
Mobil sampai pada halaman yang masih bertanah merah. Mas Albi memarkirkan mobil di bawah pohon mangga yang rindang. Setelah, benar berhenti, satu persatu keluar dari mobil.
''Kung ...Mbak Layla sama Mas Albi sudah datang!''
Aku kenal betul suara teriakan itu. Dia Alfan, sepupuku yang paling kecil. Dia berlari ke dalam rumah lagi, setelah tadi sudah sampai teras rumah. Terus- terusan berteriak mengabarkan kedatangan kami.
Alfan, usianya masih delapan tahun. Namun, dia cukup membanggakan. Sejak menginjak sekolah TK dia sudah sering menjuarai lomba tilawah, dan juga Adzan. Dia juga pernah mengikuti lomba Pildacil (Pilihan dai cilik) dan semua mendapat juara. Kabarnya, saat ini juga akan mengikuti lomba Qoriah se-kabupaten Trenggalek.
Saat di usianya, seorang anak kecil akan sering bermain dengan teman-temannya. Tapi, dia memilih menyelami hobi dan bakatnya. Aku ingat dia pernah berkata dengan semangat "Kalau sudah besar aku ingin jadi kyai mbak . Pengen jadi pendakwah seperti Gus Baha', Kyai Anwar Zahid, dan juga Gus Miftah".
Aku kira itu hanya gurauan saja. Tapi nyatanya, dia mulai sering memutar video para pendakwah itu di ponsel ibunya, entah itu lewat YouTube atau Vidio yang ia dapatkan dari guru-gurunya.
Mas Albi membawa masuk semua oleh-oleh kita. Tidak lupa, dia kembali lagi untuk mengambil barang-barang kami. Aku ingin menawarkan, batuan untuk membantu mengangkat barang ku saja, tapi dia malah melarangnya.
''Gak kuat nduk, tangan mu bukan Maqome bawa ginian. Wes mlebu o (Sudah, masuk saja) .'' Ucapnya.
Bagaimana tidak tambah sayang. Jika setiap hari aku di perlakukan seperti itu. Setiap katanya melontarkan belas kasihan, stiap tindakannya memperlihatkan perhatian.
Mas Albi memasukkan semua barang-barang itu ke dalam, langsung ke dua kamar yang telah di sediakan untuk kami. Baru setelah itu dia ikut bergabung bersama keluarga yang sudah berkumpul semua di ruang tamu.
Eyang Akung langsung meminta di pijat kakinya oleh ayah. Terdengar gurauan dia antara mereka.
''Wes suwi gak di pijat anak lanang (Sudah lama, tidak di pijat sama anak laki-laki)."
Eyang menikmati pijatan ayah sampai beliau memejamkan mata untuk merasainya.
''Bapak iki... Mase mau sing nyetir Lo,mbok yo kersane istirahat riyen.(Bapak ini. Mas yang tadi mengemudi. Ya biarkan istirahat dulu)." Pekik Ibu
Istri ayah ku itu merasa tidak terima mendapati suaminya yang baru datang langsung di suruh memijat. Dia tahu betul bagaimana lelahnya suaminya, tapi nyatanya Eyang Akung lebih ingin menguji menantunya itu. Beliau tidak membalas ucapan ibu, dan hanya melambai-lambaikan tangannya. Tanda bahwa hal itu tidak akan melunturkan keinginannya untuk bisa merasakan pijatan dari menantunya .
Bibi Rahma meminta ku untuk membantu menyiapkan makan untuk kami. Dengan senang hati aku mengiyakan.
__ADS_1
Beliau menanyakan banyak hal dari jam berapa kami berangkat dari rumah? perjalanan lancar atau tidak, dan apa benar ayah yang mengemudi tadi.
Kemudian aku menceritakan perjalanan kami. Tentang ayah yang memang mengemudi, dan saat mereka keluar dari jalanan terjal pegunungan Mas Albi mengantikan Ayah. Aku juga mengatakan saat di perjalanan Mas Albi sempat masuk angin dan mabuk.
''Albi di mana? suruh makan dulu. Biar nanti bibi belikan obat di warung depan." Tutur Bibi Sarah.
Sejurus kemudian aku memanggil Mas Albi yang sedang duduk di ruang tamu . Riuh tawa dan adu mulut terdengar di sana. Aku Memberikan isyarat untuk ke dalam rumah. Dengan satu lambaian saja, dia langsung bangkit dan menghampiri ku.
''Ada apa nduk?'' tanyanya saat dia sudah di depan ku.
