
Pov: Muhammad Qois Albifardzan
"Tawaran kami, jika memang Nak Albi mau menerima Salwa sebagai istri. Maka kami akan sangat senang dan berterimakasih kepada Nak Albi." Kyai Anwar membuatku semakin tegang.
Biasanya pihak laki-laki yang akan datang melamar dan meminta si perempuan. Tapi kali ini kebalikannya.
"Namun, jika sudah ada perempuan lain yang nak Albi sudah inginkan. Kami juga tidak bisa memaksa," imbuh Kyai Anwar.
"Kami kesini untuk memastikan dan menuruti kemauan Salwa untuk menayangkan bagaimana kesanggupan Nak Albi dan kesediaannya." Lagi-lagi Aku hanya diam dan kain menunduk.
Tentu saja aku tidak sanggup, tentu saja aku tidak bisa menerima tawaran ini. Itulah yang ingin aku katakan. Namun, melihat ayah dan ibu yang begitu bahagia dan memiliki harapan yang penuh akan penyatuan ini. Membuat lidahku kelu untuk sekedar mengatakan 'Tidak.'
Bagaimana aku harus menjelaskan kepada mereka, jika aku menerima tawaran ini maka aku sudah memilih jalan kebohongan. Bahkan kelak, aku pun tidak akan bisa mencintai Salwa, sebab hatiku sudah dipenuhi oleh Layla.
"Apakah Albi boleh berpikir dulu, pak Yai?" Aku mengajukan pertanyaan tersebut. Aku tidak ingin banyak orang tersakiti sebab kebodohanku nanti.
Semua orang saling menatap. Seakan apa yang aku tanyakan adalah sebuah tanda penolakan.
"Kenapa, Bi? Apa yang perlu kamu pikirkan? Kamu sudah pernah bertemu dengan Neng Salwa kan? Dia perempuan yang sempurna, le ... " Ibu menyahut dengan tatapan menyudutkan dan rasa tak enaknya pada para tamu.
"Nggeh, Ibu. Salwa perempuan yang baik, terpelajar dan Sholehah. Siapapun laki-laki yang menjadi pendampingnya pasti akan beruntung memilikinya. Tapi, apakah Albi pantas akan hal itu? Terlebih Albi bukan siapa-siapa, Albi juga tidak memiliki apa-apa." Alasan itu yang bisa aku jelaskan sekarang. Memang selain tidak memiliki hati dan cinta yang utuh. Aku masih merasa ragu apakah bisa membahagiakan dia dengan materi yang biasa Salwa terima. Itu akan membuat gadis itu semakin sengsara nantinya.
"Jika itu yang membuat keraguan dalam hatimu. Jangan risau anakku. Sebab putriku akan menerima kamu apa adanya. Insya Allah soal materi, semua itu bukan masalah besar yang akan menghambat kalian berdua. Yang kalian perlu lakukan adalah saling menerima satu sama lain dan terus berusaha menjadi pasangan yang manfaat di dunia dan akhirat. Dan kelak, tuntunlah putriku untuk menuju surganya Allah SWT." Kali ini ditambah Istri dari kyai Anwar_ Ibu Nyai Iffah yang bersuara.
"Iya, Albi. Dulu pun aku juga seperti kamu saat melamar Uminya Salwa ini. Tidak memiliki apapun, tapi Alhamdulillah ... seiring berjalannya waktu, kehidupan kami membaik. Kamu tenang saja, Salwa insya Alloh, bisa diajak hidup sederhana dan mau menerima apapun yang kamu berikan."
Kata-kata mereka semakin membuat aku takut. Kepasrahan mere kepadaku, semakin menyudutkan aku dan membuat aku ingin memberontak untuk tidak menerima semua itu.
"Atau mungkin, sudah ada perempuan lain?" Kini giliran Nada yang menelisik keraguanku.
__ADS_1
Dengan sangat ragu aku menggelengkan kepala.
"Belum ada." Tidak mungkin juga aku mengatakan jika aku sudah memiliki perempuan lain, sedang selama ini dihadapan orang tua aku sama sekali tidak pernah menceritakan ketertarikanku pada sosok perempuan mana pun.
"Ya sudah. Kalau memang perlu waktu, kami akan menunggu. Jangan dibuat tegang, Nak Albi." Kyai Anwar meredakan situasi yang tegang ini.
