinggal sendiri di kampung, Tiara di pertemukan dengan lelaki baik hati yang kini sudah menjadi suami, Tiara." tuturnya dengan kelu. "Iya, ini Kenzo, dia suamiku, Nek." lirihnya.
Iya, inilah tujuan nya mengunjungi makam sang Nenek, dia ingin memperkenalkan suaminya, sosok lelaki yang hadir bagai embun yang menyegarkan hari-harinya, selalu ada di sampingnya dan selalu menjadi sandaran ternyaman saat dia lelah dan lemah. "Aku sangat mencintai nya." tutur lagi, bibir seolah bicara pada sang Nenek tapi mata menatap sendu sosok lelaki itu.
Kenzo sendiri sampai tersenyum, membalas tatapan mata wanita itu dengan begitu hangat, "Terima kasih, sayang." balasnya dengan tangan mengelus kepala Tiara.
Matanya kini kembali menatap batu nisan itu. "Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untuk cucu Nenek. Dan terus membahagiakan nya." tuturnya dengan penuh tanggung jawab, tangan kembali menaburkan kelopak bunga di atas makam itu. Begitu besar rasa terima kasihnya, kepada sosok wali yang selalu menjaga dan menyayangi Tiara setelah kedua orang tuanya tiada. "Terima kasih telah membesarkan Tiara hingga menjadi wanita cantik dengan segala kelebihan yang dia miliki, aku pasti akan menjadi lelaki yang paling beruntung karena bisa menikahi dan menjadi sosok suami untuk nya." ucapnya lagi. Berkat cucunya itu dia bisa mengerti apa itu cinta dan hidup dengan penuh warna. "Tenang lah di sana, karena cucu Nenek sudah menjadi tanggung jawab ku sekarang, aku berjanji akan terus menyayangi dan membahagiakan nya."
Di sinilah, janji suci Kenzo lontarkan untuk sang istri, batu nisan itu yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka yang berakhir bahagia. Walau begitu banyak masalah yang mereka lalui, inilah buah yang mereka dapati, hidup saling melengkapi, berjanji untuk hidup bersama sampai mati.
Tidak perlu berkecil hati jika masalah bak ombak laut yang terus menerpa kita tanpa henti, perlahan surut tapi terus kembali, yakinlah sesulit apapun hidup mu, seberapa rumit masalah mu, ada hikmah di balik semua masalah, ada pembelajaran di setiap ujian, karena masalah akan selalu ada tapi yakinlah setelah masalah akan hadir kebahagiaan yang tidak pernah terkira.
...The End...
Lanjut kisah mereka di judul baru ya. Judulnya "Sang Pewaris"
__ADS_1