(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 49


__ADS_3

Pukul 11.24 kami baru sampai di pondok Layla. Pondok, hari ini cukup ramai. Lalu lalang beberapa santri putra dan putri bercampur menjadi satu. Sudah pastilah, itu karena di sekolahan mereka sedang ada Porseni dan juga Bazar.


Sejak Layla di sini, aku cukup mengetahui apa saja kegiatan tahunan Pondok ini. Sedang Porseni, dan Bazar memang di laksanakan dua tahun sekali.


"Layla pasti di sekolahnya, kita langsung saja ke sana." Ujar ku.


"Ini kita gak papa, berpakaian seperti ini? Gak di kira, brandal kan?" tanya Andre.


Dia pasti insecure dengan pakaian yang ia gunakan sekarang. Bagaimana tidak, jika sejak tadi yang kita lihat semua berpakaian rapi dan semua laki-laki sarungan. Palingan, hanya beberapa yang memakai trening. Itupun, pasti atlit yang akan bertanding.


"Udah, gak apa-apa. Kita ganti nanti saja, kalau sudah sore. Aku cuma bawa satu setel baju ganti." Jawab ku.


"Beneran gak apa-apa?" tanya Andre lagi


"Gak. Kau ini, kayak perempuan saja. Kurang perfec sedikit, udah hilang percaya dirinya." Jawab ku.


Aku sudah melangkah ke arah sekolah Layla. Tidaklah jauh dari pondok, cukup menyebrang jalan kemudian berjalan kaki sekitar 300 m.


Andre mengimbangi langkah ku. Terik matahari membuat kami kepanasan, hingga mengundang gerah pada lengan. Dengan santai, Andre melepas jaket bombernya, lalu mengikatnya di pinggang. Menyisir rambut depannya dengan tangan dan membiarkan terjuntai kebelakang.


"Kau tau, di mana Layla berada?" tanya Andre. Kami sudah memasuki kawasan sekolah.


Pandangan mulai mengedar mencari arah, suara riuh bertabrakan dengan banyaknya obrolan. Beberapa tenda sudah menemukan pendatang, dan penikmat sajian.


"Belum tahu, kita tanya seseorang." Jawab ku.


Memasuki kawasan tenda bazar, kami di serbu dengan beberapa orang menawarkan dagangan. Namun, dengan simpul seraya melanjutkan berjalan kami menolak tawaran mereka. Belum, juga kami bertemu dengan tujuan, masak harus bersantai dengan aneka ragam pilihan.


"Kita tanya pada seseorang saja." Kata Andre.


Sedari tadi kami sudah mengedar pandang, tapi tidak jemu menemukan Layla. Andre beringsut pergi, ke salah satu gerombolan santriwati. Dia dengan memamerkan senyumnya, bertanya di mana Layla berada. Namun, kiranya dia mendapatkan hal yang sia-sia. Karena santriwati itu, hanya menggeleng tanpa tahu siapa Layla yang dia maksudkan.


"Kenapa tidak ada yang mengenal Layla di sini? Permaisuri ku bak purnama, namun bintang-bintang tak mengenalnya." Umpatnya, karena kesal usahanya sia-sia.


"Wajarlah, Layla tidak di panggil Layla di sini." Balas ku.


"Lah, terus?"


"Panggilan di sini Najwa. Sekalipun, kau mengedar tanya ke mereka, pastilah kau akan menemukan Layla yang lainnya." Jelas ku.


"Kenapa gak bilang dari tadi. Percuma saja, aku bertanya." Umpat Andre.


Aku bangkit dari duduk ku. Mata ku terusik pada seseorang di balik tenda merah dengan hiasan jarik tenun di depan ku. Aku seperti mengenal wajah itu, dan ingin memastikan.


"Assalamualaikum." Salam ku.


"Waaikumsalam," Jawab serempak tiga santriwati yang saat itu sedang menjaga tenda tersebut.

