(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 75


__ADS_3

#Qois Albifardzan


"Loh, Bi kok kamu ngechat aku?" Andre duduk melihat notifikasi dari ponselnya. Aku yang berusaha melepas lelah membuka mataku kembali.


"Ini chat dari siapa? Kamu kan sejak tadi gak pegang hape?" tanyanya antusias sebab merasa janggal.


"Hantu kali," jawabku receh.


"Jangan main-main. Beneran ini ada chat dari nomermu," ujar Andre sambil memperlihatkan layar ponsel yang menunjukkan notifikasi dari nomerku.


"Lah, ya buka saja. Barangkali penting,"


"Serius ini! Kok kamu nyantai? Di mana hapemu?'' tanya Andre.


Apa susahnya coba membuka pesan tersebut. Tinggal sentuh dan dia akan tahu siapa yang mengirimkan pesan.


"Sini!" Seru ku seraya mengambil ponsel dari tangannya.


Membuka pesan tersebut. Sudah di pastikan jika itu dari Layla.


[Mas Andre salam buat Mas Albi. Kalau belum tidur, ayo kita keluar.]


Aku tersenyum. Aku kira Layla sudah tidur. Ternyata belum. Segera aku menekan panggilan untuk menyambungkan ke nomerku sendiri.


"Gimana, Nduk?'' tanya ku setelah layar ponsel memperlihatkan wajah layla. Dasar Layla, dia melepaskan hijabnya. Leyeh-leyeh di atas kasur. Sudah seperti kamarnya sendiri saja.


Ada suara grusa gurusu. Barangkali itu temannya yang terkejut akan panggilan Vidio tersebut.


"Keluar kamar, yuk Mas... Bosen ini," rengeknya


"Mau ngapain?" tanyaku


"Itu Layla, to? Sini aku pengen ngobrol juga." Sahut Andre ingin merebut ponselnya.


Aku segera menjauhkan ponsel tersebut dari jangkauannya.


"Jangan! Layla lagi gak pakai kerudung!" Seru ku melarang.


"Ya gak papa! Aku kan calon suaminya," celetuk Andre


"Ngawur! Jauh-jauh sana!" Usirku.


Aku menghalau dia dari ponselnya yang masih aku bawa.


"Sebentar aku tak kerudungan," Layla bangkit dari tidurnya. Pandangan Vidio mulai buram sebab tidak di kendalikan dengan benar.


Selesai memakai kerudung. Panggilan vidio mulai jelas lagi.


"Mana Mas Andre?" tanya Layla.


"Kenapa malah mencari Andre?" tanyaku


"Ya gak apa-apa," jawab Layla sambil tersenyum.


Andre langsung merebut ponselnya. Berbinar melihat Layla di layar ponselnya.


"Layla, ayo kita habiskan malam ini berdua!" Serunya Langsung.


Tanpa menunggu jeda aku menjitak kepala Andre.

__ADS_1


"Layla! Jangan dengarkan laki-laki buaya ini!''


"Hahahaha... Lucu sekali kalian berdua," ujar Layla. Dia malah tertawa lebar.


"Mas mu ini overprotektif, Layla. Bukannya senang adiknya dapat pasangan malah gak terima," ujar Andre


"Tidak ... Tidak.... Mas Albi tidak over. Dia memang seperti itu sejak dulu," kata Layla.


Aku menjauhkan tubuhku dari layar ponsel. Menghempas tubuhku lagi pada tepian ranjang.


Lega. Entah mengapa rasa tenang itu menyapa. Mengetahui jika Layla sama sekali tidak keberatan dengan sikapku ini. Aku hanya melakukan hal itu pada dirinya selebihnya tidak ada.


Bukankah itu hal wajar?


"Layla, ayo kita keluar. Sepertinya duduk di depan kolam renang sambil menikmati purnama cukup menyenangkan," kata Andre


Ku lihat purnama dibalik tirai putih di balik jendela kamar. Bersinar gagah hingga menembus celah dedaunan.


"Ayo! Kita keluar, Bi" Andre sudah mengganti pakaiannya. Memakai sarung dengan kaos lengan pendek. Aku juga melakukan hal yang sama, berpakaian santai.


Di depan kamar kami sudah bertemu Layla dan Aisyah. Lanjut menuruni tangga bergantian.


Di ruang tengah kami melihat Dharma dan temannya sedang menonton film. Pasti mereka juga mencari kegiatan.


"Hai, Dharma..." Sapa Andre


Membuat dua orang yang tadinya konsentrasi melihat film di depan layar menoleh bersamaan.


"Eh! Kalian mau kemana?'' tanya Dharma


"Tidak tahu. Cari kegiatan aja,".


Aku melihat film yang sedang mereka tonton. Film horor dan cukup mencekam.


Aku melihat ke arah Andre dan Layla secara bergantian. Melihat persetujuan dari mereka. Jika tidak mau, aku tidak memaksa juga.


Kita bisa bermain game di halaman belakang sambil menikmati semilir angin.


Tetapi dari reaksinya ke tiga orang di sebelahku sudah terpaku dengan layar televisi tersebut.


"Kita ikut nonton saja," kata ku.


Langsung mencari tempat di depan tivi. Bersila di atas karpet bulu. Andre melakukan hal yang sama. Dharma melihat aku duduk di bawah, turun dari kursi dan ikut bersila di sana.


"Layla dan Aisyah duduk di atas saja," ujar Dharma.


Keduanya pun menurut apa yang di katakan Dharma. Duduk di atas sofa.


Film bertemakan horor itu menceritakan tentang seorang hantu perempuan, Noni Belanda dengan mata biru lentik.


