(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 83


__ADS_3

#Layla Najwa Fathurrohman


"Minum, Nduk." Mas Albi menyuguhkan minumannya tepat di depan bibirku. Dia tidak melepaskan tangannya meskipun cup jus jambu itu sudah aku pegang sendiri. Wal hasil aku minim dari tangan kami berdua. Lepas menyeruput, dia berganti meminumnya.


Dadaku berdesir hebat. Dia meminum lewat sedotan yang sama. Ah! Layla ... Tenanglah. Bukankah dulu hal itu biasa kita lakukan. Jangankan satu sedotan, satu piring, satu sendok, satu gelas bahkan satu ranjang kami pernah menggunakannya bersama.


Suara panggilan telpon berdering dari arah saku jaket mas Andre. Dia langsung mengangkatnya. Vidio call rupanya. Aku tidak tahu siapa yang sedang menelponnya saat itu.


"Assalamualaikum..." Suara wanita lembut sekali.


"Waaikumsalam, baby..." Balas mas Andre dengan sumringah.


Aku langsung menarik wajahku sebab panggilan cinta tersebut. Mataku terbelalak sebab terkejut dengan tingkahnya yang manis tiba-tiba.


"Kamu sedang apa?" tanya wanita tersebut


Tanpa menjawab mas Andre langsung mengalihkan kameranya dengan kamera belakang. Memperlihatkan pertandingan futsal yang saat ini sedang kita tonton.


"Oalah... Kapan pulang?"


"Yah... Belum tahu, kapan bi?" tanya Mas Albi.


"Malam, ya?" jawab Mas Albi tapi juga mencari persetujuan pada mas Andre.


"Malam ya?" Mas Andre menjawab dengan nada mempertanyakan juga pada si penelepon.


Mas Albi biasa saja. Dia seperti sudah mengenal siapa yang sedang menelpon mas Andre.


Apa itu pacar mas Andre? Yah, padahal aku ingin meminta nomer mas Andre untuk Aisyah. Tetapi kalau mas Andre seperti ini. Mana tega aku memberikannya.


Barangkali hal itu juga yang membuat mas Albi enggan mempertemukan aku dengan Mas Andre. Dia yang cepat sekali beralih perasaan dan pasangan.


"Layla bersamamu?"


Aku terkejut. Hah! Bahkan dia juga menceritakan soal aku kepada pasangannya. Hubungan macam apa yang menceritakan orang lain di dalamnya?


"Ada. Di sampingku," jawab Mas Andre dengan sumringah.


"Berikan ponselnya padanya. Aku ingin berbicara,"


"Tapi jangan aneh-aneh, ya..." Pesan mas Andre.


Saat itu malah mas Albi yang kalang kabut. Dia meminta agar tidak memberikan ponselnya pada Layla. Ada apa memangnya?


"Siapa?" tanyaku lebih penasaran.


"Wanita paling aku cinta," jawab Mas Andre


"Gak apa-apa, aku ngobrol sama dia?" tanyaku tak yakin


"Sejak semalam dia pingin ngobrol sama Layla," jawab mas Andre.


"Dre... Gak usah... Gak enak..." Mas Albi berkata lirih. Wajahnya khawatir, entah karena apa.


"Mana?" orang itu kembali bertanya.


Mau tidak mau akhirnya aku mengambil gawan milik mas Andre tersebut.


Aku tertegun saat mengetahui jika wanita yang sedang ada di layar adalah wanita cantik yang umurnya hampir sama dengan ibu. Meskipun begitu, dia terlihat cantik dan anggun sekali dengan hijab syar'i yang ia kenakan.


"Assalamualaikum..." Salamku. Aku bingung memanggilnya apa. Apa benar ini pacar mas Andre.


Aku kebingungan

__ADS_1


"Bunda," bisik mas Andre di dekat telinga ku


"Bunda_" ucapku mengulangi. Melihat ke arah mas Andre. Dia tersenyum sumringah lagi.


Hah! Dia bundanya mas Andre. Haduh! Jantungku berdetak kencang. Tiba-tiba tangan ku bergetar.


Aku memasang wajah yang entah bagaimana seharusnya. Antara tersenyum manis dan menahan grogi.


