(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 88


__ADS_3

#Arya Dharma


"Beneran deh, Mik. Kenapa tiba-tiba ke sini? Memangnya ada acara?" tanyaku lagi


Saat ini aku kembali lagi ke Dhalem timur. Bedanya tidak ada Layla lagi. Aku memberikan kamar Layla pada umi. Untunglah dia pergi dengan membersihkan kamarnya tadi. Jadi tidak perlu aku meminta untuk merapikan lagi. Andai aku bisa, pasti sudah aku bilang ke umi," Umi, kamar ini tadi malam di huni oleh calon mantu umi." Tapi itu tidak mungkin terjadi. Aku hanya bisa menahan gejolak itu sendiri.


"Di bilang kangen sama kamu. Masak gak percaya..." balas Umi yang saat itu sedang melipat bajunya dan memasukkan pada almari kayu jati yang ada di sebelah ranjang.


Sedangkan aku duduk bersila di tengah ranjang sambil melihat beliau berbenah barang. Dasar Dharma bukannya membantu, malah di lihat aja.


"Tumben bener. Mana sama Abah lagi," kataku tidak percaya.


Kedatangan mereka masih menjadi misteri. Tidak ada sebab apapun untuk diterima akal menurut ku. Ini pertama kalinya orang tua ku datang tanpa embel-embel keperluan penting lainya.


"Ya Abah kangen juga sama kamu,"


"Haduh, tambah itu. Dharma gak percaya sama sekali,"


"Loh... Loh... Kok gitu, to sama Abah. Itu Abah mu Lo,"


"Iya. Maka dari itu, Dharma lebih gak percaya." Tekan ku.


Umi malah mesem. Apa yang aku katakan tidaklah menyakiti hati beliau. Faham sekali, sebab beliau tahu bagaimana watak Abah.


"Oh iya Buk. Mau makan apa? Biar Dharma belikan," tanyaku


Tadi memang kami di jamu di Dhalem utama bersama keluarga Abah yai. Tetapi untuk nanti malam aku belum menyiapkan apapun untuk orang tua ku makan. Belum tahu persis apakah keluarga Dhalem memberikan hidangan untuk nanti malam. Biasanya iya, tapi juga kadang tidak. Tergantung tamunya. Walaupun keluarga kami dekat kami juga tetap harus menjadi Tata Krama agar tidak merepotkan keluarga Dhalem.


"Nanti saja. Kamu istirahat saja gih, kayaknya lelah." Jawab Umi.


Saat berbincang di Dhalem tadi Ning Nada menceritakan jika aku baru saja ikut pertandingan futsal dan berhasil memenangkan pertandingan tersebut. Ning Nada juga berbicara jika mungkin aku kelelahan sebab dua hari berturut-turut tanding. Aku pun mengiyakan hal itu. Apalagi kedatangan orang tua ku yang tiba-tiba pasti akan menyita jatah istirahat ku lagi.


"Gak lah... Nanti saja. Mumpung Umi datang, ya Dharma pengen bersama Umi, to." Tolak ku.


"Ada yang mau kamu ceritakan?" tanya umi langsung.


Ibu memang peka pada anaknya. Entah mengapa umi langsung mengenali signal yang ada pada diriku. Beliau tahu jika anaknya ini butuh dampingan untuk mengejar cintanya.

__ADS_1


Aku meringis. Cengengesan.


"Cerita aja, ayo... Umi dengar,"


Umi sudah selesai menata barang-barangnya ke tempat yang semestinya. Sekarang beliau duduk di sampingku. Tanpa aba-aba aku langsung menjadikan pahanya sebagai bantal kepalaku.


Rindu dengan hal seperti ini. Seperti biasa umi langsung mengusap-usap ubun-ubun dan rambut ku secara berlahan. Seperti anak kecil yang ingin di Nina Bobo kan.


"Umi dulu, pertama ketemu abah langsung jatuh cinta kah?" tanya ku langsung


Ku lihat umi terkejut dengan pertanyaan ku itu. Lalu kemudian memukul pelan kepalaku seraya memamerkan senyum malu.


Meskipun sudah bertahun-tahun menikah umi masih saja salah tingkah ketika aku atau adik ku menggodanya tentang Abah.


"Kenapa kamu lagi jatuh cinta?"


"Jawab dulu, Mik.."


"Umi dulu pas nikah sama Abah belum jatuh cinta sama Abah. Umi malah gak mau aslinya sama Abah mu itu. Tahu sendiri kan, Abah mu itu dari dulu terkenal angker."