''Di suruh makan dulu sama Bibi Sarah .Terus istirahat, gih.'' Jawab ku
Aku berjalan ke ruang makan. Tanpa ku minta Mas Albi mengikuti langkah ku.
''Ndak penak, Nduk. Ayah sama ibu saja belum makan kok.'' Tolak Mas Albi. Tapi dia tetap duduk di kursi yang sudah aku siapkan.
''Gak papa bi. Makan dulu saja, terus ini minum obatnya.'' Sahut bibi. Dia baru saja datang dari arah dapur. Membawa satu kantung plastik hitam berisikan obat dan juga minyak kayu putih.
Demi membuatnya nyaman aku juga ikut makan dengan Mas Albi. Aku juga sangat lelah . Setelah ini aku lekas tidur, dan nanti saat sore aku segera ingin melihat sunset.
''Obatnya Mas, jangan lupa di minum!''
Sekian detik makan di piring ku dan Mas Albi ludes tidak tersisa. Aku berinisiatif untuk membawanya langsung ke dapur untuk di cuci. Sebelum itu, aku tuangkan air putih untuk Mas Albi meminum obatnya.
Bibi Sarah sudah kembali bergabung di ruang tamu. Ikut menyuarakan rindu dengan menggoda ibu ku. Sepertinya mereka sedang bercerita tentang masa kecil mereka.
Sayup-sayup aku mendengar ayah membela ibu saat bibi Sarah mengatakan jika ibu ku dulu sangat hitam, dekil pula.
''Tapi sekarang dia sudah kinclong. Tiap pagi aku haruskan mandi.'' Kata ayah .
Entah apa yang di maksud ayah. Tapi setelah itu gelak tawa terdengar riuh lagi. Bukanya senang karena di bela, tapi ibu sepertinya malah marah-marah. Ayah berteriak kesakitan, karena pukulan tangan dari ibu.
__ADS_1
''Ya Alloh...Ya jangan di pukul, th, Bu....'' Keluh Ayah.
Selesai mencuci piring dan membereskan dapur aku menuju ruang tamu. Saat melewati ruang makan aku tidak lagi menemukan Mas Albi di sana . Mungkin saja dia benar istirahat. Itu bagus, nanti saat dia bangun, aku akan langsung mengajaknya melihat sunset .
Setibanya di ruang tamu, aku ingin mengutarakan maksud ku untuk terlebih dulu istirahat. Namun sebelum itu terjadi Eyang Akung memanggil ku.
''Nduk, kamu gantian mijitin Akung. Biar ayah dan ibu mu gantian makan.''
Habis sudah diriku. Pupus harapan untuk tidur siang. Dengan senyum kecut aku menggantikan posisi ayah. Dan mulai memijat kaki Akung.
''Tangan mu ampuh, Nduk. Langsung ilang kesele Alung. "
''Nggeh ta kung. Alhamdulillah... Akung ampun capek - capek, Layla gak bisa tiap hari mijitin."
''Mangkane, aku suruh kamu mijitin sekarang.''
Aku hanya nyengir mendengarnya. Entah beliau tahu atau tidak. Karena saat ini beliau senderan di tembok, dengan wajah mengadah ke atas. Matanya terpejam.
Ruangan tiba-tiba sepi. Semua orang yang tadinya ada bersama kami, satu persatu pergi. Berganti ke ruang makan.
Tidak heran, perbincangan saat aku kembali tadi mungkin belum selesai. Dan berlanjut di meja makan.
''Kelas tiga ya Nduk kamu? Tahun besok sudah lulus?'' tanya Akung yang sudah menatap ku. Seperti menyadari sesuatu.
''Nggeh, Kung. Doain Layla, ya kung.''
''Iya. Mugo-mogo ilmune barokah."
Sunyi lagi. Sebenarnya banyak pertanyaan dalam kantong otakku. Tapi aku urungkan niat itu, karena aku lihat Akung sayup-sayup tertidur. Tangan ku tidak berhenti memijat, sampai beliau benar- benar tertidur.
Posisi masih sama. Tidak tega aku melihat beliau tidur dengan duduk dengan kepala mengadah ke atas. Itu akan membuatnya kram saat bangun nanti. Akhirnya, aku meminta ayah untuk membangunkan beliau dan menyuruhnya kembali ke kamar.
__ADS_1
Dasar aku. Menyuruh orang tua untuk hal kecil saja. Karena sebenarnya, nanti jika aku yang membangunkan. Beliau tidak akan berangsur tidur dan ingin tetap di pijat.