
Kenzo ingin mendekat, tapi Tiara malah berdiri dan beranjak pergi. "Mau ke mana?" tanyanya sambil meraih tangan Tiara. Dia langsung menarik wanita itu sampai kini mereka berdiri saling berhadapan. "Kenapa? Kau kecewa setelah tahu siapa dia?" tanyanya sambil merapikan poni Tiara yang menghalangi wajah cantik nya.
"Jadi semua itu memang benar?" Tiara kembali bertanya, tadinya dia berharap kalau apa yang di katakan Devan sebuah kebohongan. "Jangan terus bersikap seperti ini jika kau memang terpaksa melakukannya hanya karena kasihan pada ku," Dadanya bagai tersayat, rupanya sesakit ini jika mengingat kenyataan yang terjadi.
Kenzo langsung menghela nafas, "Kau ingin menghindari ku hanya karena cerita tentang wanita itu?"
"Tidak, hanya lelah saja." Jawab Tiara singkat, dia hanya ingin bersekolah dengan baik, lulus dengan mendapatkan hasil yang memuaskan, mendapatkan beasiswa agar hidupnya tidak membebani orang lain, tapi semuanya malah terasa menjadi sulit, "Aku lelah menjalani kehidupan rumit ini." tutur nya sampai menundukkan kepala, dia hanya cemburu tapi tidak mampu bicara, tidak bisa menyalahkan siapapun, siapa pun wanita di luar sana itu hak mereka menaruh hati pada suaminya, begitupun dengan suaminya sendiri, apapun yang lelaki itu lakukan itu hak nya. Dia hanya memprotes hidupnya sendiri yang begitu menyediakan, terus terkena masalah karena menjadi sasaran orang yang mencintai suaminya, padahal dia sendiri tidak pernah bisa mendapatkan cinta dari lelaki itu, cinta nya bagai bertepuk sebelah tangan dan itu sangatlah menyakitkan, "Aku mau istirahat dulu, Ken!" pintanya sambil berusaha melepaskan tangan Kenzo, tapi lelaki itu malah merangkul pinggang nya dan menariknya semakin mendekat ke arah tubuh lelaki itu. "Ken!"
"Apa kau pikir aku bertingkah sampai sejauh ini karena terpaksa?" Tidak mempedulikan ucapan Tiara, tangan Kenzo malah semakin erat merangkul pinggang wanita itu dan satu tangannya lagi mengangkat dagu Tiara agar gadis itu menatap nya. "Kau selalu peka dalam segala hal tapi kenapa tidak peka dengan ini." Kenzo mendekatkan wajahnya, langsung mencium bibir Tiara, dengan begitu lembut seolah menunjukkan seberapa sebesar perasaan dia pada Tiara.
"Ken!" Nafas Tiara sampai naik turun, kedua tangan nya mendorong pelan dada lelaki itu, menatap bola matanya dengan begitu sendu, "Hentikan!" lirihnya kembali menunduk, jangan terus seperti itu karena dia tidak bisa menahan perasaannya, semakin lembut sikap lelaki itu maka semakin besar pula rasa cintanya, dan akan semakin besar pula rasa takutnya, takut hatinya semakin terluka.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?" Kenzo menatapnya dengan dingin, bahkan setelah dia mencium nya wanita itu belum peka juga, bukankah katanya tadi wanita itu cemburu, tapi kenapa sekarang menolak ciumannya, dia hanya ingin membuktikan kalau dia juga menyukainya, "Argh," dia langsung melepaskan kedua tangannya, mengacak rambutnya frustasi, dia tidak berpengalaman menghadapi wanita bahkan bingung harus bicara apa. "Apa kau membenci ku sampai tidak mau ku sentuh?" Pada akhirnya sama-sama salah faham karena tidak saling terbuka.
__ADS_1
Tiara pun mendadak jadi kesal, tangannya langsung bergerak memukul lengan lelaki itu untuk melampiaskan kekesalannya, "Iya, aku membenci mu," ucapnya dengan begitu keras, belum puas memukul lengan Kenzo, dia langsung menarik kaos lelaki itu dan memukul dada nya, "Aku benci kau yang terus bersikap baik pada ku, kau terus mempedulikan ku, bahkan kau menyentuh ku dengan begitu lembut, dan kau melakukan itu karena terpaksa, kan? kau hanya kasihan pada ku kan? Kau hanya kasihan pada ku seperti kau yang merasa kasihan pada wanita itu, kau terpaksa menerima ku, sama seperti kau terpaksa menerima wanita itu kan?" tutur nya dengan nafas terengah-engah, rasanya hatinya sedikit lega setelah mengeluarkan unek-unek nya.
Bukannya kesakitan, Kenzo malah tersenyum kecil, "Apa kau sedang membuat drama?" umpatnya sambil meraih tangan Tiara, apakah dia harus menjitak kening wanita itu untuk menyadarkan nya. "Dasar bodoh!" umpat nya sambil menekan kening Tiara dengan telunjuknya.
