
Dengan langkah berat Mario berjalan kaku, tatapan tajam Kenzo bak anak panah yang kapan saja bisa menancap pada tubuhnya, dia harus menuruti semua kemauan Kenzo agar dia selamat dari amukannya. Walau dengan perasaan berat dia berjalan menghampiri Shasa dan kedua kawannya.
"Ponsel, keluar ponsel kalian!" pintanya tanpa basa-basi, dia menatap Shasa, Jessica dan Alicia bergantian. Saat di awal dia melakukan perjanjian dengan Shasa, tidak mengira kalau Kenzo juga berjaga-jaga dan menyuruh dia sama-sama menggeledah ponsel Jessica dan Alicia untuk memastikan foto itu tidak tersimpan di antek-antek Shasa. "Keluarkan! atau Kenzo sendiri yang akan turun tangan." ancam Mario, dia langsung mengulurkan tangannya meminta ponsel tiga sekawan itu.
Alicia dan Jessica langsung mengeluarkan ponselnya dan secepat mungkin di berikan pada Mario, tapi tidak dengan Shasa, dia malah menatap kesal lelaki itu.
"Kau berani mengkhianati ku?" decak Shasa dengan tatapan tajamnya. Jangankan ada niatan mengeluarkan ponselnya, wanita itu malah menatap Mario dengan penuh ancaman.
"Sha!" Mario seolah memohon, berikan lah! karena keselamatan nya di pertaruhan oleh ponsel itu.
Shasa masih diam, dia tidak akan membiarkan Mario menyentuh ponselnya, dia tahu kalau Mario pasti mengincar foto Tiara dan Jonathan. "Aku harus mengirimkan foto ini pada Ayah, aku tidak bisa menghapusnya begitu saja." keluh nya dalam hati, dia masih percaya diri kalau dia bisa melumpuhkan Mario tanpa harus memberikan ponselnya.
"Jangan melewati batas, Mario. Ingat! posisi mu ada di bawah ku," tegasnya lagi dengan tatapan tajam, namun detik selanjutnya mata itu langsung meredup, badannya gemetar ketakutan. Dia melihat jelas kedatangan Kenzo yang berjalan cepat menghampiri mereka dengan tatapan tajamnya.
"Minggir!" decak Kenzo geram, memang banci yang tidak bisa di andalkan, dia langsung mendorong tubuh Mario agar lelaki itu pergi. "Pastikan tidak ada lagi foto itu di ponsel mereka!" titahnya dengan begitu tegas, dia malas membereskan kerikil-kerikil itu, urus lah mereka! Shasa biar dia yang membereskannya.
"Berikan ponsel mu!" titah Kenzo tanpa basa-basi, bahkan nada bicaranya terdengar begitu dingin. Kalau Shasa bukan wanita, dia benar-benar ingin memukulnya.
"Ken!" Shasa masih berani melawan, memanggilnya dengan begitu lirih, seolah memohon, kenapa dia sampai seperti itu memperlakukan nya.
"Aku masih bisa menahan kesabaran ku karena kau wanita, atau kau mau Tiara yang mengambil nya dengan paksa." ancam Kenzo dengan menyeringai, itu akan lebih memalukan dari pada wanita itu sendiri yang memberikannya.
Shasa langsung mengeram kesal, mau tidak mau dia mengeluarkan ponselnya, "Aku harus mengirimkan foto ini pada Ayah," gumamnya dengan tangan bergetar, dengan cepat dia menekan-nekan tombol di ponselnya sebelum dia memberikan nya pada Kenzo. Namun percuma, belum juga foto itu terkirim, dengan cepat Kenzo merampas ponsel itu.
__ADS_1
"Aku tahu kau begitu licik, tapi kau tidak bisa membodohi ku, Sha." decak Kenzo geram. Jemarinya langsung mengotak-atik ponsel Shasa. Memastikan foto itu di benar-benar menghilang tanpa sisa. "Di situasi seperti ini dia bahkan sempat berpikir untuk mengirimkan foto ini, pada Ayah nya." gumamnya semakin geram. Emosinya makin tidak bisa di tahan, tangannya dengan perlahan melepaskan ponsel itu sampai terjatuh ke lantai.
Prrrkkk... Suaranya sampai terdengar jelas, ponsel itu mendarat sempurna membentur lantai. "Akh, sorry. Aku tidak sengaja menjatuhkannya." ucapnya dengan nada begitu datar tanpa dosa. Padahal semua orang yang melihatnya tahu kalau sebenarnya dia sengaja menjatuhkan.
Shasa sampai menatap Kenzo tidak terima, "Ken?" keluhnya dengan memasang raut kesal.
