(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 17


__ADS_3

''Loh, mau kemana,Mas?'' tanya Layla saat menyadari kalau jalan yang mereka lewati bukan jalan pulang.


''Maunya, kemana?'' goda ku.


Dia mengerutkan dahinya, mungkin mencari tahu, isi pikiran ku.


''Terserah,pun, Mas.'' Jawabnya setelah itu.


Aku tersenyum. Dia terdiam, tidak lagi bertanya, hanya menghadap ke luar jendela, melihat riuhnya jalanan.


''Tadi itu kang Dharma, Nduk?" tanya ku.


Hanya memastikan jika kang santri yang bersamanya tadi adalah utusan dari Nada untuk menjaganya.


''Iya, Mas. Aneh ya orangnya?'' Kata nya.


Layla berangsur berbalik setelah aku berbicara soal Dharma. Ini kali pertama kami membicarakan soal pria selain saudara. Aku bisa melihat jika Layla tidak begitu tertarik. Tapi ada sedikit rasa aneh, yang di rasakan mengingat kang santri tersebut.


''Aneh, gimana?" tanya ku.


''Aneh! Masak Layla di panggil Putri malu. Aneh, kan?''


''Haha...Kok, bisa?''


Aku mengingat percakapan ku dengan Dharma tadi. Dia juga menyebut istilah Putri Malu. Jadi benar, yang dia maksud adalah Layla.


''Gak tau, Emang aneh orangnya.'' Umpatnya agak kesal.


"Tapi, baik. Nyatanya dia bisa jagain kamu.'' Ujar ku dengan mengalun senyum.


''Iya wes, baik."


''Belum matur suwun tadi?"


''Kan, sampun Mas wakilin."


''Lain kali harus berani ngucapin sendiri. Katanya udah gede?''


''Iya... iya!. Nanti sampai rumah aku bilang makasih.''


''Gimana caranya?''

__ADS_1


''Lewat he-pe tho, Mas...Sampean Iki, piye tho (Kamu itu gimana)?"


''Kamu punya Nomernya? atau jangan-jangan dia salah satu cowok-cowok yang Wa pas liburan kemarin?"


''Mboten! Layla Ndak punya nomernya, tapi Mas punya, kan?"


''Oh iya, mas lupa." Aku nyengir.


''Kenapa, Mas?" tanya Layla dengan senyum.


''Kenapa apanya?'' tanya ku balik. Tidak mengerti apa yang dia maksud.


''Mas cemburu, ya, aku dekat sama, kang Dharma?" jawabnya dengan senyum puas dan menggemaskan.


"Hahaha ... kamu, Nduk...Lucu men tho....''


Gemas sekali mendengar dia berkata seperti itu. Bisa-bisanya dia berfikir jika aku cemburu.


''Kita sholat jama'ah dulu ya, Nduk. Habis itu kita beli baju buat kamu." Ujar ku.


Aku memasukan mobil pada halaman masjid Setono Gedong. Masjid tua yang sudah di renovasi ini termasuk masjid tua di Kediri.


Sebelumnya wilayah Setono Gedong adalah tempat sesembahan kepercayaan tertentu. Hal itu bisa di buktikan adanya situs-situs arca yang masih di sekitar tempat tersebut.


Mbah Wasil sendiri menurut sejarah adalah seseorang dari Istambul turki. Beliau datang ke Kediri pada abad sepuluh atau sebelas Masehi. Masih dalam pemerintahan kerajaan Sri Aji Joyoboyo.


Pada malam takbiran seperti ini tidak menyurutkan para pengunjung untuk berziarah ke makam Mbah Wasil yang juga di makamkan di sekitar masjid Setono gedong.


''Nduk, jama'ah di serambi ya? Mas tunggu di sana." Kata ku dengan menunjuk serambi masjid yang lumayan sudah sepi.


''Nggeh, Mas.''


Setelah itu kami berpisah untuk mengambil air wudhu. Seperti kata ku aku menunggu Layla di serambi. Dia tidak cepat muncul, mungkin di kamar mandi wanita cukup ramai. Sambil menunggu aku nderes Al Qur'an lewat aplikasi hape ku.


Hampir setengah jus aku membaca Al Qur'an. Layla baru sampai. Dia tergopoh-gopoh menghampiri ku dan cepat memakai mukenanya.


