
Di sebuah cafe, di pusat kota, di sini lah Kenzo bersama Jonathan dan Tiara berada, tempat yang pas untuk nongkrong sambil membicarakan hal-hal yang harus Kenzo sampaikan pada Jonathan.
Dua laki-laki itu terlihat berbincang, sedangkan Tiara mulai menyantap makanan yang sudah Kenzo pesan. Menu cafe dari mulai yang manis sampai yang pedas tersaji di atas meja, minuman dingin dari yang biasa sampai yang full whip cream sama-sama tersaji, bak sogokan keras untuk Tiara agar gadis itu duduk diam, saat mereka membahas pembicaraan nya.
"Akh, ini terlalu banyak, mana bisa aku menghabiskan nya," gumam Tiara dengan mulut yang mulai penuh dengan makanan, matanya sesekali melihat Kenzo yang sedang asyik berbincang dengan Jonathan, "Mereka membicarakan apa sih?" gumamnya lagi tidak mengerti. Dia benar-benar menjadi nyamuk di antara dua laki-laki itu. Tidak mau ambil pusing dia pun kembali menyantap makanan nya. Terserah mereka akan berbincang sampai kapan, asalkan perutnya kenyang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kenzo memastikan. Itulah kata yang dari kemarin ingin dia katakan pada Jonathan.
"Seperti yang kau lihat, Arzan sudah kembali, Ken. Dia kembali dengan kemampuan yang di milikinya, aku tidak bisa melawannya." keluh Jonathan menjelaskan. Dia sampai mengusap wajahnya. Iya mungkin inilah nasibnya, menjadi putra keluarga kaya tapi posisinya di ambil oleh orang yang bahkan tidak ada hubungan darah dengan nya.
"Kenapa putus asa begitu, masa depan mu masih panjang, kau hanya perlu melanjutkan kuliah, dan setelah itu kau bisa kembali dengan kemampuan yang lebih dari ini, kau bisa merebut apa yang seharusnya menjadi hak, mu." timpal Kenzo menasehati, mungkin karena Jonathan kurang kasih sayang, mentalnya menjadi cukup lemah, lelaki itu butuh support untuk menyemangati nya.
"Thanks, memang kebodohan besar aku berani menyerang, mu." ucap Jonathan dengan tertawa miris, dia benar-benar malu padahal hanya lelaki itu yang selalu mengerti tentang dirinya.
"Syukurlah kalau kau mengakui nya, maka aku bisa dengan mudah menghukum mu." timpal Kenzo dengan tersenyum jahil. Jika Jonathan telah berani melawannya, maka terimalah konsekuensinya.
"Iya, aku tahu itu. Kau orang kejam yang akan menghukum seseorang yang telah mengusik mu." sahut Jonathan dengan tertawa, dia jadi penasaran apa yang akan Kenzo lakukan pada nya.
"Hukuman mu cukup mudah, ini juga untuk kebaikan mu sendiri, berusaha bujuk Ayah mu, yakinkan dia kalau Arzan salah melangkah dalam mengambil alih perusahaan, jangan pernah berani melawan perusahaan Wijaya jika perusahaan kalian ingin baik-baik saja." tutur Kenzo dengan begitu tegas, terserah lelaki itu akan curiga atau tidak karena dia tiba-tiba membahas keluarga Wijaya, dia hanya ingin berusaha meringankan beban sang Daddy, agar bisa lebih mudah membereskan masalahnya. Jika bisa berdamai apalagi bekerjasama kenapa tidak kan?
Jonathan sampai tertegun, dia tidak mengira sedikitpun Kenzo akan memberikan hukuman seperti itu, ingin bertanya tapi percakapan mereka terpotong karena Tiara tiba-tiba terbatuk-batuk tersedak makanannya.
"Tiara, kau bisa kan makan pelan-pelan, tidak ada orang yang akan mengambil makanan mu, kenapa buru-buru sekali!" Kenzo langsung mengomel, mengambil air minum dan memberikan nya pada Tiara. Wanita itu refleks mengambilnya dan meneguknya dengan cepat.