Aku tertawa saat umi mengakui jika suaminya itu angker.


"Hehe... Iya Mik. Itu kan juga suami, Umik." Balasku.


"Terus, mik... Kok bisa umi jatuh cinta sama Abah. Abah ngapain umi?" tanyaku lagi


"Ngapain? Ya buat kamu itu,"


Bluss.... Kali ini aku yang langsung merah pada. Membuat aku berarti berhubungan layaknya suami istri.


"Hah! Masak setelah itu langsung cinta?" tanyaku mengalihkan pikiran yang sudan berkeliaran ke mana-mana. Mana lagi-lagi Layla yang menjadi obyeknya. Teringat kembali saat wajah polos cantiknya saat tertidur tadi malam.


"Umi sama Abah dulu gak langsung buat kamu. Bahkan setelah berbulan-bulan menikah,"


"Loh, kenapa?"


"Ya kan itu tadi. Umi belum cinta sama Abah."

__ADS_1


"Jadi Abah tahu kalau umi gak cinta sama Abah dulu pas awal-awal menikah."


"Tahu. Tapi hebatnya abahmu dia tetap menerima umi dan memperlakukan umi layaknya istri yang Sholehah."


Aku tersenyum. Abah memiliki jiwa yang hangat yang terpendam dalam dirinya. Nyatanya dia bisa meluluhkan umi yang Masya Alloh ademnya.


"Tapi mik. Kenapa umi mau nikah sama Abah. Padahal kan Umi gak cinta? Jangan-jangan Abah juga awalnya dulu gak cinta juga sama Umi," tebakku


Ini memang pertama kalinya aku mengkorek kisah orang tuaku. Selama ini yang mereka ceritakan tentang bagaimana mereka berjuang mendirikan pesantren dan bagaimana mereka harus menghabiskan waktu untuk pendidikan agama. Sampai tidak sempat menceritakan kisah kasih mereka berdua.


"Ngawur... Abah mu itu udah ngincer umi dari umi masih mondok di Mbah buyut mu,"


"Lah..."


Jika di ceritakan soal silsilah keluarga pasti orang akan pusing. Sebab akan ada banyak yang bercabang sebab orang dulu terutama kyai besar banyak yang menerapkan poligami. Salah satunya Mbah buyut ku.


Aku pun aslinya dengan Ning Nada dan Salwa masih sepupuan. Tetapi sudah turun tiga. Dan aku sendiri yang dari keluarga eyang putri nomer dua. Sedangkan Ning Nada dan Salwa dari eyang putri pertama.


Mbah buyut ku kyai besar pada masanya. Mendirikan pesantren di salah satu kota kecil yang masih asing penghuninya. Lambat laun pesantren kecil yang tadinya hanya berisikan anak-anak orang desa bertambah dengan anak-anak luar desa hingga luar kota.


Saat itu Mbah buyut masih beristri pertama, beliau adalah eyang buyut Ning Nada dan Salwa. Memiliki Putra yaitu Abah yai dan juga Abahnya Salwa.


Sedangkan Eyang buyut ku adalah madu dari ayang buyut mereka berdua. Mbah buyut menikah lagi untuk menjalin persaudaraan antar pesantren dan juga untuk menambah generasi penerus. Namun sayang eyang buyut hanya bisa memberikan satu putra yaitu abah ku saja.


"Jelimet nggeh, Mik kalau ingat silsilah keluarga," ujarku.


"Iya... Gak usah di pikirkan. Yang terpenting kamu tahu, siapa sanak keluarga mu,"


"Tapi Mik, Bukannya Umi sama Abah masih saudara juga, ya?"


Aku teringat kembali jika memang benar orang tuaku masih saudara juga.


"Iya... Mbah buyut mu dari Abah paman dari eyang Kakungmu,"


Eyang Kakung yang umi maksud adalah eyang dari pihak umi.


"Mumet mik!" Seru ku sambil mengusap-usap wajah.

__ADS_1


"Orang dulu memang suka begitu, untuk menjalani persaudaraan dan tidak membunuh nasab kita di nikah kan dengan saudara sepupu kita sendiri," Ujar umi.


Aku mengangguk. Hal itu memang hal biasa dalam dunia pesantren. Agar persaudaraan tidak putus dan trah pesantren terus berkembang dan memunculkan bibit unggul nantinya.


__ADS_2