
#Qois Albifardzan
Pukul jam dua siang aku pamit pada ayah. Setelah mengemas beberapa orderan aku akan langsung mengantarnya ke expedisi. Aku pun juga sudah janjian dengan Andre untuk kerumahnya, sekalian mengambil orderan bagiannya.
Meskipun kami sudah memiliki beberapa pegawai akan tetapi, menjalankan bisnis dengan tangan kita sendiri sebuah hal yang membanggakan menurutku.
Kita terjun juga dalam membalas chat para costemer, kita juga yang mendesain beberapa pesanan dan mengirim langsung ke expedisi. Untuk bagian pemasaran kita ada beberapa orang juga adik kampus yang sudah kita pilih dan mau bekerja dengan kami, tentunya memiliki visi misi yang sama pula.
Keinginanku dan Andre adalah menciptakan lowongan pekerjaan bagi para mahasiswa seperti kami. Tidak hanya mahasiswa, akan tetapi juga beberapa teman yang memang butuh dan bisa melakukan pekerjaan tersebut.
Meskipun belum besar tapi produk kami mulai merangkak naik sedikit demi sedikit. Di kota sendiri, produk kami sudah mulai terkenal bagus dari segi kwalitas dan harganya.
"Pulangmu malam gak, le?" tanya Ayah saat aku mengenakan sepatu di teras.
"Habis magrib mungkin, yah. Ada apa?" tanyaku.
"Belikan aku martabak telor ya, le..."
"Iya, yah... Gak sekalian terang bulannya?" tawarku.
"Ya terserah kalau itu," jawab ayah sambil tersenyum. Beliau menginap dari balik koran yang sejak tadi beliau baca.
"Ibu titip apa?" tanyaku
Kebetulan ibu sedang mengangkat jemuran di samping rumah.
"Gak titip apa-apa. Kamu hati-hati dijalan," jawab ibu.
Aku raih tas ranselku. Lalu menuju sepedah motor Vario merah.
"Gak pakai mobil aja, to Bi?" tanya ibu saat aku menyalakan mesin motor.
"Tidak, buk. Kelamaan," jawabku.
Menggunakan motor akan lebih cepat sampai. Tingkat kemacetan pun akan berkurang.
"Salam buat Andre sama keluarganya. Di rumah orang jangan bikin kisruh yang sopan." Pesan ibu sebelum aku benar pergi.
__ADS_1
"Nggih, buk Assalamualaikum..." Salamku
"Waaikumsalam..." Balas ibu dan ayah hampir bersamaan.
Ibu selalu mewanti-wanti jika aku bertamu di rumah teman untuk selalu menjaga sopan santun. Sejak kejadian di pondoknya Layla, ibu bertambah sensitif dalam menasihati. Itu salahku, wajar saja seperti itu.
Kejadian di Dhalem timur saat itu jika aku ingin kembali aku pun malu sendiri. Aku sudah kayak orang kekurangan moral. Berteriak dirumah orang. Padahal sang pemilik rumah dengan baiknya menjamu ku.
Di pertengahan perjalanan ponselku berdering. Aku mengambilnya dari saku kemeja, lalu menyelimpitkannya pada helm, dekat telingaku.
"Assalamualaikum, Dre?" salamku.
"Kita ketemuan di pak Tohar ya? Kita ambil sekalian jahitannya. Biar langsung ikut pengiriman hari ini juga,"
"Ok. Baiklah. Aku sudah dijalan ini. Kau cepat berangkat juga,"
"Siap! Kakak ipar! Assalamualaikum"
Tut
Ponsel dimatikan. Aku geleng-geleng, tidak habis pikir dengan sahabatku satu itu. Sejak aku memberikan izin jika dia boleh bertemu dengan layla saat liburan dia dengan sengaja memanggilku dengan sebutan 'KAKAK IPAR' lebih ngeselin lagi dia melakukan hal itu ditempat umum juga.
Aku lebih dulu sampai. Tanpa ragu aku pun juga langsung bertamu. Mungkin sebentar lagi Andre juga datang.
"Masuk, BI... Sini!" Seru pak Tohar dari rumah samping rumahnya.