__ADS_1
"Yang ini rasanya aneh, Ken. Makanya aku tersedak." jawab Tiara dengan begitu polos memberi alasan, dia sampai mengelus dada memulihkan nafasnya.
"Dasar bodoh, kalau tidak suka jangan di makan!" omelnya lagi. Walau bibir bicara pedas tapi tangannya bergerak cepat mengelus punggung wanita itu untuk meredakan batuk-batuk nya.
"Aku kan baru pertama kali mencobanya, jadi tidak tahu rasanya tidak enak seperti itu." kilah Tiara kembali mencari alasan. Bukan dirinya yang ceroboh, tapi makanannya yang salah.
Kenzo sampai gelang kepala, dia baru ingat kalau ternyata tunangannya itu seorang gadis kampung, yang lidahnya memang belum terbiasa dengan makanan-makanan kota. "Dasar kau. Habiskan makanan yang kau suka saja." titahnya dengan tersenyum kecil. Pembicaraan nya dengan Jonathan harus berhenti karena ulah wanita ini.
...*...
Ze duduk di ruang tamu rumah dengan gelisah, dia sedang menunggu putra dan putrinya pulang sekolah, dia menjadi tidak tenang mendengar Tiara yang katanya baru jatuh dari tangga.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Ze langsung mendekat, tatkala putra putrinya masuk rumah, langsung memeluk Tiara dan melihat keadaan gadis itu. "Katanya kau jatuh dari tangga, mana yang sakit, Nak." tanyanya lagi dengan begitu khawatir. Dia sampai melihat bagian tubuh Tiara takut ada luka di sana.
"Aku baik-baik saja, mom. Tadi kaki ku hanya keseleo dan sekarang sudah sembuh," sahut Tiara dengan senyuman, kalau dia tidak menjelaskan dengan cepat, Ze pasti akan semakin berlebihan mengkhawatirkannya.
"Mom, sakit mom. Aku kan tidak bisa dua puluh empat jam menjaganya." keluh Kenzo mencari alasan, dia sudah mengira respon mommy nya akan seperti itu jika tahu Tiara terluka.
"Mom!" Tiara yang kaget, dia ingin membela Kenzo karena lelaki itu tidak salah. "Aku yang ceroboh, mom!" jelasnya lagi sambil berusaha melepaskan tangan Ze dari telinga Kenzo, dia jadi tidak tega melihat Kenzo malah terkena omelan Mommy nya.
Ze sampai tertegun, tidak mengira Tiara akan sampai segitunya membela putranya, membuatnya semakin terharu saja, dia malah berpikir ingin kembali mengetes Tiara, dengan memukul lengan putranya, "Kamu membela anak nakal ini?" tanya nya dengan sedikit bersandiwara, wajah terlihat sangar tapi hati sudah cengengesan.
"Mommy, Kenzo tidak salah. Dia sudah menjagaku dengan baik, aku nya saja yang ceroboh. Jangan memukulnya lagi!" seru Tiara dengan nada bicara sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Dia sampai memasang wajah kecewa, masa dia yang ceroboh Kenzo yang kena marah.
__ADS_1
Kenzo sampai tertegun, apa wanita itu membelanya? dia sudah terbiasa mendapat omelan seperti ini dari sang Mommy, jadi dia merasa tidak apa-apa.
Ze yang bersandiwara langsung memeluk Tiara, memang tidak salah menjodohkan mereka, dia hampir tidak percaya, rupanya ada masa di mana akan ada seorang wanita yang mengkhawatirkan keadaan putranya, dan hari ini dia sudah melihatnya sendiri, dia begitu senang sampai rasanya tidak ingat melupakan momen ini, "Iya, mommy percaya. Makanya untuk kedepannya kamu harus hati-hati. Kalau kamu kenapa-kenapa mommy akan menghukum anak nakal itu lagi." ucapnya sambil mengelus kepala Tiara. Seolah meminta Tiara agar selalu ada untuk putranya.
Tiara yang ada di pelukan Ze, langsung mengangguk mengerti, "Iya, aku akan berhati-hati, Mom." jawab Tiara dengan cepat.
