(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 98


__ADS_3

#Layla Najwa Fathurrohman


Ada pemberitahuan jika para penyambang di minta untuk memberitahukan kartu mahram saat akan pulang. Hal tersebut memang selalu di lakukan. Nas-nya aku melupakan dimana aku simpan kartu tersebut.


Mas albi menitipkan padaku kemarin saat kami kehujanan. Takut jika kartu itu akan hilang, akhirnya aku langsung masukan ke dalam tas ranselku. Namun, saat ini aku obak-abik kartu itu menghilang.


"Ingat lagi, di mana kamu terkahir menyimpannya," ujar Aisyah yang saat itu juga ikut mencari.


Akan ada masalah jika kartu itu hilang. Bisa jadi aku akan terkena masalah sebab seharian aku jalan bersama laki-laki yang tidak mereka kenal. Apalagi jarang sekali mas albi menampakkan diri selama ini. Mereka hanya tahu jika aku punya kakak laki-laki, namun tidak faham bagaimana wujudnya.


Sosok mas albi mulai fames setelah di kaitkan dengan Salwa. Semua seluk beluk mas Albi mulai menjadi perbincangan banyak kalangan. Terutama pondok Putri.


Mereka tidak berani mencari tahu langsung lewat diriku. Namun langsung pada akun-akun yang di miliki mas Albi. Followers Instagram dia langsung menaik pesat. Dia yang jarang main sosmed pun kaget dibuatnya. Kami berdua pun memang tidak terlalu memusingkan tentang dunia persosmed-an namun akhir-akhir ini lumayan terganggu sebab banyak DM yang menginginkan perkenalan.


"Apa jangan-jangan ketinggalan di Dhalem timur ya? Kemarin kan karena basah semua isi tasku aku keluarin semua," Aku mengingat kembali apa yang aku lakukan di Dhalem timur.


"Bisa jadi. Di sini kita tidak menemukannya juga,"


Aku menggigit Silvaku. Rasanya malas sekali jika harus kembali ke Dhalem tersebut. Mengingatkan aku tentang kedekatan mas albi dan Salwa saja. Belum lagi kejadian di sana membuat aku bosan. Tidak ada kenangan apapun yang menarik untukku.


"Ck! Bagaimana kita kesana? Izin apalagi coba? Mana tadi ada masalah." Keluhku.


"Bilang saja sama Masmu. Barangkali dia mau ngambil sendiri ke sana."


Aku memikirkan ulang. Mas Albi pasti mau saja. Tapi kalau dia kesana sendirian apa gak apa-apa? Cerita mas Andre kan tadi mas Albi sempat marah-marah di depan Ning Nada juga. Apa tidak apa? Apa tidak sungkan nantinya? Tapi, kartu itu sangat penting juga.


"Gak usah mikir lagi. Bentar lagi sudah mau ashar Lo. Kalau kebanyakan mikir malah gak kelar-kelar," celoteh Aisyah.


"Iya deh. Kita ke dhalem timur lagi. Semoga saja dapat izin," doaku.


Kami keluar lagi dari asrama. Menemui mas Andre dan Mas Albi yang masih menunggu di parkiran depan pondok.


"Bagaimana, ada?" tanya Mas Albi saat melihat kami menghampirinya.


"Kayaknya ketinggalan di Dhalem timur deh," jawabku.


"Kok bisa?"


"Yah, namanya juga manusia. Kadang lupa juga," jawabku santai.


"Ya sudah, ayo di ambil!" Seru Mas Andre.

__ADS_1


"Gimana ya? Kan kita gak bisa kesana tanpa izin," ungkapku.


"Kita bisa kesana kemarin kan sebab di minta oleh Ning Nada," tambah Aisyah.


Kedua laki-laki di depanku saling bertukar pandang.


"Kita minta izin lagi, nih sama Nada?" tanya Mas Albi


Aku mengangguk.


"Kalau bisa, paling tidak pada keamanan pondok," tambah ku sambil mengigit ujung jemariku.


"Yah... Bagaimana? Langsung ke nada saja. Aku telpon dia,"


"Gak malu kamu, Bi. Kamu tadi marah-marah Lo di depan dia. Mana gak sopan lagi perginya," Mas Andre mengingatkan kejadian tadi pagi.


Hah! Semua salahku. Andai aku bisa berpikir jernih tadi. Kejadian ini tidak akan terjadi. Mas Albi dan Mas Andre, gara-gara aku mereka jadi punya rasa bersalah sama Ning Nada. Kenapa juga aku ceroboh sekali, gak lihat barang-barangku sudah lengkap apa belum tadi.


