(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 97


__ADS_3

#Layla Najwa Fathurrohman


Hal yang paling menyakitkan adalah di lepas secara pelan-pelan oleh orang yang telah lama mencintai kita.


Dia ada namun tidak lagi ingin bersama. Dia ada namun dia memilihkan orang lain untuk kita.


"Gak usah ngarep. Udah, kali ini saja. Kalau mau ketemu lagi. Nanti, pas Layla liburan." Kataku.


"Jadi, udah boleh nih. Aku ngapalin, Layla?" Mas Andre kegirangan.


"Asal ada gua juga!" Balas Mas Albi


Aku tersenyum kecut. Langsung melangkahkan kaki pada tenda bazar ku yang sudah tidak jauh dari posisiku.


Kedua laki-laki yang sejak tadi menemuiku masih terus berseteru. Aku yakin perseteruan mereka bercanda. Tidak akan ada jotos-jotosan apalagi adegan pembunuhan.


Aku bukanlah seseorang yang patut di pertaruhan juga. Tidak juga layak di perebutkan. Aku ini siapa? Bukan seseorang yang bisa di andalkan dan hanya menyusahkan.


Sakit akan kenyataan jika Mas Albi lambat laun akan menerima seseorang dalam hidupnya nanti masih membekas sampai saat ini. Sekarang di tambah, dia yang selama ini menjagaku tiba-tiba memberikan hak orang lain juga untuk bersama denganku.


Aku kira mas Albi akan lebih lama dan bahkan mempersulit siapapun laki-laki yang aku mendekatiku. Itu terlihat jelas saat waktu-waktu yang lalu dia bersikeras melarang ku untuk berhubungan dengan laki-laki yang sering mengirim pesan untukku. Juga tentang takutnya dia akan kembalinya aku sendiri ke pesantren. Bahkan mas Andre yang menjadi sahabatnya tersebut__yang katanya sudah lama mengincar ku tidak kunjung dia pertemuan denganku. Hanya alasan bahwa mas Andre bukanlah laki-laki baik untuk bisa bertemu denganku dengan mudah.


Namun setelah kejadian tadi pagi, atau memang setelah dia bersama Salwa tadi. Dia mulai melepas ku secara berlahan. Belum sepenuhnya. Namun dengan apa yang ia katakan pada mas Andre tadi, itu sudah cukup membuktikan jika dia mulai ikhlas aku dekat dengan sahabatnya tersebut.


Aku menemui Aisyah. Alhamdulillah, dagangan kami ludes dengan waktu yang lumayan singkat. Dhuhur sudah habis dan teman-teman ku sudah leyeh-leyeh. Aisyah masih berbincang dengan pedagang yang kami minta untuk mengisi dagangan hari ini. Sepertinya dia sedang menghitung jumlah yang harus kami berikan pada pedagang tersebut. Sebab Alhamdulillah, salah satu teman tadi mengatakan jika dagangan kami melebihi expetasi. Dari yang awal menyiapkan tiga ratus porsi ternyata tembus sampai lima ratus porsi. Untunglah, persediaan bahannya masih ada.

__ADS_1


"Hai, sudah selesai?" tanyaku pada Aisyah. Baru saja aku akan menghampirinya.


"Sudah! Alhamdulillah semua beres." Jawabnya sambil tersenyum mengembang.


Jadi Aisyah pasti melelahkan. Dia sudah sangat berjuang dan mengeluarkan segenap tenaganya. Meskipun begitu, dia tetap ada untukku.


"Ada apa? Apa sudah mau pulang?" tanyanya dengan menyelidiki keberadaan dua laki-laki yang bersamaku.


"Iya. Tapi kami mau sholat dhuhur dulu. Kamu mau ikut?" Ajakku.


Sengaja aku menawari bukan mengajak langsung. Sebab aku takut dia kelelahan dan karena ajakan ku dia memaksa untuk menuruti.


"Ok. Baiklah. Toh, semua sudah beres di sini."


Aku memberikan waktu Aisyah untuk bersiap-siap. Selagi itu aku menemui mas Albi dan Mas Andre. Mereka tidak masuk ke tenda. Mereka berdiri tak jauh dari sana.


Mereka sudah berdamai dan sedang berbincang entah apa topiknya.


"Tunggu Aisyah, ya?!" Seruku pada mereka berdua.


Tidak ada balasan. Hanya saja mas Albi mengangguk. Mas Andre menunjukkan kedua jempol tangannya, tanda persetujuan.