"Kenapa!" Kenzo makin geram, berani sekali wanita itu menatapnya seperti itu, padahal jelas Shasa sendiri yang memancing amarahnya. "Heh, dengar! Sebesar apa kau menyakitinya, maka sebesar itu pula aku akan membalas nya." ancam nya dengan penuh penegasan. Bahkan kakinya tanpa ragu menginjak ponsel Shasa dan menekan nya dengan begitu keras. Seolah mengatakan; kalau Shasa mengusik Tiara maka dia tidak akan segan untuk membalasnya. Seperti dengan mudahnya dia menghancurkan ponsel Shasa dia pun bisa dengan mudah menghancurkannya. "Bahkan aku bisa lebih kejam dari ini." timpal nya lagi dengan begitu tegas.
Shasa sampai di buat mematung tidak percaya, bisa-bisanya Kenzo begitu kejam padanya. "Dasar tidak punya perasaan, Kau lebih peduli padanya, dari pada perduli pada ku yang terlebih dulu mengenal dan dekat dengan mu, Ken!" decak nya kesal. Dia tidak terima, bukan hanya menginjak ponselnya, Kenzo juga menginjak-injak harga dirinya.
Amarah Kenzo benar-benar tidak terkendali. Dia begitu malas terus meladeni Shasa tapi wanita itu terus memancing amarah nya. "Kau percaya diri sekali, hah. Bukannya kau sendiri yang mengirimkan dia pada ku. Keluarga kalian sendiri yang menyiksa dan menyusahkan nya seolah meminta ku untuk terus menjaganya. Dan sekarang kau mengatai ku tidak punya perasaan!" tuturnya membalikkan keadaan, dia sampai harus menahan keras amarahnya karena tidak mau perkataanya itu terdengar oleh murid yang lain. "Dasar bedebah sialan." decak nya dengan begitu geram. Bahkan dia sampai tidak bisa memfilter ucapannya saking muak terus melayani Sahsa.
Shasa diam tak berkutik, perkataan lelaki itu membungkam mulutnya sampai tidak mampu berkata-kata, dia langsung tertunduk malu tidak mampu membalas perkataannya.
"Hentikan! Apa itu kebiasaan mu selalu kasar pada wanita, Ken?" decak Jonathan dengan begitu keras. Lelaki itu langsung menghampiri Sahsa dan berdiri di hadapan Kenzo. "Kalau kau kelewatan seperti ini bukannya kau sama banci nya dengan Mario." timpal nya lagi. Walau samar-samar mendengar percakapan Kenzo dan Sahsa, tapi dia begitu geram karena Kenzo sudah kelewatan sampai mempermalukan Shasa di depan banyak orang.
"Kenapa, kau takut aku membocorkan rahasia mu jika aku ikut campur urusan mu." timpal Jonathan dengan suara pelan, bahkan dia sampai menepuk pundak Kenzo, dan mendekatkan wajahnya. "Kata banci sebenarnya pantas untuk mu, kau begitu tega mempermalukan Shasa padahal dia hanya bermaksud baik untuk membantu Tiara, dia ingin membantu nya lepas dari hubungan nya dengan mu, karena kau tidak pernah serius dengan pertunangan itu. Bahkan kau hanya mengakui nya sebagai pacar padahal dia tunangan mu sendiri." bisik nya dengan penuh ledekan. Bahkan perkataanya terdengar begitu memojokkan Kenzo.
Kenzo geram, hanya dengan mendengar perkataan nya saja dia langsung tahu kalau lelaki ini di bawah pengaruh Shasa.
"Dasar bodoh! Kau yang banci sialan. Bahkan kau dengan mudah terpengaruh olehnya." decak nya kesal. Kemana otak lelaki itu, bisa bisanya ikut terhasut perkataan si licik Shasa.
"Dia tidak salah, apa yang dia katakan benar adanya. Kau tidak mengakui pertunangan kalian bahkan kau tidak bisa memberikan nya cinta, apa itu pantas untuk di pertahankan?" timpal Jonathan dengan begitu santai, seolah bertanya padahal itu sebuah pernyataan yang harus Kenzo pikirkan. Tidak peduli lelaki itu sudah menatapnya dengan kesal dia hanya ingin membela Shasa, dan juga ingin menarik Tiara ke sisinya.
__ADS_1
"Aku punya alasan untuk menyembunyikan itu, dan kau tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana perasaan ku padanya. Aku yang menjalankan dan aku tahu apa yang semestinya ku lakukan." ucap Kenzo menimpali, dia tidak bisa mengelak, percuma juga terus bermain urat, dia tahu seperti apa Jonathan, lelaki itu terlalu logis, dia akan terus percaya dengan seorang kalau perkataan nya sesuai dengan kenyataan. Dan keadaan nya sekarang dengan Tiara memang menunjukkan kalau apa yang di katakan Shasa adalah kebenaran.
