(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 1


__ADS_3

Nama ku Layla, Najwa Layla Fathurrohman . Eyang ku yang memberikan nama tersebut. Saat umur ku 12 tahun aku bertanya pada Eyang kenapa aku dipanggil Layla bukan Najwa, karena aku tidak suka. Nama Layla terlalu familiar. Bahkan dalam satu kelas ada tiga orang yang bernama Layla, walhasil aku meminta teman-teman ku untuk memanggil ku Najwa. Panggilan itu untuk teman-teman, keluarga ku tetap memanggil ku Layla.


“Layla, jeneng kui lambang kehalusan, melankolis, bersahaja dan keelokan.” kata Eyang waktu itu.


“Layla itu malam eyang. Apa bagusnya?,” bantah ku dengan cemberut. Menurut ku itu sama sekali tidak etis. Tapi eyang malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya beliau menganggap ku lucu.


“Bengi kui sunyi. Bengi kui tenang, gak neko-neko . Tetep, jejeg,“ lanjut eyang. Membuat ku semakin tidak mengerti dengan penuturannya.


“Aku tambah gak faham Eyang.“ Kesal ku.


“Wes to, jeneng kui Donggo. Mbok y di trimo . Wes kadung.“ Kata eyang dengan tertawa.


Saat itu aku kesal, karena aku sama sekali tidak mengerti apa yang di maksud Eyang ku. Namun saat ini berbeda, aku mengetahui arti semua maksudnya.


“Layla! kamu sudah siap!"


Aku menoleh kearah suara yang berteriak lantang tadi, nada nya seperti ingin marah. Tapi tidak, dia tidak pernah marah. Sekalipun aku selalu membuatnya kesal.


“Kau masih saja sibuk dengan novel .“ Lontar nya dengan merebut novel di tangan ku dan meletakkan begitu saja di nakas tanpa menunggu persetujuan ku.


“Aku suka Mas, apa salahnya," bantah ku.


Dia tidak menghiraukan, malah sibuk mengemas baju-baju yang semestinya sudah aku bereskan dari tadi.


Dia kakak ku, Qois Albifardzan biasa aku panggil Mas Albi. Sebenarnya dia anak angkat ayah dan ibu. Aku anak tunggal dan orang tua ku ingin sekali mempunyai anak laki-laki. Karena ibu tidak bisa mengandung lagi mereka mengadopsi Mas Albi.


Walaupun begitu, orang tua ku tidak pernah membedakan antara aku dan Mas Albi. Malah aku merasa mereka lebih menyayangi Mas Albi dari pada aku. Yah, dia lebih bisa di andalkan dari pada diri ku.


“Kamu akan terlambat. Cepatlah!" Ujar Mas Albi. Dengan malas aku ikut mengemasi barang-barang ku.


“Kamu sudah dewasa nduk. Mosok panggah Mase ae sing noto .(Kamu sudah dewasa , masak tetap Mas yang siapin)" Kata Albi.


Mas ku itu lebih cekatan dari pada aku, dia bahkan tidak bertanya mana yang harus aku bawa dan tidak. Dia mengambil semua yang biasa aku perlukan.


Seperti sekarang , dia mengambil beberapa baju , hijab dan bahkan daleman di dalam lemari ku dan menata rapi ke dalam koper.


“Sampean, nanti ikut ngantar, aku?"

__ADS_1


“Iya. Sekarang Ndang mandi!“ Jawabnya.


“Nginep, Ndak?"


“Mboten nduk, besok aku ada kuliah pagi.“


Kecewa, itu yang aku rasa. Kak Albi hanya akan mengantar dan langsung pulang. Sejak dia mulai kuliah dia tidak lagi ingin menginap di pondok ku. Padahal dulu dia selalu menginap walaupun satu hari.


Iya , Aku mondok di Al Hasan Sarang, Jawa tengah. Pondok yang masyhur dengan salafnya tapi juga pendidikan umumnya. Sejak lulus SMP aku mondok di sana, meninggalkan rumah, keluarga dan terkhusus Mas Albi.


“Ini novelnya ndak usah di bawa. Nanti kamu malah gak belajar, tapi baca novel saja." Kata Mas Albi . Dia membawa mengambil novel tadi dan menyimpannya di dalam lemari buku ku.


“Ah! Aku bawa saja, lah.“ Elak ku. Aku berdiri merebut novel itu sebelum dia campur dengan buku-buku di dalam lemari tersebut.


“Gak, boleh Layla... Manut sama, Mas.“ Ujarnya. Membuat ku tidak bisa membantah. Entah setiap kali Mas Albi berkata aku harus menuruti perkataannya, aku tidak bisa menolaknya sama sekali.


Mas Albi merebut novel di tangan ku lagi.


Aku merelakan novel yang paling aku sukai itu. Dia masukan ke dalam lamari, dan tergeletak bersama buku-buku lainya.


“Apa lo yang kamu suka dari Novel itu.Sampek gak pengen pisah?“ Tanya Mas Albi. Mungkin dia penasaran dengan isi cerita Novel tadi . Dia tahu jika aku menyukai sesuatu pasti sulit untuk aku lepaskan. Tapi pertanyaannya itu aku elak, aku tidak ingin dia mengetahui kenapa aku begitu menyukai novel tersebut.


Aku tidak ingin kami membahas Novel tersebut lagi. Aku mengambil handuk, dan membawa baju ganti yang sudah di siapkan di ranjang.


“Ya udah... Kamu mandi dulu. Jangan lama-lama. “ Kata Mas Albi. Dia melihat ku bersiap mandi, dan bermaksud untuk keluar dari kamar ku. Aku mengangguk , dan menunggu dia hingga keluar dari kamar.