''Antri mas... Maaf lama.''


Setelah di rasa siap. Aku mulai sholat berjamaah dengan Layla.


Dia tahu kebiasaan ku saat malam lebaran seperti ini. Aku selalu berusaha mewajibkan jama'ah sholat Isya', juga melaksanakan sholat Sunnah lainya . Menambah jumlah wirid yang aku biasa baca. Dan meniatkan untuk jama'ah subuh nantinya.

__ADS_1


Hal tersebut aku pelajari dari saat di pondok. Kyai ku selalu bilang, memperbanyak sholat dan wirid pada malam hari raya mencegah matinya hati.


"Setidaknya, laksanakan sholat Isya' berjama'ah dan sholat subuh berjamaah.Bagusnya lagi jika di tambah sholat Qobliyah dan ba'diyah Isya' setelah itu witir. Baca istighfar seratus kali."


Aku mengingat selalu pesan dan pelajaran beliau saat itu. Dan sebisanya akan aku amalkan.


Bukankan sejatinya ilmu yang bermanfaat itu adalah ketika diri kita bisa mengamalkannya. Setidaknya untuk diri kita sendiri.


Setelah satu jam lebih aku dan Layla selesai jama'ah. Ku balikanya tubuhku, melihat Layla yang sedang mengemasi mukenanya.


Dia tidak terlihat lelah, atau bahkan terucap keluhan karena aku mengajaknya sholat berjamaah dan juga wiridan cukup lama. Dia biasa saja, seakan hal tersebut adalah kewajaran.


''Ndak capek, Nduk?" tanya ku memastikan.


''Capek, kenapa sih, Mas?"


Dia balik bertanya, seakan pertanyaan ku kurang jelas yang di maksud apa. Aku geleng-geleng, dan kemudian tersenyum.


''Mampir makam dulu ya, Nduk. Ndiluk ae (Sebentar saja)....''


Sengaja, aku ingin seberapa sabarnya Layla saat ini. Dulu dia sering uring-uringan jika terlalu lama kami berziarah.


Ku lihat dia mencari jam dinding masjid tersebut. Mungkin mencari tahu jam berapa saat ini. Wajahnya sedikit masam. Mungkin dia sudah lelah.


''Ndak papa, Mas? Nanti di tunggu Ayah sama Ibu?"


''Ndak papa. Tadi Mas sudah bilang ke Ayah sama Ibu. Kalau nanti langsung beli baju dulu, Ndak langsung pulang.''


Dia manggut-manggut. Aku kira dia akan protes, ternyata hanya mengkhawatirkan jam pulang kami.


Selesai berkemas. Kami menuju ke makam yang terletak di sebelah kanan masjid. Di sana masih ramai dengan para pengunjung. Membuat ku dan Layla tidak bisa masuk ke ruangan. Dan hanya bisa di depan pintu makam saja.


Aku sudah kasihan dengan Layla jika harus menunggu para jamaah selesai berzikir di dalam sana. Jadi aku putuskan untuk mengirim doa di luar ruangan saja. Toh, sama saja. Yang terpenting niatnya.


Ku mulai dengan tawasul, menyebut nama-nama leluhur kami. Dan terkhusus Mbah Wasil, wali yang sedang kami sowani. Kemudian aku lanjut membaca yasiin dan tahlil.


Terlepas dari itu semua. Malam hari raya adalah salah satu malam yang mustajab. Di mana doa-doa hambanya akan di terima tanpa perantara. Dan segala hajat, leluasa di kumandangkan.


Selepasnya berdoa, aku sudah ingin beranjak. Tapi tercengang, saat melihat Layla masih duduk di belakang ku dengan mengatupkan tangannya dan memejamkan mata. Dia sedang khusuk berdoa, hingga tidak sadar jika aku sudah selesai membacakan doa.


Cukup lama, entah apa yang sedang dia panjatkan. Entah apa yang sedang dia keluhkan pada penciptaannya. Yang pasti, doa ku. Semoga apapun itu selalu mendapatkan ridho dari Alloh SWT.

__ADS_1


Apapun yang dia pinta Ya Alloh. Semoga selalu kau terima dan kau ridhoi keinginannya.


__ADS_2