"Waaikumsalam, Nduk... Masya Alloh manisnya! Gimana, Nduk kabarnya?" Seketika bunda mas Andre membuat pipiku merona.


"Alhamdulillah, baik bunda. Bagaimana kabar bunda sekeluarga?" tanyaku balik


"Alhamdulillah sehat, Nduk. Kamu sudah makan? Andre menyusahkan kamu, ya?"


"Tidak bunda. Mas Andre baik kok sama Layla. Banyak membantu malahan. Maaf ya bunda, mas Andre nya jadi ketahan di sini dulu,"


"Oh... Tidak apa-apa. Kamu susahin terus juga gak apa-apa. Dia pasti nurut,"


"Iya bunda..." Balasku. Aku tidak tahu harus ngomong apa lagi.


Ini pertama kalinya aku berbicara dengan orang tua dari laki-laki yang secara terang-terangan menyatakan suka kepadaku.


"Layla, kalau liburan main ke sini, gih! Jangan malu-malu,"


"Oh... Iya bunda, Insya Alloh. Nanti nggih, kalau Layla liburan pondok."


"Iya. Beneran Lo ya! Minta Albi ngantar ke rumah. Mas mu udah biasa ke rumah. Udah kayak rumahnya sendiri. Tetapi dia gak pernah ngajak kamu,"


"Hehe... Layla kan ada di pondok. Mangkanya gak di ajak. Insya Alloh nanti ya, bunda."


"Oh! Sebentar Nduk. Aku panggil abah mu dulu," serunya dengan meletakkan ponselnya begitu saja.


Aku menoleh ke arah mas Albi dan Mas Andre.


"Bah! Aku teleponan sama mantun mu! Sini o sebentar!" Suara seruan bunda mas Andre terdengar jelas. Membuat ku bergidik.


"Maaf, ya... Aku sering ceritain kamu sama bunda. Jadi ya gitu,..." Kata Mas Andre.


Kalau menceritakan sih gak apa-apa. Tapi kalau memperkenalkan aku sebagai calon mantu kan beda ceritanya. Bagaimana aku menanggapinya?


Selang beberapa saat lelaki paruh baya dengan baju putih bersih dan juga kopyah putih terlihat di layar ponsel. Wajahnya bersih, bersinar. Meskipun sudah paruh baya ketampanannya masih terlihat jelas. Beliau terlihat berkharisma. Seperti seorang kyai. Orang tua mas Andre benar-benar luar biasa. Kini aku tahu, kenapa mas Andre tampan. Sebab orang tuanya cantik dan tampan seperti orang Arab saja.


"Assalamualaikum..." Suara serak basah terdengar dari Abah mas Andre


"Waaikumsalam, Abah..." Balasku dengan menyembunyikan kegugupan.


Bunda mas Andre berdiri di belakangnya. Tetap menunjukkan sumringah di wajahnya. Melihat beliau berdua tidak tega rasanya mengatakan jika aku dan mas Andre tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Abah, tumben jam segini sudah di Dhalem?'' kini giliran mas Andre yang mengambil alih ponselnya.


"La bunda mu teriak-teriak. Katanya lagi bicara sama calon mantu. Ya Abah bergegas ke sini, to. Kalau gak di turuti ngambek. Kapan lagi bicara sama calon mantu," tuturnya.


Aku terharu. Aku seperti sudah di sayangi saja oleh mereka. Sampai berbicara denganku yang bukan siapa-siapa sangatlah langka bagi mereka. Aku jadi tambah tidak tega.


"Abah sehat?" tanyaku.


Mungkin di layar beliau berdua saat ini terlihat hanya wajahku dan mas Andre saja. Senyum sumringah terus terpancar. Membuat hati tentram.


"Alhamdulillah, Nduk. Kamu kapan lulusannya?" tanya Abah mas Andre


"Insya Alloh, dua bulan lagi sampun lulusan Abah."


"Alhamdulillah... banjur langsung nikah ya sama Andre,"

__ADS_1


"Ukhuk... Ukhuk..." Aku tesedak langsung.


"Haduh, bah. Ngomongnya kok langsung begitu? Ya masalah itu biar nanti pas Layla sudah boyong dari pondok dulu. Lihat tu, mantuku Sampek kaget,"


Aku melihat ke arah mas Albi. Rasanya dia kali ini tidak bisa membantu ku. Dia malah fokus pada pertandingan di depan kami.