"Iya aku memang bodoh, kau puas?" Tiara sampai menatap Kenzo dengan kesal, apa lelaki itu tidak sadar kalau dia menjadi bodoh karena dirinya. "Dengan bodohnya aku malah mencintai mu, kau terus memperlakukan ku dengan baik membuat aku semakin mencintaimu, Ken. Aku menjadi bodoh karena mencintaimu tapi kau tidak pernah sedikitpun tahu perasaan ku." ucapnya dengan suara kesal, dia tidak ingin terus memendam perasaan nya, Kenzo harus mengetahui itu meski cintanya tidak akan terbalas, "Dasar es balok menyebalkan." umpatnya lagi dengan suara begitu tinggi, bahkan tangannya pun ikut bergerak memukul nya dengan begitu keras, kenapa bisa dia di pertemukan dengan lelaki sedingin Kenzo, ingin mendapatkan cinta lelaki itu saja begitu susah, lelaki itu malah membuat nya jadi frustasi.
Orang sedang marah-marah pada nya, Kenzo malah tersenyum senang, bahkan pukulan Tiara yang begitu keras rasanya tidak berarti, "Sudah selesai?" tanya nya dengan begitu santai, dia langsung mengangkat tubuh Tiara dan menggiring nya ke tempat tidur.
"Kenzo! Apa yang kau lakukan?" Tiara sampai kaget, memukul punggung lelaki itu dengan begitu keras, santai sekali mengangkat nya seperti mengangkut sebuah karung beras. "Hei, turunkan!"
"Ken?" Tiara sampai mengerjap kaget, dadanya sampai naik turun menatap wajah Kenzo saat tubuh lelaki itu sudah berada persis di atasnya.
Kenzo menatap Tiara dengan begitu dalam. Satu tangannya bertumpu untuk menahan tubuhnya, satu tangannya lagi mengelus kepala Tiara berusaha meyakinkan gadis itu kalau apa yang di pikirkan wanita itu adalah sebuah kesalahan. "Jangan pernah merasa kalau kau sama dengan wanita lain di luar sana," lirihnya berusaha menyakinkan. Terus menatap Tiara dengan begitu sendu, dia tidak pandai bicara, dia hanya bisa berharap wanita itu mengerti bagaimana perasaannya, "Aku menyayangimu, Tiara." lirih nya sambil perlahan mengecup kening sang istri, dia akan berusaha membuktikan kesungguhannya.
__ADS_1
Mata Tiara sesaat terpejam, kecupan itu benar-benar menenangkan dirinya, wajahnya ia angkat menatap lelaki itu dengan penuh harap, "Jadi ini sebuah kesungguhan? ini bukan karena keterpaksaan?" lirihnya memastikan.
Kenzo langsung mengangguk dan berakhir mengecup gadis itu, "Jangan pernah lagi menganggap hubungan ini hanya sebuah keterpaksaan, teruslah mencintai ku, karena sebesar apa kau mencintaiku sebesar itu pula aku akan membalas nya." serunya dengan suara pelan, dia sendiri baru sadar kalau apa yang di rasakan nya bukan semata hanya kasihan, melainkan karena kasih sayang yang begitu besar. "I love you my wife," lirihnya dengan tersenyum manis menatap sang istri.
Tiara sampai tak percaya, apa itu beneran Kenzo, apa es balok nya sudah meleleh sekarang, dia langsung tersipu malu karena Kenzo menatapnya dengan begitu intens, "I love you too my husband." lirihnya dengan tersenyum senang, dengan cepat mengangkat kepalanya mengecup bibir Kenzo, yang dari tadi terus menatapnya.
"Kau yang memancingnya, jadi jangan salahkan aku kalau aku melakukan yang lebih dari ini," lirih Kenzo dengan suara berat. Dia benar-benar membenamkan wajahnya memungut bibir seksi sang istri, mencumbu nya dengan penuh seksual dan perlahan turun mengecup setiap inci bagian tubuh sang istri, bahkan tangannya sudah bergerak nakal menyelusup masuk ke balik baju tidur sang istri.
"Ken!" Tiara sampai mendesah, sedikit malu karena tangan sang suami sudah melepas semua kancing piama nya.
Hasrat Kenzo makin tersulut, pemandangan di depan mata sungguh sangat menggoda, "Maaf, apa kau tidak keberatan jika aku melakukannya?" tanyanya meminta izin, walau wanita itu istrinya, dia bukan predator yang akan meniduri wanita itu sesukanya.
Tiara semakin malu, dia tidak bisa berkata-kata selain mengangguk kan kepalanya. Sontak sang suami langsung membenamkan wajahnya.
__ADS_1
"Argh, sial." Kenzo langsung menghentikan kegiatannya, menahan keras hasrat nya karena terbesit sesuatu di kepalanya. "Tidak bisa begini." gumamnya kesal, dia tidak mempunyai pengaman, bagaimana kalau dia sampai menghamili istrinya. Bisa-bisa masa depan Tiara hancur karena kecerobohan nya. "Maaf!" lirihnya sambil perlahan bangun, kembali mengancing baju Tiara dan lekas berbaring di samping nya.
Tiara sendiri hanya bisa tertawa dalam hati, melihat ekspresi Kenzo dia sudah bisa menebak apa yang di pikirkan suaminya sekarang. "Tidurlah! perlombaan besok pasti lebih merepotkan."