(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 8


__ADS_3

Suatu saat, cepat atau lambat hal ini akan terjadi juga. Mas Albi akan pergi, bersama wanita yang menjadi takdirnya. Mereka akan membangun istana, kebahagiaan dan juga sejarah dalam kehidupannya.


Waktunya akan habis bersama wanita itu, prioritasnya juga akan menjadi milik wanita itu. Raga, jiwa dan semuanya. Dan aku, akan sendiri.


“Nduk?"


Panggilan itu menyadarkan aku. Entah berapa lama aku melamun dan tak mendengar perbincangan mereka. Telingaku pun seakan tuli, atau memang ia tidak ingin tahu.


“Ngelamun opo sampek di jak omong kok gak nyaut i. (Melamun apa sampai di ajak bicara tidak jawab)" Kata ibu, membuat ku lebih sadar lagi.


“Mboten ngelamun." Elak ku. Walaupun aku tahu mereka tidak akan percaya.


“Ya wes, ayah sama mas, mu arep terawih. Ibu mu ja'en terawih ang pondok (Ya sudah. Ayah sama Mas kamu mau terawih. Ibu kamu ajak ke pondok saja)"


“Nggeh“


Selepas Ayah dan Mas Albi pergi, aku mengajak ibu ke dalam pondok. Di dalam semua santri sudah bersiap melakukan sholat terawih. Ada yang menunggu dengan menderes Al Qur’an, ada juga yang menambal kitab, ada juga yang ngobrol atau sekedar duduk wiridan.


Saat kami masuk, tidak segan para teman santri menyalami ibu. Bukan karena siapa beliau, tapi sudah menjadi kebiasaan jika ada wali santri yang masuk pondok mereka serempak langsung menyalaminya, tanda hormat dan ta'dzim mereka. Itu juga tata Krama yang di ajarkan oleh Abah Yai dan Ibu Nyai.


“Assalamualaikum, Bu, saya Ais.Temannya Najwa."


Ais yang saat itu melihat kami langsung menghampiri. Padahal posisi shof dia ada di depan sendiri. Dan aku dan ibu kebagian di shof hampir paling belakang.


“Waalaikumsalam, Oalh nggeh. Layla pernah cerita soal sampean. Ternyata ayu kamu nduk“

__ADS_1


Aku pernah menceritakan soal Ais kepada ibu. Wajar dia teman, sahabat ku di pondok. Kami juga satu jurusan dan bahkan satu bangku di sekolah.


“Kalau liburan main ke rumah Layla nduk. Ibu tunggu." Kata ibu ku sebelum dia pamit, karena sholat terawih akan di mulai.


“Nggeh, Bu, Insya Alloh." Balas Ais. Kemudian dia undur diri, kembali ke tempatnya.


Setelah melihat itu, beberapa temen mengerumuni Ais, pasti mereka ingin tahu pembicaraan antara dia dan ibu. Mungkin akan biasa saja saat ibu di kenal sebagai ibu ku saja. Tapi nama Mas Albi mendadak terkenal begitu saja. Padahal selama ini aku menyimpan rapat-rapat tentang dirinya. Kejadian perjodohan malam itu membuat seisi pondok ingin tahu bahkan penasaran dengan sosok Mas Albi.


Jika saja bukan Salwa calonnya, mungkin juga tidak seheboh ini. Rasanya aku ingin menyembunyikan Mas Albi hingga tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan dan bagaimana dirinya kecuali diriku. Tapi itu mustahil. Aku hanya adiknya, semestinya aku bahagia saat kakaknya viral dan banyak orang yang mendambakannya.


Sholat terawih di mulai. Semua terlihat khusu’ sholat. Jama'ah penuh, selain para santri ada beberapa orang luar yang ikut jama’ah. Mereka adalah penjual di depan pondok. Ibu dan anak laki-laki yang tadi aku beli es buah juga ada.


Setelah usai terawih, aku dan ibu kembali ke sambangan.


“*A*ssalamualaikum, Bu. Saya Salwa, temannya Najwa.“ Salwa memperkenalkan diri seperti halnya Ais tadi. Di belakang dia beberapa temanya juga ikut menyalimi ibu. Sudah aku bilang dia adalah seorang putri yang di kelilingi para dayang. Bahkan saat Salwa mencoba berbicara dengan Ibu, teman – temannya itu berdiri di belakangnya. Seakan tidak ingin menggangu Salwa berbicara.


