
*Muhammad Qois Albifardzan*
Malam itu aku mendapati dirinya tiba-tiba bergegas ke kamar ku. Layla mengetuk pintu kamar keras, hingga aku yang tadinya akan tidur langsung bangkit dari pembaringan ku.
"Mas!" Dia memanggil ku sampai gendang telinga ku mendengung.
"Ada apa, Nduk?" tanya ku setengah kesal, seraya membuka pintu kamar setengahnya. Pastilah aku kusut saat ini. Sudah tengah malam. Aku baru saja mengerjakan skripsi ku, dan akan beranjak tidur karena hari esok aku harus kuliah pagi, dan siangnya mengantarkan dia kembali ke pondok.
"Besok gak usah ngantar aku ke pondok. Aku bareng rombongan saja." Ujarnya
Mata yang tadinya tinggal seperempat kini langsung terbelalak sempurna. Apa dia sedang mengigau?
"Kenapa tiba-tiba? Sudahlah, Nduk besok aku antar saja. Udah ya, Mas mau tidur dulu." Ucapku.
Tapi dia langsung memasang wajah masamnya. Membuat ku mengetahui jika saat itu dia tidak sedang bercanda.
Aku menatapnya lekat, menelusuri manik matanya yang masih sempurna sadar.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya ku. Aku melangkah ke dalam kamar. Membuka pintu kamar lebar-lebar. Tanpa aku pinta dia masuk ke dalam kamar dan duduk di meja belajar ku. Di sana masih ada laptop yang aku biarkan tergeletak, dan juga buku yang tadinya aku buat referensi. Ku lihat dia mulai membuka-buka buku tersebut, sambil membaca sampul belakangnya. Keinginan tahunan tentang buku selalu membuat dirinya terusik untuk segera mengetahui isi buku tersebut.
Aku membaringkan tubuh ku miring, menghadap dirinya yang masih fokus dengan buku tebal berjudul 'Tidak ada surga' tersebut.
Buku tersebut memang sedikit menggelitik keinginan tahunan karena judulnya. Namun ternyata, isinya pun cukup membuat ku tertegun. Karena dalam buku itu menerangkan jika surga pun nantinya akan ada di dunia ini. Saat semua mati, maka surga akan di bangun di dunia ini pula. Banyak hal yang jika kita tidak hati-hati akan membuat iman dalam hati goyah. Sedang aku memang mendapat buku tersebut dari perpustakaan umum di kampus.
"Nduk?" panggil ku.
"Hmm..." Dia membalas dengan deheman. Buku itu sukses membuat dirinya tertarik untuk di bacanya. Dia mulai menyusuri daftar isi, dan membuka halaman yang di rasa ingin dia baca.
"Kamu kenapa tiba-tiba pengen ikut rombongan? Udah bosen di antar? Udah mulai ngerasa gede?" tanyaku. Aku mulai membaringkan tubuh ku terlentang, memandang langit-langit kamar dengan menyilang kan ke dua tangan untuk menjadi bantalan.
__ADS_1
Namun pertanyaannya ku tidak kunjung mendapatkan jatah jawaban. Ku lirik dia mulai tenggelam dalam buku tebal itu, matanya tidak jemu meniti setiap kata dalam buku tersebut. Lembar demi lembar dia mulai balik, dan kemudian dia baca lagi.
Kali ini rasa kantuk ku tidak bisa terbendung lagi. Saat berbaring seperti ini aku rasakan sendi-sendi dalam tubuh ku mulai melemas, dan siap mendapatkan jatah untuk di istirahatkan.
Aku kembali berbaring miring, memandang sosok adik ku yang duduk di meja belajar ku. Kali ini dia sudah menyalakan lampu kecil meja belajar ku. Ternyata buku itu telah membuatnya melupakan tujuannya ke seni. Sudahlah, aku bisa menanyakan hal itu besok.
Mataku sudah tidak kuat lagi. Berkali-kali, aku berusaha membuka namun tiba-tiba tidak terasa terlelap juga. Layla masih saja mengacuhkan ku, dia malah menyilakan kakinya di atas kursi yang ia duduki itu. Dia bertambah cantik saat serius membaca seperti itu, matanya memancarkan ke ingin tahuan yang luas. Sedang remangnya lampu, membuat mata ku terfokus pada wajahnya saja.
Mata ku terus menatapnya, hingga aku tidak merasakan apa-apa. Dunia mimpi mulai melambai untuk aku sapa.
Aku terbangun saat alarm jam berbunyi. Rasanya baru saja aku melabuhkan mimpi, sekarang sudah harus bangun lagi.
Mata ku masih ingin terpejam, namun aku sibak rasa kantuk untuk memberikan waktu untuk ku menemui sang pencipta. Saat aku masih mengerjabkan mata samar-samar aku melihat sosok yang masih duduk di atas kursi belajar ku.
"Astaghfirullah, Layla." Rasa kantukku langsung hilang setelah mendapati Layla yang masih di posisi semula. Buku tebal yang di bacanya tadi kini beralih profesi sebagai bantal kepalanya. Sedang meja belajar ku, menjadi tumpuan badannya.
Ku pasang selimut tebal sampai di atas dadanya. Memupuk pelan tangannya, agar dia kembali pulas dalam lelapnya.
Aku tidak tahu, jam berapa dia ketiduran. Karenanya, aku terlebih dulu terlelap tanpa sadar.