Dalam kisahnya dia gentayangan sebab jasadnya belum di kubur dengan benar. Dia tidaklah jahat, hanya saja menakutkan jika dia bertemu dengan musuh bebuyutan. Selain ingin balas dendam dia ingin seorang pria yang memang bisa melihatnya untuk bisa mencari jasadnya. Kemudian mengubur dengan layak.


Selain horor, dalam film itu hantu perempuan itu jatuh cinta pada sang Pemuda. Sebab wajahnya persis dengan kekasihnya di masa lampau. Hantu tersebut tidaklah menyeramkan bagi sang pemuda sebab setiap kali menampakkan dirinya dia berpenampilan perempuan cantik nan menawan. Tak ayal, pemuda tersebut pun jatuh cinta walaupun dia tahu betul jika perempuan tersebut adalah seorang hantu.


Petualangan pun di mulai, di mana sang laki-laki mencari letak mayat kekasih hantunya itu. Sebagai tanda cinta, dia akan melakukan apapun untuk bisa menemukan mayatnya tersebut. Meskipun dengan demikian dia akan berpisah selamanya setelah mayat tersebut di kubur secara benar.


Hantu perempuan itu bisa terbang melayang, menembus dan menghilangkan kapanpun yang ia suka. Tapi dia tidak bisa mengetahui secara persis dimana mayatnya berada. Dia hanya bisa memberi petunjuk jika itu ada di tempat lembab dan gelap.


Film tidak terlalu horor. Malah terlihat seperti kisah percintaan antara hantu dan manusia. Hanya beberapa part yang sempat membuat tegang. Itu di saat hantu itu bertemu kembali dengan pembunuhan dia dulu. Tragis setelah di curi keperawanannya sang hantu di cekik hingga mati. Sebab itulah dia tidak tenang.

__ADS_1


Teman Dharma di tengah-tengah menonton beranjak pergi. Entah kemana, akan tetapi saat kembali dia sudah membawa cemilan dan beberapa minuman. Dia memberikan itu kepada Layla juga.


Aku tidak tahu, apakah Layla suka dengan film itu atau tidak. Secara selama ini jarang sekali kita menonton. Dia lebih suka membaca, apalagi saat ini yang terakhir aku ketahui dia mulai menyukai novel romace.


Hah! Dia sudah mulai beranjak dewasa. Lambat laun dia akan merasakan apa itu cinta.


Sambil menikmati cemilan yang di suguhkan, kami melanjutkan menonton. Hingga tidak terasa waktu semakin malam. Film tersebut berdurasi hampir tiga jam. Cukup lama dan melelahkan, tapi hal itu tidak membuat kami kami rasakan.


"Akhirnya sudah selesai! Seru juga filmnya!" Andre yang paling pertama berkomentar.


Dia mengangkat kedua tangannya ke atas untuk merenggangkan otot sendinya. Kami semua melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda-beda.


"Mau lanjut Nonton yang lain, kah?" tanya Andre


Dia ketagihan. Matanya tertuju pada deretan kaset DVD yang ada di rak bawah televisi.


"Maaf, Mas Albi... Layla," kata Aisyah membuat aku langsung menoleh ke belakang.


Ku lihat Layla tergeletak meringkuk di atas sofa. Matanya terpejam.


"Loh, sejak kapan Layla tidur?" tanya Andre


"Sejak tadi, sudah hampir satu jam," jawab Aisyah


"Ya Alloh ... Kenapa tidak bilang, kan kasihan kalau malam ini tidur di sini," kata Andre


Dia memelas melihat Layla tertidur seperti itu. Meringkuk seperti kedinginan.


Aisyah tidak menjawab. Dia mengigit bibir bawahnya. Dia pun pasti juga tidak menginginkan hal tersebut. Tapi dia juga tidak berani mengatakan apapun. Sekarang tinggal dia sendiri perempuan di antara kami yang masih terjaga.


"Aku ambilkan selimut ya," tawar Dharma


"Tidak usah. Biar aku bawa dia ke kamar saja," cegah ku


Semua lelaki yang ada di depan ku melonggo. Ada apa? Tidak tega juga kan kalau Layla tidur di luar. Apalagi hawanya dingin sekali.


Aku berjalan mendekati Layla. Membenarkan letak tubuhnya agar terlentang. Barulah setelah itu aku mengangkatnya ke dalam dekapanku. Mengendongnya menuju kamarnya. Aisyah mengikuti aku dari belakang.


Ini bukan untuk pertama kalinya. Bahkan sering aku melakukan hal ini. Layla memang gampang tertidur saat di bosan. Itu artinya dia tidak begitu menikmati film tadi. Jika iya, pasti dia tidak akan tertidur seperti ini. Atau mungkin sangking lelahnya, jadi dia tertidur.


"Tadi kalian sudah sholat isya'?" tanyaku setelah Aisyah membuka pintu kamar mereka.


Kamar mereka sama dengan kamar yang aku tempati. Hanya saja peletakannya yang berbeda.


"Sudah, Mas" jawab Aisyah.


Dia masih berdiri jauh dari tempatku saat ini. Sedangkan aku sudah meletakkan Layla di atas ranjang. Menyelimuti dia sekalian.


Wajahnya Layla terlihat tenang saat tertidur pulas.


"Dia sudah tidur. Kamu juga lekas tidur, sudah malam," ucapku pada Aisyah.


Dia mengangguk seraya membalas dengan senyuman.


Yang tidak habis aku pikir. Kenapa dua laki-laki itu ikut ke kamar. Dharma dan Andre ternyata mereka mengikuti aku sampai depan kamar.


"Dia sudah tidur," kata ku pada mereka berdua. Ku tutup kamar Layla setelah itu aku masuk ke dalam kamarku.


*****

__ADS_1


__ADS_2