Aku teringat lagi pada permintaan Aisyah yang meminta Nomer WhatsApp mas Andre. Jadi galau lagi, kan? Tujuan tantang yang aku berikan tadi memang aku tujukan untuk meminta izin pada mas Andre agar mau memberikan nomer WhatsApp-nya pada Aisyah. Akan tetapi kondisi saat ini masih meragukan. Sebab terlanjur mas Albi mengiyakan dia untuk bisa lebih leluasa datang padaku saat liburan mendatang.


Aku harus bagaimana? Tidak mungkin juga aku melalui kan keinginan Aisyah. Dia temanku dan dia membutuhkan hal kecil itu bagiku.

__ADS_1


"Sudah, ayo?!'' seru Aisyah. Tiba-tiba saja dia sudah ada di sampingku. Semoga dia tidak melihat mimik wajahku yang gelisah tadi.


Aku mengangguk. Kami kemudian berjalan ke arah masjid. Mas Albi dan Mas Andre seperti biasa jalan di belakang kami.


Sesampainya di sana kami berpisah. Aku dan Aisyah ke toilet perempuan dan mas Albi dan Mas Andre ke bagian toilet laki-laki.


Seruan adzan juga baru saja berkumandang. Telat hampir satu jam dari kebiasaannya. Biasanya adzan akan di kumandangkan tepat waktu, tapi karena ada kegiatan adzan tersebut ikut di undur. Bukan berarti tidak di lakukan. Hanya saja lebih memberikan kelonggaran sebab untuk kami semua yang sedang sibuk dengan bazar. Di masjid pun tadi di gunakan lomba lainya. Yang tidak mungkin di bubarkan begitu saja. Sebab itu pula kami pun bisa ikut jama'ah.


Lepas jama'ah mas Andre kembali mengajak kami makan siang. Perutku masih kenyang sebab makanan yang sejak tadi masuk secara bergantian. Tapi ternyata bagi seorang laki-laki camilan hanyalah camilan yang tidak bisa mengenyangkan.


Kali ini pilihannya adalah Soto kudus__ memiliki kuah yang lebih bening dibanding soto pada umumnya. Dilengkapi dengan ayam suwir, taoge, sohun, dan kol. Satu lagi ada Mangut beong__ terbuat dari ikan beong yang hanya bisa ditemukan di Sungai Progo. Tekstur ikan beong lembut dengan daging yang padat. Kedua menu tersebut ada dalam satu stand. Keduanya pula adalah macam makanan khas Jawa tengah.


Memang saat bazar seperti ini mereka lebih memperkenalkan ciri khas mereka pada beberapa orang yang datang. Banyaknya wali santri yang menyambang, membuat beberapa stand berinsiatif untuk menyajikan makanan khas mereka.


Walaupun sejujurnya lebih baik lagi andaikan jika kita bisa menyuguhkan makanan khas kita secara beragam. Tidak harus satu daerah saja. Tapi semuanya. Sebab kita santri yang memiliki banyak ragam pula makanan khas dari daerah masing-masing.


Dulu sempat pernah seperti itu. Namun karena memang bukan tempat dan bukan pula daerahnya kami kesulitan mencari penjual yang bisa menyajikan masakan khas daerah lain. Ada pun, itu pasti memakan biaya banyak sebab pasti mereka memiliki tempat sendiri yang lebih menyajikan dari pada mengikuti kami yang hanya bisa menjalankan dagangan dengan jumlah yang minim. Itupun andai laku, kalau tidak kasihan juga pedagangnya. Waktu ini saja stand kami lalu keras.


Aku masih ingat betul bagaimana tahun sebelumnya. Dagangan kami hanya laku lima puluh porsi dan lainya harus kita makan sendiri. Sebab tidak mungkin kita mengembalikan makan tersebut pada orang yang kami pesan. Yah, barang kali saat itu kami masih belum begitu mengerti cara bergadang dan juga pastinya kalah saingan dengan kakak-kakak kelas. Beda dengan sekarang, yang saat ini kami sudah menjadi kakak kelas.


Akan tetapi aku lihat, stand milik adik kelas pun tidak kalah dengan kami. Mereka bisa memprogres dagang mereka tetap laku dan laris manis. Tidak seperti kami dulu.


"Ayo makan!" Seru Mas Andre. Dia yang paling semangat.


Kata Mas Albi kali ini mas Andre yang mentraktir kami. Sungkan juga, sebab sejak tadi pagi di sudah memberikan banyak barang juga padaku. Sampai yang awalnya hanya berniat membelikan oleh-oleh pada ibu, aku jadi ikutan dapat. Daster, atau di bilang gamis twill yang entah kapan bisa aku pakai. Yang pasti tidak akan aku pakai ketika di pondok. Lumayan buat bualan nanti kalau paksa untuk memakainya.

__ADS_1


__ADS_2