(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 105


__ADS_3

#Arya Dharma


Tidak ada yang paling indah dari sebuah rasa cinta yang di titipkan Alloh pada hati manusia.


Denyar nadi yang tiba-tiba membubuhkan aroma baru dalam setiap tarikan bibir. Langkah yang tiba ringan sebab tujuan kita adalah seseorang yang membuat taman bunga secara mendadak didalam hati.


Bahkan saya pernah membaca dalam di sebuah buku karangan lora Ibrahim dari Bangkala, buku Catatan dari Tarim.


Beliau menuliskan kisah tentang tatkala mengisi seminar di salah satu universitas Mesir. Ada seseorang yang bertanya pada seorang Habib Ali, "Bagaimana pandangan Habib tentang cinta seorang gadis kepada seorang pria? Dan bagaimana cara agar kita terhindar dari seseorang yang suka mempermainkan perasaan orang lain?"


Lalu Habib tersebut menjawab dengan sebuah cerita yang berisikan tentang pertanyaan seseorang yang menanyakan, "Apakah cinta itu halal atau haram?" Lalu beliau menjawab, "Cinta itu wajib. Cinta adalah kewajiban hati. Mengapa? Karena orang yang tidak memiliki cinta maka dia bukanlah manusia."


Saat itu mungkin pikiran manusia yang mendengar hal tersebut, menisbatkan bahwa yang beliau maksud adalah cinta pada kepada Alloh.


Akan tetapi ternyata mereka salah, justru yang beliau maksud adalah cinta seorang pria kepada seorang gadis dan sebaliknya.


Terlepas dari itu semua, cinta adalah sesuatu yang sangat mulia. Siapa yang bisa mengingkari cinta? Bahkan tidak akan bisa sampai kepada Alloh jika ia tidak pernah merasakan cinta.


Ada seorang pemuda yang bertanya pada Syaikh Muhammad, salah satu Mufti dari Hama Suriah. Menanyakan bagaimana, petunjuk jalan untuk mendekat pada Alloh?


Lalu sang Syaikh bertanya balik kepada pemuda tersebut, "Seumur hidupmu apakah kau pernah mencintai seseorang?"


Pemuda tersebut lalu terkejut dan merasa bahwa pertanyaan tersebut salah. Lalu dengan sang pemuda menjawab, jika dia tidak pernah mencintai seseorang.


Dan apa yang dikatakan oleh sang Syaikh," Kalau begitu pulanglah. Karena jalan ini tak pernah bisa ditempuh boleh seseorang yang hatinya tak terbiasa untuk mencintai,"


"Aku tidak akan mencegah apapun keputusanmu mengenai Layla. Jika memang dia bersalah, aku pun tidak akan membelanya. Namun, ingat satu hal Gus Farhan, bahwa kita kadang hanya bisa melihat tanpa tahu sebab. Bahwa kita kadang hanya bisa mendengar tanpa tahu kepastian permasalahan. Cara mencintai orang memang berbeda-beda, namun satu hal yang aku anggap sama. Bahwa yang benar mencintai dia akan sepenuhnya percaya." Kata ku sambil meletakkan jemariku di bahunya.


Gus Farhan tercengang dengan apa yang aku katakan. Entah apa yang ia pikirkan sekarang.


Setiap permasalahan memang akan rumit jika melibatkan hati. Namun, dengan hati nurani pula, permasalahan pelik bisa di hindari.


"Kulo, iri Gus kaleh jenengan (Saya iri denganmu)."


"Iri dalam hal apa? Bukankah kita sama?"

__ADS_1


"Jenengan bisa dekat dengan Najwa Sedang aku, di pandang saja tidak."


Aku diam. Perih pastinya hatinya saat ini. Mengharapkan sesuatu itu kadang mendatangkan luka yang dalam. Tidak tahu berapa harapan itu, yang pasti lukanya pun tidak akan bisa biasa saja.


"Jenengan leluasa memanggil dia dengan sebutan, Layla. Jenengan bisa satu ruangan dengan Layla. Jenengan bisa bersanding, tertawa dan bahkan pernah memberikan coklat untuk dirinya. Sedang aku, memandang saja dari kejauhan sudah membuat hatiku dag dig duh tak karuan. Aku tidak pernah memiliki nyali untuk hadir di depannya. Meskipun bisa, mungkin matanya tidak menemukan kehadiranku."


