
Qois Albifardzan
Dia seperti peri kecil bagi ku . Setiap kali melihatnya aku merasa bahagia tak terhingga . Senyum , tawa dan caranya berbicara seakan candu.
Sedikit saja dia terluka , itu akan membuat ku terluka juga . Lebih pedih malah . Aku seperti bayangan , yang terus ingin menemaninya kemana langkah kakinya pergi . Tidak sekali pun sesuatu boleh menyentuhnya kecuali seizin ku.
Dulu , saat kita masih kecil pernah aku lalai menjaganya . Saat itu kita sedang bermain di rumah tetangga . Mereka mempunyai pohon keres . Aku dan teman lelaki ku senang memanjat pohon tersebut . Hanya karena ingin menggoda teman-teman perempuan yang saat itu tidak sanggup memanjat pohon tersebut .
Bodohnya aku , tidak menyadari bahwa dia juga termasuk dari anak perempuan itu. Dengan lantangnya dia mengatakan bahwa ingin membuktikan dia bisa memanjat pohon tersebut .
Seketika itu aku takut . Walaupun pohon itu tidak terlalu tinggi tapi tetap saja aku khawatir .
Aku yang masih di atas pohon memintanya untuk tidak naik . Dan berjanji saat aku turun nanti meminta maaf pada teman perempuannya .
Namun sayang , nasi sudah menjadi bubur .
Aku lupa , bahwa dia sangat mementingkan ego . Bahwa dia tidak suka di remehkan . Bahwa dia tidak suka jika ada banyak orang membicarakannya . Bahkan andai saja itu hal baik , di tetap tidak menyukainya.
Aku segera turun , dan jika saja dia bisa naik setidaknya nanti saat turun aku bisa menopang , dan membantunya untuk turun. Tapi sayang , baru saja dia memanjat 5 tanjakan kakinya tergelincir . Dan langsung menjatuhkan tubuhnya .
Dia jatuh tepat di depan mataku . Saat itu hatiku seakan mati dan tiada rasa lagi . Langkah ku terhenti dan tubuhku kaku tak bernyali .
Semua anak langsung bergerombol menolong dia . Dia tidak sadarkan diri , dan itu membuat kami khawatir . Semua teman perempuannya menangis sejadi-jadinya . Suasana semakin tegang ketika orang dewasa datang menghampiri kami dan kemudian langsung membawa dia pergi .
Aku yang tak berdaya , hanya bisa melihatnya tanpa bisa melakukan apa-apa . Tidak ada air mata , namun darah ku seakan bembeku tiba-tiba. Tidak ada luka , namun aku merasakan sakit tak terhingga di sekujur tubuhku. Seakan aku ikut merasakan apa yabg dia rasakan.
Aku mengintip di luar kamar saat dokter memeriksanya . Dia pingsan , karena saat terjatuh kepala terbentur . Dokter mengatakan bahwa dia baik-baik saja .
Aku tidak takut saat Bapak atau Ibu akan memarahi ku . Itu memang salah ku . Tapi , aku akan takut saat dia tidak terlihat oleh mata ku .
Dia amatlah berharga , melebihi dari apapun di dunia . Dia sejatinya nafas yang menghidupkan setiap gairah dalam jiwa .
__ADS_1
Banyak orang mengatakan bahwa aku terlalu overprotektif . Aku akui itu .
Namun , seandainya mereka bisa merasakan apa yang aku rasakan . Mungkin mereka akan mengerti dengan apa yang aku lakukan.
Tidak hanya Dia . Tapi Bapak dan Ibu adalah segalanya bagi ku . Mereka penyelamatan ku , mereka adalah motivator dalam hidup ku .
Aku yang awalnya sebatang kara , bisa merasakan bahagia berkat mereka . Mereka memberikan aku kasih sayang , rasa yang tidak mungkin aku dapat .
Aku yang hanya aku di dunia . Tapi mereka mengubahnya menjadi kita dan kami . Melengkapi apa yang selamanya bila aku cari tidak pernah akan aku temui .
Bagi ku mereka adalah harta , yang tidak ternilai harganya .
Aku , Bapak , Ibu dan Layla . Dalam mimpi pun aku tidak ingin meninggalkan mereka.
‘’ Gak Popo . Layla baik-baik saja . Adek mu kuat '’ Kata Bapak .
Bapak menghampiri aku . Mungkin beliau tahu rasa ke khawatir ku . Rasa takut ku .