"Iya. Santai saja, Nak ... Lagipula Salwa juga masih besok kelulusannya. Masih ada beberapa bulan lagi untuk menentukan pernikahannya," tambah Bu Nyai Iffah.
"Salwa seumuran dengan Layla. Mereka masih begitu muda, tapi maaf-- kenapa harus menikah muda?"
Pertanyaan itu begitu lancang. Apalagi saat ini dihadapanku adalah para kyai besar yang sudah masyhur akan ilmu pendidikannya.
Mereka tidak tersinggung, bahkan tertawa kecil.
"Karena saya tidak mau, jika anak-anak saya menyebar syahwatnya dengan cara haram. Sudah menjadi tradisi di keluarga kami, menjodohkan atau mencarikan jodoh anak kami diusia muda. Salwa termasuk paling akhir mendapatkan pasangannya. Di daerah kami malah ada yang masih SD sudah terikat dengan tali perjodohan," jawab Kyai Anwar.
"Kerena itu, dia lebih dewasa dari anak-anaknya lainya. Sebab memang sejak kecil sudah tahu bahwa saat umur mereka sekitar 18 tahun, mereka sudah harus menikah dan hidup terpisah dengan orang tua mereka," lanjut beliau.
Langsung saja aku melihat ke arah Nada. Tapi dia tidak mengalami hal itu.
"Tidak berlaku untukku. Aku gak mau harus seperti itu, lagipula daerahku tidak mengharuskan hal itu." Faham akan maksud tatapanku, Nada langsung menjelaskan secara terperinci akan pertanyaan dalam hatiku.
"Tapi kabarnya kemarin kamu dan Gus Dharma mau itu, Neng ... " Sahut Bu Nyai Iffah.
Nama Dharma menguak dalam perbincangan kami. Tapi apakah Dharma yang dimaksud mereka adalah Dharma yang sama dengan yang kami kenal.
Melihat gerak gerik Nada yang salah tingkah, membuat orang di ruangan itu langsung faham. Jika apa yang diutarakan Bu Nyai Iffah adalah sebuah kebenaran.
"Belum Bu lek ... Entahlah, Nada manut saja sama Abah."
__ADS_1
Aku tersenyum mengejek. Baru kali ini aku melihat Nada sesalting itu. Pasalnya perempuan itu terbilang tegas dan keras.
"Apakah yang dimaksud Gus Dharma adalah Kang Dhrama, Nad?" tanyaku memastikan.
"Kamu kenal dengan Dharma, le?"
"Hmm ... Belum tahu juga, Abah Yai. Tapi jika memang Dharma yang rumahnya Trenggalek yang juga mondok juga di Al Amin saya tahu."
"Oh, iya itu. Dharma yang sama. He'em ... itu calonnya Neng Nada."
Aku dan orang tuaku langsung terbelalak tak percaya. Pasalnya kami kira dia adalah santri biasa. Tapi mendengar gelar yang diucapkan oleh Kyai Anwar tadi membuat kami tahu, bahwa ternyata pemuda itu bukan kang-kang biasa. Pantas saja auranya berbeda.
"Wah ... Kebetulan sekali, kami sekeluarga pernah merepotkan Kang Dharma waktu itu. Jadi sungkan," ujarku.
"Ngerepotin apa?"
"Buat menjaga Layla. Kala itu dia tidak mau pulang dan diantar ke pondok. Jadi dia ikut rombongan bus dan kami pasrahkan dia ke kang Dharma itu."
''Oalah ... Iya-iya. Tapi amankan? Adikmu gak dicawil-cawil?" Kali ini Kyai Mushofa yang bertanya.
"Alhamdulillah, mboten Abah Yai. Layla sehat wal Afiat sampai di pondok.
"Syukurlah ... Soalnya Dharma suka goda dan jahil. Tapi Nada kayake malah senang sing kyok ngunu kui (Tapi Nada malah suka yang seperti itu.)"
"Ah ... Abah ... jangan bicarakan soal itu di sini. Ini kan forum untuk membahas Albi dan Salwa, bukan Nada dan Kang Dharma."
Semua yang diruang tamu tertawa dengan sikap malu yang diperlihatkan oleh Masa.
"Ya sudah. Kita kembali ke pembahasan awal. Jadi gimana, Nak Albi. Mau menerima Salwa jadi istrimu?" Lagi, pertanyaan itu kembali diperdengarkan oleh Kyai Anwar selaku Abah dari Salwa.
__ADS_1