
Kenzo dan Tiara berjalan membelah lorong koridor sekolah, masih kesal dengan sikap Arzan, Kenzo sampai terus menggenggam tangan Tiara tanpa ada niatan untuk melepaskannya. "Dia lebih menyebalkan dari yang ku duga." gumamnya kesal.
"Ken, murid yang lain terus memperhatikan kita, bisa lepaskan tanganku!" bisik Tiara tidak nyaman. Ingin melepaskan genggaman tangan Kenzo tapi lelaki itu malah mempererat genggamannya.
"Tidak perlu memperdulikan mereka, toh mereka sudah tahu kau, pacar ku." jawab Kenzo dengan begitu santai. Persetan dengan tanggapan orang-orang, dia hanya butuh ketenangan. Rasanya ia ingin mengistirahatkan tubuhnya karena pagi-pagi begini dia sudah menguras banyak emosi. Ingin segera masuk kelas tanpa ada hambatan yang akan menghalangi jalan mereka.
Belum juga bernafas lega, yang di khawatirkan benar-benar terlihat di depan matanya, Shasa terlihat sama-sama akan masuk kelas bersama kedua temannya. Tanpa pikir panjang Kenzo langsung menarik tangan Tiara, menghimpitnya di dinding agar Mak lampir itu tidak melihat keberadaan mereka. Sungguh dia ingin sekali menghindar dari wanita itu,
"Sial, bahkan aku tidak pernah main kucing-kucingan seperti ini sebelumnya." gumamnya kesal. Dia sampai refleks menutup bibir Tiara karena wanita itu terkejut dengan tingkah nya yang tiba-tiba. "Diam lah, aku tidak ingin sepupu mu melihat kita." pintanya dengan berbisik, sambil melihat keadaan. Setelah di rasa Shasa sudah pergi jauh, dia kembali melihat Tiara dan menurunkan tangan nya. "Se-kaget itukah?" gumam nya saat sadar melihat ekspresi Tiara yang sudah melebarkan mata menatap nya.
"Kenzo! Kau bikin kaget saja," omel Tiara, sambil memukul pelan dada bagai lelaki itu, debaran jantungnya sampai berdegup kencang, bukan karena kaget, tapi karena tubuh lelaki itu yang menempel sempurna di tubuhnya. "Apa Shasa sudah pergi?" tanyanya mulai gugup. Seolah bertanya akan sampai kapan lelaki itu terus menghimpitnya.
Kenzo sampai tersenyum kecil, melihat ekspresi Tiara dia malah tertarik untuk menggoda nya, "Belum," jawabnya singkat, jauh dari kenyataan. Sedikit berbohong saja agar dia terus di posisi seperti sekarang untuk mengerjai gadis ini.
"Bisa kau memundurkan tubuhmu, kau selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan, Kenzo." decak Tiara kesal, hanya melihat ekspresi nya saja dia sudah tahu kalau lelaki itu sedang mengerjai nya.
__ADS_1
Kenzo sampai terkekeh, "Ck....Kau cukup pintar," timpalnya sambil mengelus kepala Tiara, dia harus mundur jika tidak wanita itu akan masuk ke mode galak. "Tetap lah di sini sampai bel berbunyi, aku tidak ingin berurusan dengan dia sebelum wali kelas masuk." pintanya lagi, dia langsung mengubah posisi dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Lebih baik menghindari dari pada memenuhi keinginan Arya yang jelas-jelas itu sangat memuakkan.
Kenzo dan Tiara masuk kelas, kedatangan mereka sontak membuat semua pasang mata langsung tertuju pada mereka, terutama Shasa. "Tahan, Sha! Kau hanya perlu bersikap manis." gumam Shasa menguatkan dirinya sendiri. Ingin menghampiri mereka tapi wali kelas sudah masuk. Membuat dia harus terus duduk di bangku nya.
Kenzo langsung duduk, menyandarkan punggungnya di kursi, akhir-akhir ini hari-harinya terasa melelahkan, karena banyak sekali beban yang dia pikirkan. Kalau saja tidak ada tunangannya yang harus ia awasi, dia ingin sekali bersantai di basecamp nya dan melewatkan jam pelajaran pagi ini.