‘’ Beneran Pak ? Nduk Layla gak papa . Aku salah pak . Kalau aku gak nakal Nduk Layla gak bakal jatuh . ‘’ Kataku dengan menangis .
‘’ Gak usah nyalahin diri sendiri . Adek mu kan emang kayak gitu . Lain kali jaga dia baik-baik . ‘’ Pesan Bapak .
Aku diam . Bapak tidak marah . Ibu juga tidak marah . Mereka malah seperti takut jika aku terlalu khawatir . Bagaimana bisa mereka sebaik itu , saat anak mereka aku celakai dan aku yang hanya anak angkat di biarkan begitu saja .
Sejak saat itu . Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepada adik ku. Aku bertanggung jawab akan luka dan kebahagiaannya . Aku berjanji akan hal itu.
Namun aku merasakan perbedaan . Saat Layla tumbuh dewasa . Dia berubah menjadi gadis remaja yang manis . Dia sudah tumbuh tanpa aku sadari .
Wajah oval dengan pipi tembem. Mata tajam dengan bulu mata lentik. Bibir mungil , dengan hidung bisa di katakan mancung .
Terkadang saat memandang dia dari kejauhan membuat ku tersenyum sendiri. Dia begitu menggemaskan . Ingin sekali aku terus menggodanya , bahkan kalau saja aku bisa ingin memeluknya dan menguyel-uyel kedua pipinya . Mengacak-acak jilbabnya atau sekedar ingin menggelitikinya.
__ADS_1
Tapi semua itu hanya ada pada anggan . Dia adik ku , tapi kami saudara angkat . Tidak baik untuk kami terlalu dekat . Aku sendiri yang membatasi itu , bukan karena larangan dari siapapun . Tapi aku takut itu akan menjadi kebiasaan . Dan membuat Layla nyaman .
Jika saja hanya kepada ku tidak apa . Tapi aku takut jika ada lelaki lainya melakukan hal yang sama dan dia terbiasa . Aku harus menjaga bukan , dan itu adalah salah satunya .
Dia terbiasa bergelayutan manja dengan ku . Bahkan mandi , tidur bersama kita lakukan bersama . Tapi aku tidak bisa melakukan hal tersebut lagi . Aku yang lebih dulu tumbuh dewasa saat itu menjelaskan bahwa kita tidak bisa sedekat dahulu . Bahwa kita saudara , tapi masih saja bukan mahrom . Bahwa kita harus menjaga jarak . Bukan hubungan , tapi ke intensitasnya .
Saat itu dia menangis . Dia marah dan membenci ku yang di anggap berubah . Aku tidak tega , aku menyakiti hatinya . Tapi aku lakukan itu untuk dirinya . Untuk menjaga dirinya .
Akhirnya Bapak menasihati dia . Membuatnya mengerti tentang hubungan kita . Tapi tetap saja itu sulit baginya , wajar dia masih kecil saat itu . Aku di usianya saat itu juga masih ingin tetep bersama .
Lambat lain semua berubah . Setelah dia masuk ke Pesantren. Dia mulai menerima.mulai memahami hubungan kita . Dia kita yang malah menjaga jarak kepada ku .
Dia tidak lagi ingin aku sentuh . Dia juga tidak suka jika aku berdekatan dengannya. Bahkan saat aku hanya ingin mengelus kepalanya atau tangannya saat dia mau tidur pun dia juga marah . Dia menjadi gadis yang galak . Tapi aku suka , itu berarti dia bisa menjaga dirinya . Dia mengetahui batasannya antara laki-laki dan perempuan .
Jika hal itu saja mungkin aku bisa memakluminya . Tapi akhir-akhir ini aku mengetahui perubahannya .
Saat itu , ayah meminta ku untuk meminjam ha-pe nya untuk menghubungi Tante Sarah . Adik bapak yang ada di Tulungagung . Aku menawari Ha-pe ku tapi Bapak tidak mau .
‘’ Ambilkan hape nya Layla aja . Aku Yo pengen ngerti bocah e Wa nan Karo sopo . ‘’ Kata bapak waktu itu .
Aku tertegun . Tidak di sangka , ternyata Bapak juga mengetahui perubahan sikap Layla .
‘’ Nggeh Pak . ‘’
***
Assalamualaikum
***Jangan Lupa komentar Vote , dan juga Like ya kakak .
Dukungan kalian sangat berarti buat Author untuk terus menulis .
__ADS_1
Terima kasih*** ,.