"Mau bagaimana lagi? Ya kalau dapat izin dari keamanan. Kalau gak? Kayak gak tahu bagaimana keamanan pondok saja," ungkap Mas Albi. Dia sudah mengeluarkan ponselnya. Mengetuk layarnya. Lalu beberapa saat kemudian nama 'Nada' muncul di layar ponsel tersebut__panggilan keluar.


Beberapa saat tidak juga mendapatkan balasan. Hingga panggilan berakhir tanpa jawaban.


"Marah, kali..." Kata mas Andre.


Jika saat ini terjadi masalah, akar semuanya ada padaku.


"Aku coba lagi," ujar Mas Albi tidak menyerah.


"Alhamdulillah.... Assalamualaikum, Nada"


Panggilan itu diterima. Ada perasaan lega saat panggilan itu tidak diacuhkan oleh Ning Nada.


"Mau izin. Kartu Mahrom yang aku bawa ketinggalan di Dhalem timur. Bolehkan aku mengambilnya bersama Layla?" tanya Mas Albi.


Aku mengamati terus saat mas Albi menelpon. Ikut deg degan sebab takut jika Ning Nada tidak mengindahkan keinginan kami.


"Oh....iya... Makasih, Lo... Kalau begitu kami kesana," kata Mas Albi selanjutnya.


Aku bernafas lega. Kami mendapatkan izin sekali lagi untuk pergi ke Dhalem timur. Kali ini hanya untuk mengambil kartu Mahrom.


"Nada mengizinkan. Ayo kita kesana," kata Mas Albi setelah menutup telponnya.

__ADS_1


Kami pun masuk ke dalam mobil. Lalu mobil yang di kemudi oleh mas Andre meninggalkan pondok.


"Nanti biar aku saja yang masuk ke dalam. Kalian tunggu di luar." Kataku.


"Iya. Tidak enak juga masuk rumah orang saat orangnya tidak ada." Imbuh mas Albi.


Aisyah tetap bersamaku. Dia tidak juga mau meninggalkan aku. Sebab andaikan nanti ada masalah denganku dia bisa menjadi saksi jika aku tidak berbuat apa-apa. Meskipun itu artinya, dia akan terkena masalah juga.


"Tunggu, ya..." Kataku langsung turun dari mobil.


Aku masuk ke Dhalem timur tanpa permisi. Rumah itu kosong dan penjaga tidak ada di depan. Untung saja pintu utama tidak terkunci.


Tanpa ba-bi-bu aku langsung nyelonong ke ruang tengah dan tujuanku adalah kamar di lantai dua yang semalam aku tempati.


Begitu terkejutnya aku saat tiba-tiba ada seorang bapak paruh baya hadir di depanku. Dia menatapku penuh curiga.


"Assalamualaikum, ngapunten..." Salamku saat aku melewatinya.


"Kamu siapa, Nduk?" tanya laki-laki tersebut. Aku tidak tahu siapa beliau. Namun pandangannya cukup membuat aku ketakutan. Dia sepertinya keluarga Dhalem. Tapi aku belum pernah bertemu. Melihat wajahnya aku seperti teringat oleh seseorang. Tapi siapa, aku lupa?


Pakaian terlihat jika dia adalah seorang yang terhormat. Bahkan mungkin seorang kyai besar. Aku ingin bersalaman, sungkem tapi salah tingkah tak karuan. Bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Seperti tertangkap basah oleh bak tawanan.


"Layla. Ngapunten, Bade izin mendet barang yang tertinggal teng kamar." Ungkapku sambil menunduk. Akhirnya aku hanya menundukkan pandangan dan separuh punggungku.


"Oh... Ya sudah sana," katanya


Aku pun undur diri. Masih dengan ragu-ragu. Kali ini aku tidak lagi berjalan cepat. Pelan asal sampai di tempat.


Mata orang yang aku temui tadi masih aku rasakan menatap ke arahku. Ah! Dasar Layla kamu memang tidak sopan.


Setelah selesai hilang dari pandangannya. Aku kembali memburu. Berjalan cepat lagi ke arah kamar yang aku tuju. Langsung saja aku membuka pintu kamar tersebut.


Dan Deg!


Mataku menatap yang tak seharusnya aku lihat. Segera aku menutup kembali pintu tersebut.


"Haduh Layla! Kok ya lancang, to kamu ini!" Umpatku pada diriku sendiri.


Aku menggigit jariku untuk menghukum apa yang baru saja aku lakukan. Malunya aku!


Ternyata kamar tersebut ada kang Dharma dan juga seorang wanita yang mungkin itu adalah ibunya. Jadi, yang di bawah tadi pasti ayah dari kang Dharma.

__ADS_1


Ya Alloh, Layla! Rasanya aku kehilangan kehormatanku.


__ADS_2