
"Aku ingin memiliki hati seperti ibu itu, dia memiliki banyak syukur dalam hatinya. Kesederhanaan, dan juga luasnya hati." Ucap Layla.
Seketika nafasku lolos sempurna. Anggapanku ternyata berbeda, dengan anggapan Layla. Bukankah, sekarang dia sudah memiliki itu semua?
"Aku kira, kamu ingin jualan gorengan juga." Ucapku.
"Hehehehe, kalau nantinya harus seperti itu tidak apa, aku juga ingin tahu bagaimana hatiku akan menerima takdir seperti itu. Masihkah risau, atau sepenuhnya menerima layaknya ibu tersebut." Balas Layla.
"Jangan! Aku gak rela." Ucapku spontan.
Layla sontak menatapku.
"Maksudku, mana mungkin, seorang laki-laki yang akan bersama mu nanti, rela memperlakukan hal itu kepadamu. Pastinya nanti kamu akan dicintai sepenuh hati. Barangkali, hanya di perbolehkan di rumah saja, sambil mengabdi." Jelas ku.
Layla tersenyum.
"Jenengan kados pun ngertos nasib Kulo mawon, kang (Kamu seperti sudah tahu, masih aku saja, kang)." Ujar Layla.
Jika aku yang menjadi takdirmu, pastilah aku tahu Layla. Karena itulah, aku sedang mengusahakan hal itu. Meminta kepada Alloh, agar engkaulah yang menjadi takdirku.
"Kalau aku bisa melihat nasib seseorang, pastilah orang pertama yang aku ingin cari tahu adalah nasibku sendiri, Layla." Kataku sambil menyeringai.
Layla membalas dengan senyuman.
Layla masih menatap ibu tersebut. Bibirnya masih terlihat komat-kamit membaca sholawat. Barangkali, yang ia maksudkan adalah ketegaran hati seorang ibu tersebut, bisa menular dalam dirinya kelak. Barangkali, caranya berprilaku sederhana bisa ia terapkan dalam kehidupannya. Barangkali, keikhlasan dalam menerima setiap takdir Alloh, juga ingin ia kantongi.
Hal itulah yang semakin membuatku bahagia, hal itu juga yang semakin membuatku jatuh cinta dan tidak ingin melepaskan.
Sudi kah, Alloh memberikan hambanya itu kepadaku, sedang aku adalah hamba yang selalu ingin menang sendiri. Apa yang harus aku lakukan lagi, agar dia bisa melihatku sama seperti aku melihat dirinya.
Ingin sekali bertanya, "Layla, tipe suami idaman mu seperti apa?" Tapi, lidahku kelu, karena hal itu belumlah saatnya.
Dharma, ingatlah! Dia masih sekolah, dia masih harus memikirkan ujian sekolahnya, sabar 'kan hatimu. Pastikan dulu, jika kau mampu membuat dirinya bahagia.
__ADS_1
Rasanya, sedari tadi aku hanya menggerutui diriku sendiri.
Kami tidak saling bicara, sama-sama menikmati keheningan, dia dengan mata yang memancar ke seluruh arah. Sedang aku, masih fokus memandangi dirinya.
Waktu kami berakhir, ketika teman-teman Layla sudah datang semua. Mereka berceloteh panjang lebar, karena di kelas tadi kang Sarip membuat game untuk mendapatkan jatah camilan mereka.
"Memangnya tadi ada ketentuan seperti itu, kang?" tanya salah satu teman Layla, yang aku tahu dia bernama Aisyah, biasa di panggil Ais.
"Tidak, aku membagi secara cuma-cuma. Kelas lain, juga mendapatkan bagian yang sama." Jawabku. Terjawab sudah, apa yang membuat mereka semua tertahan di dalam kelas.
"Lah, ya... Terus tadi, kenapa kang Sarip sok-sokan buat game, sih. Jadi lama kan, dia kelas. Kamu gak apa-apa, Najwa? Apa semua hiasan sudah di pasang semua?" Aisyah lagi sambil mengedar pandang pada tenda mereka.
"Wah, sudah semua. Apa kamu sendiri yang memasangnya?" Aisyah terpana melihat tenda sudah selesai di hias dan semua terlihat rapi.
"Kang Dharma yang masang, aku cuman nyuruh-nyuruh tok." Jawab Layla.
"Ngomong-ngomong, kalian besok mau buka bazar, menunya apa?'' tanyaku.
"Mie Ongklok pak de Jen. Kami setiap tahun jual itu." Sahut Aisyah.
"Udah Sedo (meninggal), orangnya kang. Sekarang yang terkenal, Mie Ongklok pak jen. Itu saja, kemarin kami hampir ke serobot sama kelas 10C. Untunglah, mereka adik kelas, jadi mau ngalah sama kita." Jawab Aisyah, sambil tertawa.