Jika saja waktu tidak cepat berlalu mungkin mandi bukan hal bisa memisahkan kita. Saat kecil kami juga terbiasa mandi bersama, main sabun di dalam bak mandi, bermain air, atau bahkan menyumbat saluran air agar air yang keluar dari kran tidak langsung keluar dan menggenang.Itu bisa membuat kami senang, menyipratkan air dengan menghentakkan kaki kami adalah suatu hal yang luar biasa. Sesederhana itu dan sedekat itu.


Selesai mandi kita akan di suapi oleh ibu, dan kemudian malamnya kita juga akan tidur seranjang. Itu dulu, hingga Ayah dan ibu memisahkan kami, Mas Albi harus mondok.


Tidak seperti ku, dia masih mondok di usia dua belas tahun. Setelah dia lulus SD dan aku masih duduk di bangku kelas dua SD saat itu.


Kami sedih. Untuk pertama kalinya kami terpisah . Padahal pondok mas Albi tidak lah jauh dari rumah. Hanya perlu setengah jam untuk datang ke sana. Tapi tetap saja, kami tidak bisa bertemu setiap hari, tidak lagi bisa bermain bersama, belajar, jalan-jalan dan bahkan tidur bersama.


Saat Mas Albi pulang liburan pertama kali, aku sangat senang. Karena mungkin setelah itu kami bisa bersama seperti dulu lagi, tapi tidak. Mas Albi berubah, dia menjaga jarak. Jangan kan untuk tidur bersama , saat sedang berkumpul dengan keluarga saja dia menjaga jarak.


“Aku memang Mas mu Layla! tapi bukan Mas kandung, jadi tidak boleh kita terlalu dekat.“ Katanya kala itu saat aku protes dengan perubahan sikapnya .

__ADS_1


Dia menuturkan banyak hal, tentang kami yang tidak boleh lagi saling bersentuhan saat sedang mempunyai wudhu. Tidak lagi bisa dekat, seperti kami kecil dahulu. Karena kami bukan mahrom. Bahkan Mas Albi berkata, jika aku tidak boleh memperhatikan aurat ku kepadanya lagi.


Aku sedih, aku mengadu pada orang tua ku karena menurut ku Mas Albi hanya mengada-ada soal itu. Aku mengatakan bahwa Mas Albi jahat, hingga aku tidak ingin dia mondok lagi. Karena setelah mondok , dia berubah menjauhi ku. Aku tidak terima itu.


“Apa yang di katakan Albi benar. Tapi kalian tetap saudara kan. Mas Albi juga tetap jadi Mas mu." Kata Ayah semkin membuat ku sedih. Aku menangisi takdir kami. Kenapa Alloh tidak menjadikan Mas Albi sebagai saudara kandung ku.


Aku beranjak dari tempat ku, menuju lemari buku dan mengambil novel yang telah di simpan Mas Albi tadi. Aku membuka lembaran demi lembaran novel itu dan berhenti pada satu halaman yang aku lipat lagian ujungnya.


نَهَارِى نَهَارُ النَّاسِ حَتَّى إِذَا بَدَا لِىَ الَّليْلُ هَزَّتّنِى اِلَيكَ الْمَضَاجِعُا


اَقْضِى نَهَارِى بِالْحَدِيثِ وَبِالْمُنَى وَيَجْمَعُنِى وَالْهَمُّ بِاللَّيْلِ جَامِعُ


لَقَدْ أَثْبَتَتْ فِى اْلقَلْبِ مِنْكِ مَحَبَّةً كَمَا تَثْبُتُ فِى الرَّاحَتَيْنِ الْاَصَابِعُ


Siangku adalah siang manusia yang lain


Bila malam tiba, tidurku sering terganggu wajahmu, aku gelisah


Sepanjang siang aku habiskan dengan perbincangan manis dan harapan-harapan indah


Dan sepanjang malam, aku dicekam murung dan rindu dendam


Cintaku padamu telah tertanam di relung kalbuku


Jari-jari dua tangan kami merekat


Yah. Mungkin sebagai sudah tahu , itu adalah syair Layla Majnun. Novel yang sedari tadi aku lindungi adalah Novel filsafat cinta, yang di dalamnya ada kisah Layla dan Majnun.


Dari situlah aku mengetahui maksud Eyang menamaiku Layla. Mungkin beliau ingin aku seperti Layla, yang mempunyai pendirian kuat. Tapi aku juga tidak ingin seperti Layla dalam kisahnya, yang akan rela kehilangan cintanya begitu saja.


Aku Layla, yang juga ingin memiliki cinta seperti Layla yang tidak pernah bisa memusnahkan rasa cintanya. Yang akan tetap setia meskipun penghuni dunia tidak pernah menyetujui perasaan cintanya. Dan aku ingin seperti Layla, yang di cintai Qois sampai akhir hayatnya.


Namun aku tidak seberuntung Layla. Layla begitu beruntung mendapatkan balasan cinta dari Qois kekasihnya, sedangkan aku? Qois ku bahkan tidak mengetahui bahwa aku mencintainya.


Tanpa terasa air mata ku jatuh,. syair majnun untuk Layla membuat ku terlena. Sudah berkali-kali aku membacanya, dan berkali-kali juga aku jatuh dalam syair-syair cinta mereka.


Aku tutup halaman Novel tersebut, membawanya bersama ku dan kemudian aku letakkan pada laci dalam lemari. Setelah itu aku kunci laci tersebut dan aku masukan kunci tersebut dalam tas yang akan aku bawa ke pondok nanti.

__ADS_1


Seperti Layla yang tidak bisa menerima orang lain mengusik cintanya, aku pun juga. Tidak ingin seseorang menghancurkan cintaku yang sampai saat ini masih menjadi rahasia antara aku dan tuhan ku.


__ADS_2