"Hehe... Iya Bah... Nanti dulu bicarain soal pernikahan. Lawong, Layla saja belum_"


Aku memberikan isyarat pada mas Andre untuk tidak mengatakan apapun yang akan membuat beliau berdua kecewa. Sakit rasanya jika harus menghilangkan kebahagiaan mereka secara seketika.


"Layla belum lulus, Abah, Bunda..." Sahutku.


"Iya... Iya... Yang penting lulus dulu."


Orang tua mas Andre baik. Mereka begitu menerima ku. Padahal mereka belum pernah bertemu dengan ku. Sulit sekali menemukan seseorang apalagi keluarga yang bisa menerima kita apa adanya. Yang bisa menyanyangi kita layaknya seorang anak kandung mereka.


Beruntung sekali nanti yang akan menjadi menantu mereka. Mungkinkah aku nantinya yang akan menjadi menantu mereka? Tetapi saat ini aku sama sekali tidak berpikir untuk bisa mencintai mas Andre.


"Maaf, ya... Layla. Sangking seringnya aku ceritain kamu ke orang tuaku mereka jadi salah sangka." Kata Mas Andre setelah menutup telponnya.


"Tidak apa-apa. Tapi kasihan mereka kalau harus kecewa sebab mengetahui hal yang sebenarnya,"


"Mereka tahu, kok. Kalau kamu belum aku lamar dan menerima cintaku,"


"Hah!" Aku melongo. Lancar sekali mas Andre bilang hal seperti itu.


"Yah! Semua butuh proses Layla...aku gak akan memaksa. Sesiap kamu saja,"


"Haduh, Mas... Kok malah dalem arah pembicaraannya."


"Eh....iya... Iya... Ya sudah lah. Di stop dulu. Lanjut kapan-kapan lagi,"


Aku tertawa lega. Mas Albi masih terus diam melihat pertandingan futsal. Ternyata selama telponan tadi grub futsal kami kalah satu poin. Aku sampai tidak menyadarinya.


Mereka sedang beristirahat sebentar. Sebelum pertandingan di mulai lagi. Kang Dharma terlihat frustasi di seberang sana. Duduk dengan meneguk air minum dalam botol yang ia bawa lalu sisanya ia guyurkan di atas kepalanya. Air dalam botol itu leluasa membasahi kepala dan sebagian tubuhnya.


Tiba-tiba matanya tajam menatap ke arah kami. Aku tidak tahu pandangan pasnya kemana. Tetapi itu seperti ke arahku. Pas di tepat mataku.


Takut sekali melihat dia seperti itu. Namun aku menyunggingkan senyum tipis. Lalu dengan ringan tanganku aku kepalkan untuk menyemangati dia. Padahal aku tidak tahu betul, kemana arah pandangan itu. Melihat dia kurang semangat membuat aku reflek menyemangatinya.


"Dharma sepertinya butuh semangat," ujar Mas Albi.


Dia juga merasakan jika tatapan mata kang Dharma tertuju pada kami.


"Iya, kebobolan satu poin ya... Jadi seri jadinya."


"Sok semangatin," kata Mas Andre.


"Lah, ini kita nonton juga sudah menyemangati," balasku.


"Maksudnya, seperti mereka"


Mas Andre menunjuk pada beberapa suporter yang tanpa lelah menyemangati pemain futsal mereka.


"Gak mungkinlah... Udah gini aja. Toh, faham kok..." tolak ku


"Ya juga ya... Aku juga gak terima kalau kamu menyemangati cowok lain." Ujar Mas Andre.


Aku tidak menghiraukan. Pandangan ku tertuju pada kang Dharma. Lewat bibir ku aku menyerukan semangat kepadanya. Berkali-kali hingga dia sadar jika aku menyemangatinya. Dia pantas mendapatkan itu semua.


Sebuah senyuman balasan dari kang Dharma membuat aku yakin jika dia tahu maksud ku. Aku pun balik memberikan senyuman untuknya.


"Rasanya aku sedang ngobral adik ku!" Umpat Mas Albi tiba-tiba.

__ADS_1


Entah apa maksudnya?


__ADS_2