Menurut cerita masyrakat sekitar, sejarah mie ongklok berasal dari pencipta resep makanan lezat ini yang bernama Pak Muhadi. Yaitu seorang juru masak sebuah warung makan bakmi. Konon, Pak Muhadi menciptakan resep mie ongklok ini secara tidak sengaja, dimana pada saat itu pak Muhadi tidak lagi bekerja di warung bakmi.
Kemudian beliau memutuskan untuk mandiri dengan cara berjualan mi secara keliling. Namun tak puas dengan mi buatannya, kemudian Pak Muhadi mencoba mengolah mie dengan cara yang berbeda.
Dengan potensi alam yang ada dan proses percobaan yang berkali-kali, akhirnya Pak Muhadi berhasil menciptakan resep mie ongklok yang melegenda hingga saat ini.
"Minuman apa?" tanyaku lagi. Biasanya para siswa akan menyediakan makanan dan minuman khas daerah mereka. Tapi, tidak jarang yang mengusung masakan daerah Jawa tengah sendiri. Seperti, mie Ongklok itu.
"Es buah serut." Jawab Aisyah aktif.
Wajar jika Aisyah dijadikan ketua kelas. Dia sangatlah aktif. Tanggap dalam segala sesuatunya. Berbanding terbalik dengan Layla, dia akan bicara seperlunya saja, dan baru akan mengatakan sesuatu jika di tanya.
__ADS_1
"Minuman apa itu?" tanya Sarip menyerobot. Pastilah asing dalam telinganya. Dia ikut duduk bersandar pada pilar yang sedang aku buat sandaran juga.
"Ya, lihat sajalah besok." Jawab Aisyah dengan nada kesal.
Aku pun sama, setahuku jika es buah ya es buah, es serut ya es serut. Tapi sepertinya, Aisyah sedang tidak ingin membahas hal itu
"Kamu itu, di tanya, jawabnya ya, Mbok Apik (Bagus)...Gini, Lo kang..." Balas Sarip dengan menjabarkan yang dia inginkan.
"Halah! Sama kamu saja, Kang...Kang. Eman bahasa alusku." Sahut Aisyah.
"Loh...loh...Ya, belajar. Kamu setelah ini lulus sekolah, Lo. Sebentar lagi nikah, Lo...Masak sama orang gak punya sopan santun." Bantah Sarip. Dia sedang seperti bapak yang menasihati anaknya. Sarip kerap seperti itu, jangankan Aisyah, aku saja sering di tuturi (Nasihati) macam-macam. Padahal, dirinya sama saja sering melakukan. Tapi, dalam konsep ini, aku tahu jika Sarip hanya ingin menggoda Aisyah.
"Nikah, gimana, tho?! Masak baru lulus Aliyah langsung nikah. Percuma, dong aku sekolah. Emangnya, saya gadis desa. Ya, gaklah!!" Tolak Aisyah, wajahnya mulai meradang.
"Ckckck...Siapa tahu, tiba-tiba ada yang ngelamar kamu, terus orang tuamu setuju begitu saja." Sarip tak mau kalah.
"Gak. Mungkin, aku masih pengen kuliah, kerja, mengamalkan ilmu! Banyak sisi dunia yang ingin aku kejar! Nikah urusan belakangan!" Aisyah semakin memuncak.
Tidak sadarkah mereka? Jika saat ini mereka berdua sedang menjadi tontonan banyak orang. Layla, terlihat ingin merelai tapi, sahabatnya itu tidak menggubrisnya. Dia mati-matian, membela haknya. Padahal, yang ia serang sekarang hanya Sarip, yang niat awalnya hanya menggoda saja.
Perempuan selalu mengedepankan perasaan, hingga terkadang tidak sadar, alur dalam pemikiran orang di depannya.
"Ais! Udah! Di lihatin orang banyak." Layla, menyambar lengan Aisyah yang sudah berkacak pinggang. Matanya, melotot ke arah Sarip.
Melihat hal itu, aku segera menepuk pelan punggung Sarip, agar dia mulai mengalah dan menyudahi berbuat usil dengan Aisyah.
"Sebentar, ini masih belum selesai!" Seru Aisyah racau, dia menolak omongan Layla. Mengibaskan tangan Layla yang memegang lengannya.
"Sttttss ..." Aku berdesis keras. Sontak membuat mata tertuju pada diriku.
"Jangan ribut disini, Eman tendanya, udah aku hias." Ujar ku, sambil mengibaskan tangan untuk menghalau Sarip dan Aisyah untuk keluar.
"Wah-wah, aku baru sadar, berarti sejak tadi kalian berdua saja?" goda Aisyah sambil melihat kearah ku lalu kepada Layla.
__ADS_1
Layla tersipu malu, dia langsung mengajak Aisyah pergi keluar tenda. Aku bangkit dari dudukku. Hari itu sudah cukup, tidak ingin aku membuat gaduh hati Layla sebab ocehan teman-temannya.