Jika kebanyakan ruangan samping rumah di gunakan untuk garasi mobil, akan tetapi di rumah pak Tohar di gunakan beliau dan beberapa pekerjaan untuk menjahit.
Beliau dengan dua pegawainya sedang menghadap mesin jahit mereka masing-masing.
Beliau mencopot celemeknya. Lalu berdiri menghampiriku. Aku meminta tangannya untuk saliman.
"Sendirian? Andre gak ikut?" tanya pak Tohar sambil celingukan ke arah belakangku. Mencari sosok Andre.
"Sebentar lagi datang, pak. Mungkin masih dijalan," kataku.
Aku dipersilahkan duduk di sofa yang disediakan khusus untuk tamu.
__ADS_1
Baru saja aku duduk. Suara mobil Andre terdengar terparkir di depan halaman rumah pak Tohar.
"Lah, baru saja ditanyakan," kata pak Tohar. Beliau berdiri lagi untuk menyambut kedatangan Andre.
"Assalamualaikum!" Seru Andre
"Waaikumsalam..." Balasku dan semua yang ada di ruang.
"Apa kabar, pak Tohar? Sehat? Hai bro! Lancar jahitannya?"
Andre datang menyapa satu persatu orang yang ada di ruang ini. Tidak hanya pak Tohar, pegawainya pun ia hampiri dan dia ajak salaman.
"Hai, kakak ipar. Aku gak telat kan?" Tanyanya setelah duduk disampingku. Dia tidak menyalami namun langsung mengajak jotos tangan.
"Kok? Kakak ipar?" tanya pak Tohar heran.
"Iya, pak. Sebentar lagi aku jadi adik iparnya Albi. Doakan ya pak, biar lancar semuanya." Jawab Andre tanpa ada rem sama sekali.
"Oh, jadi kamu akan nikah sama adiknya Albi. Nduk Layla itu?" tanya Pak Tohar sambil mencari jawaban padaku juga.
"Masih calon pak. Belum tentu, kalau jodoh..." Jawabku meralat.
"Bagus itu. Jadi bisnis kalian bisa lebih berkembang. Tambah kuat karena terjalan persaudaraan juga. Dari persahabatan ke persaudaraan dan kemudian bisnis keluarga. Cemerlang pastinya nanti!" Pak Tohar sudah antusias sekali. Membuat Andre semakin berbinar.
"Tuh, banyak yang dukung." Kata Andre padaku. Aku diam tidak merespon apa-apa. Hanya sekedar mesem sedikit untuk menyenangkan hati pak Tohar saja.
"Tapi kan Layla masih sekolah kan? Masak sudah mau nikah?" tanya pak Tohar mengingat tentang Layla yang masih sekolah.
Pak Tohar sudah mengenal Layla. Walaupun belum mengenal sepenuhnya. Aku pernah mengajak Layla ke rumah ini karena dia ingin menjahit gamis untuk dirinya sendiri. Kadang kala dia suka mendesain gamis untuk dirinya sendiri. Dia membeli kain lalu membawanya ke sini dan menyerahkan hasil desainnya pada pak Tohar.
"Maka itu, masih belum pasti kedepannya bagaimana, pak. Doakan saja yang terbaik," kata ku.
"Pasti terbaik!" Seru Andre.
"Amin amin amin... Semoga berjodoh. Semoga persahabatan kalian seterusnya hingga di akhirat nanti. Aku suka sekali dengan kalian berdua. Pemuda yang enerjik dan penuh dengan wawasan yang mulia. Sayang sekali jika suatu saat kalian di pisahkan." Kata pak Tohar.
"Tapi kita masih normal kok pak. Saya sukanya sama adiknya bukan dia," sahut Andre sambil bergidik melihatku.
__ADS_1
"Hahaha..."pak Tohar malah tergelak tawa.
Aku pun juga bergidik ngeri berdampingan dengan Andre. Walaupun iya yang dimaksud pak Tohar tidak seperti yang Andre pikirkan. Tapi, dia malah mencari celah guyonan yang aneh-aneh seperti itu.