__ADS_1


"Mas Albi?" Sosok itu langsung bangkit dari kursi plastik yang sedari tadi menjadi tahtanya. Nama ku dia sebut dengan lantangnya, hingga membuat dua orang temannya melongo menunjukkan keterkejutannya juga.


Dua orang temannya itu langsung berbaris mengapit gadis itu, bak dayang yang sedang melindungi sang putri kerajaan.


"Salwa, ya?" tanya ku mengembang senyum.


Dia mengangguk pelan. Rona wajah sudah bersemu merah jambu, entah karena kedatangan ku atau karena gerah sebab sinar matahari.


"Aku mau bertanya, di mana ya, Layla eh Najwa?" tanya ku.


Ketiga gadis di depan ku sontak bertukar pandang. Seakan sedang saling mengisyaratkan sesuatu yang tidak boleh aku tahu.


"Mas mau menemui Najwa?" tanya salah satu dari mereka, yang pasti bukan Salwa.


"Iya. Dari tadi saya mencari, tapi belum ketemu. Barangkali kalian ada yang tahu di mana dia?" tanya ku. Aku masih mempertahankan senyum ramah ku.


Lagi-lagi aku hanya menemukan diam sebagai jawaban. Mereka saling melempar bisik yang tidak bisa aku dengar.


"Monggo, Mas. Saya antar ke tenda bazar Najwa." Kini Salwa yang menjadi penengah mereka.


"Terima kasih, Ayo!''


Aku keluar dari tenda, lalu ketiga santriwati itu ikut keluar juga. Aku melambaikan tangan pada Andre yang masih duduk menunggu di tempat ku tadi. Dia berlari kecil, menghampiri.


"Sudah ketemu, di mana Layla?" tanya Andre celingukan. Namun, matanya langsung menetap pada satu arah tujuan. Pastilah dia mengenal wajah Salwa.


"Mereka akan mengantarkan kita. Kau kondisikan mata mu. Jangan malu-maluin aku." Bisik ku setelah mengetahui mata Andre tidak berkedip melihat Salwa.


"Silahkan, kalian jalan duluan. Kami mengikuti dari belakang." Ujar ku.


Tanpa menjawab, mereka melangkah terlebih dahulu. Aku dan Andre mulai mengikuti kemana arah mereka berjalan.


"Bidadari surga, Bi..." Bisik Andre. Saat ini Andre mendapatkan kesempatan menatap Salwa dari belakang.


"Bisa diam gak?! Suara mu itu bisa kedengaran mereka!" Sahut ku.


"Tapi, tenang, Bi. Hati ku masih utuh untuk Layla. Aku khilaf kok, sumpah!'' Ujar Andre kemudian.


Kalau gak sedang ramai, pasti aku sudah mendarat pukulan pada kepalanya. Mulut sama matanya saja tidak bisa menjaga satu nama, apalagi hatinya. Sedang yang aku tahu, jika mata dan mulut adalah wujud perantara hati bicara.


Kami memasuki kawasan lain dari sekolah ini. Di halaman cukup belakang, baru saja kaki melangkah, suara teriakan bersahut-sahutan terdengar. Gemuruh, bagai sedang ada di stadion olahraga.


"Tenda Najwa ada di depan kantor sekolah, Mas." Kata Salwa sambil menunjuk salah satu tenda. Lekas aku berjalan ke arah tersebut, sampai lupa untuk mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, Salwa dan teman-teman." Ujar Andre, dia yang mewakili ku. Sebelum itu aku membalikkan badan, sambil membungkuk badan, tanda terima kasih serta maaf karena langsung nyelonong meninggalkan.


Senyum Salwa mengembang bersama dengan wajah yang semakin merekah. Ke dua temannya, ikut menyinggung senyum, lalu menggoda Salwa dengan menyikut punggungnya.

__ADS_1


Setelah melewati dua tenda, kami sampai pada tenda bazar milik Layla. Baru saja aku ingin masuk dan menyapa untuk bertanya. Sosok yang aku rindukan, muncul dari balik papan kayu tenda tersebut.


"Layla?"