“Oh! ini to yang namanya, Salwa. Ayu tenan, Masya Alloh!“ Seru ibu, terpesona dengan wajah ayu Salwa. Tidak di ragukan lagi, semua orang pasti langsung jatuh cinta melihat Salwa. Di begitu sempurna. Aku lihat dia tersipu malu, mendapati ibu terkagum dengan dirinya.


“Matur sembah suwun, Bu. Maaf kalau saya lancang memperkenalkan diri." Kata Salwa.


“Tidak apa-apa. Ibu malah seneng. Apalagi tahu kalau kamu calon mantu. Maaf ya nduk ibu Yo ngeneki. (Tidak apa-apa. Ibu malah bahagia. Apalagi tahu kalau kamu calon mantu. Maaf ya Nduk ibu ya seperti ini)“


Aku kaget dengan perkataan ibu yang terang-terangan begitu. Reflek aku menjawel tangannya.


Tapi Nasi sudah menjadi bubur Salwa sudah mendengarnya, teman lainya juga sudah menjadi saksinya. Seakan detik ini semua sudah jelas. Jika dirinya diakui dan di terima oleh ibu ku sebegai calon mantu. Dia semakin tersipu malu. Ah! Itu membunuh ku.

__ADS_1


“Nggehpun, buk. Salwa bade ngaos kitab riyen. Monggo...“ Ujar Salwa dengan tidak meninggalkan rasa hormatnya.


“Iya... Moga manfaat" Doa ibu, setelah dia menerima jabatan tangan Salwa dan teman-temannya. Setelah itu aku mengajak ibu ku segera pergi. Aku juga sempet melempar senyum untuk mereka sebelumnya.


Dalam perjalanan ke sambangan ibu memuji-muji Salwa. Oh Salwa, kamu sungguh memikat setiap orang. Aku tidak bisa membayangkan jika nanti Mas Albi bertemu dengan mu. Mungkin dia juga akan langsung jatuh cinta kepada mu.


“Yah, aku tadi ketemu calon mantu. Masya Alloh yah... Bocah e uaayuuu, santuuunnn pokoke sampean gak bakal nyesel entok mantu kyok ngunu ( Masya Alloh, yah...Anaknya cuantik, santun, pokoknya kamu tidak akan menyesal mendapatkan menantu seperti itu)“


Baru saja sampai, Ibu sudah langsung menceritakan soal Salwa. Berkali-kali aku menghela nafasku. Ku lihat Mas Albi semakin penasaran. Tidak peduli, aku tidak ingin mendengarkan semua cerita itu. Aku muak dengan perasaan ku sendiri.


Alloh . Alloh . Alloh . Engkau yang merajai hati ku, tolong kokoh kan lagi. Hingga tidak bisa seorang manusia pun yang bisa merobohkannya nanti.


Sedang ibu masih menceritakan soal Salwa aku menghabiskan makanan yang ada di depan ku. Entah apa saja, dan sudah berapa banyak. Karena aku juga tidak tahu lagi, harus melakukan apa?


‘’Nduk... kamu dari tadi makan? Apa masih belum kenyang?“ Tanya Mas Albi, aku tidak peduli. Bukankah ada orang yang mengatakan bahwa bahagia butuh tenaga. Aku ingin makan terus, agar aku bisa bahagia. Pernyataan, konyol bukan?


“Nduk, kamu, kenapa to?“ Kali ini tangan Mas Albi mengehentikan tangan ku yang akan memakan lagi.


Aku memaksa makanan di tangan ku untuk terus aku masukan ke dalam mulut ku. Tapi mas Albi mengambilnya dan melemparkannya begitu saja. Aku diam. Ayah dan ibu kembali terfokus kepada ku.


“Sudah malam. Mendingan Ayah sama ibu pulang saja.“ Kata ku tiba-tiba. Hatiku mengeras, perasaan ku panas, otakku tak waras. Kenapa rasanya sakit sekali.


“Ada apa to nduk? Biasanya kamu mau ingin kita nginep, tapi sekarang malah pengen kami pulang?" Tanya Mas Albi .


Kenapa hanya dia yang mengerti perubahan sikap ku. Kenapa juga dia yang seakan tahu sakit hati ku dan rasa cemburu ku. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan, tidak bisa juga menjelaskan. Apa yang bisa aku jelaskan, sedangkan aku saja tidak tahu harus menjelaskan apa? Apa yang aku jawab? Sedangkan pertanyaan saja tidak selaras dengan apa yang sedang aku rasakan.

__ADS_1


__ADS_2