Aku tercekat. Selama ini aku iri pada Mas Albi pada Andre yang bisa leluasa ada di samping Layla. Tapi, tanpa aku tahu ada seseorang yang juga menginginkan posisiku.


"Kamu mau, aku kenal kan pada Layla?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja. Sebab rasa iba pun perasaan yang juga aku mengerti.


Gus Farhan menatap tidak percaya?


"Tapi, janji kita bersaing secara adil. Toh, kita juga gak tahu siapa jodoh Layla."


"Aku juga boleh memanggil dia dengan sebutan Layla?" tanyanya antusias.


Aku menarik alisku ke atas. Heran. Sebab raut wajahnya yang tadinya kusam kini mulai menemukan cahayanya.


"Yah... Tergantung. Dianya mengizinkan atau tidak."


"Itu karena Ning Nada memperkenalkan dia sebagai Layla bukan Najwa. Pertama juga bingung mau manggil siapa."


"Oh... Ning Nada ya dekat sama Najwa?"


"Bukan sama Laylanya tapi sama Mas Albinya."


"Loh, serius? Memang ada hubungan apa? Ning Nada mau dijodohkan sama kakaknya itu?"


Aku langsung menggelengkan kepala. Sontak membuat Gus Farhan yang mulanya girang kembali redup.


"Lalu?" tanyanya


"Bukan sama Ning Nadanya. Tapi, Salwa. Mas Albi itu, temannya Ning Nada di pondok dulu."


"Oalah.... Alhamdulillah! Jadi aku gak mikir macam-macam lagi,"

__ADS_1


"Mangkanya itu, jangan buru-buru! Layla dan Mas Albi real adik-kakak. Walaupun mungkin bukan saudara kandung. Mas Albi memang menyayangi Layla. Tapi, sebatas sayang kakak pada adiknya." Kataku. Walaupun aku pun sebenarnya juga ragu. Namun aku paksakan hatiku ingin mengakui hal itu.


"Terus yang bersama kakaknya Najwa kemarin siapa?"


Yang dimaksud pasti Andre.


"Katanya, dia juga saudara mereka. Aku tanyakan itu langsung pada Mas Albi." Kataku.


Memang betul waktu itu mas Albi mengatakan hal tersebut. Sampai akhirnya aku tahu kebenarannya, jika Andre hanya sebatas teman mas Albi. Mereka bukan saudara.


Aku tidak akan mengatakan hal itu pada Gus Farhan. Mungkin yang aku tutupi saat ini bisa sedikit membantu menutupi aib Layla.


"Jika memang begitu kebenarannya. Aku lega. Syukurlah, mengajak berdiskusi tentang masalah ini dengan jenengan itu memang benar. Aku kira aku akan berduel dengan jenangan,"


"Gak salah? Bukannya kamu yang ngajak duel tadi,"


"Tidak. Kan Gus Dharma yang datang marah-marah tadi. Aku anteng-anteng saja."


"Anteng apaan, nyindir! Iya!"


"Sindiran hanya untuk mereka yang merasa. Kalau gak merasa gak bakal menganggap itu sindiran."


"Jelas-jelas tadi nyindir. Gak usah ngelak!"


"Gak ngelak. Kenyataan gitu!''


Kretek...


Kami langsung diam ketika ada suara ranting pohon patah. Malam semakin sunyi. Suasana tiba-tiba mencekam. Angin yang tiba-tiba berhembus pelan, kini lebih kencang dari biasanya.


Aku dan Gus Farhan saling berpandangan. Pohon yang di ceritakan menyimpan sosok perempuan terlihat menyeramkan dengan goyangan dedaunannya yang rindang.


"Gus, kamu merasakan apa yang aku rasakan?" tanya Gus Farhan.


Aku mengangguk pelan. Kita sudah berdiri. Masih berusaha mencari ketenangan. Namun suara langkah yang tiba-tiba terdengar jelas membuat bulu kuduk kami semakin berdiri.

__ADS_1


Apakah kami kedatangan jiwa lain?


__ADS_2