Pak guru langsung duduk di meja nya, dia perlahan mengeluarkan kertas ujian untuk ia bagikan pada murid-murid nya.
"Pak kok ujiannya di jam pagi? biasanya juga di jam pelajaran siang." ucap protes salah satu murid yang belum siap untuk melaksanakan ujiannya.
"Ujian kali ini berbeda, ini adalah babak kualifikasi, sekolah harus memilih beberapa murid untuk di ikuti sertakan dalam perlombaan cerdas cermat." jawab sang guru menjelaskan, dia langsung memberikan kertas-kertas ujian itu pada semua muridnya.
"Lomba kali ini berbeda, sekolah membutuhkan dua pasangan putra dan putri untuk ikut lomba, dan perlombaannya pun di laksana di luar kota, makanya sekolah harus memilih murid yang terbaik agar tidak mengecewakan." tutur guru lagi. Sekolah memang sudah bisa memilih siapa yang harus di berangkat kan, tentunya pasti Jonathan dan Kenzo yang akan jadi utusan dari putra, tapi sekolah belum bisa menentukan satu putri lagi selain Shasa, mereka harus menggelar kualifikasi untuk menemukan siapa yang pantas, barulah sekolah akan mengelompokkan keempat murid itu menjadi pasangan putra putri.
"Lomba nya kapan Pak?" tanya murid yang lain penasaran.
__ADS_1
"Senin dan Selasa nanti, lombanya di adakan dua hari, jadi untuk siapa pun yang akan terpilih, bersiap lah untuk berangkat ke kota A di hari Minggu sore, sekolah sudah menyiapkan hotel untuk menginap gratis selama perlombaan itu di laksanakan." tutur guru itu lagi menjelaskan.
"Pasangan?" Kenzo sampai mengulang kata itu, berpikir cukup lama, sekolah pasti akan meminta nya untuk ikut, menolak pun percuma, tapi siapa yang akan jadi pasangannya nati?
dia langsung melirik Tiara ingin tahu tanggapan Tiara mengenai lomba itu. "Hei!" panggilnya sambil mencolek pipi Tiara dengan pensilnya, dia ingin wanita itu menatap dirinya.
"Kenzo," Tiara kaget, bisa-bisanya lelaki itu mengerjai nya di waktu seperti itu. "Ada apa?" tanyanya heran sambil menatap Kenzo.
"Kau tertarik dengan lomba itu?" tanya Kenzo memastikan, pensilnya belum ia lepaskan, jika tadi mencolok pipi Tiara kini pensil itu bergerak merapihkan rambut depan Tiara agar dia bisa lebih jelas menatap wajah cantik itu.
Tiara yang terbiasa dengan perlakuan Kenzo sampai tidak sadar, dia hanya menganggukkan kepala mengiyakan kalau dia begitu tertarik dengan perlombaan itu, "Iya, aku ingin ikut perlombaan itu," jawabnya antusias, kapan lagi kan dia bisa jalan-jalan keluar kota gratis, bahkan kalau dia bisa ikut mungkin itu pengalaman pertama nya setelah hidup di kota.
"Ck... Bukan kau kalau tidak tertarik dengan hal seperti itu," timpal Kenzo sudah bisa menebak, kalau sekolah memaksakannya untuk ikut lomba, maka dia harus memastikan Tiara untuk jadi pasangannya. Sepertinya tidak terlalu buruk juga toh perlombaan itu di laksanakan setelah pernikahan mereka.
Soal ujian sudah ada di depan semua murid, Pak guru pun langsung menyuruh mereka untuk bergegas mengisi kertas ujiannya.
__ADS_1
Tiara sudah mulai mengisi kertas ujian itu, tapi detik selanjutnya tangan Kenzo langsung mengambil kertas ujiannya. "Ken?" tanyanya heran. Apa yang akan lelaki itu lakukan.
"Diam lah! Aku tahu kau pintar, tapi aku tidak bisa memastikan kau akan di pasangkan dengan siapa. Biar aku yang mengisi kertas ujian mu." timpal Kenzo dengan begitu santai. Kemungkinan Tiara untuk terpilih memang besar, tapi dia harus memastikan Tiara menjadi pasangan nya bukan malah bersama Jonathan atau sebaliknya. Dia harus melakukan sesuatu agar mereka bisa di pasangkan di lomba nanti.