Usai melihatnya terlelap nyaman, aku bangkit dari duduk ku. Menuju kamar mandi, menyegarkan diri ku dengan angin dingin yang langsung menghadirkan kesegaran dalam badan ku.
Saat aku keluar dari kamar mandi, aku masih melihat Layla tertidur. Tubuhnya meringkuk memeluk guling, benda empuk itu membuat tidurnya semakin pulas.
Setelah ku ganti pakaian dan sarung, aku gelar sajadah dan mulai melaksanakan sholat malam. Empat rakaat sholat tahajud, empat rakaat lagi untuk sholat hajat, terakhir aku tutup dengan dua rakaat sholat tasbih. Sedang aku terbiasa menunaikan sholat witir sehabis ba'diyah Isya'.
Jam dinding menunjukkan pukul 04.15, aku baru saja menyelesaikan ritual wirid ku. Selepas itu mulai ku agungkan setiap pujian dan doa kesejahteraan untuk nabi, Wali-wali Alloh, para Masyayikh tak lupa orang tua beserta keluarga. Barulah aku meminta apa yang aku hajatkan.
Meskipun Alloh sudah mengetahui apa yang aku inginkan, namun tetaplah aku mengadahkan tangan. Wujud ketidak kuasa ku atas setiap apapun jika itu tanpa seizin- NYA.
__ADS_1
Latah mulut ku menyebut nama sosok yang sedang berbaring di ranjang itu. Mengharap setiap kebaikan, dan keridhoan atas apa yang dia perjuangan. Meminta Kebahagiaan yang tiada aku bisa semayamkan. Memohon Keberuntungan yang mungkin tidak bisa aku wujudkan. Semua tentang dia, aku ingin panjatkan. Karena hanya itu yang saat ini bisa aku lakukan.
Ku pandang wajah itu dalam. Entah mengapa membuat hati ku tentram. Mungkin saja karena aku terbiasa bersamanya, mungkin juga dia yang aku jadikan obat penenang jiwa. Entah apa jadinya nanti, saat aku harus berpisah jarak lebih jauh lagi dengannya. Dia semakin tumbuh dewasa, sedikit demi sedikit mulai ingin berlarian tanpa awas mata.
Apa gerangan yang membuat ingin pulang sendiri ke pondok? Apakah kenyamanan bersama ku kini mulai pudar, dan membuatnya bosan? Hingga akhirnya dia mulai merajuk mencari sesuatu kenyamanan yang baru.
Udara pagi mulai merasuk, menembus pori-pori. Walaupun jendela kamar aku tutup dan AC aku padamkan, namun pintu kamar tetap aku biarkan terbuka. Itu semua karena ada sosoknya yang tiba-tiba terlelap begitu saja di sini.
Dreerttt Dreerttt Dreeettt
Ponsel di nakas menunjukkan getarannya. Tanda jika ada pesan masuk. Siapa yang mengirimi pesan sepagi ini? Adzan Subuh masih kurang lima belas menit lagi? Atau jangan-jangan itu hal yang penting, hingga mengharuskan menghubungi sedini ini?
Aku segera bangkit dari atas sajadah yang sedari tadi menjadi alas duduk ku. Berjalan memutar melewati depan ranjang, dan menuju benda pipih berbentuk persegi itu.
Layar itu kembali padam. Tanda hanya sekali saja pesan itu datang. Aku langsung mengecek motifasi, dan senyum ku mengembang saat aku lihat nama yang tertera di paling atas motifasi ku.
*Salwa*
[Bungkahan hati ini tiba-tiba menepi, mengingat diri yang ada pada sosok lain di belahan bumi ini. Mungkinkah, dirinya juga sedang bersenandung seperti ku saat ini? Menyebut nama ku di sepertiga malamnya, dan juga meminta keridhoan akan hasratnya?]
Dia gadis yang manis nan puitis. Baru saja kemarin aku menyalin nomer Salwa dari hape Layla. Mengirim pesan singkat, mengatakan jika aku adalah Mas dari Layla, Albifardzan. Sontak dia langsung menjejali ku dengan banyak kata cinta. Entahlah, begitu angkuhnya aku jika tidak langsung menyambut bidadari secantik dirinya. Apalagi, dia adalah seorang putri dari seorang priyayi.
Aku tidak akan mempermainkan perasaannya. Hanya menggapai sapaan perkenalannya. Namun nyatanya sekarang, dia malah menyambut kedatang ku dengan suka cita melebihi rasa yang baru saja bersua.
Dia masih sama labilnya dengan Layla. Belum mengerti cinta yang sebenarnya, masih menjajaki setiap inci dari masa remajanya. Penuh rasa, dan suka yang mungkin saja baru tertanam dalam hidupnya.
Aku ketuk satu emoticon senyum untuk membalas bait tulisannya. Itu cukup untuk mengungkapkan bahwa aku baik-baik saja.
Suara tarhim berkumandang, ku pandang lagi Layla masih sama dengan posisinya. Mungkin lembur yang ia lakukan tadi malam membuatnya tidak bisa mendengar seruan tarhim subuh. Tidak tega juga aku membangunkannya. Akhirnya aku tinggalkan begitu saja. Sudah menjadi kebiasaan, jama'ah subuh di masjid tidak pernah aku tinggalkan.
__ADS_1