"Jika kau masih mempertahankan Tiara karena kasihan pada nya kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menggantikan mu, aku bisa menjaganya dan tentunya aku bisa memberikan cinta yang tidak pernah bisa kau berikan padanya." tutur Jonathan, kini dia mengeluarkan ultimatum nya. Seolah meminta Kenzo untuk melepaskan Tiara, menyuruh lelaki itu untuk tidak perlu memaksakannya diri untuk memberi wanita itu cinta, karena dia bisa memberikan cinta nya.
"Kau!" Kenzo refleks mencekam kerah baju Jonathan, dia tahu Jonathan menyukai Tiara, tapi tidak menyangka lelaki itu akan percaya diri seperti itu ingin mengambil Tiara darinya. "Apa kau tidak sadar kalau kau sudah melewati batas?" decak nya kesal. Tatapan nya penuh amarah, Jonathan sudah mendeklarasikan perang dengan nya, kali ini dia tidak bisa menahan diri. Persetan itu Jonathan yang merupakan sahabatnya, lelaki itu sendiri yang menodai persahabatan mereka. Membuatnya tidak tahan untuk memukulnya.
"Ken!" Tiara memanggilnya dengan lirih, dia tidak tahu pasti apa yang dua laki-laki itu bicarakan karena jarak mereka terlalu jauh, tapi dia tahu kalau Kenzo sampai seperti itu karena tersulut emosi. Dia langsung berjalan cepat menghampiri nya, menggelengkan kepala saat Kenzo menatapnya. Seolah berkata jangan melakukan hal yang lebih dari itu.
"Argh...!" Kenzo menghela nafas, langsung melepaskan cengkraman tangannya dari leher Jonathan, nasehat Tiara benar adanya, kalau dia termakan emosi berarti dia kalah dari permainan Shasa, dan wanita itu pasti akan tertawa senang melihat kemarahannya pada Jonathan. Mereka bagai di adu domba.
"Terima kasih nasehat nya, Nathan. Aku akan mengganggap ucapan mu sebagai pengingat, itu membuat ku makin yakin untuk tidak pernah melepaskan nya." ucap Kenzo dengan menyeringai. Dia akan berusaha legowo meski sudah di khianati. Dia hanya perlu membuktikan kalau dia tidak akan kalah dari Jonathan, apalagi kalau membiarkan Shasa menang dengan permainannya.
Dia langsung berbalik ingin mengajak Tiara pergi, dia sudah muak jika harus terus berada di sana. Tapi belum juga melangkah pergi, Jonathan malah bersuara lagi.
"Berusahalah lebih keras untuk mempertahankan nya, karena aku juga bisa lebih serius memberikan cinta ku untuk nya." ucap Jonathan sama-sama menyeringai. Sekarang makin terlihat jelas kalau lelaki itu tidak akan main-main dengan ucapannya.
"Assit... Kau akan terus menyerang ku, hah!" gumamnya dengan begitu kesal, dia sampai menahan keras amarahnya, bermain otot bukan jalan yang baik untuk melawan lelaki itu. Dia benar-benar harus melakukan sesuatu yang lebih nyata untuk membungkam mulut bedebah itu agar tidak berani lagi untuk bersuara, apalagi ada niatan untuk mengambil Tiara.
Kenzo langsung meraih tangan Tiara, menarik wanita itu agar makin mendekat ke tubuhnya. "Jangan menghindari dan tutup mata saja!" pintanya dengan lirih.
Tiara sampai keheranan, apa maksud ucapan Kenzo? apa yang akan di lakukan lelaki itu, ingin bertanya tapi tingkah Kenzo sukses membuat nya mematung sempurna. Tangan lelaki itu dengan lembut merangkul pinggangnya, satu tangannya lagi membelai pipinya dan menyelusup menyelusuri tengkuknya, menatapnya dalam dan perlahan mengangkat wajahnya.
"Maaf!" suara Kenzo sampai terdengar paruh seolah meminta izin, dengan perlahan memposisikan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Tiara. Mencium nya dengan lembut sampai membuat Tiara tertegun tidak bisa apa-apa, ciuman nya benar-benar membuat wanita itu memejamkan matanya.
__ADS_1
"Dia mencium ku?" debaran jantung Tiara makin tidak terkendali, sentuhan lembut bibir Kenzo membuatnya kaget sampai refleks mencekam pinggang lelaki itu.
Jonathan sampai mengalihkan pandangannya, pemandangan Kenzo dan Tiara membuat dia mengepalkan tangan nya dengan begitu keras, sungguh menjengkelkan, tanpa keraguan Kenzo benar-benar mencium Tiara di depan matanya.