Panggilan itu langsung membuat dirinya mendongakkan kepala melihat ku. Teman yang ada di tenda tersebut ikut menoleh ke arah ku


"Mas Albi!" Serunya. Dia langsung menghampiri, meminta tangan, lalu menciumnya dengan penuh kerinduan.


"Assalamualaikum, Layla." Andre tidak mau kalah, dia menyembul dari balik tubuh ku sambil tersenyum.


"Mas Andre juga ikut!" Serunya. Dia terlihat girang akan kedatangan kami.


Layla mempersilahkan kami duduk di atas karpet yang menjadi alas tenda ini. Dia meminta maaf karena tendanya berantakan. Teman-teman yang tadinya duduk di tempat ku saat ini berangsur pergi ke belakang.


"Sebentar ya Mas. Tak buatin, es dulu." Kata Layla.


"Gak usah! Kamu di sini saja, kok malah ngerepotin." Sahut ku.


"Nggak kok, Mas bentar aja. Tinggal ambil saja kok. Sudah siap." Kata Layla seraya pergi lagi ke belakang.


Tidak lagi aku cegah, karena memang aku sedang kehausan. Hawa panas menyembul begitu pekat. Sampai jaket yang sejak tadi aku pertahankan, akhirnya aku lepaskan.


Baru juga tiga menit, Layla sudah kembali dengan dua es buah serut di nampannya. Warna pelangi pada serutan es tersebut semakin membuat ku ingin segera melahapnya.


"Alhamdulillah, cal_"


Sebelum Andre kelepasan aku sudah membungkam mulutnya. Dia masih saja tidak bisa melihat keadaan. Tapi, tiba-tiba seseorang datang dari arah pintu tenda. Menyuarakan teriakan, memanggil nama Layla


"Layla, apa es ku sudah jadi!''


Mata ku langsung menatap gerangan yang baru saja datang. Kaos oblongnya sebagian basah akan keringat dalam tubuhnya, nafasnya tersengal-sengal karena mungkin baru saja bertanding. Penampilannya mungkin sangat berbeda, dia bak atlit olah raga. Wajah yang biasa ku lihat putih bersih, berubah merah padam, itupun karena hawa panas dalam tubuhnya.


"Dharma?" Ucap ku.


Laki-laki itu sontak menoleh ke arah ku. Sejak tadi, dia tidak menyadari keberadaan ku. Datang langsung mencari Layla dengan menanyakan pesanannya.


"Mas Albi, kok di sini?" Dia terkejut melihat ku, sontak langsung duduk di depan ku. Menyalami ku, kemudian Andre. Dari tatapannya, dia sedang menyelidiki siapa orang yang berada di samping ku.


"Ini esnya tadinya buat Kang Dharma, Mas. Aku buatin lagi, ya. Sabar." Kata Layla.


Pantas saja dia cepat menyajikan. Ternyata, es itu sudah jadi, tinggal menunggu sang pemesanannya.


"Tidak apa-apa, buat Mas Albi saja. Aku nanti saja gak apa-apa." Bantah Dharma. Dia langsung mengambil dua mangkuk es buah serut itu dari nampan Layla, kemudian menyajikan pada ku dan Andre.


"Kang Dharma, sebentar ya aku buatin dulu." Kata Layla, wajah bersalah menyelimuti dirinya. Namun Dharma memberikan senyum simpul, dan menggelengkan kepala. Tanda jika dirinya tidak mempermasalahkan apa-apa.


Layla kembali ke balik papan kayu tersebut. Sedang Dharma mempersilahkan kami untuk menikmati es tersebut terlebih dahulu.

__ADS_1


Pemandangan yang aneh. Seperti sedang bertamu saja. Layla menyajikan hidangan, dan Dharma menemani kami. Lebih tepatnya, Layla dan Dharma adalah tuan rumahnya, sedang aku hanya tamu saja.


Yang menjadi keganjalan lagi. Sikap Layla yang tidak lagi takut akan Dharma. Itu bertanda, jika selama ini hubungan mereka berjalan lancar, dan tidak menemukan terjal.


__ADS_2