(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 15


__ADS_3

'’Bi, besok ada mata kuliah lanjutan. Baru saja dosen ngumumin.‘’


Andre, sohib dan juga partner kerja ku. Sejak di pondok kami sudah berteman.


‘’Waduh! Aku nanti mau ke Sarang. Tolong Izinin, gih, buat besok.‘’


‘’ Ok...Siap! tapi dengan satu syarat!”


“OGAH! Dengerin,ya! Adik ku, bukan cewek yang bisa buat Lo rayu -rayu!'’ Tolak ku, langsung.


Sebelum aku mengetahui apa yang dia ingin katakan, aku sudah bisa menebak apa yang dia inginkan. Sudah lama dan sudah berulang kali dia mencoba ingin berkenalan dengan Layla. Tapi aku melarangnya.


Aku tahu Andre baik. Dia termasuk mahasiswa yang berprestasi, dia juga punya usaha sendiri. Tampang juga dia atas rata-rata. Tidak di bidang akademik, dia juga bisa di andalkan di bidang agamis. Bisa di katakan paket komplit. Tapi sayang, Dia Play boy. Banyak cewek yang datang di terima begitu saja, dan kemudian di buang jika bosan.


‘’Suer! kalau aku bisa sama adik mu. Gak bakal deh aku main – main lagi. Tobat beneran, gua.‘’


‘’GAK! sekali, Nggak, ya, Nggak!‘’


Hati yang mati-matian aku jaga mana mungkin aku bisa nyerahin begitu saja, pada dia yang biasa matahin hati.


‘’Gak asyik, Lo. Over banget, Lo, sama adik. Padahal yakin deh, dia bakalan kagak nolak kalau sama gua.‘’


“Heh, di mana-mana gak ada kakak yang bakal setuju, adik nya pacaran sama play boy kayak kamu!‘’


‘’Bi, gua kan udah bilang tadi. Kalau Lo nyerahin Layla gua tobat. Suer!"


Semakin meladeni dia semakin membuat ku gila. Dia tidak pantang menyerah, tapi aku juga tidak akan menyerahkan begitu saja.


Setelah kelas menyelesaikan kuliah aku segera pulang. Kami harus berangkat sebelum dhuhur karena jarak tempuh yang lumayan jauh. Dan, pasti tidak akan bisa ngebut karena bersama Bapak dan Ibu.


Sebelum itu aku mampir ke sebuah toko buku. Aku memesan sebuah buku notes atau biasa dia sebut buku diary bagi kalangan perempuan.

__ADS_1


‘’Makasih, Mas.'’ Kata ku setelah menerima buku tersebut.


‘’Sama – sama. Buat pacarnya ya?,‘’ tanya Mas itu penjaga toko tersebut.


Aku terkekeh mendengar pertanyaannya. Apa orang pacaran juga melakukan apa yang aku lakukan.


‘’Bukan, Mas. Buat adik, saya. Hehe....'’ Jawab ku.


‘’Oh kirain,’’


‘’Ya, sudah mas, terima kasih. Assalamualaikum!" Pamit ku


"Waalaikumsalam.‘’


Aku memasukan buku tersebut ke dalam tas. Mewanti-wanti agar tidak aku tinggalkan nantinya.


Buku diary itu tidak sekedar buku diary. Ada pembatas liontin di dalamnya. Dan ada foto ku dan Layla di sana. Aku juga menempelkan fotonya di halaman depan buku tersebut.


Aku melihat perubahan Layla. Dan aku tidak ingin menjadi orang ke dua saat dia perlu seseorang untuk mengerti dirinya. Aku tetep ingin menjadi orang pertama, setelah Alloh yang mengetahui segala masalahnya.


Hal yang asing kembali aku teguk lagi. Dia berubah, entah apa yang membuatnya berbeda malam itu.


Saat datang dia baik-baik saja. Dia masih berceloteh seperti biasa. Dia juga menggoda ku tentang lamaran yang ku terima saat malam mengantar dia kembali ke pondok.


Dia berubah setelah kembali dari sholat terawih bersama Ibu.


