(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 26


__ADS_3

Selama hampir lima hari kami di Trenggalek. Tidak sekali pun kami melewati tanpa ke pantai, entah saat berdua saja dengan Mas Albi, atau saat seperti ini. Bersama para keluarga.


"Kamu, mau main air lagi, Nduk?" tanya Mas Albi.


Aku sudah memakai rok plisket hitam, yang di dalamnya sudah aku rangkap dengan legging hitam juga. Kaos blesteran hitam putih, lengan panjang menjadi atasan ku.


"Hari terakhir, Mas. Ayolah'' Jawab ku.


Aku sudah siap menerjang ombak, namun Mas Albi menahan ku.


"Dari kemarin, kamu sudah main air, Lo, Nduk... Kali ini jalan-jalan, yuk?"Ajaknya.


Teriknya matahari, membuat ku harus menutup atas kepala ku untuk sekedar melihat Mas Albi. Dia juga sedang memicingkan matanya, untuk mengajak ku berbicara.


"Gak, ah Mas. Besok, kita sudah pulang, Lo ...." Bantah ku.


Sudah aku bilang, laut adalah tempat kesukaan ku. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bermain ombak, dan menyatu bersama deburannya.


"Layla, Iki kayak gak bakal nak pantai maneh ae, gak, bosen, to Nduk (Layla, ini kayak gak akan ke pantai lagi aja, gak bosen, ta Nduk)?" Kini Akung menyahuti. Mungkin juga beliau mendengar percakapan kami.


"La, ya...Kung. Sejak dari kemarin main terus!" Kali ini Mas Albi mendapatkan teman berdebat. Aku mulai cemberut. Sudah tahu, jika aku tidak akan bosan dengan laut. Tapi, tetap saja mereka melarang ku.


"Mugo-mogo, sok duwe jodoh omah e cedek laut. Ben, iso seneng terus (Semoga, nanti dapat jodoh, rumahnya dekat laut. Biar bisa bahagia terus)." Ucap Akung. Sontak membuat keluarga lainya tertawa.


"Hahaha, jadi ibu nelayan. Mau?" tanya Mas Albi.


Ku monyongin bibir, tanda aku tidak suka dengan candaan mereka. Suka laut, tapi juga gak jadi nelayan juga.


"Ya, udah. Kita jalan-jalan aja." Akhirnya aku menyerah.


Mas Albi tersenyum puas. Hah! senyumannya itu, membuat ku tidak tahan ingin mencubit ke dua pipinya. Andai tidak sedang di keramaian pasti tangan ku ini sudah mendarat di pipi chubby-nya.

__ADS_1


"Alfan! Ayo, ikut !" Seru Mas Albi. Aku memiringkan wajahku melihat anak delapan tahun itu sedang asyik dengan ember dan juga mainan traktornya, yang sempat dia bawa dari rumah.


"Gak usah, bocah e aring nak kene(Tidak usah, anaknya tenang di sini)!" Bibi Sarah menjawab, ibu anak itu mungkin akan lebih tenang jika anaknya tidak lepas dari pandangannya. Dari pada bersama kami, yang entah nanti akan keluyuran kemana?


Akhirnya aku berdua saja dengan Mas Albi, menyusuri pantai. Ku tarik dia sampai ke bibir pantai, hingga kaki kami terhempas ombak kecil dari laut. Awalnya menolak, dan kesal karena aku sengaja menciprati kaki dan celana Levis yang ia kenakan, hingga terkena pasir basah. Tapi akhirnya menikmatinya juga.


Saat melihatnya mulai nyaman, aku mulai tarik lagi ke tengah laut. Tapi, sebelum itu terjadi Mas Albi sudah menarik menjauh dari sana. Menggenggam tangan ku erat, hingga menuju tengah pantai. Tidak lagi, kami rasakan ombak kecil di kaki kami.


Aku tidak mau kalah, sedikit saja pegangannya kendor, aku langsung menariknya lagi ke tengah laut. Dan akhirnya, aku berhasil membuat kami basah setengah badan.


"Hahaha, kena, kan. Mangkanya, jangan kasih kendor. Aku kok, di lawan!" Sorak ku


"Ya Alloh, Nduk..." Keluhnya.


Terlanjur basah, akhir aku mulai menggodanya lagi dengan menyirami dia dengan air laut. Ajakan untuk jalan-jalan saja, akhirnya terabaikan. Kita, main air dan berlarian di tepian pantai


Saat-saat seperti ini, ingin rasanya terus ada dalam kehidupan kami. Di waktu ini pula, rasanya ingin menghentikan waktu, agar tidak ada kata selesai dalam tawa kami.


Mas Albi mengajak ke ujung pantai. Di sana ada karang besar dan juga bebatuan. Beberapa orang yang datang menjadi otfit untuk foto dan Selfi.