Kenzo yang melihat tingkah dua wanita itu hanya bisa diam tanpa kata, "Ada-ada saja," gumamnya heran, sebenarnya yang putra mommy nya dia atau Tiara, kok mommy nya terlihat lebih sayang pada wanita itu daripada pada nya.
Ze kembali melepaskan pelukannya, menatap Tiara sambil mengelus pipinya, "Kamu besok izin sekolah saja, mommy tidak mau kamu kenapa-kenapa dan pernikahan kalian jadi tertunda," tutur Ze dengan begitu khawatir.
"Tidak bisa, mom." Kenzo yang menjawab dengan cepat, "Besok ada briefing untuk perlombaan, Tiara harus sekolah. Karena dia terpilih mengikuti lomba." ucapnya lagi menjelaskan. Kedua orang tuanya memang mau dia dan Tiara segera menikah, tapi jangan mengganggu aktivitas sekolah nya.
"Wah lomba! Kamu bakal ikut perlombaan? Kapan lombanya?" Ze langsung antusias, "Apa kau juga ikut?" tanya nya pada putranya. Baginya jika ada murid yang bisa ikut serta untuk lomba itu adalah sembuh pengakuan baik dari sekolah. Dia pun ikut senang.
"Iya, aku juga ikut, kita sepasang putra dan putri sekolah, mom. Lombanya di kota A, hari Senin dan Selasa, kita akan menginap di sana." timpal Kenzo kembali menjelaskan. Sekalian saja memberi tahu Mommy nya, biar sang mommy mempersiapkan segala kebutuhan mereka nanti selama di sana.
"Dua hari?" Ze sedikit kaget, Kenzo dulu pernah ikut lomba tapi tidak selama itu, dan lagi tidak perlu menginap. Selama ini putranya belum pernah merasakan menginap di luar, apa putranya akan baik-baik saja kalau jauh dari jangkauannya, "Apa tidak apa-apa jika kalian menginap di sana?" tanya nya khawatir. Sedikit ragu mengizinkan mereka berdua menginap di luar, apalagi di luar kota.
"Mom, aku bukan anak kecil lagi, aku bisa jaga diri, kalau mommy khawatir putri mommy kenapa-kenapa aku bisa menjaganya," timpal Kenzo meyakinkan, bahkan dia juga meyakinkan sang mommy kalau dia pasti menjaga Tiara, "Lagi pula pihak sekolah sudah menyiapkan hotel untuk kita bermalam di sana." ucapnya lagi meyakinkan.
"Di hotel?" sesaat Ze kaget, kenapa harus di hotel jika ada tempat tinggal yang lebih aman, "Kalian menginap di villa saja." jelasnya lagi memberi saran, kota A merupakan kota besar, dia dan suaminya juga sering bolak-balik ke sana dalam urusan bisnisnya, mereka sampai harus membeli villa untuk hunian mereka. Jika menginap di villa dia akan sedikit lebih lega walau putra dan putrinya jauh dari jangkauannya.
"Tidak bisa, mom. Itu akan terlihat aneh jika kita malah memisahkan diri dari rekan yang lain. Bukan kita saja yang ikut lomba, ada satu pasangan lagi." tukas Kenzo tidak bisa menerima saran sang Mommy. Kalau menginap di villa akan terlihat mencolok dan mencurigakan.
__ADS_1
"Kalau di hotel kalian pasti terpisah, Ken, bagaimana kau akan menjaga Tiara. Pokoknya selama di sana kalian harus menginap di villa!" tegas Ze menekankan, keputusannya tidak boleh di bantah.
Kenzo sesaat terdiam, perkataan sang mommy ada benarnya juga, kalau menginap di hotel mereka pasti terpisah, kemungkinan besar Tiara akan satu kamar dengan Shasa, dia sendiri mendadak jadi khawatir membayangkan nya. "Iya, kita akan menginap di villa." jawab Kenzo mengiyakan kemauan sang mommy. Di kepalanya langsung terbesit hal yang menggelitik, "Kita mau lomba atau mau honeymoon si? gumamnya dengan bergidik geli, mendadak jadi merinding jika mengingat kalau mereka akan segera menikah.