Aku masih mengingat jelas, Ibu datang dengan wajah gembira. Dia mengatakan bahwa baru saja bertemu dengan Salwa. Beliau mengatakan bahwa dia sangatlah cantik dan santun. Kata ibu juga aku tidak akan menyesal jika bersamanya nanti.


Saat itu aku hanya tersenyum, malu. Aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi mendengar cerita dari Layla dan Ibu sedikit membuat ku penasaran. Apalagi, saat Layla bilang jika dia menyukai ku. Dia menitipkan salam untuk ku.


Aku laki-laki biasa, tidak pernah bermimpi bersanding dengan seorang Neng, Putri kyai. Tapi jika Dia jodoh ku, bukankah aku harus menyiapkan banyak hal.

__ADS_1


Keadaan berubah ketika Layla tiba-tiba bertingkah aneh. Aku menyadari hal tersebut, sikapnya yang seakan menahan amarah, dan sedang memikirkan hal berat terlihat nyata.


Dia memakan banyak gorengan, bahkan sebelum habis gorengan di mulutnya. Seperti orang kerasukan, dan tak terkendali.


''Nduk!" Aku langsung menghentikan tingkahnya tersebut.


Tapi Layla tetap melakukan hal yang sama. Aku sampai harus menyingkirkan makan tersebut dari hadapannya.


Tidak kalah terkejutnya lagi saat tiba-tiba dia menyuruh kami untuk pulang. Benar-benar tidak wajar. Dia tidak pernah bersikap seperti itu. Dia malah senang saat kami datang dan menginap. Tapi saat itu dengan lantang, dan tanpa ragu dia seakan mengusir kami.


Bapak dan Ibu juga kaget dengan tingkahnya . Padahal sebenarnya, kami sudah berencana untuk menginap dan pulang pagi harinya. Namun, belum sempat kami mengutarakan hal tersebut, Layla sudah meminta kami untuk pulang.


Kecewa, sudah pasti. Bapak dan Ibu tidak bertanya apapun, pun tidak menanggapi terlalu serius. Mereka menyembunyikan kekecewaan dan rasa penasarannya rapat - rapat.


Saat mereka pergi terlebih dahulu. Aku mengeluarkan buku yang sudah aku siapkan tadi. Menulis sedikit pesan. Dan berharap Layla bisa membacanya nanti.


Ku letakkan buku tersebut bersama barang-barang yang akan di bawa ke pondok. Sedikit aku colok kan agar dia nantinya sadar. Bahwa itu untuk dirinya.


Melihat wajahnya pura-pura bahagia dan tersenyum setelah mengatakan bahwa kami harus pulang. Membuat ku semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya.


Apa yang membuatnya berubah? apa yang membuat hatinya gundah gulana seperti itu? apa benar dia memiliki pacar? Mengingat banyaknya chat saat dia liburan, mendengar banyak santri putra menggodanya saat kami lewat. Bahkan saat aku berjamaah di masjid pesantren tadi, tidak hanya satu beberapa santri putra terlihat ingin PDKT dengan ku dan Ayah . Gelagat mereka terlihat begitu jelas, jika mereka mengincar Layla.


Aku semakin tidak tenang meninggalkannya. Adik yang selama ini aku jaga, semakin menjauh entah kenapa?


Untuk terakhir kalinya, sebelum kami pulang. Tubuh ku refleks memeluknya. Aku tahu, dia terkejut dengan dengan apa yang aku lakukan.


Aku hanya ingin dia tahu, bahwa aku akan selalu ada untuknya. Bahwa aku bisa di andalkan untuk setiap masalahnya.


Meskipun dia tetap diam, tapi aku bisa merasakan bahwa memang ada yang mengganjal di kehidupannya sekarang. Dia tidak meronta, sedikit tenang.Tapi kemudian, dengan kasarnya dia melepaskan pelukan ku. Dia marah, terlihat jelas dari wajah masamnya.


''Sesekali, Mas jik kangen Nduk....'' Kata ku

__ADS_1


Setelah itu aku benar meninggalkan dia sendiri. Mata ku, masih menatapnya terpaku, sampai mobil kami tidak bisa menjangkaunya lagi.


__ADS_2