
"Mohon maaf, Mbak. Laki-laki tadi, apakah teman mu?" tanya seorang pelayan kepada ku seraya menyerahkan nota pembayaran kepada ku.
"Laki-laki?" Aku masih belum faham. Sedari tadi, banyak santri putra yang berada di sini. Tapi, siapa yang dia maksud.
"Dia memesan kopi, dan beberapa saat lalu juga duduk di belakang mu." Jelas Pelayanan tersebut.
"Siapa, Najwa?" tanya teman ku. Aku baru faham, jika yang dia maksud adalah kang Dharma.
"Oh, memangnya ada apa?" tanya ku.
"Dia belum membayar kopinya." Jawab pelayanan tersebut.
"Ooh...Ya sudah Mbak, biar saya saja yang membayar." Kata ku.
Apakah ini imbalan yang harus aku bayar setelah dia bersedia meminjamkan hape-nya. Aku tidak pernah berfikir, jika dia laki-laki seperti itu. Meminta imbalan pada hal yang sederhana. Lalu bagaimana, sikapnya waktu di pantai saat itu. Apakah nanti dia juga akan meminta gantinya?
Aku tidak membiarkan teman sebangku ku mengetahui soal kang Dharma yang tadi sempat mengajak ku berbicara. Bisa kisruh, dan lain ceritanya.
Tadi saja, saat Kang Dharma meminta ha-pe, dia tidak bisa berhenti menatapnya. Mulutnya menganga seakan di depannya adalah sebuah keajaiban.
Perjalanan di lanjutkan setelah kami semua sholat magrib. Jika menunggu Isya' itu akan memakan banyak waktu lebih lama lagi. Karena itulah, para santri di minta untuk Jama' Qosor kalian.
Rombongan baru sampai di pondok saat pukul 21.24. Mepet sekali dengan waktu batas kedatangan santri. Semua santri langsung di minta sowan ke ndalem.
Saat ini, kita tidak perlu lama-lama hanya sungkeman dan meminta doa. Setelah itu, bisa langsung masuk ke pondok.
Aku tidak lagi melihat kang Dharma. Entahlah, di enyah kemana? Apa mungkin dia sengaja melakukannya. Sama seperti tadi, saat tiba-tiba dia datang ke gerai makan yang sama dan langsung ingin duduk di dekat tempat ku berada. Dengan alasan, aku ingin melihat pemandangan di luar. Aku berhasil mengajak teman ku pindah, memilih kursi dekat ke jendela.
Tidak di sangka, setelah itu dia juga bangkit dari tempatnya. Aku kira, dia akan mencari duduk di salah satu bangku dekat ku lagi. Tapi tidak, tiba-tiba dia tidak terlihat lagi. Aku mencari ke semua penjuru gerai makan itu. Tapi, tidak aku temukan. Syukurlah, dengan begitu aku tidak perlu mencari alasan mengajak teman ku untuk pindah tempat lagi.
Suasana pondok kembali aku rasakan lagi. Hangat dan hambar. Hangat kerena bertemu lagi dengan teman-teman ku. Hambar saat aku tiba-tiba sudah rindu dengan rumah ku.
"Najwa!" Seru Aisyah dari arah depan kamarnya. Baru saja aku mau masuk ke dalam kamar ku. Tapi aku urungkan. Karena Aisyah langsung menghampiri ku.
"Assalamualaikum, Ais. Apa kabar?" tanya ku seraya menjabat tangannya dan juga memeluknya. Memberikan ciuman kanan dan kiri pada pipi tembem nya.
__ADS_1
"Waaikumsalam. Kau jahat! Tidak satupun, pesan ku yang kau balas." Umpatnya.
Aku menggaruk pelipis ku, padahal tidak gatal. Ais sudah memonyongkan bibirnya dan memasang wajah kesal.
"Maaf, aku jarang buka ha-pe." Jawab ku.
"Setidaknya beri kabar, kek. Tau gitu, aku tidak mau mengirim pesan pada mu." Gerutunya.
"Maaf_Maaf. Sekarang, kan sudah gak perlu lagi balasan pesan ku. Kau bisa langsung bertanya, dan aku bisa langsung menjawab pertanyaan mu." Ujar ku.
Sebenarnya alasan sebenarnya adalah aku tidak tahu jika Aisyah mengirim chat untuk ku. Jika tahu, aku pasti akan langsung membalasnya. Banyak nomer baru yang tiba-tiba bermunculan. Aku tidak tahu, satu-satunya siapa. Mungkin salah satunya adalah Aisyah. Dia sering berganti nomer ha-pe. Tidak pernah konsisten dengan satu nomer saja. Hampir setiap liburan dia akan mengerjai ku dulu, sebelum dia mengaku siapa dirinya.
"Halah, ngomong doang! Tapi, bagaimana kabarnya antara Mas mu dan Salwa? Apa mereka sudah wa nan?" tanya Ais. Jiwa kepo nya langsung melejit seketika, setelah aku bilang dia bisa langsung bertanya dan aku bisa langsung menjawabnya.