Berganti, aku juga memotretnya dengan gaya yang menurut ku bagus. Mas Albi menurut saja, ketika aku suruh memegang ujung kerahnya untuk menutup sebagian wajahnya. Dia juga, mengiyakan ketika aku suruh menghadap laut sambil menyembunyikan ke dua tangannya di sakunya, kemudian aku potret dari belakang.


Tidak meninggalkan kesempatan, aku menyuruh seorang pengunjung untuk memfoto kami berdua dengan banyak gaya. Bahkan, saat aku meminta kita saling berhadapan, dan saling tatap Mas Albi tidak menolaknya. Kita juga di beri kesempatan fotografer dadakan kami, untuk bergaya seolah sedang berjalan dan bergandengan tangan.


"Hasil fotonya bagus-bagus Lo, sampai ketagihan foto kalian saya." Ujarnya senang.


"Haha, masak, sih Mas?" tanya Mas Albi, dan langsung menghampiri, aku mengikuti dari belakang. Ikut melihat foto-foto kami.


Ternyata banyak sekali yang orang itu jepret, candid saat tidak kuat kalau harus tatap-tatapan, saat aku tidak sengaja, membenahi posisi Hem Mas Albi. Kami, sampai tertawa, saat ada foto yang menunjukkan mulut yang menganga bersama, mungkin itu terjadi saat kami masih belum siap untuk di foto.


"Satu kali, gih! Kali ini, gimana kalau mbaknya duduk di karang, dan Masnya, berdiri di belakang." Ujar laki-laki itu mengarahkan.

__ADS_1


Aku menatap Mas Albi, mencari persetujuannya. Dan ternyata dia baik-baik saja, dan siap-siap saja saja di arahkan oleh orang tersebut.


Akhirnya, kami naik lagi ke atas karang besar. Bergaya sesuai arahan fotografer kami. Setelah di rasa bagus, dia mulai memotret kami. Ternyata, tidak satu kali saja, ada beberapa gaya lainya juga. Entahlah, sampai aku dan Mas Albi Kecapekan. Ini orang sebenarnya suka, atau emang hoby.


"Sudah, Mas. Terimakasih, atas bantuan, dan maaf merepotkan." Ujar Mas Albi, sebelum dia meminta kami untuk bergaya lagi.


"Sama-sama, Mas. Moga-moga langgeng, ya!" Balasnya sambil menyerahkan ponsel pada Mas Albi.


Sontak membuat kami berdua, bertukar tatap. Kemudian tertawa.


"Kami, Adek kakak, Mas." Kata Mas Albi, meluruskan.


"Loh, kirain pacaran. Maaf, Lo.." Orang itu terkejut mendengar kenyataan hubungan kami. Sampai melongo, dan salah tingkah karena salah duga.


"Gak, apa-apa, Mas. Santai, aja!"


Mas Albi masih berbincang dengan orang tersebut. Sedang aku masih nangkring di batu karang tersebut. Mendengar dan melihat mereka saling tukar informasi soal nama, dan alamat. Aku tahu, itu hanya basa-basi. Tapi, aku mengenal Mas ku itu, dia akan senang sekali berkenalan dengan orang baru. Katanya, " Semakin banyak, yang kita kenal. Semakin banyak pahala silaturahmi nantinya. Gak, boleh pilih-pilih orang untuk di kenal dan mengenal."


Mas Albi melambaikan tangan, mengajak ku untuk pergi, bergantian tempat lainya. Aku mengiyakan, dan segera turun. Namun, nas...


*****Bruuuk*****


Aku jatuh terpeleset, dan langsung tersungkur di tanah yang basah, bahkan masih ada genangan airnya. Mas Albi sontak langsung menghampiri ku.


"Ya Alloh, Nduk...Polah mu jan og(Kelakuan mu, memang benar-bener)!" Ucapnya sambil membantu ku bangun. Dia marah, tapi dia cemas. Aku hanya nyengir, dan segera berdiri. Agar tidak mengkhawatirkan dirinya.


Beberapa orang melihat kami. Mas Albi menyuruh ku untuk duduk di batu yang ukurannya tidak terlalu besar. Melihat ku dengan geleng-geleng, dan kemudian meminta untuk duduk di tempat tersebut terlebih dahulu.


"Aku ambil selendang dulu, kamu disini aja. Bentar, jangan kemana-mana!" Ucapnya. Lekas itu, dia pergi berlari kecil ke arah tempat keluarga kami berkumpul tadi.


Sakit ini tidak terasa, saat ada dia yang selalu ada untuk ku. Bahkan, mungkin ingin melakukan hal konyol tersebut berkali-kali. Agar bisa melihat wajah cemas, dan kekhawatirannya di dalam hati.

__ADS_1


Dialah, Qois ku...


Dan akan seperti itu...


__ADS_2