"Tidak ada kabar apapun. Mereka tidak wa nan." Jawab ku.
Matanya melotot tidak percaya, lalu memicing menatap intens. Seakan aku seorang tawanan, yang bisa saja melawan.
"Udah, ya! Aku mau masuk kamar dulu. Besok lagi aja interogasinya." Sekat ku, sebelum di mengajukan pertanyaan lainya.
Selesai dengan Aisyah aku langsung ke kamar. Menyapa teman-teman yang sama-sama baru saja datang.
"Mbak, kemarin ke Trenggalek ya?" Rayya santri yang memang rumahnya Trenggalek langsung menjejali ku, pertanyaan.
"Iya. Kan, biasa setiap hari raya aku ke sana." Jawab ku.
"Iya. Tapi, gak pernah mau mampir ke rumah ku!" Prosesnya. Lagi-lagi aku di jamu dengan wajah masam.
"Rumah mu, Durenan sedang kakek ku Watulimo. Jauh." Balas ku.
"Ya, tapi, kan tetap bisa mampir." Tambah Rayya lagi.
"Iya...Iya...Iya...Nantilah, kalau liburan lagi. Insya Alloh." Balas ku.
Rayya meminta ku untuk berjanji. Dia memang sering meminta ku untuk mampir jika ke Trenggalek. Namun sering aku abaikan. Pikir ku nantilah, jika memang ada waktu yang benar-benar senggang.
__ADS_1
"Mbak Tika belum datang? Tumben?" tanya ku. Baru tersadar jika ratu kamar ini masih belum datang. Biasanya, dia sudah menjadi nasi tumpeng yang di kelilingi teman-temannya.
"Belum, Mbak. Mungkin saja masih sowan." Jawab Afi. Dia salah satu pengikut setia Mbak Tika. Dia juga bisa di anggap santrinya, karena mau saja di perintah oleh dirinya.
Aku ber'Oh'' riya setelah mendengar jawaban dari Afi. Tidak lagi aku tanya dan langsung membereskan barang-barang ku. Memasukkan beberapa ke dalam lemari, dan meletakkan lainnya di tempat yang semestinya.
Saat semua selesai. Tinggal tas ransel ku yang masih utuh dengan semua isinya. Ku mulai membukanya, dan melihat barang-barang yang seharusnya keluar.
Ku tarik sebuah buku notes di dalam ransel ku itu. Aku mengambil, lalu aku masukan ke dalam rak bagian buku yang ada di lemari.
Teringat saat Mas Albi meminta maaf saat aku akan berangkat tadi Aku sudah duduk di dalam bis, dia masih menemani ku, mengecek semua barang ku dan termasuk ke adaan ku.
"Maaf ya, Nduk kalau aku kasar. Bukan maksud memarahi mu. Tapi, mas cuma khawatir." Tuturnya saat ini.
"Iya, Mas. Aku ngerti, tapi aku tidak suka dengan orang itu." Balas ku.
Entah mengapa aku merasa risih dengan kehadiran kang Dharma. Dia seperti bayangan-bayang yang selalu saja mengikuti ku. Selama ini hanya Mas Albi yang memperlakukan ku dengan istimewa. Tapi, kali ini Kang Dharma seolah ingin merebut posisinya.
Aku tidak ingin, ada yang lain selain Mas Albi. Aku juga tidak ingin, ada sosok lain yang menggeser tahtanya dalam hati.
Sosok Kang Dharma memang cukup menarik perhatian. Aku akui, dia tampan dan menawan. Tapi, hati ku tidak ingin di singgahi kecuali seizin ku sendiri.
"Jangan seperti itu. Aku malah takut, jika perkataan mu berbalik suatu hari nanti." Ucap Mas Albi. Apa yang dia maksudkan?
"Maksud mu, aku nanti akan menyukai Kang Dharma?" tanya ku mencerna kata-kata Mas Albi.
Dengan senyum simpul dia menganggukkan kepala. Aku langsung membuang muka, melihat ke luar jendela. Di sana aku lihat kang Dharma sedang memimpin doa. Saat seperti itu, dia terlihat berwibawa. Tapi, tidak tahu kenapa, dia mengulang doa yang sama untuk ke dua kalinya.
"Kenapa? Bisa saja, kan? Dia sempurna." Jawab Mas Albi.
Aku menatap matanya lekat. Apa dia baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba dia membicarakan soal orang lain. Terlebih tentang perasaan.
Menyelami matanya membuat ku hanya kelabakan saja. Mata itu, menghanyutkan mengobrak-abrik tatanan yang sudah aku kondisikan.
"Menurut Mas, apa aku akan menyukai orang seperti dia?" tanya ku balik. Bukankah, dia yang selalu bilang kalau dirinya lebih mengetahui aku dari pada diri ku sendiri. Dan sekarang, aku ingin mendengar isi pikirannya.
__ADS_1